YANG TAK AKAN PERNAH

Dulu. . .
Kau pernah ada di situ.
Di ruang hatiku yang ungu.
Memahatkan luka. . .
Menyisakan duka.
Kini. . .
Kau pun masih di sana.
Walau hanya nama.
Cinta yang tak akan pernah kau rasa,
meninggalkan jarak, menyesali sang waktu yang tak akan pernah membawamu. . .
.sendiri-by-pistonbroke.jpg

Image: pistonbroke.deviantart.com

KENDALA MENULIS DAN KUCING TAK BERTARING

Oh. .oh. . Ada apakah gerangan ini? Kemarin-kemarin sudah rampung baca buku Layla Majnun, dan ketika hendak mereviewnya di blog malah jadinya tidak karuan, drafnya hilang, padahal saya sudah demikian kerasnya menguras otak dan jemari saya keriting serupa mi instan kemarin.

Biasanya kan saya posting pakai UC BROWSER karena lebih cepat dan langsung full screen, sehingga bisa langsung atur kode penulisan. Ternyata dan ternyata UC saya mogok kerja. Ah. . . Jadi berandai-andai jika saja punya laptop. Oke, menabung dulu ya.

Terus ada lagi Nokia Express yang ternyata sangat bertolak belakang dengan namanya. Loadingnya secepat siput kena tabur garam dapur. Satu-satunya fiturnya yang lumayan hanyalah kemampuan unduh lagu bisa lebih dari satu. Jangan coba buat blogwalking, sampai bangkotan loadingnya gak penuh-penuh, menulis posting, draf gaib entah kemana, gagal simpan bahkan tanpa bisa kembali ke halaman sebelumnya. (nyesek). Jadi ini pakai opera mini hasil unduh kesana kemari, lumayan lah daripada lumanyun. Terus anak nagih game terus, gak tahu kalau memory hape saya Nokia 206 seharga 610.000 ribu rupiah ini sudah sesak padat dan semok.

Iri juga sebenarnya dengan android dan gadget cantik bertombol qwerty. Tapi sepertinya jari saya tak pantas untuk mereka. Karena kebiasaan jadi kuli dapur, korban ulekan cobek dan sambal. Maka bila mencet tombol qwerty, hurufnya bisa dobel dan kembaran dengan yang di sebelahnya. Layar sentuh apa lagi, bisa lari kemana-mana layarnya. Belum lagi kalau mesti klik yang kecil-kecil, jari saya benar-benar tidak di desain untuk itu. Gak kena-kena dan gak matching. Mahal pula ternyata, di atas bilangan juta

Huft. . . Begini ni, kalau sifat asli ibu-ibu keluar. Habis semua saya berondong satu persatu. Maklum efek siklus perempuan yang datang dengan segala aneka keluhan, perut sakit, pusing, sampai tulang beluang yang terasa lepas dari badan. Kucing pun gak luput jadi bahan omelan.

Iya, kucing saya di rumah tak mau lagi menangkap tikus, sukanya makan ikan goreng saja. Pantas ya, tikus-tikus modis sampai merangsek ke gedung dewan, morotin duit rakyat sesuka hatinya. Habisnya. . . Kucing-kucing keadilan pada kehilangan cakar dan taringnya. Makanya tikus-tikus semakin meraja lela, lemari antik di dapur saya pun tak luput di gerogotinya.

Kembali pada masalah menulis, bukan bosan atau kehabisan bahan. Tapi kendalanya di luar kemampuan saya, di era yang konon katanya moderen ini ternyata kita masih berkutat dengan segala ketertinggalan. Koneksi internet saja masih di bawah rata-rata, di jam-jam padat menjelang malam aksesnya sungguh memilukan, merayap, stagnan dan jalan di tempat persis tayangan sinetron di jam-jam prime time yang masih tak beranjak dari pola cerita yang itu juga.

Malu jadinya rasanya, ngaku melek teknologi, tapi masih tertinggal. Dan Estonia lah negara dengan akses internet tercepat di dunia, kabarnya unduh file dinosaurus cuma hitungan detik saja.

Lalu malas rasanya menulis sesuatu yang kesannya ‘berat dan berisi’ sekaligus memotivasi jikalau halangan dan rintangannya se kompleks ini. Padahal ide itu datangnya seperti bohlam menyala di atas kepala, jika tak di tuangkan segera, maka lampu itu akan padam dan pecah bertebaran, h i l a n g. . . Susah ditulis ulang.

DALAM SEMANGKUK MI INSTAN

Terlepas dari kontroversi tentang betapa jeleknya kandungan gizi mi instan, ia punya banyak hal yang pantas diceritakan;

mie-instant.jpg

Kembang kempis kehidupan karyawan menjelang akhir bulan, gaji di awal habis bayar kontrakan, sisanya cukup sekadar makan dan naik angkutan. Bersama sebutir telur di tengah malam, semangkuk mi jadi andalan; beberapa hari menjelang gajian.

Suasana begitu dingin dan sunyi, sudah tiga hari berturut-turut hujan turun menjelang sore dan senja membeku dipeluk gerimis. Semangkuk mi berkuah panas yang mengepul, dihirup aromanya dan disesap rasanya perlahan-lahan. . . Sungguh menghangatkan kebersamaan atau yang sedang galau sendirian.

Koridor sekolah yang panjang menjadi saksi bahwa kau menyapanya dan demi Tuhan, ada seulas senyum di sudut bibirnya. Kau mengajaknya bicara, ternyata ia ramah dan bersahabat, tepat ketika bel istirahat berdentang, ia tak menolak kala kau ajak menikmati semangkuk mi instan dan segelas air es di kantin sekolah. Karena kau pelajar dengan uang saku terbatas, ia memakluminya, dan tambah riang ketika kau taburkan kerupuk di atas mi. Ah, cinta remaja mu pun ternyata segurih bumbu mi instan.

Saat bencana melanda, orang-orang panik dalam hiruk-pikuk pengungsian. Berdus-dus mi dikirimkan sebagai satu-satunya bentuk bantuan yang paling praktis dan ringan. Realitas semangkuk mi amat dekat keberadaannya dengan rakyat jelata. Helaian-helaian keritingnya yang kenyal telah begitu akrab dalam lambung orang kita.

Memangnya kenapa jikalau aku tertekan dengan program diet yang sering gagal dan menyiksa itu? Toh ini cuma semangkuk mi di tengah malam, memangnya berapa senti yang akan ia tambahkan pada lingkar pinggangku? Iya, aku bergadang dan pengidap insomnia akut, ia menemaniku menulis dan menemukan kata-kata dari otak kepala tanpa jeda.

Sayang. . .! Hari ini mama malas masak, mi aja ya? Lagian udah lama gak makan mi, enak loh. . Mau yang berkuah apa yang goreng? Pelarian yang enak buat para ibu rumah tangga yang kena syndrome enggan ke dapur.

Mahasiswa yang tinggal sendirian dalam bilik sempitnya tentu lebih memilih mi ketimbang menanak nasi, apalagi terdesak presentasi.

Di kantor, rumah, kos, warung dan kantin, mi instan menjadi bagian tak terpisahkan dan tak terlupakan.

Gambar dari: pamere-pamere.blogspot.com

HARI-HARI ARIANA

Suasana pagi yang damai dan cerah itu sangat berlawanan dengan keadaan di sebuah rumah. Ariana sibuk membopong anaknya yang masih tidur menuju kamar mandi. Ditingkahi gerutuan anak pertamanya dan amukan anak keduanya, ia tanpa peduli dan telaten tetap memandikan keduanya yang belum sadar sepenuhnya karena harus segera berangkat sekolah.

Tak cukup disana ‘keributan ritual pagi hari’ yang terjadi setiap hari di rumahnya, si bungsu yang belum genap 2 tahun juga meraung-raung di ayunannya, minta ASI sarapan paginya. Tapi terpaksa dibiarkan saja karena si Ibu harus memakaikan seragam pada dua anak lainnya, yang kakak baru kelas 1 SD, yang kedua baru TK A.

Bertahun-tahun hidup menjadi ibu dan sendirian setiap pagi menyiapkan segalanya, membuat Ariana lupa bagaimana cara meminta bantuan pada suaminya, yang lebih memilih membenamkan kepala dalam sumbatan bantal, yang setiap jam kerja masuk siang, sepanjang paginya lebih memilih tidur dan menutup mata atas kerepotan 4 orang yang baginya lebih dari cukup hanya dengan diberi nafkah.

Persetan jika si istri mau jungkir balik menyiapkan sarapan atau harus salto menggeber matic di limit waktu 5 menit menjelang bel masuk berdentang. Segala upaya diplomasi yang ia lakoni agar suaminya mau membantunya telah gagal total dan sia-sia belaka.

Pun setali tiga uang dengan program Keluarga Berencana yang amat digembar-gemborkan pemerintah yang sejak awal menikah rutin ia ikuti dan patuhi. Semuanya tak berfungsi sama sekali, buktinya 3 jagoan kecil itu ada di tengah awal kehamilan yang bahkan tak ia rasakan dan si kakak yang bahkan masih menyusu padanya. Maka jadilah hari-hari yang meriah dan selalu ramai.

Usai sarapan tergesa dan menyuruh ke dua anaknya bergegas memakai kaos kaki dan sepatu, Ariana mengambil gendongan kangguru yang ia gunakan untuk membawa si bungsu. Ia turunkan Beat warna biru dari samping rumahnya menuju tepi jalan.

“Ayo Rangga, Ragil, 5 menit lagi sayang!!” Panggil Ariana pada ke dua anaknya yang serta merta berlarian menyongsongnya. Ia menstarter motornya dan naiklah ke dua anaknya di jok belakang. Juga si kecil yang tergantung di depan gendongan menyentakkan kakinya kegirangan ketika kendaraan tersebut meluncur ke jalan raya.

“Pegangan ya Sayang, kita berangkat, bismilah. . .” Seru Ariana dan dua anak dibelakangnya berpegangan erat, Rangga yang paling tua ada di belakang memeluk Ragil dan jemarinya erat memagut pinggang ibunya.

Kira-kira 500 meter saja jarak dari rumah ke SD Rangga, sesaat setelah Ariana mencium pipi anaknya dan anak itu dengan patuh menyalami ibunya, lalu masuk dan bel pun berbunyi. “Belajar yang rajin ya nak. .” Ariana melambaikan tangan dari balik pagar yang ditutup satpam sekolah dan Rangga berlari menuju kelasnya.

Ariana menghidupkan lagi motornya mengantar Ragil ke sekolah TK nya yang sedikit agak jauh dari sekolah Rangga. Untung TK masuknya agak siang jadi masih ada waktu. Setelah mengantar Ragil dan janji akan dijemput lagi Ariana bergegas ke pasar membeli keperluan untuk makan siang dan makan malam. Untung Ragil sudah tak rewel lagi bila ditinggal, jadi ia bisa pulang menuntaskan urusan rumahnya.

Setibanya di rumah Ariana teringat dengan 2 keranjang cucian yang harus segera dijemur.

“Reno, diam di sini ya, ibu ke belakang dulu jemur cucian.” Ariana meletakkan Reno di atas karpet dekat TV yang di sebelahnya ada suaminya yang tidur tengkurap bertutup bantal (karena sejak ada 3 anak, suami Ariana tak mau lagi tidur di kamar lantaran berisik dan ramai).
Reno nampak patuh dan asyik dengan mainannya.

Beberapa menit berselang, separuh cucian sudah dijemur terdengar ribut dari dalam rumah. “Maunya apa sih, ganggu orang tidur!” Rupanya si kecil Reno mengganggu ayahnya dengan suara mainan yang ia hentak-hentakkan dan bunyi mulutnya yang ngoceh gembira.

Reno kecil menangis di sambut pelukan ibunya dari arah dapur, Ariana menenangkan anaknya. Sementara suaminya melengos ke kamar mandi dengan gerutuan tak jelas dan bunyi benda dijatuhkan.

“Mas, tolonglah, kenapa mendadak marah? Kasian Reno, lagian ini udah siang.” Tegur Ariana pada suaminya kemudian dengan seramah mungkin. Airmatanya nyaris tumpah. Ditelannya bulat-bulat rasa lelahnya sejak pukul 4 dini hari terjaga dan disambut amarah Raja dunianya yang sangat murka karena ketenangan tidur paginya terganggu.

Pria itu bergegas berpakaian dan cuci muka, meraih kunci di atas meja.

“Mas, mau kemana?” sergah Ariana. “Gak sarapan dulu?”

Frans berlalu begitu saja melewati Reno menuju pintu dan serta merta meledaklah tangisnya.

“Yayah. . . Itut yah. . .” Tapi sang ayah sudah memacu laju motornya. Ariana menggendong Reno melebur bersama airmata dan isak yang sama banyaknya.

“Sini yuk dek, main sama ibu ya. .” Ia menghibur anaknya yang masih menangisi bapaknya yang pergi tiba-tiba, sekaligus juga membiasakan suasana hatinya bahwa ini bukanlah kali yang pertama. Toh segalanya akan jadi biasa dan lumrah saja.

PLEDOI BULAN ATAS KUPU-KUPU KEEMASAN

Sebuah puisi karya: Abdul Wachid B.S.Mungkin tak semua pelacur rela menjadi pelacur.
Ada bagian dirinya yang perlahan hancur.
Ia juga ngeri berjalan sembari mimpi di lorong-lorong malam sepi.
Harapan pelangi telah ia uapkan, ke cakrawala yang mengabur garisnya.
Bahkan cinta kemarin telah meneteskan fajar perawannya.
Ia perempuan. . . Yang merasa tak lagi pantas mendo’a. Pelangi harapannya telah ia tiup.
Tinggal abu dalam batinnya yang berangkat membatu.

alone-cry-crying-sad-girl.jpg

Suatu hari pernah pula ia bersabar, duduk sopan diundang seminar.
Tapi justru di situ ia tercekat. Betapa berhamburan bunga dalam kata lewat.
Seperti dulu sang pacar saat mengincar fajar perawannya. Lalu menyeret ia ke kantor serta trotoar.

Oi, kerbau jantan yang lapar! Melenguhkan nyanyian moral, sambil syahwat dan dengusnya brutal. Menyeruduk ia ke jurang kehidupan yang kelam dan dalam.

Mungkin tak semua pelacur rela menjadi pelacur. Hati perempuan itu mulai bermekaran. Tak segala kemarinnya sebenarnya hatinya. Kini tengah malam mulai berbinar memperdengarkan nyanyiannya.
“Rabi’ah, wahai Rabi’ah, ajari daku mencintaiNya!”

Ilustrasi gambar dari: karsagalih.wordpress.com

BATASAN WANITA MENIKAH DALAM AKTIVITAS DUNIA MAYA

Sebelum kita masuk ke inti postingan kali ini saya mengeluhkan tentang gangguan beberapa hari ini. Entah mungkin karena blog ini sedang ada kendala atau memang jaringan kartu seluler yang saya pakai sedang bermasalah, sehingga setiap blogwalking dan memberi komentar selalu hilang atau error.

Jadi saya belum sempat lagi hadir ke rumah kreasi teman-teman, maaf ya. . .

Oke, kita langsung ke inti bahasan postingan kali ini yaitu BATASAN WANITA MENIKAH DALAM AKTIVITAS DUNIA MAYA.

Sebenarnya hal ini sudah lama sekali saya rasakan, dan terasa mengusik naluri keperempuanan saya sebagai wanita menikah dan bukan gadis muda lagi yang bisa bebas bergaul dengan siapa saja (tentu saja dengan masih mematuhi aturan).

Terhitung sejak tahun 2011 ketika saya mulai aktif di dunia maya melalui jejaring sosial terpopuler besutan Mark Zuckerberg bernama Facebook. Saya merasakan euphoria dan kesenangan saat bisa ‘menemukan kembali’ teman-teman sekolah saya yang telah lama ‘hilang’.

Dan saya sadari luasnya pergaulan dunia maya yang tanpa batas kadang membuat kita juga mengenal dan menambah teman yang sama sekali bukan teman di dunia nyata. Sampai akhirnya saya aktif dalam dunia blogging ini pun juga termasuk bagian pergaulan era cyber yang tak terbatas itu.

Maraknya berita perselingkuhan, sampai pemerkosaan yang diawali dari jejaring sosial membuat suami kerap wanti-wanti saya, memperingatkan sampai mengultimatum kegiatan saya yang sering berlama-lama di depan layar handphone. Karena memang tak jarang suami saya menemukan kata-kata dari sekedar say hai atau hello, atau selamat malam yang dikirim di inbox saya pada waktu dini hari. Sampai yang agak meresahkan ketika seseorang nekat mengirim sms pada saya dan merayu. Mungkin ini hal biasa bagi sebagian orang, sekedar bercanda dengan kata mesra tak akan apa-apa. Tapi tidak bagi saya!

Meski tak sedikitpun saya hiraukan, tetap saja hal itu sangat mengganggu karena itu telah sukses membuat orang yang saya sayangi diam seharian karena mungkin marah-cemburu-kesal pada saya.

Meski semuanya tergantung pribadi dan pendirian masing-masing dan saya juga bukan lagi remaja labil yang dengan sigap melayani pesan-pesan macam itu agar bisa berkenalan dan syukur-syukur bisa ketemuan dan lantas berpacaran, tetap saja kerap membuat suami cemberut. Sampai-sampai ada anggapan orang bahwa ibu-ibu seperti saya TAK PANTAS AKTIF DALAM DUNIA MAYA. Lalu apa saya harus menjadi perempuan dekil yang bisanya hanya berkutat dengan asap dapur SELAMANYA ?!!

Oleh karena itu saya MINTA MAAF pada siapapun yang mungkin pernah saya tak pedulikan pesannya atau komentar yang mengandung ‘konten berbahaya’ buat saya sekeluarga.

Karena sejatinya tujuan saya aktif menulis di blog dan eksis juga di facebook adalah untuk mempublikasikan bukan sekedar puisi tapi juga isi hati dari penatnya tugas harian Ibu rumah tangga seperti saya. Juga sebagai hiburan, menambah teman-hanya teman- dan pengetahuan. SELAIN DARI ITU TIDAK !!

Jadi, apabila sampai terjadi dampak negatif dunia maya dan kekhawatiran suami karena sepak terjang saya di area cyber ini, jelas itu amat sangat tidak keren sekali. Apa kata dunia??

Mungkin, saya hanya kepedean dan kegeeran saja. Hanya dari pesan-pesan dan kata-kata semacam itu kok berani menyimpulkan begini. Tapi, inilah batasan yang saya bangun agar aktivitas pergaulan dunia maya saya tetap pada jalurnya, dan tidak melenceng dari tujuannya semula.

Bagaimana dengan Anda dan kalian semua?

PENCAPAIAN HARI INI

Wow! Setelah berkali-kali mencari cara, akhirnya saya berhasil juga MEMASANG WIDGET TERJEMAH BERBAGAI BAHASA di menu navigasi blog saya.

Berharap pengunjung yang tersesat dari negeri seberang atau alam sebelah dapat membaca isi blog ini.

Dan saya harus memperbaiki lagi penulisan saya, agar terjemahannya sesuai dengan kaidah bahasa yang baik dan benar.