Roda Kehidupan

Mungkinkah putaran nasib seseorang jalan di tempat?
Atau roda kehidupan barangkali macet pada porosnya?
Atau malah terlalu cepat berputar sehingga kembali di titik yang sama, stagnan, tak berubah meski sudah puluhan tahun berlalu?

Pertanyaan duniawi macam itu terasa mengusik relung hati, membuat panas hawa dingin yang terus diguyur hujan berhari-hari. Terasa mengoyak luka tentang kecewa dan berkaca pada realita.

Seorang family yang jauh merantau meninggalkan tanah kelahirannya, setelah puluhan tahun, kembali dan pulang.
Menyadarkan alpanya ingatan tentang telah berapa jauh jarak yang ditempuh.
Betapa waktu telah banyak berlalu, meninggalkan kita yang terlena, tetap diam di tempat dan enggan berbuat.

10 tahun lebih ia meninggalkan kampung halaman. Turut serta membawa sedikit kenangan, bergabung bersama riuhnya kota besar, Jakarta menjadi tempatnya bersandar.
Masa kanak dan remajanya habis di bawah pencakar kota-kota. Dewasanya datang dengan usaha dan pantang berhenti dengan tekad mati bahwasanya kehidupan masih harus diteruskan.

Antara bangga, sedih dan bahagia_ia telah menalukkan ibu kota_ menatapnya bisa kembali lagi di tengah-tengah kami. Menceritakan kisah-kisah kesuksesan di tengah kerasnya tantangan zaman dan ketatnya jibaku persaingan.

Ah. .kesuksesan.
Katanya segalanya banyak berubah kini. Barangkali rumah besar dan mobil mewah mulai menjadi ukuran.
Saudara si A, sepupu anu, si B, si C. . . Beristri, beranak, sekarang enak, punya graha di sebuah komplek perumahan, ada oto roda empat yang siap di ajak plesir. Usahanya bonafid, masa depan, prospek bisnis itu pula yang membawanya pulang kembali. Dan bla bla bla lancar ceritanya.

Lalu gamang, apa kesuksesan seseorang diukur dari seberapa banyak yang telah ia hasilkan dan apa saja yang bisa ia dapatkan dalam menjalani kehidupan? Seperti itukah?
Apa karena bisa punya rumah besar dan mobil mewah harta berlimpah artinya manusia telah punya segalanya?
Apa makna hidup dengan baik berarti punya harta di atas rata-rata?

Dan lalu. . .
Bagaimana dengan mereka yang masih bertahan di titik ala kadarnya teramat sederhana?
Bersyukur karena cukup makan 3x sehari dan cukup gizi. Tinggal di sebuah rumah yang meski mini dan cicilan motor yang masih harus dilunasi.

Apa manusia belum hidup dengan baik jika di Ramadhan kali ini ia masih bisa menikmatinya dengan mengajarkan anak-anaknya berpuasa? Dan menanti THR untuk satu atau dua lembar baju lebaran?

Sungguh ukuran kesuksesan dan keberhasilan telah ditimbang dengan takaran kemapanan.
Tak akan ada yang peduli dengan usaha dalam mendidik anak manusia untuk tunduk pada Tuhan, khusyuk dalam tarawih dan tegak dalam 5 waktu. Seakan-akan menjadi pribadi rendah hati dan hidup sederhana adalah ketidaksuksesan itu sendiri.

Ah. . .
Tapi jalanan masih panjang, putaran nasib masih terus diusahakan. Hidup terus berjalan, katanya belum kena giliran. Seakan-akan berkata:
"Sudah 10 tahun lamanya kok masih begini saja?"

13 thoughts on “Roda Kehidupan

  1. Assalamualaikum wr wb.

    Selama kita bahagia dg kehidupan kita & slalu bisa mensyukurinya, bagiku itulah kesuksesan.

    Like

  2. @Rohendi Akatsuki,

    iya, udah bangun dr tadi emang, kerjaan dapur numpuk. NYUPIR dolo alias NYUci PIRing.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s