Ketika Istri Minta Bantuan Suami

"Ayah. . .!"
atau
"Mas. . .!"
"Abang. . .!"
"Tolong, ambilin jemurannya dong, mama lagi nanggung di dapur, ntar keburu ujan. . ."

Contoh perintah permintaan tolong para istri pada para suami yang kala itu sedang libur bekerja.
Ada yang suaminya langsung mau menuruti 'perintah' istrinya tersebut, dan tak sedikit juga yang ogah-ogahan bahkan menolak sambil marah-marah karena menganggap perintah istrinya telah mengusik ketenangan hari liburnya atau malah merasa. . . Direndahkan harga dirinya.

Memang ya, tak semua pria atau suami bisa dengan positif menerima perintah istrinya, sekalipun itu adalah permintaan tolong yang urgent dan penting, karena banyak suami yang beranggapan bahwa pekerjaan rumah tangga adalah ranah spesialisasi seorang wanita, terkhusus istri.

Tapi coba kita flashback sebentar ke masa saat kita memilih seseorang menjadi pendamping hidup kita. Membina sebuah rumah tangga, berkeluarga. Tak apa dan manis terasa ketika cuma berdua, dan adalah hal wajib dan memang lumrah jika istri ditakdirkan melayani suami.

Sesekali bolehlah suami 'terjun' ke dapur

Tapi ketika anak-anak telah lahir, waktu dalam sehari seakan tak lagi mencukupi menuntaskan tugas hari ini. Sehingga seorang istri 'terpaksa' menyuruh dan minta bantuan suaminya (di sini saya bicara rumah tangga yang tanpa asisten/pembantu).

Bahkan perkara menyiapkan makanan saja bisa jadi acara yang sangat melelahkan ketika ada anak-anak, dan masalah cucian yang tak beres saja bisa jadi penyulut perang Baratha Yuda bumi gonjang ganjing, terbangnya gelas dan piring.

Karena istri hanya manusia dengan dua tangan dan dua kaki yang juga bisa kelelahan setengah mati walau tak banting tulang mencari nafkah seperti suami.

Maka janganlah para suami jadi menyalahkan istri ketika malam hari diajak 'berhubungan' si istri justru balik badan dan mengorok kelelahan. Lalu ramai-ramai memvonis istri yang tak mau menunaikan kewajiban.

Setiap kita harus jadi 'pembantu' bagi pasangan satu sama lain, agar tercipta keseimbangan, tak lagi saling menyalahkan, karena kerap saya dengar suami mengatai istri pemalas dan istri mencap suaminya egois.

Apa pasal? Karena istrinya tak bisa menyiapkan makanan dengan benar setelah ada 3 anak yang sangat menguras tenaga, dan ketika di rumah si suami lebih memilih tidur seharian daripada membantu istrinya dan menjaga 3 anak yang masih kecil itu. (ini sering saya lihat di lingkungan sekitar saya)

Pola pikir masyarakat kita yang 'menjudge' bahwa perempuan hanyalah makhluk nomor dua juga sangat mempengaruhi para pria. Yang merasa bahwa pekerjaan remeh temeh tetek bengek dapur dan rumah hanya akan merendahkan harga dirinya di depan publik.
Stempel DKI (Di bawah Ketiak Istri) akan melekat bila si suami rajin membantu istri. Benar-benar pemahaman yang menyesatkan dan sangat memojokkan kaum perempuan. Maka jadilah para suami enggan membantu urusan rumah istrinya.

Cobalah jika sesekali saling membantu. Istri menyiapkan pakaian dan keperluan suami, maka agar cepat selesai dan segera siap tak apa jika suami menemani anak-anak sementara istri sibuk di dapur.

Bukan berarti saya mengajak kaum adam untuk berbondong-bondong pindah tugas ke rumah dan mengambil alih semua kesibukan dapur. Tapi saat libur di rumah jangan habiskan untuk kenyamanan sendiri. Cobalah lebih membuka mata terhadap apa yang dilakukan istri selama ini.

Para istri juga harus tetap memaksimalkan kemampuan multitasking (melakukan beberapa pekerjaan sekaligus) yang sudah merupakan kelebihan sebagai wanita, jadi jangan terus menyuruh suami apalagi memanfaatkan kesediaannya membantu di rumah.

Saling membantu itu merupakan perkara dua belah pihak agar terjadi keseimbangan dua arah dalam hubungan rumah tangga, supaya dilain hari tak ada lagi pihak yang merasa lebih atau paling berhak/berjasa.

Dalam galau ku menyaksikan sesama wanita ibu rumah tangga.

Image: http://www.langitberita.com
.

29 thoughts on “Ketika Istri Minta Bantuan Suami

  1. Assalamualaikum wr wb.

    Susah juga sih koment soal yg belum pernah kurasakan sendiri.
    Mo ngomong dari yang pernah kulihat, ntar dibilang sok tahu.
    So kenapa ga belajar dan berkaca pada kehidupan rumah tangga Rasulullah?

    Like

  2. sedih jg sih pas liat kasus spt d'atas

    memang lebih baik ada keselarasan dr kedua belah pihak,
    saling mengerti n memahami..
    tugas istri bukan berarti ga bisa jadi tugas suami, juga sebaliknya

    menurutku berumah tangga itu
    ga hanya berpegang pd ikatan n kecocokan..
    tp jg perlu proses kesinambungan
    simbosis mutualisme dr dua pihak, jk mau seimbang..
    bnr ngk bund? 🙂

    hmmp.. moga kelak bs dpt jodoh yg pengertian, 😳

    Like

  3. @eanreana,

    wa alaikum salam.
    Susah memang di jaman sekarang ini meneladani Rasulullah dalam hal rumah tangga dan kesediaanx menjahit pakaianx sendiri, membntu istri dan merawat cucu2x sampai ada yg pipis dlm asuhan beliau.

    Mungkin satu hal yg plg 'mudah' ditiru adlh istri lbh dr satu, dan kebykn pria melakukanx tanpa memikirkan adil dan keadilan dlm berskp pd para istrix.

    Like

  4. Assalamu'alaikum wr wb

    mt pge bunda:)
    mv bun ntan cm silaturrahim z dlu ea,lum bs bc keseluruhan'a,
    jd g bs kmen ap",

    salam santun bunda

    Like

  5. Bagiku cukuplah kemulian seorang istri dengan melihat dari pekerjaannya mencuci dan memasak untuk suaminya,
    yg sedangkan menurut islam pekerjaan mencuci dan memasak bukan termasuk kewajiban seorang istri kepada suami.
    Akan tetapi dia tetap ihlas mengerjakannya tiap hari.
    tpi ketika istri minta bantuan kepada suami,
    mengapa suami enggan mengerjakannya ..

    Like

  6. Saling berbagi dalam menyelesaikan tugas Rt dg suami itu asik bun….nyuci bareng,masak bareng,maem bareng trz bo"ny juga bareng…hahahasekk..he he,

    antara suami istri hrz ada komunikasi yg cukup,pdkt jngn saat pacaran aj dunk,
    perasaan hrz sllu tertaut dg keadaan apapun, krna keterbukaan akn mendi peluluh kekakuan, dan minta bantuan cuami juga ada caranya biar dia ga sewot bun… Dirayu dikit gtu…pas nyuruh jngn serius bgt,kedipin mata atau seraya peluk dia…he he…biar dia ga kuasa nolak, he he…

    Met lanjut aktiftas:-)

    Like

  7. waw,,,,
    Apakah ini pengalaman pribadi ? Kita tanya google ja yaw,,

    Kalau dalam khasus diatas yang salah adalah suami,, goblok bin tolol tuh suami yang dikit dikt bilang isteri tidak bs menjalankan kewajiban,, itu mah dah kebangetan masa disuruh ambilin CD yang lg dijemur GAK MAU, bisanya cuma melorotin CD,

    Jadi untuk postingan ini ane dukung WANITA.

    Heeheh

    Like

  8. susah klo suami egois.dia mh sllu ingin dibantu giliran istri nyuruh malah marah2.istri bkn pembantu dan istri jg puny perasaan.udah cukup dianggap pembantu sm suami,cape ngurus rmh masak ini itu tp tak prnh dihargai malah ngatain jd pembantu aj k trima mending klo imam yg baik mah…ingat setetes airmata istri dicatat malaikat..

    Like

  9. @putri,

    Yang sabar ya bunda. Yakinlah walaupun lelah semoga kita dapat ikhlas melayani suami dan dapat balasan terbaik dari Allah.

    Like

  10. Wah, belum mnikah nih, jd blm pngalaman, he2.,
    Bingung m0 k0men pa, yg psti kta sbagai kaum muslim memiliki teladan yaitu Rasulullah saw, jd slyk'a kta meneladani akhlak n' prilaku'a.
    Wallahu a'lam.

    Like

  11. Sedikit saya ingin bercerita pengalaman saya, awalnya saya merasa di rendahkan karena di minta istri membantu mencuci baju, tapi makin lama makin sadar bahwa istri kerepotan mengurus anak kami yang masih kecil, jadi saya rela dan ikhlas, mencuci baju sendiri dan baju istri saya,

    Like

  12. @SATRIA,

    Alhamdulillah….
    Suami membantu istri itu sama sekali tidak merendahkan harga diri pria, Rasulullah saja mau melakukannya.

    Semoga jadi semakin pengertian ya pak dgn istrinya, bahagia selalu sekeluarga.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s