MERTUA VS MENANTU

"ADAM DAN HAWA ADALAH MANUSIA PALING BERBAHAGIA KARENA MEREKA TAK PUNYA MERTUA"

Kata2 itu saya copas dari sebuah media yang saya lupa sumbernya. Kok terasa menggelitik nurani saya sebagai wanita dan ibu rumah tangga.
Tapi saya memposting ini tidak dengan berilmiah ria dengan sudut pandang psikologis atau hubungan sosialis moralis dalam 2 wanita berbeda faham_mertua dan menantunya.

Mungkin akan agak tak adil penilaian saya, karena saya duduk sebagai seorang menantu dan belum sebagai mertua.

Memutuskan menikah dengan pria yang kau cintai pun sebaliknya ia sangat mencintaimu, membuat wanita berpikir langkah selanjutnya akan mudah. Rasanya dunia merah muda saja, penuh romansa gairah muda (ciee. . .mengenang 9 thn lalu krn saya dan misua nikah tanpa pacaran).
Tapi setiap keputusan selalu menuntut pertanggungjawaban, pun ada resiko sebagai efek bawaan yang tak bisa dikesampingkan.

Akhirnya bismilah dengan cinta kehidupan baru dimulai. Jreng jreng!!
Ternyata ada bagian hidup yang sama sekali tak memberikan pilihan. Cuma harus dilewati dan jalankan!
Menikah dengan seorang pria anak tunggal dan ibunya single parent pula, membuatmu tak punya pilihan lagi: seatap dengan mertua adalah harga mati yang harus kau bayar atas pilihanmu.

Ibarat air dengan minyak, meski kadang bisa duduk berdua dan bercengkrama karena menyayangi satu pria yang sama dengan cara berbeda, kadang bentrok pun terjadi juga. Percikan yang kadang meletup karena menantu beli sayurnya tidak ditempat langganan si mertua.
Masakan menantu tak di sentuh mertua sama sekali karena beliau tak suka asin atau manis.
Dan malah menantu yang merepotkan karena suka bangun kesiangan.

Adakalanya rumah jadi berantakan dan cucian kotor numpuk sementara di rumah tak ada siapa2. Ngetes menantu ini bisa apa ternyata?
Padahal akar masalahnya sederhana mertua sebagai orang tua tak ingin superioritasnya terganggu karena ia sangat sayang anaknya dan belum siap jika menantu mengambilalih semua tugasnya. Dan menantu sebagai anak muda yang merasa eksistensinya harus diakui tak ingin terus dibayang2i oleh mertua yang 'serba bisa'.
Mestinya mereka berdua tetap pada tempatnya dan jangan merasa keberadaan salah satunya sebagai pengganti pihak lainnya.
Alhasil justru suamilah yang pusing.

Cucu pertama hadir, kok rasax jadi monopoli neneknya (mertua). Seperti cuma numpang dikandungan dan beranak doang, mandiin gak boleh, angkat salah, kasih ASI atau dot juga keliru, si baby sakit flu dikit aja, ramai2 maniwas (menyalahkan) ibunya.
Ini ni penyumbang terbesar baby blues (stres pasca melahirkan) bagi wanita. Kedekatan ibu dan bayi baru lahir terbina dibawah tekanan dan superioritas orang lain yang justru merupakan orang terdekat. Jadix semua serba salah, mertua tak memberi kesempatan pada menantu untuk melakukan kewajibannya.
Atau malah kadang menantu tak memberi kesempatan pada mertua untuk bisa menerimanya.

Tua atau muda kita membutuhkan pengakuan dan dianggap bahwa kita ada dan berhak atas sesuatu.

Tahun2 berlalu, segalanya membaik namun kesehatan mertua justru memburuk. Padahal ditahap ini kita sudah sampai pada fase 'saling menganggap seperti ibu dan anak kandung'.
Tapi sepertinya memang sudah takdir kalau hubungan ini tak bisa baik selamanya, meski tak punya ipar, tapi kok ada saja family yang tak suka dengan kedekatan saya dan mertua. Bentrok lagi, sampai beliau kabur ke rumah sodaranya.
Saya difitnah, suami ikut marah. Padahal 7 tahun saya seatap dengan mertua, meski gak selalu cocok tapi kita bisa melewati segalanya. Tak rela rasanya, tiba2 saya di cap menantu yang jahat.
Duuh. . . .

Tapi saya kukuh pada pendirian saya, meski dalam salah paham hubungan dengan suami memburuk (nyaris berpisah). Saya bersabar, hingga 10 hari kemudian ibu mertua pulang. Tambah sakit dan penurunan kepercayaan diri (merasa sendiri).

Tak saya ijinkan beliau pergi kemana2 lagi, biar kita yang merawatnya, meski repot dengan 2 anak dan semua pekerjaan rumah saya tanggung sendiri. Dengan kuasa Allah, waktu telah membuktikan segalanya.

Beberapa bulan berselang setelah kebenaran terungkap, ibu menutup mata dalam perawatan kami;anak2nya. Hanya seminggu beliau sakit parah dan tak lagi bisa bicara.
Dan ini adalah Ramadhan ke2 tanpa beliau (biasanya selalu minta dianter jemput tarawih).

Karena tak ada manusia yang sempurna, kita bersama untuk melengkapi segala kekurangan.

"Merdeka ya sekarang kamu, gak ada ipar dan tanpa mertua!" celetuk seorang kawan yang juga seatap dengan mertuanya.
Saya hanya tersenyum.

Dedicated for my mother in law. Rest In Peace.

17 thoughts on “MERTUA VS MENANTU

  1. Emang Benar klo Mertua ϑäςн̬̩̃̊‎ Ъќ>:/ Äϑǟ Dunia Ϟîέ rasanya Milik sendiri aza,,,heeee

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s