Alat Berat dan Pusaka Tanah Borneo

batuibara.jpg

Saya tak tahu apa yang membuat anak bungsu saya Raffi Azhari begitu menggandrungi alat berat semisal shovel dan eksavator. Ia pasti gembira jika melihat benda tersebut, seperti saat perbaikan jalan di tempat saya. Dengan sengaja kami menyaksikan eksavator bekerja mengeruk jalan yang akan dilebarkan. Tak ketinggalan pula diwujudkan dengan mainan miniatur alat berat.

Nah, jadi kemarin itu dalam kunjungan kami ke rumah saudara Abah saya, dari Gambut menuju Martapura. Sepanjang jalan A. Yani, ada hal yang agak mencengangkan saya. Saya hitung sekilas, lebih dari sepuluh buah tempat yang ada alat beratnya (sepanjang jalan itu Raffi heboh). Entah itu dealer, agen penjualan atau rental dan service yang menyediakan eksavator untuk kepentingan industri.

Saya tergelitik jadi ingin menulis ini. Karena rasa-rasanya beberapa tahun lalu alat berat tak banyak ‘bertebaran’ seperti sekarang. Apa yang membuat alat-alat berat nan canggih dan moderen made in si mata sipit tersebut jadi ‘beramai-ramai’ menyambangi pulau Kalimantan?

Ternyata dan ternyata, di bawah tanah yang saya pijak selama puluhan tahun ini ada kandungan mineral tambang yang sangat menggiurkan para investor dan pebisnis-pebisnis yang notabene adalah ‘orang-orang berdahi’. Ya, di pulau inilah terdapat bahan tambang yang menjadi primadona komoditi ekspor ke negara-negara luar sana. Mineral yang dijuluki ‘si emas hitam’ inilah pangkal dari merangseknya invasi besi-besi mesin raksasa yang akan digunakan untuk mengeruknya; BATU BARA.

Saya jadi merenung, rupanya Batu Baralah yang membuat segala ini mungkin. Pulau Kalimantan yang konon katanya adalah paru-paru dunia karena hutannya berpotensi mengurangi efek pemanasan global, rupanya kini telah menjadi surga impian bagi para pelaku industri di negeri ini. Dan di balik megahnya alat berat yang selalu mempesonakan mata anak saya, kita tak tahu tragedi dan malapetaka apa yang akan dibawanya. Dan barangkali julukan ‘paru-paru dunia’ itu hanya akan tinggal cerita.

Saya tak akan bicara masalah kesejahteraan yang tidak merata walau kita negara yang amat sangat kaya raya. Saya juga tak akan membahas betapa timpangnya kebijakan pemerintah pusat tentang pembangunan dan hasil bumi daerah (80% hasil tambang untuk pusat, sisanya untuk daerah penghasil padahal efek bencananya tidak untuk pusat tapi disini).

Coba saja kita tengok kegiatan pertambangan Batu Bara di daerah Batu Licin provinsi Kalimantan bagian Selatan. Di sana, segala yang menghalangi pengerukan emas hitam segera disingkirkan. Hutan-hutan yang menutupi isi tanah di bawahnya dibabat habis, dan alat-alat berat nan perkasa itu dengan rakus mengeruknya, menandaskan simpanan pusaka tanah Borneo. Membuat gunungan-gunungan batubara sejauh mata memandang. Di sambut hilir mudik truk-truk yang mengangkut hasil tambang itu entah kemana. Membuat lubang-lubang menganga di mana-mana. Melukai kulit bumi ini, penambangan yang sama sekali tak mempedulikan reklamasi lahan.

Boleh jadi kita berbangga dengan itu semua. Segala jenis profesi di ranah Batu Bara ini menjanjikan mimpi masa depan yang manis. Lihatlah anak-anak muda yang baru merampungkan kuliah atau sekolah menengah kejuruan, mereka juga beramai-ramai bergabung dalam ‘manisnya hasil kerja dunia pertambangan’. Tapi, kalau mau jujur bertanya, berapa lama sih ‘euphoria industri’ ini mampir di pulau ini?

Masih ingatkan dengan eksploitasi Timah di pulau Belitong, negerinya Laskar Pelangi Andrea Hirata? Pada gilirannya, jika pertambangan ini dibina semena-mena, kita tinggal menghitung waktu kejayaan ini akan segera jadi sejarah dan kisah belaka. Dan lagi, rakyat banyak akan kolaps, megap-megap diterjang kemiskinan yang tak kenal ampun.

Lalu apa yang akan kita wariskan pada anak cucu kita nanti? Kelak bencana demi bencana akan akrab menyambangi mereka. Karena bumi murka ketika kita terus melukainya.

Atau. . . Barangkali kita akan mewariskan segala karat besi dari alat berat bernama eksavator (Raffi menyebutnya ‘mutur karuk’) itu? Ya, tinggal karat dan rongsokan yang tersisa saat kejayaan pertambangan di pulau Kalimantan tinggal kenangan.

Huft. . . Wallahualam.


Gambar dari:
rri.co.id

Puisi tentang ini:
NESTAPA ANAK BANGSA

18 thoughts on “Alat Berat dan Pusaka Tanah Borneo

  1. iya mbk betul…apa lagi lisa dengar orang" kampung lisa banyak yang pergi kalimantan untuk mengais rezeki mbk…:)
    selamat subuh mbk..klau lisa gk salah kalimantan sekarang udah pukul 05:22 ya mbk..sama seperti sini tempat lisa.

    Like

  2. Isi perut bumi diaduk aduk, pindah sana pindah sini,
    hingga merapuh lah bumi yg kita pijaki,
    lalu kenapa negara ini tetap miskin jika bumi kita penuh harta karun ya bun…
    Tikus" nya tak kunjung henti memakan lumbung negara kynya,wkwkwk
    jadi penonton aja,dah pusing dg mslh sndri ne:-)

    santun pagiku.

    Like

  3. wkwkwk.. Bakilo ja.. 😀

    Parak tempat ulun badiam lobang barataan nah.. (Binuang) kdd rencana hndak di reklamasi.. Mun handak mareklamasi tu kada murah biayanya.. Keuntungan dari penambangan bisa habis hanya utk mereklamasi.

    Kesadaran pasti ada, tapi hanya dlm sebatas wacana prakteknya nihil karena mahalnya biaya..

    So, mungkin ini sudah takdir Tuhan bagi pulau tercinta.. Tanpa batubara, entah bagaimana nasib devisa negara.

    Like

  4. Assalamualaikum wr wb.

    Itulah yg menyebabkan di beberapa tempat di KalSel sekarang jadi langganan banjir.

    Andai kita punya magic yg bisa mengembalikan alam kita.

    Sebenarnya bisa andai tak ada keserakahan dalam diri manusia.

    Like

  5. Maaf sob kunjungan telat,di palembang juga ada tambang batu bara,juga meresahkan para pengguna jalan lintas,mobil-mobil truk batubara masih menumpang jalan lintas(jalan umum) apa lagi jalan umum rusak parah karena truk batubara

    Like

  6. tak terasa ku cucurkan air mata,.setelah ku baca artikel ini,.memang benar apa adanya kebijakan pemerintah hanyalah malapetaka saja,.dgn dalih otonomi padahal msh sangat jauh dari kata sejahtera,.di tanah kelahiranku jawadwipa pun tak luput dari sasaran,.msh ingat sob ”LUMPUR LAPINDO BRANTAS???”di sidoarjo..,pemerintah pun tutup mata dan telinga entah kasihan melihatnya?!apa emang tidak mau melihat malapetaka yg di buatnya??!!! semoga para pejabat di bumi pertiwi NKRI terjaga dalam tidur panjangnya…Amin.

    Like

  7. @Khabib Soleh,

    di sini juga bru sj damai tentang jalan umum yg rusak krn truk industri stlh mrk membuat jln sendiri, stlh melalu proses panjang dan melelahkn.

    Like

  8. hmm ea bener bun, euphoria yang hanya sementara, semua tak ada yang abadi.. Kita hanya bisa pasrah menanti apa yang akan terjadi?
    kasian juga bumi ini, jika hatinxa dilukai dan Tersakiti, smga bumi ini kan kuat, seperti aku bun.. Hehe

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s