DI SEBUAH GANG

155301-pasar-tradisional.jpg

PAGI baru mulai turun, matahari ogah2an muncul dari langit timur. Hawa terasa sejuk karena semalam habis ditimpa hujan. Genangan air mulai mengisi dataran tanah yang agak rendah, beberapa buah rumah malah sudah kemasukan air.

Kehidupan pagi pun tak luput pula menyentuh denyut satu kampung yang terkotak di sebuah gang sempit dgn padat penghuninya. Aktifitas kehidupan mulai berjalan, riuh rendah dalam kesibukan pagi yang konon repot sekali.

Di mulai dari lengking kokok ayam aduan milik si Ujang. Lelaki dgn satu istri dan satu anak, tapi punya ayam yang banyak.
Ayam itu cuma sempat berkokok setengah kali, pemiliknya sudah bangun dan segera mengeluarkannya dari kandang yang baru 2 hari lalu dicat Dulux. Si Agaw, nama yang ditasmiyahkan Ujang untuk unggas itu. Bangkok asli peranakan petarung aduan sejati.

Tadi malam di pasar gelap Agaw baru menang diadu dgn ayam milik pak RT. 10 juta cing! Jadi milik Ujang. Mangkanya tu ayam sekarang dielus2, dimandikan di tepi sumur tua yang sepanjang hayat airnya kagak pernah surut.
Dikasih vitamin, untalan kampung maca lipan, kalajengking, tikus mati, bahkan tokek. Percaya atau gak, cara2 itu sudah wajib bagi ayam aduan.

Si Agaw, ayam aduan bertubuh besar dgn bulu hitam legam dan mata tajam, jengger semerah darah serta taji yang mampu merobek kulit gajah sekalipun_ kini sudah cakep, langkar bungas liwar bengkeng. Nampak hebat dan siap untuk laga selanjutnya.

Hobi emang bagian dari kegilaan dan bikin orang tergila2. Sungguh berbeda dgn Agaw, Ujang si empux ayam_ dgn tampang masai, habis bangun tidur, lengkap pula dgn aksesoris belek pinggir mata dan sisa iler tadi malam meninggalkan bekas putih mengering sampai ke tepi rahangnya yang tirus.

Ujang terkekeh sembari mengacung2kan ayam kesayangannya ke arah matahari. Lelaki yang nyaris 40 itu cungkring sekali, sok muda, dgn singlet putih 555 murahan yang dibelinya di pasar tungging dan sarung motif kotak Wadimor kado THR perusahaannya tahun lalu; tergulung asal2an di pinggang ‘sakacak maling’ tubuhnya.

Pinggiran sarung itu sudah tergulung2 dan menghitam ‘batahilambuan’ penuh kerut2 di tengahnya, tanda telah sangat sering menyaksikan tanding adu ayam jantan.
Sebab, pada prakteknya semakin tegang menyaksikan lomba maka semakin tak sadar digulung2 pula tapih sarung itu. Sampai buntalan tapih di pinggangnya mampu menampung pakan ayam 5 kg.
B-):-O

Gang kecil itu kian sempit dgn teriakan acil Irah yang saban harinya jualan nasi kuning murah meriah di depan rumahnya. Sementara ibu2 yang anak2nya mau sekolah sudah pada antri. Acil Irah pagi itu kesiangan. Maras banar. . .

“Ayu pang cil, landung banar sudah handak ma antar anak sakulah, mana handak makan, lakasi pang!”
Ujar Ijah buru2, maklun Senin ada upacara.

“Sabar pang, aku ni kasiyangan, handaknya jua lakas, nya kada baik jua handak badadas haja tu. Tu nah! Kaya Ipah kajadian badadas kawin kaputingannya basarakan loko wan lakinya!”

Bisa2nya acil Irah ini, bukan hanya jualan nasi tapi gosip2 ter up date yang disebarkannya selalu membuat para penduduk gang tersebut betah berlama2 di warung kecilnya. Jadi mampaknya ramai sekali alias rami banar.

Pagi itu riuh dan gaduh sekali. Ibu2 teriak2 menyuruh anak2 mandi dan segera ke sekolah. Sementara para ibu tersebut sibuk mencuci dan menjemur pakaian di depan teras rumah atau di sampingnya, karena di gang tak ada pekarangan.

Dengan kostum pagi sore kerja rodi rumah tangga alias pakai ‘tapih tilasan mandi mandada’ ibu2 tersebut tanpa risih keluar rumah dan beraktifitas.

“Umay. . Umanya ay, sawat dah batatapas. Abahnya datangkah malam tadi?”
Usil amang Longor pada si Onah istrinya bang Udi yang bohay semlohay lamak mungkal batangkal2.

Onah hanya mengulum senyum, rambutnya basah sehabis mandi. Masih dgn ‘batapihan’ dia melangkah ke warung acil Irah.

“Cil, 2 piring lah, sabuahnya kupala haruan dua bahintalu sabigi.”
Requestnya pada acil Irah yang sibuk melayani orang2 yang makan di warungnya.

“Lumbuk sambalnya tiga sinduk cil lay.”
Kata Onah lagi.

“Sanang banar pinanya ka Onah nah.”
Sapa Iyul, cewek bujangan lulusan SMU yang mau kerja.
Onah senyum.

Bersambung Di Sebuah Gang bagian 2

1 thought on “DI SEBUAH GANG

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s