BALADA ORANG TUA DAN ANAK-ANAKNYA

Bisakah kita sebagai orang tua memberi kasih tanpa pamrih?
Mampukah kita menyemai cinta rasa tanpa mengharap balas jasa?

Demi Tuhan!
Anak-anakmu yang susah payah kau besarkan, mati-matian kau hidupkan dari permulaan awal pecah suara tangisan. Kini seakan meraup laju waktu dalam tumbuh kembang mereka, iya. . Nyatanya mereka cepat sekali dewasa bahkan tanpa sempat menyadari berapa banyak masa yang dilewatkannya.

Bijakkah kita para orang tua menuntut anak-anak membayar utang piutang mereka karena seumur hidup telah merawat dan membesarkan mereka?

Iya!
Utang-utang darahku ketika meletus pecah gelembung ketubanku yang merantankan sejuta jeritan kesakitan.

Utang-utangmu atas tetesan air susu yang mengalir tandas dari dadaku yang kini terkulai layu.

Atas putus urat wanitaku kala kau melalui jalur selangkanganku. Dan kau sambut senyumku dengan tangisan di awal kehidupan.

Atas ratusan malam-malamku yang kau hibur dengan rewel tiada banding. .

Atas berapa tahun masa sekolahmu yang menguras tandas segepok harta tabunganku.

Atas kecewaku pada orang asing yang ku sebut menantu, tempat kau membagi kesenangan tanpa aku!

Duh. .
Apa karena segalanya telah dihitung dengan takaran materi, sehingga setiap anak mesti balas budi? Dengan cara yang kita atur dan kita tentukan sendiri.

PADAHAL KASIH SAYANG ORANG TUA TAK AKAN PERNAH TERBALASKAN MESKI SEORANG ANAK MENGGENDONG IBUNYA SEPANJANG PERJALANAN.

Lalu mengapa mesti mencetak anak-anak durhaka hanya karena kita kecewa melihat mereka lebih memilih membelanjakan gaji pertamanya untuk kesenangan pribadi daripada bersama kita duduk dan menikmati?

Lalu mengapa mesti membuat buah hati kita berutang selamanya atas apa yang telah menjadi kewajiban kita atas hidup mereka?

Berbakti dan tidak berbakti, durhaka lupa diri. Tanpa disadari kita mencetak Malin Kundang-Malin Kundang multi dimensi. Tuntutan jibaku kebijakan ekonomi mencipta pribadi-pribadi yang ramai-ramai orang tua kutuki.

Mengapa menjadikan anak-anak sandaran kehidupan?
Padahal mereka selamanya anak-anakmu yang tetap senang bergelantungan mendengus aroma ketiakmu.
Apa kau telah meninggalkan Tuhanmu?
Karena harusnya hanya Dialah tempat kau boleh berharap dan meminta, menjadi pengemis buta.

Anak-anak bukan investasi atau semacam aset duniawi. Pun orang tua juga bukan kuli sebagai tukang wujudkan keinginan anak sampai mati.

Ada yang salah disini!!
Nyatanya kita saling memanfaatkan demi egoisme manusiawi yang sama-sama kita besarkan.

Allahumaghfirli waliwa lidayya. . .

Doa mengalun di sebuah surau tempat anak-anak santri TPA mengaji.
Ku seka keringat dahi, kusimpan rapat-rapat arimata ini.

15 thoughts on “BALADA ORANG TUA DAN ANAK-ANAKNYA

  1. Assalamualaikum wr wb.

    Aku bukan orang tua, aku hanyalah seorang anak. "Kita akan menuai apapun yg kita tanam", dari sebuah pengajian aku pernah mendengar jika kita ingin dihormati oleh yg muda, maka kita harus lebih dulu menghormati yg tua. Jika dimasa mudamu tak pernah menghormati yg tua, jgn harap yg muda akan menghormatimu saat kau tua.

    Like

  2. kuhadiahkan kepadamu, wahai perempuan
    yang meniti jalan kebenaran, memikul risalah yang haq dan jujur

    kuhadiahkan kepadamu, wahai perempuan
    yang berjihad dengan kata katanya, memelihara nilai nilai kasihnya

    kutujukan pula pada setiap ibu
    yang mendidik anak anaknya untuk bertakwa, menumbuhkan mereka dengan amalan sunnah nabi, menanamkan cinta kebajikan ke dalam jiwa jiwa mereka

    ya… untuk senyummu yang cantik, yang mengirimkan cinta dan mengutus kasih sayang bagi orang lain
    ya… untuk kata katamu yang baik, yang membangun persahabatan dan menghapuskan rasa benci
    ya… untuk mendidik anak anakmu dengan agama, sunnah, dan nasihat yang bermanfaat bagi mereka
    ya… untuk rasa malumu dan hijab yang diperintahkan Allah, karena hanya itulah cara untuk menjaga dan memelihara dirimu

    "Aku percaya dan meyakini bahwa, cinta ibu terhadap anak-anaknya tepat berada satu tingkat di bawah cinta Tuhan terhadap makhlukNya"

    salam santunku bunda

    Like

  3. bagus sekali artikel nya sis.. menginspirasi saya menjadi seorang yg lebih baik lagi menyikapi hidup, terima kasih sis..

    Like

  4. Kasihmu tiada tara
    Pengorbnanmu tiada terhingga
    Wah pokoknya i love u emak.

    Betul bu, memang anak2, kadang tak tau diri. Kadang juga ortu menuntut, ndak taulah pa mungkin pengaruh jaman dan lingkungan ya?

    Smg para ibu yg shalihah tetap pada garis yang diridloi Allah.

    Like

  5. Assalamu'alaikum wr wb

    Subhanallah,
    artikel'a sngat menyentuh,
    ntan jd tmbah sdih mengingat kdua orng tua ntan tlh tiada…
    Yaa Allah…tempatkn mereka d Surga-Mu yg pling indah…Aamiin..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s