KETIKA JUMLAH ANAK TERUS BERTAMBAH

. . .lalu di tanah air? Kriminalitas mengganas, jaminan sosial amblas, pendapatan perkapita terjun bebas, tapi bayi terus menerus lahir. Rajin sekali kita beranak. Di apartemen Mallot ku temukan paradoks pertama. . .

Itu kalimat yang saya kutip dari salah satu bab di novel tenar karya Andrea Hirata, Edensor dari Tetralogi Laskar Pelangi. Yang mana di bab itu menceritakan tentang pasangan warga Prancis yang telah menikah dan sukses tapi tidak mau punya anak. Dan itu sangat bertolak belakang dengan keadaan di republik ini.

Saya menulis ini karena terusik oleh keresahan saya akhir-akhir ini melihat beberapa teman saya yang ‘sangat rajin memproduksi anak’. Loh? Orang yang punya anak banyak kok saya yang resah? Lha wong bapakx ada kok?

Bukannya mau jadi rese dan mengurusi rumah tangga orang. Cuma kemarin ada seseorang yang bercerita kalo KB nya jebol lagi. Iya, lagi, untuk ke empat kali. 3 anaknya ada yang usia 8, 5 dan 2,5 tahun, menanti adik yang sudah jalan 3 bulan dalam kandungan. Saya tahu bagaimana kerepotannya merawat ke 3 anaknya yang masih kecil-kecil itu, dan melihat matanya berkaca membuat saya tak punya kata-kata.

Saya hanya tak paham, kenapa anak-anak bisa mudahnya lahir tanpa persiapan dan jaminan masa depan yang memadai? Entah karena ingin anak laki-laki atau ingin yang perempuan, pokoknya mudah saja kita menambah anak padahal si kecil pun masih belum tuntas menyusu. Atau. . . Termakan bulat-bulat jargon banyak anak banyak rejeki?

Untuk ini, sedikit pun saya tidak meragukan rejeki dari Tuhan. Setiap anak yang lahir memang telah ditetapkan rejeki dan takdirnya masing-masing. Tapi pun. . . Bukankah rejeki yang telah ditetapkan dan disediakan Tuhan untuk kita juga harus kita jemput dengan bekerja? Nah, jikalau pertambahan anak tidak diimbangi dengan pertambahan yang lainnya, apa jadinya? Bukan semata soal materi, ini juga menyangkut beban mental, fisik dan emosi.

Yang banyak saya saksikan justru lilitan hutang menjerat ibu-ibu yang beranak banyak ini. Saban pagi ada saja anak yang terpaksa dibiarkan menangis sampai 2 jam lamanya sementara ibunya tak bisa apa-apa karena harus mengurus dua atau tiga anak yang lainnya yang lebih kecil. Setiap sore ada saja penagih hutang harian yang datang dengan mata melotot dan alis terangkat. Perkara makan dan mandi saja jadi tak teratur, pendidikan anak jadi kurang diperhatikan. Iuran bulanan, kebutuhan harian dan bla bla bla. . . Yang membuat saya tak habis geleng kepala.

Saya tak tahu. . . Apa program KB gagal? Padahal rasanya pemerintah sudah menggratiskan beberapa jenis alat kontrasepsi, pun juga tak kurang promosi. Miris saja rasanya jika kita terus menambah kuantitas tanpa memikirkan kualitas. Karena kalau mau jujur, terlalu banyak jumlah anak akan memicu masalah lain. Kita sudah mulai akrab dengan komoditi jual beli bayi, aborsi, penurunan kualitas kesehatan, aktivitas ibadah terlupakan karena kerepotan. Kalau di tempat saya ada istilah “kupala gatal ja kada tagaru lagi” (menggaruk kepala gatal saja tak bisa lagi) karena saking repotnya, boro-boro mau shalat dan lain sebagainya. Ckckck. . .

Lalu. . . Mempertimbangkan lagi opsi penggunaan kontrasepsi bagi para suami. Saya yakin, mendengar atau membaca ini kaum Adam pasti kebat-kebit hatinya. Yang ini saya lebih tak paham lagi, kenapa pria enggan sekali (baca:tak mau) di KB. Tak usah bicara soal Vasektomi yang membuat pria masih mampu berhubungan suami istri tapi tak lagi bisa menghamili, untuk memakai kondom saja masih banyak yang ogah-ogahan. Dan wacana pil harian buat kaum pria juga jadi tinggal rencana.

Rasanya jadi diskriminatif sekali, apa pencegahan kehamilan hanya diperuntukkan (baca: diharuskan) untuk kaum perempuan? Padahal ‘itu’ merupakan aktivitas dua arah, perlu tanggung jawab berdua, dan ketika kehamilan tak terencana terlanjur terjadi, pasangan suami istri tak perlu menggelar perang dunia ke tiga karena tidak siap.

Entahlah. . .



Catatan wanita lainnya:
Antara KB dan Ibadah
Antara Ibu-Ibu, Kontrasepsi dan Kenaikan Berat Badan

30 thoughts on “KETIKA JUMLAH ANAK TERUS BERTAMBAH

  1. hehe kasian ibu2 yg bnyk anak kalu sampe2 gak bisa shalat.
    Kasian bapak2 yang jago bergulat, kalu ranjangnya tak muat (sempit bnykn ank si) 🙂
    jhhe mt pagi bun, mt aktftas..

    Like

  2. Assalamualaikum wr wb.

    Ada wanita tertentu yg hormon di dalam tubuhnya menolak semua jenis KB.

    Aku kenal wanita seperti itu, sekarang ia punya 5 anak. Pernah salah satu anaknya pulang dg menangis karena teman2nya bilang mamanya seperti kucing yang selalu beranak.

    Like

  3. betul juga bun, knpa hanya perempuan saja yg hrz menghitung hari, melonggo kalender, utk kembali ke bidan tepat wktu, atau menelan butir" pil kb, yg nantinya akan sampai ke jumlah ribuan, kaum adam terima enaknya saja, pdhal itu merup.tanggung jwb keduanya.
    Giliran ada sebuah kb utk pria(tubektomi kl ga slh), mereka ogah, dg bnyk dalih dan alasan, ujung"nya perempuan yg kembali diberi beban, jikapun gagal kdng dipersalahkan.
    Kl aq dah ga bsa puny lg mb, kecuali sekian juta utk membuka segelnya, udh seteril, se xan wkt cesar dlu, krn suatu hal.

    Kl mb, ga mw coba lg? Kan blm ada cewenya:-)

    Like

  4. wah ane pengertian donk bun,
    ane suka pake Kb kok,.
    Muehehe..

    Pokoknya harus ada kerja sama bun dlm hal ini dan sling mengerti,
    pria skrg agak susah yah menggunakan metode kb ala jaman nabi.
    Yaitu mengeluarkan spe*m* diluar,
    disini istri juga perlu tau tanda tanda pria mau ber ejakulasi seperti apa.

    Kalau janda ane pinter bun, udah tau ane mau ejakulasi dia pindah ke atas ane dbwah,jadi dia yg mengendalikan permainan.

    Wkwkwkwjwkwk.
    Seru ne pembahasan seperti ini.

    Like

  5. dua anak cukup mbk..itu akan memudahkan kita untuk memberi pendidikan yang baik..akan tetapi anak banyak juga tidak apa" asal kebutuhan tercukupi tergantung indipidunya ..tapi kebanyak yang lisa liat & dengar keluhan ibu banyak anak ya seperti yang mbk tulis diatas ..

    selamat pagi & selamat akrifitas mbk… 🙂

    Like

  6. Sharusnya bisa diatur gitu
    Bener tuh mbak, skarang katanya alat kontrasepsi sudah banyak yg gratis
    Kalau terus banyak anak, wah gimana jadinya bumi ini 🙂

    Like

  7. @eanreana,
    @arif yang tersakiti.

    Krn itulah, jgn wanita sj yg diharuskan ber KB. Apalg yg terbukti berkali2 gagal dan jebol lg. KB untuk pria hrus dipertimbangkan lg, para suami juga harus brperan dlm pencegahan kehamilan yg tak direncanakan.

    Like

  8. @Mytha Serpihan Hati,

    sementara blm mau nambah, cuapek dan rempongx blm ilang. Kalo sy mah, anak prempuan atau laki sama aja: SAMA REPOTX, SAMA SAKITX, SAMA AJA YA SY JUGA YG LAHIRIN.

    Like

  9. mudah mudahan ane di berikan banyak anak dan turunan,
    Why?
    Karena sebernya menurut ane permasalahnya bukan terletak makan atau tidaknya anak",, tapi bagai mana mendidilnya menjadi remaja yang mulia

    Like

  10. @habieb alfadz,

    itulah yg sy maksudkan, bukan semata soal makan . Krn kbykn anak malah pendidikan dan agamax jd tdk diperhatikan krn trlalu kerepotan. Begitulah fakta yg sy lihat di lapangan.

    Like

  11. Sebenarnya secara data badan statistik, jumlah penduduk Indonesia cenderung menurun walaupun gak signifikan, cuma pemerataan nya yang tidak balance di daerah2. Kembali ke ideologi sih sebenarnya…

    Like

  12. Sebenarnya secara data badan statistik, jumlah penduduk Indonesia cenderung menurun walaupun gak signifikan, cuma pemerataan nya yang tidak balance di daerah2. Kembali ke ideologi sih sebenarnya…

    Like

  13. Wah, emang agak memprihatinkan melihat kondisi anak2 kecil jaman sekarang..

    program KB dulu sempat sukses pada masa pemerintahan orde baru, tepatnya pada saat repelita, pelita IV. ( sejarah indonesia bund. mumpung masih ingat. hehe,. 😀 )

    Like

  14. Masalahnya disamping menggalakan kb,pemerintah jg ada program bersalin gratis sih..
    sampe gak mikir apa anak itu cuma sampe dah bisa bayar rs bersalin aja ..
    lainya menyusul,dipikirin lg nanti,kan rejeki dah ada yg ngatur,,
    ahkirnya anak yg jadi kurban..
    klo mereka protes mending gak usah dilahirkan.

    Like

  15. @riniwp,

    itulah mba, mumet jadix. Pdhl yg mesti dipikirkan oleh ortu dan pemerintah adlh bgmn mensejahterakan anak2 yg sdh terlanjur lhr td. Bgmn pendidikanx, agamax, dan pergaulanx?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s