DI ATAS JEMBATAN ITU

Sore itu teduh sekali, hujan barusan lewat sesaat lalu, menyisakan aroma gosong aspal jalanan yang seharian dipapar matahari mendadak ditimpa butiran air. Sepanjang jalan yang basah menampilkan marka jalan yang pudar warna putihnya dimakan waktu, terus berjibaku bersama cuaca yang tak menentu, ditinggalkan kemarau disambangi hujan, berganti-ganti, tiada henti.

Seketika jalanan sore itu mendadak ramai setelah gerimis benar-benar usai dan matahari lembut bercahaya di cakrawala barat, nyaris condong mencium kaki langit. Bermacam kendaraan tumpah ruah di jalanan, diikuti derum mesin yang menguarkan bau knalpot hasil pembakaran. Sesekali air becek bercipratan dilalui roda yang kurang kesabaran.

Sementara pedagang gorengan mendorong gerobaknya menuju sisi jembatan tempat mangkal mengais rupiah seperti biasanya. Penjual rujak keliling dan denting mangkok dipukul sendok dari tukang bakso turut menambah riuh suasana sore itu.

Tukang ojek malas-malasan duduk di atas jok motornya menanti penumpang di pangkalan, dan tukang becak ngos-ngosan mengayuh pedalnya menuju jembatan yang jalannya sedikit menanjak. Juga tukang jual pentol goreng yang membunyikan klakson karetnya melengking-lengking di antara hilir mudik bermacam kendaraan di penghujung hari itu. Sedangkan toko tempat fotokopi menutup rolling doornya, menyisakan bunyi berderak dan berdecit.

Jembatan itu menjadi ramai dan penuh di sisi kanan dan kirinya dengan para pedagang pinggir jalan yang coba meraih laba dari setiap orang yang lewat. Tak ketinggalan sekelompok anak muda dan para ABG-ABG labil bertenggeran di atas trotoar sisi jembatan. Berpasangan naik motor kreditan, berpagut memeluk pinggang si cowok berstatus pacar, dengan celana jins super pendek memproklamirkan warna paha dan mendeklamasikan belahan dada.

Mereka cekikikan dan bicara riuh rendah menertawakan status atau trending topic di sosial media juga petantang petenteng dengan ponsel pintar di sebelah kiri sementara tangan kanan memegang setir motor berjenis matic itu.

Di sebuah sudut jembatan yang agak terlindung di bawah pohon Lamtoro Gung yang berdaun jarang, seorang gadis muda duduk dengan gelisah. Berulang kali ia menengok jam di tangan kirinya dan memencet-mencet ponsel keluaran terbaru bertombol qwerty miliknya. Sejurus kemudian ia bangkit, berdiri dan melangkah bimbang memperhatikan kanan dan kiri jalan. Tampak jelas ia tengah menanti seseorang. Waktu terasa merambat amat sangat lambatnya di tengah ritual menunggu seperti ini. Gadis itu kembali duduk ke tempatnya semula, menekuk muka memasang wajah galau dan membayanglah duka di kedua matanya.

“Kamu jadi kesini gak? Hampir karatan aku nungguin, ada yang mau aku omongin.”

Tak tahan, ia kirimkan pesan singkat itu pada seseorang yang entah di mana setelah kesekian menit berlalu dalam gelisah yang membuat jengah dan seakan senja tak akan jadi malam.

Gadis itu bertopang dagu, dan nyaris terlonjak kaget saat lagu Rindu milik Agnes Monica mengalun, menandakan ada panggilan masuk. Ia segera mengangkat ponselnya dan tertera nama yang telah dinantikannya beberapa waktu yang terasa merajam ini; Rian Love.

“Halo. . . Ya, aku di tongkrongan biasa beb, cepet ya.”

Dan telepon ditutup, sekian menit kemudian sebuah Satria F menepi, pengemudinya turun disambut wajah lega si gadis yang hampir jadi patung di jembatan itu karena terlalu lama menunggu. Tanpa sempat bersuara pria muda berusia sekitar 17 an itu segera meraih tangan gadis itu dan menariknya menuju sisi toko fotokopi dan terlibat sebuah perselisihan.

Laki-laki bernama Rian itu memegang kepalanya frustasi dan terlontar kata-kata makian dari mulutnya.

“Kok kamu jadi bodoh gini, Mia?! Kan udah berkali-kali aku bilang. . .”

Gadis bernama Mia itu menunduk dan menutup wajahnya, saat ia mengatakan fakta, lelaki pujaannya tak lagi semanis yang pernah ia kenal selama ini. Mata Rian berkilat marah, mulutnya terus saja menceracau mengumbar umpatan menambah airmata Mia membanjir di pipinya.

Tanpa peduli Rian segera menuju motornya dan hendak tancap gas. Mia histeris. “Rian!! Kamu gak boleh pergi!”

Mia berlari menyusul Rian tanpa melihat kiri kanan dan saat di tengah jalan sebuah sedan menabrak tubuhnya. Belia 15 tahun itu terkapar bersimbah darah meregang nyawa.

. . .smoga saja kau dengar dan merasakan getaran di hatiku yang lama haus akan belaianmu. Seperti saat dulu, saat-saat pertama kau dekap dan kau kecup bibir ini dan kau bisikkan kata. . . Aku cinta kepadamu. . .

Lagu Rindu itu mengalun lagi dari ponsel Mia yang tergeletak di sisi jalan, sebuah telepon dari ibunya yang mencarinya sejak ia minggat 3 hari yang lalu, setelah hasil pemeriksaan dokter menyatakan bahwa Mia tengah mengandung buah cinta terlarangnya dengan Rian.

Peluhku berjatuhan menikmati sentuhan, perasaan yang teramat dalam. . Tlah kau bawa sgala yang ku punya. . .Sgala yang ku punya. . .

Advertisements

SURGA DI TANAH BORNEO

Orang bilang tanah kita tanah surga. Tongkat kayu dan batu jadi tanaman. . .

Penggalan kalimat lagu itu pasti sudah akrab di indera pendengaran kita. Menggambarkan betapa kayanya keanekaragaman hayati di negeri gemah ripah loh jinawi ini; Indonesia.

Dan salah satu wilayah yang menjanjikan surga kehidupan dunia adalah Pulau Kalimantan atau Borneo.

Ya, dalam perjalanan saya kemarin mengendarai motor dengan suami dan ke dua anak saya, kami berkunjung ke rumah keluarga yang ada di Pelaihari, kabupaten Tanah Laut, saya menyaksikan ‘surga kecil’ itu.

Karena naik motor dan cuaca teduh, saat itu saya sangat menikmati perjalanan. Dan memang saya sangat jarang bepergian ke luar kota sehingga hal itu terasa istimewa. Walau pinggang terasa penat luar biasa.

Sayangnya saya tidak sempat singgah untuk mengambil fotonya. Jadi saya akan melukiskannya dengan kata-kata saja.

Jalan yang menurun dan menanjak di hiasi perbukitan di kejauhan yang di tutupi kabut kelabu di akhir musim kemarau, angin sejuk sepanjang jalan dan ketika memasuki gerbang selamat datang membuat mata saya terpana.

Kawasan yang dahulu terisolir dan kurang tersentuh tangan pembangunan, kini seakan bangkit dari ruang pertapaannya. Sejauh mata memandang saya menyaksikan perkebunan kelapa sawit menggantikan area hutan di perbukitan. Sepanjang kiri dan kanan jalan ada berhektar-hektar pemandangan hijau dari dahan sawit yang terawat dan tertata dengan baik. Suatu pertanda sebuah geliat kehidupan bermula dan menghidupi masyarakat di wilayah tersebut. Di sekitarnya juga terdapat lahan-lahan garapan yang belum ditanami, dan ada pula yang ditanami cabai dan palawija.

Akses kesejahteraan dan pembangunan pun juga terasa dengan dilengkapinya fasilitas sarana dan prasarana umum. Seperti gedung perkantoran pemerintah, pusat pertokoan dan sarana kesehatan, juga jalan sebagai penunjang mobilitas warga yang paling vital.

Ya, selain batu bara, kelapa sawit juga menjadi primadona di tanah Borneo ini. Sehingga daerah yang dulunya banyak hutan kini seakan disihir menjadi lahan industri perkebunan yang menjanjikan prospek masa depan yang cerah kemilau dan hijaunya warna harapan, sehijau daun sawit yang melambai riuh rendah diterpa angin.

Kata orang, dahulu lahan ini sempat jadi perkebunan tebu (manisan), tapi semua itu telah tinggal cerita. Sawit lebih menjanjikan dan telah menggantikan lahan garapan, membuat penyerapan tenaga kerja dari dalam dan luar daerah untuk sama-sama menggarap rezeki di kehijauan ini.

Walau merangseknya proyek pembangunan ke daerah-daerah pelosok bukan tanpa dilema, di samping berbagai kemudahan yang menunjang kehidupan manusia yang senantiasa bergerak, pembangunan juga kerap membawa efek negatif petaka dari kelelahan alam yang masih terus dieksploitasi.

Sudah tak asing lagi jika pemukiman di daerah pegunungan selalu menjadi langganan banjir dan longsor. Ketika musim hujan datang, air bah menyapu apa saja yang dilewatinya.

Jadi, hendaknya surga yang gemah ripah loh jinawi ini tetap dipelihara kelestariannya, karena jika tidak ia bisa kapan saja menjelma jadi neraka. Dan sudah sepatutnya pembangunan kita jadikan sebagai sesuatu yang ‘membangunkan’ dari keterlenaan menutup mata atas dampak yang ditinggalkan. Bukan menjadikan pembangunan sebagai suatu hal yang kelak akan ‘meruntuhkan dan menghancurkan’, menjadikan surga di timur dunia, Indonesia ini, hanya tinggal cerita.

Hm. . . Wallahualam.


Catatan perjalanan lainnya:
Alat Berat dan Pusaka Tanah Borneo

10 ORANG YANG JADI SAUDARA-SAUDARA IBLIS

Untuk pertama kalinya saya copas artikel dan jadi postingan di blog ini. Artikel ini saya dapat dari status seorang teman di facebook, saya membaginya di sini karena berharap manfaat untuk diri pribadi dan kita semua.

10 ORANG YANG JADI SAUDARA-SAUDARA IBLIS :

1. Pemimpin yang tidak bisa menjaga amanah

2. Orang yang sombong

3. Orang kaya yang tidak tahu darimana memperoleh harta dan untuk apa digunakan

4. Orang alim (ulama’) yang membenarkan penguasa dholim

5. Pedagang yang curang

6. Orang yang suka menimbun harta

7. Orang yang berzina

8. Orang yang suka memakan harta riba’ (rentenir)

9. Orang kikir yang tidak mau menginfaqkan hartanya, dan

10. Orang yang suka minum arak

(Kitab Nashoihul Ibad)


Semoga kita semua tidak menjadi saudara iblis dan berteman syaitan yang terkutuk.

Membahagiakan Orang Tua

Sudah jamak kita lihat dan kita dengar bahwa sebagai anak kita pasti ingin membahagiakan orang tua. Sebagai tanda bakti kita, sebagai penebus hutang budi (yang walau bagaimanapun tetap tak akan terbayar dengan apapun), juga sebagai kewajiban kesantunan kita terhadap orang tua. Rasanya sah-sah saja dan memang seharusnya jika kita sebagai anak berusaha membahagiakan orang tua.

Seperti yang biasa kita lihat dalam tayangan-tayangan televisi. Orang-orang yang punya materi berlebih dapat dengan mudah melakukan sesuatu yang ia klaim sebagai cara membahagiakan orang tua. Sebutlah para artis yang lagi eksis di atas panggung popularitas. Mereka beramai-ramai memberangkatkan haji atau umroh orang tuanya atau membelikan rumah mewah dan mencukupi segala kekurangan materi yang selama ini pernah dialami. Memang, di usia senja para orang tua, kita merasa perlu dan memang wajib membuat mereka bahagia.

Tapi akan lain kisahnya jika si anak bukan orang dengan materi berlebih. Ia juga ingin membahagiakan orang tua walau ia sendiri untuk bisa makan 2 kali sehari saja harus kerja mati-matian. Apa segala bentuk kebahagiaan harus diukur dengan materi dan hal-hal yang bisa dibeli dengan uang saja?

Lalu bagaimana jika si anak tak pernah jadi kaya ketika ia dewasa?

Saya pribadi kadang sedih mengenang semua ini. Menikah di usia muda lepas 3 bulan lulus SMU, punya anak hanya berselang se tahun setelahnya, berkutat dengan kesibukan anak beranak, membuat saya tak sempat memasuki dunia kerja. Kemandirian finansial saya tak punya karena hanya mengandalkan penghasilan suami, dan semua itu seakan-akan memberi jarak dengan ke dua orang tua saya. Saya masih tak bisa memberi kontribusi apa-apa di hari senja mereka.

Tapi toh percuma jika saya menyesali diri dan waktu yang telah lalu, kita bisa memulai dari hal-hal kecil.

1) Mendoakan orang tua.
Di tengah tekanan hidup dan guncangan labil ekonomi yang terus menerjang hari ke hari. Kalau harta sudah tak punya, doa anak saleh adalah pahala yang tidak putus-putusnya sampai pangkal liang lahat menghimpit manusia (semoga).

2) Berusaha Mandiri
Karena tak bekerja, maka saya bisa full mengurus anak tanpa harus minta bantuan orang tua. Saya tak tahu lebih bahagia mana antara orang tua yang anaknya tidak kaya tapi tak merepotkan dengan titipan cucu DENGAN orang tua yang bisa dinaikkan haji tapi oleh anaknya dijadikan ‘pembantu’ ??

3) Stop membawa masalah ke rumah orang tua
Di awal-awal menikah karena masih di usia remaja labil dan harus seatap dengan mertua membuat saya jadi tipikal istri “cek cok pulang”. Iya, ada masalah dengan mertua saya pulang, salah paham dengan laki saya lari, masalah dikit saya minggat. Bawa-bawa sebakul airmata dan menangis sepuasnya di hadapan orang tua. Memalukan! Kalau mau curhat masalah tidak harus dramatis ala sinetron seperti itu kan?

4) Sesekali ajak anak berkumpul dengan kakek neneknya
Pernah dengar pepatah : DEKAT BAU TAHI, JAUH BAU WANGI?? Nah, ini berlaku untuk kehadiran anak cucu di usia tua para orang tua. Percaya deh, kalau setiap hari harus bersama cucu yang super aktif tak bisa diam, para orang tua yang nota bene sudah tak muda lagi dan kerap disinggahi aneka penyakit, maka kebersamaan yang terlalu sering bisa jadi biang pusing. Jadi, kita bisa ajak anak menginap di rumah ortu misalkan setiap akhir pekan saja.

5) Mendengarkan
Kalau dahulu kita terbiasa menuntut orang tua untuk selalu mendengar kita, sekarang cobalah datangi mereka dan dengarkan ada cerita apa. Walau hanya cerita tentang pinggang yang sering sakit, sinetron rebutan suami yang membuat sedih atau tentang Syahrini yang tambah seksi atau mungkin masalah urusan pensiun di hari tua. Dengarkan apa kata orang tua!! Kadang kita hanya perlu menyediakan dua telinga untuk mengerti mereka.

6) Mudah dihubungi
Menikah, tinggal berjauhan dan sudah punya kehidupan sendiri, jangan jadikan alasan untuk antipati terhadap orang tua. Aktifkan selalu nomor hape dan buat akses yang mudah untuk dicapai orang tua. Dan jika mereka butuh bantuan, hadirlah walau kehadiran itu tak banyak membantu.

Karena kita orang kecil yang mudah merasa berbahagia walau hanya dengan hal-hal kecil.

KETIKA JUMLAH ANAK TERUS BERTAMBAH

. . .lalu di tanah air? Kriminalitas mengganas, jaminan sosial amblas, pendapatan perkapita terjun bebas, tapi bayi terus menerus lahir. Rajin sekali kita beranak. Di apartemen Mallot ku temukan paradoks pertama. . .

Itu kalimat yang saya kutip dari salah satu bab di novel tenar karya Andrea Hirata, Edensor dari Tetralogi Laskar Pelangi. Yang mana di bab itu menceritakan tentang pasangan warga Prancis yang telah menikah dan sukses tapi tidak mau punya anak. Dan itu sangat bertolak belakang dengan keadaan di republik ini.

Saya menulis ini karena terusik oleh keresahan saya akhir-akhir ini melihat beberapa teman saya yang ‘sangat rajin memproduksi anak’. Loh? Orang yang punya anak banyak kok saya yang resah? Lha wong bapakx ada kok?

Bukannya mau jadi rese dan mengurusi rumah tangga orang. Cuma kemarin ada seseorang yang bercerita kalo KB nya jebol lagi. Iya, lagi, untuk ke empat kali. 3 anaknya ada yang usia 8, 5 dan 2,5 tahun, menanti adik yang sudah jalan 3 bulan dalam kandungan. Saya tahu bagaimana kerepotannya merawat ke 3 anaknya yang masih kecil-kecil itu, dan melihat matanya berkaca membuat saya tak punya kata-kata.

Saya hanya tak paham, kenapa anak-anak bisa mudahnya lahir tanpa persiapan dan jaminan masa depan yang memadai? Entah karena ingin anak laki-laki atau ingin yang perempuan, pokoknya mudah saja kita menambah anak padahal si kecil pun masih belum tuntas menyusu. Atau. . . Termakan bulat-bulat jargon banyak anak banyak rejeki?

Untuk ini, sedikit pun saya tidak meragukan rejeki dari Tuhan. Setiap anak yang lahir memang telah ditetapkan rejeki dan takdirnya masing-masing. Tapi pun. . . Bukankah rejeki yang telah ditetapkan dan disediakan Tuhan untuk kita juga harus kita jemput dengan bekerja? Nah, jikalau pertambahan anak tidak diimbangi dengan pertambahan yang lainnya, apa jadinya? Bukan semata soal materi, ini juga menyangkut beban mental, fisik dan emosi.

Yang banyak saya saksikan justru lilitan hutang menjerat ibu-ibu yang beranak banyak ini. Saban pagi ada saja anak yang terpaksa dibiarkan menangis sampai 2 jam lamanya sementara ibunya tak bisa apa-apa karena harus mengurus dua atau tiga anak yang lainnya yang lebih kecil. Setiap sore ada saja penagih hutang harian yang datang dengan mata melotot dan alis terangkat. Perkara makan dan mandi saja jadi tak teratur, pendidikan anak jadi kurang diperhatikan. Iuran bulanan, kebutuhan harian dan bla bla bla. . . Yang membuat saya tak habis geleng kepala.

Saya tak tahu. . . Apa program KB gagal? Padahal rasanya pemerintah sudah menggratiskan beberapa jenis alat kontrasepsi, pun juga tak kurang promosi. Miris saja rasanya jika kita terus menambah kuantitas tanpa memikirkan kualitas. Karena kalau mau jujur, terlalu banyak jumlah anak akan memicu masalah lain. Kita sudah mulai akrab dengan komoditi jual beli bayi, aborsi, penurunan kualitas kesehatan, aktivitas ibadah terlupakan karena kerepotan. Kalau di tempat saya ada istilah “kupala gatal ja kada tagaru lagi” (menggaruk kepala gatal saja tak bisa lagi) karena saking repotnya, boro-boro mau shalat dan lain sebagainya. Ckckck. . .

Lalu. . . Mempertimbangkan lagi opsi penggunaan kontrasepsi bagi para suami. Saya yakin, mendengar atau membaca ini kaum Adam pasti kebat-kebit hatinya. Yang ini saya lebih tak paham lagi, kenapa pria enggan sekali (baca:tak mau) di KB. Tak usah bicara soal Vasektomi yang membuat pria masih mampu berhubungan suami istri tapi tak lagi bisa menghamili, untuk memakai kondom saja masih banyak yang ogah-ogahan. Dan wacana pil harian buat kaum pria juga jadi tinggal rencana.

Rasanya jadi diskriminatif sekali, apa pencegahan kehamilan hanya diperuntukkan (baca: diharuskan) untuk kaum perempuan? Padahal ‘itu’ merupakan aktivitas dua arah, perlu tanggung jawab berdua, dan ketika kehamilan tak terencana terlanjur terjadi, pasangan suami istri tak perlu menggelar perang dunia ke tiga karena tidak siap.

Entahlah. . .



Catatan wanita lainnya:
Antara KB dan Ibadah
Antara Ibu-Ibu, Kontrasepsi dan Kenaikan Berat Badan

Kerinduan Itu. . .

nightrain.jpg

Biarkan kerinduanku merayapi selasar malam. Yang sunyi dihempas gigil gerimis, dari hujan sesaat lalu. Yang tempiasnya membias pada kaca berdebu. Melukis embun. masih menggugurkan daun-daun.

Kita masih terseok di atas jalanan. Menapaki alur kehidupan yang pontang-panting hulu ke hilir. Masih merangkai belukar terjal menuju rumah. Mendaki ngarai harapan yang kadang menjanjikan sejuta kemungkinan.

Ya, satu kemungkinan untuk kita dapat membuat kesempatan. Barangkali mungkin tentang cinta kita mampu melewati dekade pertama. Atau. .mungkin pula kerinduan yang kerap ku gulirkan dari keriuhan warna malam. Kala ku ratapi luka-luka masa lalu seorang diri; menekuri raungan sunyi.

Aku pun enggan lagi menuai rintik airmata ini. Aku bosan menggadaikan harapan menjual impian. Kita masih sibuk menghitung waktu dari hari ke hari. Dari senja ke senja berikutnya. Dari pagi ke pagi. . . Masih menelikung mimpi.

Dan aku ingat dahan Asam yang kau pangkas daunnya itu. Karena jemu terus melihatnya berjatuhan mendekap tanah. Ranting-ranting tuanya patah diterpa angin hujan tempo hari. Akar yang tak kuasa lagi berdiri.

Entah apa yang hendak dikabarkan langit pada rindu yang ku tanggungkan itu? Mungkin saja air yang menguap menjelma udara. Atau hujan menjadi salju ditipu cuaca?

Tak mengapa jika kita mesti datang kembali ke jalanan kota. Menggelar cita sepanjang alur trotoar. Menegakkan gerobak-gerobak berkaki lima. Mendamparkan lapak-lapak yang masih saja berspekulasi membilang untung rugi.

Di antara rindu, menggubah kidung sendu.


Image:
mung-diary.blogspot.com

Konsisten Menulis Mengundang Inspirasi

Apa ya?

Sebenarnya sudah lama juga merasa seperti ini.

Konsisten Menulis Mengundang Inspirasi

Kira-kira seperti itulah. Rasanya sungguh mengejutkan bagi saya, setelah selama beberapa bulan ini aktif blogging, ada sesuatu yang sepertinya mendadak muncul dari dalam kepala saya.

Awalnya saya blogging hanya sebagai hiburan dan sebagai alat mendokumentasikan tulisan di buku harian. Maka postingan saya banyak dari tulisan saya dahulu. Tapi ternyata saya agak kaget dengan hobi menulis ini.

Setelah kemarin sempat kena virus malas, di batasi gangguan koneksi pula. Saya berjanji pada diri sendiri apapun yang terjadi saya akan berusaha tak akan vakum dan berhenti menulis. Dan ternyata saya bisa melewati masa-masa malas tanpa ide itu.

Contohlah para pekerja surat kabar yang terbitnya setiap hari dan dikejar deadline. Apa pernah mereka kehilangan ide dalam menulis berita? Atau vakum sehari karena kehabisan kata-kata? Tidak kan? Malah berita di koran isinya semakin beragam, segar dan menarik.

Ini membuktikan bahwa kita bisa karena terbiasa. Bakat menulis bukan sesuatu yang mutlak untuk bisa menghasilkan karya tulis. Intinya adalah kemauan dan konsisten. Seperti cerpen dan artikel yang saya tulis baru-baru ini: HARI-HARI ARIANA , ANTARA AKU, KAMU DAN ISTRIMU dan SATU MALAM JELANG LEBARAN HAJI.

Saya kira saya tak akan bisa lagi menulis cerpen seperti masa sekolah dahulu ketika aktif jadi pengurus majalah dinding. Ternyata, ada banyak hal di sekitar saya yang bisa jadi inspirasi menulis dan bahan cerita. Bahkan pasar yang saya kunjungi nyaris saban hari masih menyimpan kisah dan rahasia tak terduga.

akhwat-menulis.jpg

Blog ini benar-benar melampaui harapan saya dalam jangka pendek ini. Dan dalam jangka panjang saya masih bermimpi jadi penulis yang bisa menerbitkan buku sendiri sekian juta eksemplar (mimpi aneh ibu-ibu yang kehabisan elpiji).

Tapi tak mengapa, toh mimpi hak setiap manusia dan mumpung mengkhayal belum kena tarif retribusi, tak apalah. . . Selama dalam batas kewajaran.

Jadi, menulislah. . . Dalam tulisan, kita bisa jadi apa yang kita inginkan.


SANG PENULIS

Menulislah. . .

Untuk bermilyar kata tak terbaca.
Untuk berjuta puisi tak diketahui.
Untuk ratusan lembar kertas, yang sobekannya ku remas.

Bangkitlah. . .

Karena ini pagi para pujangga, yang berangkat terjaga.
Dengan mimpi yang semi dan doa meditasi.
Karena citamu menunggu, di ujung pena yang beku. . .



Gambar dari:
https://dinidinidini.wordpress.com