DI SEBUAH GANG bagian 2

gambar-kartun-lucu-ayam-j.jpg

Semua orang tahu, Onah adalah simpanan seorang anggota dewan yang datang seminggu atau sebulan sekali untuk setor ke Onah. Status kasarnya gitu sih, katanya udah nikah siri dan Onah adalah madu ke 3 dari suaminya yang ubanan bau kuburan itu.
Parahnya kalo suaminya datang Onah selalu beli telur ayam kampung 3 biji di kiosnya amang Longor di depan rumahnya. Maka jadi hebohlah. . .

Dan acil Irah selalu jadi jadi orang terdepan yang menyalakan bara gosip di gang tersebut.
Rumah2 sederhana berjejer rapat, nyaris tanpa jarak, suasana selalu riuh. Pusat bekumpulnya umat gang tersebut adalah TV umum di simpangan jalan menuju pasar, tepat di depan warung acil Irah.

Orang2 datang dan pergi, gosip dan fakta silih berganti. Siang hari ditingkahi bunyi dari penjual pentol dgn klakson karet khasnya. Malam berganti denting mangkok dipukul sendok milik penjual bakso gerobak. Nongkrong ramai2 di simpangan TV umum tersebut yang menayangkan siaran infotainment perceraian artis.

Hidup para penghuninya terkotak2 dalam takaran ‘bagus atau tidak menurut pandangan orang’.
Maka jadilah kelompok masyarakat yang picik terhadap peraturan dan norma kehidupan.

Tapi jiwa sosial biasanya terbangun di titik2 rawan macam begini. Setiap kali ada acara hajatan atawa kerja bakti, maka beramai2 lah satu gang hadir membantu.
Dan tak ada satu maling pun yang dapat selamat jika bikin ulah di Gang Sampurna tersebut. Begitu para penghuninya menamai wilayah teritorial mereka.

Sementara para ortu sibuk dgn usaha di pasar: menjual ikan, nagih retribusi, tukang masak, jualan makanan dsb. Maka para anak2 yang sebagian besar putus sekolah asyik nonton DVD bajakan bersama teman dan pacar mereka, adakalanya larut malam baru beranjak.
Semua sudah mafhum dgn hal2 seperti itu, paling2 teguran yang dilayangkan cuma sebatas hujatan pedas acil Irah esok paginya.
“Itu nah kajadian balalah tarus, si Aluh batianan, diatar abahx ka kampung!”
cetus acil Irah sinis.

Beberapa yang tidak tahu kaget mengurut dada.

“Han lih kada katahuan bapacaran tang batianan ha, kayapa kanakan wahini?”
yang lain menimpali.

“Hanyar ja tahu buhan pian ni, lawas dah Aluh kaitu, sakali dah suah batianan diurutnya wadah acil Sarah di pancung tunah. .”
Tangan Ina temannya Aluh menunjuk ujung gang.

“Iyalah? Hakunnya pang acil Sarah gawian kaya itu.” bingung yang lain.

“Biasa aja kali cil ay.”
ujar Ina smbil berlalu setelah membayar.

Kacau sekali setiap kabar yang tersebar dari sejengkal jadi sedepa. Yang sedepa tambah sehasta. Yang sehasta melar jadi sapal panjangnya, yang sapal jadi selebar dunia. Karena angin punya mulut, tawing batalinga.

*

SAKSIKANLAH PARADE ADU JANTAN AYAM2 SAKTI GANG SAMPURNA MALAM MINGGU PUKUL 08.00

Barangkali begitulah kiranya isi undangan lisan dari mulut ke mulut yang beredar 3 hari ini.

Maka berkumpullah para petarung2 ayam aduan dari segala penjuru. Tak hanya dari gang tersebut, juga dari wilayah luar lingkungan gang.
Dan gak cuma Ujang yang bolak balik mengurus Agaw. Pak RT yang mestinya jadi panutan justru sibuk kesana kemari mencari pihak sponsor yang akan mendanai lomba. Tak alang kepalang, barang siapa yang menang akan dapat 50 juta.
Gak tau deh pak RT nyomot dana dari mana.

Tapi heran juga, untuk urusan pelanggaran emang banyak banget umat manusia yang bergabung. Solidlah katanya, kerjasamalah alasannya.
Malam itu polisi Capung alias Apul Kampung nekat nyumbang 15 juta hasil tadahan kayu ilegal logging yang baru cair. Gak heran dia juga masang ayam yang katanya udah ‘balampah’ di Meratus kampung dayak benua kakek buyutnya.

Terus bang Udi, itu. .suaminya Onah. Anggota dewan yang doyan ngadu hewan maksudnya. Juga berani nilep dana kas daerah 30 juta. Gak alang2 juga, beliau masang 2 ayam sakti buat digeber malam itu.

Lah 5 juta lagi dari mana?
Nah yang ini gak ada yang tahu, pak RT nyolong dana rehab langgar di gang tersebut.
Bener deh, urusan beginian emang demenan dedengkot saitonirrajim.

Maka malam itu berkumpullah umat gang Sampurna dan sekitarnya di sebuah halaman eks madrasah yang gak kepakai lagi. Masing2 telah siap dgn ayam aduan.
Kayaknya tren 2010 nih; ngadu ayam. Soalnya tahun2 lalu udah basi dgn judi buntut yang bikin puyeng 7 kali lapangan sepak terjang ngerumus itung2annya.
Trus domino ama kartu remi udah gak tren lagi, kan udah keganti ama poker holdem di game online. Tapi orang kampung cuma sedikit yang ngerti gituan.

Bersambung Di Sebuah Gang bagian 3

11 thoughts on “DI SEBUAH GANG bagian 2

  1. @Mirjan,

    Tokoh utamax kd tahu jua. Cerita fiktif belaka, kesamaan nama dan tempat kebetulan semata, bingungx pembaca jgn tanyakan saya.
    Wkwk. . .

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s