SURGA DI TANAH BORNEO

Orang bilang tanah kita tanah surga. Tongkat kayu dan batu jadi tanaman. . .

Penggalan kalimat lagu itu pasti sudah akrab di indera pendengaran kita. Menggambarkan betapa kayanya keanekaragaman hayati di negeri gemah ripah loh jinawi ini; Indonesia.

Dan salah satu wilayah yang menjanjikan surga kehidupan dunia adalah Pulau Kalimantan atau Borneo.

Ya, dalam perjalanan saya kemarin mengendarai motor dengan suami dan ke dua anak saya, kami berkunjung ke rumah keluarga yang ada di Pelaihari, kabupaten Tanah Laut, saya menyaksikan ‘surga kecil’ itu.

Karena naik motor dan cuaca teduh, saat itu saya sangat menikmati perjalanan. Dan memang saya sangat jarang bepergian ke luar kota sehingga hal itu terasa istimewa. Walau pinggang terasa penat luar biasa.

Sayangnya saya tidak sempat singgah untuk mengambil fotonya. Jadi saya akan melukiskannya dengan kata-kata saja.

Jalan yang menurun dan menanjak di hiasi perbukitan di kejauhan yang di tutupi kabut kelabu di akhir musim kemarau, angin sejuk sepanjang jalan dan ketika memasuki gerbang selamat datang membuat mata saya terpana.

Kawasan yang dahulu terisolir dan kurang tersentuh tangan pembangunan, kini seakan bangkit dari ruang pertapaannya. Sejauh mata memandang saya menyaksikan perkebunan kelapa sawit menggantikan area hutan di perbukitan. Sepanjang kiri dan kanan jalan ada berhektar-hektar pemandangan hijau dari dahan sawit yang terawat dan tertata dengan baik. Suatu pertanda sebuah geliat kehidupan bermula dan menghidupi masyarakat di wilayah tersebut. Di sekitarnya juga terdapat lahan-lahan garapan yang belum ditanami, dan ada pula yang ditanami cabai dan palawija.

Akses kesejahteraan dan pembangunan pun juga terasa dengan dilengkapinya fasilitas sarana dan prasarana umum. Seperti gedung perkantoran pemerintah, pusat pertokoan dan sarana kesehatan, juga jalan sebagai penunjang mobilitas warga yang paling vital.

Ya, selain batu bara, kelapa sawit juga menjadi primadona di tanah Borneo ini. Sehingga daerah yang dulunya banyak hutan kini seakan disihir menjadi lahan industri perkebunan yang menjanjikan prospek masa depan yang cerah kemilau dan hijaunya warna harapan, sehijau daun sawit yang melambai riuh rendah diterpa angin.

Kata orang, dahulu lahan ini sempat jadi perkebunan tebu (manisan), tapi semua itu telah tinggal cerita. Sawit lebih menjanjikan dan telah menggantikan lahan garapan, membuat penyerapan tenaga kerja dari dalam dan luar daerah untuk sama-sama menggarap rezeki di kehijauan ini.

Walau merangseknya proyek pembangunan ke daerah-daerah pelosok bukan tanpa dilema, di samping berbagai kemudahan yang menunjang kehidupan manusia yang senantiasa bergerak, pembangunan juga kerap membawa efek negatif petaka dari kelelahan alam yang masih terus dieksploitasi.

Sudah tak asing lagi jika pemukiman di daerah pegunungan selalu menjadi langganan banjir dan longsor. Ketika musim hujan datang, air bah menyapu apa saja yang dilewatinya.

Jadi, hendaknya surga yang gemah ripah loh jinawi ini tetap dipelihara kelestariannya, karena jika tidak ia bisa kapan saja menjelma jadi neraka. Dan sudah sepatutnya pembangunan kita jadikan sebagai sesuatu yang ‘membangunkan’ dari keterlenaan menutup mata atas dampak yang ditinggalkan. Bukan menjadikan pembangunan sebagai suatu hal yang kelak akan ‘meruntuhkan dan menghancurkan’, menjadikan surga di timur dunia, Indonesia ini, hanya tinggal cerita.

Hm. . . Wallahualam.


Catatan perjalanan lainnya:
Alat Berat dan Pusaka Tanah Borneo

Advertisements

18 thoughts on “SURGA DI TANAH BORNEO

  1. Assalamu alaikum wr.wb. Kunjungan perdana mastah. Aku blm bisa komentar apa apa. Karena baru kali ini aku mampir dan mendapati blog yg begitu menarik buat aku. Perkenankan aku follow martah, bila tak keberatan folback jg dan mampir di gubukku biar gak sepi. Wassalam.

    Like

  2. Tanah surga ?

    Surga untuk siapa, jika kita masih menemukan gelandangan dan pengemis beredar di jalan raya ?

    Surga untuk siapa, jika ratusan, bahkan ribuan anak-anak jalanan mencoba peruntungan dengan bermodalkan nyanyian seadanya dan menengadahkan tangan ?

    Surga untuk siapa, jika para penduduk di pedesaan, di pulau-pulau terpencil hidup dengan fasilitas pendidikan dan kesehatan seadanya ?

    Surga untuk siapa, jika ketulusan tegur sapa menjelma saling curiga ?

    Surga untuk siapa, jika setiap kebersamaan begitu mudah menjelma amuk massa ?

    Surga untuk siapa…?

    Mereka sudah bosan menghela nafas, karena surga yang ada di tengah-tengah mereka menghilang entah ke mana…

    mungkin itu yang lebih banyak terjadi di negeri yang disebut tanah surga, belakangan ini.

    Like

  3. Asalkan jangan dicemari dengan tingkah manusia yang tidak pandang bulu merusak surga alaAsalkan jangan dicemari dengan tingkah manusia yang tidak pandang bulu merusak surga alam

    Like

  4. Assalamualaikum wr wb.

    Tanah kita menjadi surga bagi kaum kapitalis. Kemudian akan ditinggalkan ketika tak ada lg kekayaan yg bisa dikeruk didalamnya.

    Like

  5. Wah, sepertinya menarik sekali bund.. tapi memang sulit juga melakukan pembangunan tanpa mendatangkan keruntuhan.. (meskipun yang dimaksud bukan keruntuhan di masa yang akan datang), tapi tetap saja dampak negatif menyertainya.. :mrgreen:

    Like

  6. surga untuk siapa? Tanda tanya besar. . .mungkin surga buat orang2 berduit dan kaum kapitalis yg cuma ingin mengeruk kekayaan alam kita

    Like

  7. Bener tuh mbak
    Harus pandai2 manusia menjaga kelestarian alam ini
    Meskipun banyak industri berdiri tapi tetap harus memperhatikan kelestarian alam 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s