IWAK HARUAN GANGAN ASAM

Sebenarnya ini resep lawas, cuma dulu di unggah ke facebook karena belum punya blog. Lalu saya unduh ulang gambarnya dan unggah lagi kesini dan buat postingan.

IWAK HARUAN atau ikan Gabus adalah jenis ikan air tawar yang sangat mudah ditemukan di wilayah Kalimantan Selatan. Banyak olahan variasi makanan dari ikan ini. Salah satunya yang cukup digemari adalah Haruan Gangan Asam.

Menu lauk pauk ini sangat digemari abahnya kakanakan di rumah, karena selain ikannya juga sekaligus masak sayur atawa gangannya.

Berikut resepnya:

BAHAN:

* Satu ekor ikan gabus segar ukuran 1/4 kg, siangi/bersihkan dan potong menjadi 5 bagian.

BUMBU :

* 2 butir kemiri
* 1 ruas jari sereh/serai/lemon grass.
* 1 cm kunyit.
* 1 cm lengkuas.
* 1 cm terasi dan sedikit asam jawa.
* 2 butir cabe rawit.
* 3 siung bawang merah.
* garam secukupnya.

CARA MEMBUAT:

Semua bumbu ini dihaluskan dan balurkan pada ikan Gabus sampai merata, diamkan 15 menit agar bumbu meresap sempurna.

Siapkan sayur berupa timun muda potong tanpa dikupas, kacang panjang dan kol potong. Tambahkan 3 biji belimbing wuluh dan irisan cabe hijau dan merah besar.

Siapkan panci yang sudah diberi air, masukkan semua sayur dan bahan tambahannya. Masak di atas api sedang. Setelah agak mendidih masukkan ikan berbumbu tadi. Tunggu sampai mendidih lagi dan matang merata.

Angkat dan sajikan bersama nasi dan cocolan sambal acan.
Sungguh kenikmatan tiada terlupakan, jangan lupa doa sebelum makan, agar setan gak ikutan. . .:-)

.

Advertisements

TUMIS PEDAS TERONG PIPIT

BOSAN banget dengan monotonnya aktivitas dapur. Lagi-lagi makan nasi, ikan atau sayur apa hari ini? Masak menu apa ya. .? (padahal aslinya emang malas masak).
Kalo ke pasar biasanya pucuk daun katuk, atau bayam, pucuk singkong, atau yang pahit pucuk daun pepaya. Apa pucuk menara masjid gak bisa dimasak sayur?

Mati gaya nee gue.
Tapi kemaren di tukang sayur ada Terong Pipit ini, katanya enak digoreng/tumis, pahit-pahit gurih manis.
Padahal aslinya ini tanaman tumbuh liar di semak-semak atau area persawahan yang kering. Sama sekali gak dilirik manusia buat menu bersantap, aslinya emang makanan burung kan?

Ini resepnya:

* 1 mangkok terong pipit yang sudah dipipil tangkainya.

* Garam secukupnya

* 3 siung bawang merah.

* 2 siung bawang putih.

* 15-20 biji cabe rawit.

* Terasi dan asam jawa satu ruas jari.

* 2 batang cabe merah dan hijau besar, iris tipis.

CARA MEMASAK:

Semua bumbu dihaluskan kecuali cabe besar. Siapkan wajan di atas api sedang, tambahkan minyak goreng kira-kira 2-3 sendok makan. Tumis bumbu halus dan masukkan cabe merah/hijau yang telah diiris, sambil dioseng perlahan hingga harum.

Masukkan Terong Pipit yang sudah dicuci bersih, tambahkan sedikit air dan gula (perlu diingat, gula jangan ditumis bersama bumbu karena bisa mengurangi kadar kepedasan masakan).

Tutup wajan sambil sesekali diaduk, kira-kira 5-10 menit tumisan matang, tambahkan penyedap bila suka.

Tumis Pedas Terong Pipit siap dinikmati. Ternyata ada sensasi rasa berbeda saat menyantapnya, selain pahit-pahit gurih ada 'krenyes-krenyes' saat dimulut. Terong Pipitnya 'meletus'.

Hmm. . . Yummy. . .:-)

ELEGI SEORANG TUA

Catatan diary 20 Nopember 2012

Kenyataan memang menyakitkan, menerimanya dan lantas bersabar, rasanya tak akan pernah cukup. Luka-luka semacam ini tak akan sembuh meski tahun-tahun berlalu dan hari ini segera menjadi masa lalu. Tetap akan ada bekasnya yang tak akan pernah hilang begitu saja.

Nyatanya kita cuma manusia-manusia naif dan bodoh, karena seringkali berbagai peristiwa terjadi tanpa kita bisa ambil pelajaran dan hikmah dibaliknya. Seringkali kita sebagai manusia menjadi pembeo dan pembebek yang suka menduplikat dan mengekor segala hal. Sehingga berbagai kesalahan fatal yang terjadi akan selalu berulang lagi. KITA SENANG MEMBUAT LUKA, MEMBUATNYA TERUS BERDARAH DAN MENGANGA, DAN LANTAS BERSAMA-SAMA MENABUR GARAM DI ATASNYA.

Itulah fakta. . .
Nyatanya kita memang telah bertambah tua. Tapi tak pernah menjadi dewasa.
Kita masih serupa anak-anak kecil yang terperangkap dalam raga-raga keriput beraroma tanah, dan kita masih suka merengek, menyalahkan, menuding dan yang termudah; mengeluh. . .

Karena 'andai dan jikalau' itu tidak pernah lahir ke muka bumi ini. Keterlanjuran yang menyakitkan dan memusingkan ini harus segera kita lupakan (ah. . .andai itu mudah).
Mau atau tidak, suka apa tidak suka, waktu tak akan pernah menunggu kita untuk mau setuju bahwa dia akan segera berlalu dan meninggalkan detik sebelumnya sebagai masa lalu. Tinggal kita yang harus putuskan untuk tetap membuat luka-luka itu kian perih dan terbuka atau mencari cara mengobatinya.

Sekali lagi kita hanya manusia-manusia naif, yang seringkali kalah bertarung dengan laju arus waktu. Yang kadang ketinggalan dilindas roda zaman.

Kita cuma orang-orang yang beranjak tua, yang tidak bisa berkata "TIDAK" pada anak-anak kita, kita yang ingin dinilai sempurna dan penuh wibawa. Meski kadang karenanya kita seakan menggali kubur sendiri.

Terkenang ketika bertahun-tahun lalu, kita mendapati perut perempuan yang bergelar istri itu dihuni setitik bentuk kehidupan dan 9 bulan berlalu adalah 3 bulan pertama yang membingungkan.

Kata "TIDAK" itu seakan lenyap dari kamus kehidupan seorang pria; sebab orang gila mana yang ketika tengah malam buta sibuk mencari buah dari Negeri Antah Berantah yang entah apa namanya, ada dimana dan tidak sedang musimnya?

Kita,
sebagai orang tua, sejak dahulu sekali bahkan sebelum anak-anak terlahir, telah menjadi 'budak' bagi mereka. Kita telah mengajarkan pada generasi penerus kita bahwa semua adalah 'DEMI' dan 'AKAN KU LAKUKAN APAPUN DEMI. . .'

Sampai kita lupa, ketika anak-anak mengejar kebahagiaan dan kesenangan mereka sendiri. Kita masih berdiri, duduk dan bertindak serupa jongos.
Hingga kita menanya di mana kita berada dan mulai mengkaji makna bahagia yang semu terasa. Karena anak-anak tak bisa manis atau penurut selamanya.

Dilema-dilema berbagai masalah terus menggempur di depan mata, desakan-desakan terasa kian menyesakkan dada. Meski telah demikian kerasnya untuk menjadi sosok orang tua yang bijaksana, kok rasanya malah seperti seorang durjana yang memetik ranum simalakama;

Menuruti sama dengan bunuh diri.
Tak menuruti pun akan mati tanpa harga diri.

Image taken from:
http://www.anneahira.com
udailham.blogspot.com

.

AKU, PUISI DAN KEHIDUPAN

image taken from: agungdwisusanto.blogspot.com

Di selasar malam yang panjang dan sepi.
Di lorong-lorong kosong,
dan gema tanpa suara.
Di dinding kelam,
di tepi tebing kehidupan terdalam.
Bayanganku membelah diri,
menjadi siluet hitam.
Di senja yang mendendam.
Karena kerinduan terus tertahan.
Lantaran cinta tiada terungkap kata.
Sebab rasa meresap putus asa tanpa sisa.

Atmaku hilang nyali, lantas membunuh diri.
Menggorok leher dengan pisau puisi.
Cuma tinggalkan sajak tanpa jejak.
Bak rampok yang menguras habis sepusaka sakral inspirasi.
Setelah malam merampasnya dari dekapan mimpi.
Setelah gulananya hanya peduli pada barangkali.
Kejam cuaca menelikungnya di lorong sepi.
Yang nyeri.
Di jalanan, hujan menangisi sebuah kehidupan.

22 April 2009

Mengajarkan Toilet Training pada Anak Balita

image taken from: anak-cerdas.com

Toilet Training atau mengajarkan anak untuk bisa BAK atau BAB secara mandiri, mau bilang atau ijin pada orang tua/pengasuhnya. Jadi balita bisa berhenti memakai popok/diapers/pampers. Dan tak perlu lagi ada kotoran atau air seni berceceran seantero rumah.

Sebenarnya gampang-gampang susah, peran orang terdekat sangat dituntut ekstra dalam hal ini. Karena tak jarang kita lihat anak yang sudah masuk TK tapi masih pakai popok dan sering mengompol, ujung-ujungnya jadi bulan-bulanan ejekan teman-temannya. Kasihan kan?

Dengan sabar dan bertahap, balita bisa bilang atau ijin setiap kali mau buang air bahkan sebelum usianya 2 tahun. Berikut langkah-langkahnya:

1. PERKENALKAN PADA ANAK APA ITU BAK DAN BAB

Di usia bayi 6 bulan ke atas, ia sudah mengenali lingkungan sekitarnya dan hal-hal menarik dalam dirinya seperti menggerakkan tangan dan menendang. Para ibu/pengasuh juga bisa melihat perubahan ekspresi bayi saat ia mau buang air, walaupun ia memakai popok.

Lepas popoknya dan dudukkan pada punggung kaki kita yang sedikit di renggangkan sambil dipegangi.
Ajak bayi berkomunikasi, misal: "Wah, dede pipis ya. . . Curr. . ."

Bayi itu cepat mengerti, nanti akan ada bahasa mereka sendiri untuk menamai aktivitas buang air ini, semisal e'e atau pispis.

2. JANGAN BOSAN DAN ATUR POLA WAKTU

Misalkan bayi baru minum banyak susu atau selesai makan. Tanyai sesekali apa ia mau buang air. Biasanya saya pakai selang waktu setengah atau satu jam.
Langsung saya bawa ke kamar mandi/WC dan diajarkan buang air seperti pada umumnya.

Kalau berhasil, tidak hanya ibunya yang senang, si kecil pun kegirangan saat merasakan ada air kencing yang meluncur. Pujilah dia: "Dede pintar ya, nanti pipisnya gini lagi ya. ."
sambil peluk cium.:-)

image taken from: akuinginhijau.org

3. KURANGI FREKUENSI PEMAKAIAN POPOK

Tidak hanya memunculkan ruam kemerahan pada kulit, pemakaian popok terus menerus juga membuat anak ketergantungan.
Menjelang usia setahun bayi sudah semakin mengerti tentang cara buang air. Boleh malam saja pakai popok, tapi biarkan siang hari tidak usah. Biasanya di usia ini BAKnya sudah mulai jarang dan BABnya teratur.

image taken from: warungmainananak.com

4. GUNAKAN PISPOT ATAU TIDAK

Penggunaan pispot pada balita bisa menimbulkan dilema. Apalagi bentuknya sekarang lucu-lucu dan sudah seperti mainan. Bisa jadi si kecil senang dan mau duduk manis sambil buang air di pispotnya, tapi kadang efeknya mereka takut ke WC karena tampilannya tak semenarik 'mainan pipis' miliknya.

5. AJAK ANAK BUANG AIR KE WC/TOILET SETIAP MENJELANG TIDUR

Jadikan ini sebagai kebiasaan, lama kelamaan si kecil tahu kalau ini tempat buang air yang benar dan tak takut lagi.

6. KONSISTEN

Ibu atau pengasuh tak boleh bosan dan harus menjalankan program toilet training sedini dan semaksimal mungkin. Semakin cepat memulai, Insya Allah semakin cepat terasa hasilnya.

7. BILA GAGAL COBA TERUS TAPI JANGAN MEMAKSA

Kesiapan anak berbeda tiap individu, kita hanya mengajarkan dan mengarahkan. Apapun aktivitas bersama anak, buatlah semenyenangkan mungkin, jangan memaksanya, balita bisa stres juga loh. .

*

Memang tak mudah, tapi ini berhasil saya terapkan pada anak-anak saya. Si kecil sebelum 2 tahun sudah bisa bilang sendiri kalau lagi kebelet. Sekarang sudah hampir 3 tahun dan jika mamahnya gak denger karena keasikan ngeblog
maka ia repot sendiri buru-buru melepas celananya sambil teriak:

"Ma. . .amih. .!" (Banjar= ma, bakamih/ Indo: ma, kencing).
"Ma. .iya. .!" (Banjar= ma, bahira/ Indo: ma, berak)

.

KARENA AKU WANITA

image taken from: hanyakata.blogdetik.com

Kau wanita. . .
Yang melahirkan sendiri anak-anak mu.
Yang memecah kristal perawanmu dengan sukarela.
Yang merawat sendiri luka belukamu.
Yang kesepian di keramaian duniamu.

Kau wanita. . .
Yang meratapi warna senja, kala merenggut hari-hari mu.
Yang inginkan malam menjadi lebih lama, untuk perkaya mimpi-mimpi mu.
Yang inginkan pagi tak terlalu cepat kembali.
Agar kesibukan dan kepenatan hari tak lagi melemaskanmu seorang diri.

Written; 22 Juni 2009
KaBut, Kawasan Gambut.

.