INDONESIA (Cerita Seorang Guru Pada Murid-muridnya)

Agustus, nuansa kemerdekaan kental terasa. Dimana-mana orang-orang meneriakkan jargon kebebasan. Bahkan Mywapblog.com saja terasa gerah selama seminggu ini, seluruh penghuninya lantang berdeklamasi BENARKAH KITA SUDAH MERDEKA??.

Dan saya jadi membuka-buka buku harian lama saya. Di sana ada sebuah puisi (jika pantas disebut demikian) yang rasanya pas 'ngena' banget di moment-moment tujuhbelasan ini.

image: the-otherside-of-history.blogspot.com

Pagi itu masih cerah.
Dengan matahari dan mega indah.
Sebagai atap dari rumah hijau khatulistiwa.
Indonesia. .
Katanya,
kata mereka. . .

Mata kami mungkin masih buta.
Belum terlalu terbuka untuk keindahannya.
Mungkin telinga ini masih tuli.
Belum mendengar riuh euphoria reformasi
yang rasanya baru deklarasi tempo hari.

Lalu satu persatu dari kami bertanya.
Pada Pak Guru yang bijaksana.
Negara apa Indonesia itu, Pak?

Pak Guru tersenyum sejenak, jawabannya ada banyak;

Indonesia itu negara hukum.
Ya, hukum yang berdasar pada Undang Undang Dasar dan Pancasila.
Itu, yang dikendali polisi dan para jaksa.
Yang dibeli para penyuap bertopeng penguasa
dan dimiliki para korup berkedok pejabat negara.
Lalu gigit jarilah maling ayam,
dikeroyok hukum rakyat hingga wajah lebam.

Dimana para sipir boleh mangkir.
Dimana shabu tetap menjadi ratu.
Dan polisi?
Tetap sahabat sejati bagi mereka yang berdasi.

Indonesia itu negara agraris.
Hidup dari bercocok tanam dan bertani.
Yang mana hasilnya diekspor ke luar negeri.
Mematok harga berdasar inflasi luar negeri.
Membuka gerbang pekerjaan dengan menjual tenaga kerja wanita ke luar negeri.
Dan penguasa dengan bangga menyebut mereka:
"PAHLAWAN DEVISA NEGARA".

Tapi nyatanya apa?
Kami,
kelaparan di negeri sendiri.
Kami,
tikus paceklik di lumbung padi.
Kami, dicaci maki oleh rumpun bangsa sendiri.

Indonesia merambah negara metropolis industri.
Di saat para kontraktor asing mulai menyadari di tanah ini ada galian bertimbun kekayaan
yang tak bakal habis dimakan tujuh turunan.
Dan mereka menggalinya dengan keserakahan.

Di bawah tanahnya mereka merampas jelita permata.
Di kedalaman lautnya mereka menjarah cantik mutiara.
Dan menjadi perhiasan mahkota raja dan ratu mereka.
Batu bara menjadi bahan bakar mesin kehidupan mereka dan mewarisi kita dengan asap menyebar sesak dan asma.
Juga deretan korban
pribumi yang terkubur tanah galian pertambangan.
Jelaga pada pabrik-pabrik mereka kian mengeruhkan udara jagad raya
hingga menghujani kita dengan musibah dan bencana.

Indonesia negara berasas keTuhanan Yang Maha Esa
dengan kerukunan dan toleransi tinggi antar umat beragama.
Tapi akhir-akhir ini kita seperti lupa padaNya.
Lupa pada hakikat penciptaanNya.
Sehingga kita mulai senang dengan politik adu domba.
Kemajemukan perbedaan dijadikan alasan pertikaian.
Saling tembak menembak dengan kata dan pernyataan.
Hingga kita terbunuh tanpa peperangan.
Meregang nyawa di tangan kawan.
Karena menganggap saudaranya bukan saudara kita.

Negara Indonesia adalah negara yang menjunjung nilai tradisi dan kebudayaan.
Tapi kali ini kita mulai berkiblat ke dunia barat.
Dengan gaya seronok yang bebas dan hebat.
Kita mengakuinya sebagai style dan kebutuhan.
Sampai kita hanya bisa diam ketika kebudayaan-kebudayaan bangsa mulai gencar diklaim negara tetangga.

Anak-anakku, ironis memang!
Di saat kita mengaku sebagai negara besar yang menghargai jasa dan perjuangan para pahlawan_
justru di ranah kemerdekaan ini kita kehilangan keberanian.
Hingga tak mampu menunjukkan walau untuk sebuah perlawanan.

Seisi kelas haru terdian.
Kami seolah lupa bahwa lebih dari setengah abad yang lalu pernah ada ikrar proklamasi dan di sini masih semerbak aroma reformasi,
wujud nyata dari bangsa yang berdemokrasi.

Lalu bagai dikomando, kami riuh menyanyikan Indonesia Raya.
Seolah sebagai tanda,
bahwa cuma itu yang bisa kami berikan untuk bangsa ini.

2009

.

26 thoughts on “INDONESIA (Cerita Seorang Guru Pada Murid-muridnya)

  1. sebenarnya sampai saat ini Indonesia masih dalam penjajahan negara lain.. Tapi kita tidak pernah menyadarinya 😦

    Like

  2. Assalamualaikum wr wb.
    Ironi akan slalu ada dlm kehidupan.

    Aku merasa merdeka saat aku bisa melakukan apapun yg membuat hatiku bahagia. Dan itu hanya akan terjadi bila hatiku telah merdeka dari hal2 busuk yg mengotori hatiku.

    Like

  3. Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh

    Ingin menangis merengek-rengek kepada embah2ku yg telah berjuang dengan ikhlas, angkat senjata, korban nyawa, harta, saudara. Krn kemerdkaan negri ini ternodai.

    Menangis btinku bila muda mudi tak bisa menjaga kepribadian sebgai rakyat ketimuran.

    Jadi kemerdekaan tetap akan menelusuri jiwa-jiwa sang pejuang tanpa pamrih.

    Ku hanya mampu berdoa agar negara dan rakyat Indonesia lebh baik dalam segala bidang.

    Like

  4. Miris memang, tetapi selalu ada jalan untuk berubah. semoga negara kita indonesia yg kita cintai, lebih baik ke depannya dan lebih mnghargai jasa para pahlawan yg tlah brjuang demi kemerdekaan.

    Like

  5. mantap bu…
    Semoga sudah dibabat habis tentang busuknya pemerintahan di negeri ini.

    Saya ingin berandai..
    Jika saya yang punya indonesia dgn melihat postingan ibu seperti ini maka saya akan berkata…

    Saya memang belum becus memimpin bangsa dan negara ini, saya tahu banyak sekali kebusukan di negeri ini, saya sadar keadilan di negeri ini tidak lah merata,saya sangat tau bahwa hukum di indonesia ini tidak transparant sehingga terlihat remang remang, namun asal anda tau saya hanya seorang yang berusaha untuk menata bangsa dan negara ini menjadi lebih baik, lebih baik bukan menjadi baik. namun saya tidak bisa berbuat banyak lagi jika semua bangsa indonesia terfokus dengan melihat kebusukan kebusukan di negara ini tanpa adanya perlawanan dari dalam diri untuk mencoba mengapus tirai tirani dalam negeri ini,, saya tau banyak sekali orang busuk dinegeri ini,tapi dari sekian banyak orang busuk, saya yakin masih banyak orang orang suci di negara ini, kenapa.. kenapa.. kalian sangat membenci negera ini, kenapa… kalau kalian mencoba bersatu padu saling mengikat tangan saudara sebangsa setanah air kita dan bersama sma melangkahkan kaki untuk berjuang melawan kemiskinan,kebodohan,kelaparan,pengangguran,penjajahan atas bangsa sendiri,,kami sudah kewalahan memerangi birokrat birokrat busuk yang setiap hari terus melahirkan birokrat busuk, saya mohon kepada bangsa ini bantulah kami memerangi kebusukan ini dengan tidak melihat busuknya negeri ini tapi lihatlah diri kalian sendiri apa yang telah kalian lakukan untuk negeri ini?

    kebodohan ? kenpa kalian tidak menjadi guru yang rela tanpa digaji untuk menumpas kebodohan ini, apa kalian menginginkan upah yang tinggi? berarti sama saja kalian busuknya dgn kami.

    kelaparan? kenapa kalian tidak mau bersedekah untuk saudara kalian sendiri ? apa kalian mengharapkan bantuan dulu dari kami ? berarti sama saja kalian busuknya dgn kami

    pengangguran ? kenapa kalian tidk beramai ramai ikut membantu kami menciptakan lpangan kerja ? ….dst,,

    kalau kalian tidak suka dgn negeri ini silahkan pindah saja keluar negeri, biarkan kami mati dengan kebusukan ini.

    Like

  6. maaf sya lupa tidak memakai spasi bu komentar td, sehingga css blog ibu melebar karna ada huruf2 yang tdk turun kebawah. Bisa diliat sama ibu,, maaf ya..

    Like

  7. tahun 1945 pilihan Indonesia : Merdeka atau Mati, sekarang tahun 2013 : Maju atau Tetap seperti ini.. Uhh

    Like

  8. seharusnya kutorehkan banyak kata padamu, bukan sekedar menyanjung kibarmu
    pada nyala yang menggelegak di setiap warnamu
    pada gurat langkah yang menyejarah, menyatukan negeri yang nyaris robek berulang kali

    aku suci katamu…
    tapi… di negeri merah pemberani ini korupsi pun berdarah darah, tak terkecuali "maha suci" pun dikorupsi dengan berani
    kau pasti geli melihat 'mereka' hilang harkat, nyali membabi tak terkendali

    …di bawah bendera sepenuh tiang itu

    Like

  9. @rammseiza,

    dan kami mencintai kebusukan ini, msh brharap suatu hari nanti dpt mjd wangi; perubahan yg dinanti.

    Dan kita msh sibuk mementingkan pribadi, msh repot memperkaya diri sndiri.

    Like

  10. bangsa ini rindu akan kepemimpinan sosok figur seorang satria pinigit, sosok pemimpin yang adil dan bijaksana dan pemberani…

    Like

  11. Wow syairnya bun…ngena bener..
    Makanya mytha tdi mau posting merah putih gagal, jadinya posting ttg stngh abd lalu ttg perjuangan pahlawan wkwkwkwk…sbg perenungan saja lw dulu merdeka dari penjajah dg darah bersimbah dan kini….eit mlh para pemimpin nek mlh menjajah nek sendiri dg koropsi, wlk…makin rusuh…

    Tampilan blog'a makin teduh bun…
    Ajarin nulis serapi ini dunk…
    Tadi bngung udh terbit aq edit ech url q mlh rusak..;-(
    mhn bimbinganya bun..masi cupu ne..

    Salam santun

    Like

  12. @Mytha,

    cssx yg udah jd di dasbor tema mwb. Pembuatx master Flambon.

    Jgn terlalu muji ntar sy besar kpala. Tulisan Mytha juga ok punya.

    Thanks dah nangkring ya.:-)

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s