Membahagiakan Orang Tua

Sudah jamak kita lihat dan kita dengar bahwa sebagai anak kita pasti ingin membahagiakan orang tua. Sebagai tanda bakti kita, sebagai penebus hutang budi (yang walau bagaimanapun tetap tak akan terbayar dengan apapun), juga sebagai kewajiban kesantunan kita terhadap orang tua. Rasanya sah-sah saja dan memang seharusnya jika kita sebagai anak berusaha membahagiakan orang tua.

Seperti yang biasa kita lihat dalam tayangan-tayangan televisi. Orang-orang yang punya materi berlebih dapat dengan mudah melakukan sesuatu yang ia klaim sebagai cara membahagiakan orang tua. Sebutlah para artis yang lagi eksis di atas panggung popularitas. Mereka beramai-ramai memberangkatkan haji atau umroh orang tuanya atau membelikan rumah mewah dan mencukupi segala kekurangan materi yang selama ini pernah dialami. Memang, di usia senja para orang tua, kita merasa perlu dan memang wajib membuat mereka bahagia.

Tapi akan lain kisahnya jika si anak bukan orang dengan materi berlebih. Ia juga ingin membahagiakan orang tua walau ia sendiri untuk bisa makan 2 kali sehari saja harus kerja mati-matian. Apa segala bentuk kebahagiaan harus diukur dengan materi dan hal-hal yang bisa dibeli dengan uang saja?

Lalu bagaimana jika si anak tak pernah jadi kaya ketika ia dewasa?

Saya pribadi kadang sedih mengenang semua ini. Menikah di usia muda lepas 3 bulan lulus SMU, punya anak hanya berselang se tahun setelahnya, berkutat dengan kesibukan anak beranak, membuat saya tak sempat memasuki dunia kerja. Kemandirian finansial saya tak punya karena hanya mengandalkan penghasilan suami, dan semua itu seakan-akan memberi jarak dengan ke dua orang tua saya. Saya masih tak bisa memberi kontribusi apa-apa di hari senja mereka.

Tapi toh percuma jika saya menyesali diri dan waktu yang telah lalu, kita bisa memulai dari hal-hal kecil.

1) Mendoakan orang tua.
Di tengah tekanan hidup dan guncangan labil ekonomi yang terus menerjang hari ke hari. Kalau harta sudah tak punya, doa anak saleh adalah pahala yang tidak putus-putusnya sampai pangkal liang lahat menghimpit manusia (semoga).

2) Berusaha Mandiri
Karena tak bekerja, maka saya bisa full mengurus anak tanpa harus minta bantuan orang tua. Saya tak tahu lebih bahagia mana antara orang tua yang anaknya tidak kaya tapi tak merepotkan dengan titipan cucu DENGAN orang tua yang bisa dinaikkan haji tapi oleh anaknya dijadikan ‘pembantu’ ??

3) Stop membawa masalah ke rumah orang tua
Di awal-awal menikah karena masih di usia remaja labil dan harus seatap dengan mertua membuat saya jadi tipikal istri “cek cok pulang”. Iya, ada masalah dengan mertua saya pulang, salah paham dengan laki saya lari, masalah dikit saya minggat. Bawa-bawa sebakul airmata dan menangis sepuasnya di hadapan orang tua. Memalukan! Kalau mau curhat masalah tidak harus dramatis ala sinetron seperti itu kan?

4) Sesekali ajak anak berkumpul dengan kakek neneknya
Pernah dengar pepatah : DEKAT BAU TAHI, JAUH BAU WANGI?? Nah, ini berlaku untuk kehadiran anak cucu di usia tua para orang tua. Percaya deh, kalau setiap hari harus bersama cucu yang super aktif tak bisa diam, para orang tua yang nota bene sudah tak muda lagi dan kerap disinggahi aneka penyakit, maka kebersamaan yang terlalu sering bisa jadi biang pusing. Jadi, kita bisa ajak anak menginap di rumah ortu misalkan setiap akhir pekan saja.

5) Mendengarkan
Kalau dahulu kita terbiasa menuntut orang tua untuk selalu mendengar kita, sekarang cobalah datangi mereka dan dengarkan ada cerita apa. Walau hanya cerita tentang pinggang yang sering sakit, sinetron rebutan suami yang membuat sedih atau tentang Syahrini yang tambah seksi atau mungkin masalah urusan pensiun di hari tua. Dengarkan apa kata orang tua!! Kadang kita hanya perlu menyediakan dua telinga untuk mengerti mereka.

6) Mudah dihubungi
Menikah, tinggal berjauhan dan sudah punya kehidupan sendiri, jangan jadikan alasan untuk antipati terhadap orang tua. Aktifkan selalu nomor hape dan buat akses yang mudah untuk dicapai orang tua. Dan jika mereka butuh bantuan, hadirlah walau kehadiran itu tak banyak membantu.

Karena kita orang kecil yang mudah merasa berbahagia walau hanya dengan hal-hal kecil.

Advertisements

25 thoughts on “Membahagiakan Orang Tua

  1. Iya bund..
    lebih tepatnya mungkin yang no. 5..
    karena saya juga belum kerja dan belum apa2..
    menemani ibuk disela-sela kesibukannya tak jarang mampu mendatangkan senyum di wajahnya… 🙂

    Like

  2. Assalamualaikum wr wb.
    Kadang hanya melihat kita tersenyum saja mereka bahagia.
    Setelah orang tua meninggal pun kita sebagai anak masih punya kewajiban untuk tetap menyambung tali silaturahmi mereka selain mendoakannya.

    Like

  3. Membahagiakan orang tua tak cukup dg materi, yg pasti dengan bakti, karna apalah arti harta jika hati jauh.
    Entah lah bun… Hny sekeping doa yg ku punya, sec batiniah spt org lain bg ku, krn mungkin tak ada hub semestinya sjk kcil.:-(

    Like

  4. @Shaufiy Kahayan,
    ini juga yg sy lht di tempat sy. Stlh dikuliahkan anak2 bekerja dan menikah. Eh. . .setelah punya anak, anak mrk dititip di rumah ortu. Kadang keterlaluan, sampai2 mau ke pengajian atau ke kondangan saja tak bs krn harus menjaga cucu. . .

    Gak sampai di situ, sgala cucian dan tetek bengek kerjaan rumah sj juga harus ortu yg kerjain, dgn dalih sibuk kerja.

    Like

  5. Kunjungan pagi setengah siang :mrgreen:

    Ijin meramaikan aja ya ,cz.a mau blog walking, banyak yg update

    Kunbal ya
    Ada post baru ni
    Trik internet Gratis Kartu Axis,three Aon,streaming Xl combo,xl combo dan indosat angkat anak gajah akhir Oktober- awal november 2013 Dan Kumpulan Game HD android

    Like

  6. terkesan sekali dari cerita diatas, dan nampaknya bukan hanya pengalaman pribadi sang penulis tapi lebih kepada kenyataan publik yang terkadang kita sendiri mengingkari semua cara diatas untuk membahagiaan orang tua

    Like

  7. Impian saya yg pertama dan utama mbak
    Saya akan berusaha semampuku mulai dari sekarang
    Benar juga kata mbak
    Bila memang sudah tak mampu lagi, lakukan dgn hal2 kecil saja dulu 🙂

    Like

  8. impian saya ingin
    membahagiakan orang tua.Saya akan berusaha
    semampuku mulai dari
    sekarang,,bnar kta bunda bila tk mampu lakukan hal" kecl dulu

    Like

  9. bakti lisa kepada ortu bukan dengan matare tapi dengan cara tersendiri yaitu taat akan apa yang beliu katakan..:)
    selamat siang jelang sore mbk..

    Like

  10. wah segitunya yah bun.. 🙂 ampe kabur and nangis-nangis.. Hmm
    orang kecil dapat bahagia cukup dengan hal-hal kecil.. Nice dh..

    Like

  11. Itulah orang tua sist..
    Dalam bhs jawa ada istilah embok enggo tombok..
    maksudnya jika anak ada kekurangan bisa dg enteng minta tombokan,tanpa mikir bgmana perasaan ortu klo gak bisa memenuhi kekurangan,anaknya..
    tp klo anak berlebih,,orang tua jadi dijauhkan,dianggap reseh bahkan dijadikan pembantu..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s