ORANG GILA

Dirinya masih terbilang muda, berperawakan kecil dengan kulit langsat. Tak jelek, walaupun jua tak rupawan. Hanya ada yang sedikit membedakan dengan orang kebanyakan. Rambutnya masai, wajahnya kotor, pakaiannya acak-acakan tak beraturan. Sering membawa buntalan yang entah apa isinya, pun tak sungkan menari di tengah jalan raya.

Mereka menyebutnya orang gila. Ya, gadis muda itu telah kehilangan kewarasannya. Kabarnya karena ditinggal pujaan hatinya entah kemana. Membuatnya merana dalam nestapa tak tertanggungkan hingga ia memutuskan untuk bertukar akal pikiran.

Ramadhan berlalu belum separuhnya, sementara gerimis masih terus mengundang mendung di tengah cakrawala yang kehilangan birunya. Para penjual takjil menu berbuka kerap mengeluh dan mengumpat, dagangan mereka tak habis terjual karena hujan selalu jatuh sore hari.

Gadis gila itu biasa dipanggil Aluh. Ia biasa berjalan beberapa kilometer jauhnya menuju pasar dan menemui apa saja dalam hingar bingar praktek jual beli..
Hari ini ia menari-nari di tengah senandung lagu kereta malam. Dan semakin heboh ia bergoyang ketika sampai pada refrain jak ijak ijak ijuk ijak ijuk. . .kereta berangkat. . . Begitu seterusnya. Semua orang yang melihatnya ada yang mencibir sinis, ada yang tertawa, ada yang diam saja dan ada beberapa yang bersorak;

"Ayak tarus Luh. . .assek!"

Lagu yang tersiar dari VCD bajakan itu seakan amat menggembirakan dirinya. Sehingga Aluh menjadi satu-satunya orang yang tak tahu dengan harga sembako yang naik gila-gilaan di bulan puasa. Ia juga tak ambil pusing dengan gejolak akibat naiknya harga BBM.
Ia telah merasa cukup dengan kegilaannya tanpa harus ikut-ikutan latah mengumbar aurat di depan media berkedok seni dan profesionalitas.

Satu hal rasanya aneh terdengar, ganjil dan absurd. Ada seorang bidan desa yang rutin menyuntik KB 3 bulanan pada Aluh.
Iya, Aluh di suntik KB agar tak hamil dan beranak. Lah untuk apa? Padahal ia tak bersuami, pun ia tak mungkin memiliki rasa tertarik akan seks dan lawan jenis. Lagian. . . Siapa yang mau dengan orang gila??

Tapi nyatanya ibu bidan hanya belajar pada fakta yang pernah membelalakkan mata realita.
Dulu, ada seorang wanita yang terkapar di sebuah terminal, bersimbah darah dengan bayi di bawah selangkangannya, tanpa satu lembar kainpun menutupi dirinya. Ternyata wanita itu seorang gila yang telah melahirkan anaknya dalam ketidakwarasan pikiran yang entah buah karya siapa. Pria durjana mana yang sudi menghamili wanita gila yang bahkan tak lagi sadar akan dirinya ??!

Pun di sebuah loteng pasar di kota, pada malam jahanam terkutuk tempat domisili setan-setan tak berbudi. 7 pemuda memperkosa seorang wanita gila yang legam kulitnya yang biasa berkeliaran tanpa busana.
Bermodal sebatang sabun mereka memandikan wanita gila yang malang tersebut dan lantas menggilirnya habis-habisan sampai koyak moyak nasib takdirnya di hadapan dunia.

LALU SIAPA SEBENARNYA YANG GILA DI SINI ??

Aluh hanya segelintir orang yang tak bisa bedakan antara jenius dan gila yang justru teramat tipis antaranya.
Nun banyak di luar sana yang berpendidikan tinggi, jabatan prestisius justru gila-gilaan bersama wanita atau pria yang bukan pasangan sahnya. Dari hotel ke hotel, losmen ke losmen, mendeklarasikan syahwat, saling berbuka paha mengumbar maksiat.

Setali tiga uang dengan banyak pekerja seni yang telah meninggalkan inti harga diri. Ramai-ramai pamer aurat, membuat payudara dan pantat pantas untuk dicatat dan dilihat.

Sebuah tulisan pernah saya baca "ini jaman edan, kalau tak ikut edan tak kebagian."

Senja menghampiri beranda malam yang akan segera menutup hari dengan tirai kelam. Aluh melangkah pulang menenteng satu bungkusan plastik berisi wadai sumapan amparan tatak pemberian acil penjual kue yang tak habis terjual.

Gerimis merapat menjelma hujan, genangan air menjadi kubangan.

*

BASED ON A TRUE STORY

21 thoughts on “ORANG GILA

  1. Assalamu'alaikum Ibu, sebuah alur cerita yang sangat bagus, tapi memang hal seperti itu sangat-sangat sering terjadi di masyarakat kita. Sekali lagi aku terpesona sama pemaparan ibu, mampu mengaduk-aduk imajinasi dan perasaanku. Terima kasih ibu, salam santunku untukmu…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s