ANTARA MITOS DAN FAKTA: PANTANGAN PASCA MELAHIRKAN


image: ciricara.com

Barusan blogwalking dan baca postingan tetangga tentang kurma ternyata bagus untuk pemulihan bagi wanita setelah melahirkan.

Nah, tiba-tiba jadi teringat suka duka anak beranak sampai punya dua jagoan kesayangan saya; Fikri dan Raffi.🙂

Tapi kali ini tidak membahas mual pusing ngidam dalam kehamilan. Melainkan tentang lika liku pasca melahirkan.

Mendengar tangis makhluk merah tak berdaya yang kali pertama merasakan dunia setelah aman dan nyaman 9 bulan dalam rahim bunda. Rasa sakit tiada terkira dan tak terdeskripsi oleh kata seakan lenyap begitu saja. Bahkan jika punya sepuluh nyawapun rela ditukar demi manusia baru bernama bayi itu.

Meski berdarah, keringat dan airmata jadi satu. Meski nyerinya episiotomi (guntingan/robekan di liang kewanitaan) yang harus dijahit karena jadi jalur lewatnya si jabang bayi sekian detik lalu. Meski takut dan rasanya asing, mengenalinya sebagai bagian tubuh wanita, hidup dan tumbuh bersama_ darah daging kita. . .
Anak-anak kita. . .

Dan belajarlah merawat bayi. Tapi biasanya segala hal di negeri ini memang tak lepas dari mitos dan kepercayaan. Mulai dari tak boleh keluar rumah sampai 40 hari sampai si ibu harus berpantang makan.
Pun budaya Banjar sangat khusus sekali memperlakukan adat 'urang tuha bahari' (nenek moyang jaman dulu).

Kalau urusan 'tapung tawar' atau selamatan setelah lepas tangkai pusat dan sebelum itu bayi dan ibunya tak boleh keluar rumah, mungkin masih bisa ditahan. Tapi kalau sampai 40 hari tak boleh kemana-mana?
Malah banyak bayi yang jadi jaundice (mata dan kulit menguning) karena tak dapat cahaya matahari sama sekali, terus terkurung dalam rumah.

Pantangan makan dan hanya boleh makan jenis ikan 'garih haruan bacacapan' yaitu ikan gabus kering yang dicocol dengan asam kamal/asamjawa, garam, bawang merah dan putih yang diberi sedikit air.
Telur hanya boleh direbus, tak boleh segala jenis daging2an dan kuah bersantan, terutama adalah tidak boleh makan ikan PAPUYU/BETOK karena sinding/siripnya bisa membuat 'maruyan putih bakakat ka kupala' alias darah nifas putih membuat pusing kepala dan lantas bisa jadi maiyun/sakit2an.

Terus terang jadi pengen protes kala itu dengan almh. Mertua yang emang getol banget mentaati tradisi jaman baheula tersebut.
Sampai2 ibu bidan menegur: "sudah sakit melahirkan malah selera makan dibatasi juga. Lalu nutrisi dari mana buat bayi yang masih menyusui?"

Saya pikir2 benar juga. Apalagi bayi saya full ASI tanpa tambahan susu formula sama sekali. Lah kalau setiap hari cuma makan nasi+ikan kering, bagaimana saya bisa cepat pulih dan terus memberi ASI pada anak??!

Belum lagi segala jenis jamu2an pasca bersalin alias untalan2 kampung agar bisa cepat langsing lagi, cepat selesai nifasnya dan maaf cepat rapat lagi vaginanya. Dan itu justru membuat saya jadi kena gejala ambeyen, dua bulan lamanya BAB saya sakit banget dan berdarah.
Kejam sekali!!
Peraturan tradisi dan adat masyarakat di lingkungan saya memang sangat diskriminatif sekali terhadap hak2 kaum perempuan.

Untung kalau mertua dan orang tua bisa bantu2 merawat si kecil dan menyiapkan segala kebutuhan kita sehabis beranak. Apa2 dikerjakan sendiri, suami karena kesibukannya mencari nafkah ya tidak bisa selalu membantu. Dan parahnya ketika ada sedikit kesalahan dalam merawat anak, ramai2lah orang serumah menyalahkan.
Maka tak ayal lagi saya juga sempat kena BABY BLUES (stres pasca melahirkan) malah kalau kakak saya sampai parah jadi POST PARTUM DEPRESION.

Dan saat punya anak ke 2 saya sudah tak tahan lagi dengan mitos2 itu. Sekalipun kualat apabila saya melanggarnya, rasanya saya tak lagi peduli. Karena anak sulung saya saat itu masih TK dan gak suka kalau neneknya yang jemput karena sering telat. Maka setelah prosesi tapung tawar, sepuluh hari pasca beranak saya nekat bawa bayi yang masih merah banget dan kecil itu ke sekolah. Meski kadang masih sakit saat berjalan, saya tahan dan lawan!!

Teman2 sesama ibu2 banyak yg menyambut positif dan senang saya bisa hadir lagi. Tapi ada juga hujatan pedas tentang cara saya yang sangat berani melanggar pantangan.
"Inya kada papa mun masih anum te, kainanya, tuhanya, puluhan tahun yang akan datang apa tahu tu rasa bapanyakitan mun makan kada baarit imbah baranak!"

"Gak papa kalo sekarang, nanti kalau sudah puluhan tahun baru terasa sakit2an karena melanggar pantangan makan!"
Lebih kurang begitulah artinya dan saya dengar itu dengan jelas. Miris lo, saya sedih sekaligus marah. Orang habis melahirkan itu butuh dukungan dan segala macam bantuan bukannya ujaran2 pantangan tak logis dan hujatan pedas, pun jangan dikambing hitamkan atas sedikit kesalahan.

Tapi ALHAMDULILLAH saya masih disehatkan Allah hingga detik ini meski hidup dan merawat anak2 dengan cara sendiri karena sekarang dirumah hanya dengan bapaknya anak2 saja.

32 thoughts on “ANTARA MITOS DAN FAKTA: PANTANGAN PASCA MELAHIRKAN

  1. Artikel ini mewakili perasaan seluruh wanita banjar,,, saya padahal laki-laki, tapi saya merasa betul gimana perasaan istri saya terkait mitos adat banjat itu, syukurlau ibunya dan ibu saya tidak terlalu fanatik banget soal itu.
    Lucunya, ada anggapan bahwa beranak di bidan kampung rumah (padahal bidan medis juga) dengan beranak di rumah sakit itu beda.
    Katanya kalau beramak di rumah sakit itu canggih, obatnya lengkap jadi gk bisa kena kelalah, jadi pantangan gk berlaku.

    Like

  2. Artikel ini mewakili perasaan seluruh wanita banjar,,, saya padahal laki-laki, tapi saya merasa betul gimana perasaan istri saya terkait mitos adat banjar itu, syukurlah ibunya dan ibu saya tidak terlalu fanatik banget soal itu.
    Lucunya, ada anggapan bahwa beranak di bidan kampung rumah (padahal bidan medis juga) dengan beranak di rumah sakit itu beda.
    Katanya kalau beranak di rumah sakit itu canggih, obatnya lengkap jadi gk bisa kena kelalah, jadi pantangan gk berlaku.
    Padahal kan cuma infus doang yang biasanya buat cairan dan stamina tubuh, serta obat anti biotik dan painkiller saja (istri saya tidak operasi caesar).
    Saya pun mengambil kesimpulan bahwa, bisa saja, yg menyebabkan pantangan itu jadi kenyataan, penyakit kelalah itu ada, itu adalah karena ketulahan/kualat dengan kuitan/orang tua yang memberi pantangan ini itu.
    Itu seperti do’a sebab akibat.
    “Jika kamu berjemur dibawah sinar matahari, maka kamu akan kena penyakit kelalah”
    Nah si anak gk nurut, jadilah do’a buruk si ibu itu terkabul !

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s