HARI-HARI ARIANA

Suasana pagi yang damai dan cerah itu sangat berlawanan dengan keadaan di sebuah rumah. Ariana sibuk membopong anaknya yang masih tidur menuju kamar mandi. Ditingkahi gerutuan anak pertamanya dan amukan anak keduanya, ia tanpa peduli dan telaten tetap memandikan keduanya yang belum sadar sepenuhnya karena harus segera berangkat sekolah.

Tak cukup disana ‘keributan ritual pagi hari’ yang terjadi setiap hari di rumahnya, si bungsu yang belum genap 2 tahun juga meraung-raung di ayunannya, minta ASI sarapan paginya. Tapi terpaksa dibiarkan saja karena si Ibu harus memakaikan seragam pada dua anak lainnya, yang kakak baru kelas 1 SD, yang kedua baru TK A.

Bertahun-tahun hidup menjadi ibu dan sendirian setiap pagi menyiapkan segalanya, membuat Ariana lupa bagaimana cara meminta bantuan pada suaminya, yang lebih memilih membenamkan kepala dalam sumbatan bantal, yang setiap jam kerja masuk siang, sepanjang paginya lebih memilih tidur dan menutup mata atas kerepotan 4 orang yang baginya lebih dari cukup hanya dengan diberi nafkah.

Persetan jika si istri mau jungkir balik menyiapkan sarapan atau harus salto menggeber matic di limit waktu 5 menit menjelang bel masuk berdentang. Segala upaya diplomasi yang ia lakoni agar suaminya mau membantunya telah gagal total dan sia-sia belaka.

Pun setali tiga uang dengan program Keluarga Berencana yang amat digembar-gemborkan pemerintah yang sejak awal menikah rutin ia ikuti dan patuhi. Semuanya tak berfungsi sama sekali, buktinya 3 jagoan kecil itu ada di tengah awal kehamilan yang bahkan tak ia rasakan dan si kakak yang bahkan masih menyusu padanya. Maka jadilah hari-hari yang meriah dan selalu ramai.

Usai sarapan tergesa dan menyuruh ke dua anaknya bergegas memakai kaos kaki dan sepatu, Ariana mengambil gendongan kangguru yang ia gunakan untuk membawa si bungsu. Ia turunkan Beat warna biru dari samping rumahnya menuju tepi jalan.

“Ayo Rangga, Ragil, 5 menit lagi sayang!!” Panggil Ariana pada ke dua anaknya yang serta merta berlarian menyongsongnya. Ia menstarter motornya dan naiklah ke dua anaknya di jok belakang. Juga si kecil yang tergantung di depan gendongan menyentakkan kakinya kegirangan ketika kendaraan tersebut meluncur ke jalan raya.

“Pegangan ya Sayang, kita berangkat, bismilah. . .” Seru Ariana dan dua anak dibelakangnya berpegangan erat, Rangga yang paling tua ada di belakang memeluk Ragil dan jemarinya erat memagut pinggang ibunya.

Kira-kira 500 meter saja jarak dari rumah ke SD Rangga, sesaat setelah Ariana mencium pipi anaknya dan anak itu dengan patuh menyalami ibunya, lalu masuk dan bel pun berbunyi. “Belajar yang rajin ya nak. .” Ariana melambaikan tangan dari balik pagar yang ditutup satpam sekolah dan Rangga berlari menuju kelasnya.

Ariana menghidupkan lagi motornya mengantar Ragil ke sekolah TK nya yang sedikit agak jauh dari sekolah Rangga. Untung TK masuknya agak siang jadi masih ada waktu. Setelah mengantar Ragil dan janji akan dijemput lagi Ariana bergegas ke pasar membeli keperluan untuk makan siang dan makan malam. Untung Ragil sudah tak rewel lagi bila ditinggal, jadi ia bisa pulang menuntaskan urusan rumahnya.

Setibanya di rumah Ariana teringat dengan 2 keranjang cucian yang harus segera dijemur.

“Reno, diam di sini ya, ibu ke belakang dulu jemur cucian.” Ariana meletakkan Reno di atas karpet dekat TV yang di sebelahnya ada suaminya yang tidur tengkurap bertutup bantal (karena sejak ada 3 anak, suami Ariana tak mau lagi tidur di kamar lantaran berisik dan ramai).
Reno nampak patuh dan asyik dengan mainannya.

Beberapa menit berselang, separuh cucian sudah dijemur terdengar ribut dari dalam rumah. “Maunya apa sih, ganggu orang tidur!” Rupanya si kecil Reno mengganggu ayahnya dengan suara mainan yang ia hentak-hentakkan dan bunyi mulutnya yang ngoceh gembira.

Reno kecil menangis di sambut pelukan ibunya dari arah dapur, Ariana menenangkan anaknya. Sementara suaminya melengos ke kamar mandi dengan gerutuan tak jelas dan bunyi benda dijatuhkan.

“Mas, tolonglah, kenapa mendadak marah? Kasian Reno, lagian ini udah siang.” Tegur Ariana pada suaminya kemudian dengan seramah mungkin. Airmatanya nyaris tumpah. Ditelannya bulat-bulat rasa lelahnya sejak pukul 4 dini hari terjaga dan disambut amarah Raja dunianya yang sangat murka karena ketenangan tidur paginya terganggu.

Pria itu bergegas berpakaian dan cuci muka, meraih kunci di atas meja.

“Mas, mau kemana?” sergah Ariana. “Gak sarapan dulu?”

Frans berlalu begitu saja melewati Reno menuju pintu dan serta merta meledaklah tangisnya.

“Yayah. . . Itut yah. . .” Tapi sang ayah sudah memacu laju motornya. Ariana menggendong Reno melebur bersama airmata dan isak yang sama banyaknya.

“Sini yuk dek, main sama ibu ya. .” Ia menghibur anaknya yang masih menangisi bapaknya yang pergi tiba-tiba, sekaligus juga membiasakan suasana hatinya bahwa ini bukanlah kali yang pertama. Toh segalanya akan jadi biasa dan lumrah saja.

30 thoughts on “HARI-HARI ARIANA

  1. Dan banyak lagi ariana lain,yg menjalani rutinitas seperti itu…

    Makanya perempuan terlebih ibu,,diciptakan lebih panjang ususnya…

    Tenang aja mbak…
    toh siapapun itu kalau mau masuk surga hrs lewat telapak kaki kita..

    Like

  2. @riniwp,
    sbrx hrus berlipat. Wanita yg selalu divonis lemah sejatix adlh manusia kuat dan tangguh.

    Bener mba rin, surga gak pnh beranjak dr telapak kaki kaum hawa.*nyengir iblis hohoho*

    Like

  3. @Yurika Xixi,
    dari kisah nyata pastix. Apa yg sy lihat dgn mata, bgmana sy menilai dgn kepala dan merasakanx melalui jiwa.

    Like

  4. Assalamualaikum wr wb.

    Semoga suamiku kelak perhatian. Tidak seperti suami Ariana dlm cerita di atas. Aamiin…

    Like

  5. Berdasarkan pengalaman pribadikah?Pasti bukan! tetapi artikel nya jd bhan renungan buat para suami untk lebh menghargai istri nya dan memahami..

    Like

  6. ariana semoga saja dia sabar menjalani rutinitas yg itu2 saja,apalagi anaknya 3 msh kecil2 bngt. . .dulu bikinx ngebut ya buk xixixi

    Like

  7. @cakil gembel RI
    SIP.
    @eanreana
    wa alaikum slm.
    Amin. .
    @arif yg trsakiti
    curhat boleh crita juga boleh.
    @pelangi senja
    @syahril
    pengalaman org.

    Like

  8. Kejadian seperti aniana diatas banyak terjadi memang mbak..? Yah namanyaa bumbu rumah tangga, tapi jika setiap hari begitu bukan bumbu lagi namanya..

    Like

  9. Apapun keadaan rumah tangga ya udah resiko suami istri ya bun, semoga sang frans hatinya suatu saat melembut dan menghargai pengabdian riana pada keluarganya….
    Semangat bun..:-)

    Like

  10. Kunjungan petang sob ma,ap telat 😥

    Nyimak aja dulu ya sob,
    Soal nya aku lg sakit [batuk] tp ttep Semangat untuk mengunjungi blog sobat

    Kunbal slalu di tunggu
    Ada Trik baru ni

    Trik Internet Gratis XL Combo support download big file Full Speed Via Opmin Handler dan opmin Ori dan ada juga trik lain nya

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s