DI ATAS JEMBATAN ITU

Sore itu teduh sekali, hujan barusan lewat sesaat lalu, menyisakan aroma gosong aspal jalanan yang seharian dipapar matahari mendadak ditimpa butiran air. Sepanjang jalan yang basah menampilkan marka jalan yang pudar warna putihnya dimakan waktu, terus berjibaku bersama cuaca yang tak menentu, ditinggalkan kemarau disambangi hujan, berganti-ganti, tiada henti.

Seketika jalanan sore itu mendadak ramai setelah gerimis benar-benar usai dan matahari lembut bercahaya di cakrawala barat, nyaris condong mencium kaki langit. Bermacam kendaraan tumpah ruah di jalanan, diikuti derum mesin yang menguarkan bau knalpot hasil pembakaran. Sesekali air becek bercipratan dilalui roda yang kurang kesabaran.

Sementara pedagang gorengan mendorong gerobaknya menuju sisi jembatan tempat mangkal mengais rupiah seperti biasanya. Penjual rujak keliling dan denting mangkok dipukul sendok dari tukang bakso turut menambah riuh suasana sore itu.

Tukang ojek malas-malasan duduk di atas jok motornya menanti penumpang di pangkalan, dan tukang becak ngos-ngosan mengayuh pedalnya menuju jembatan yang jalannya sedikit menanjak. Juga tukang jual pentol goreng yang membunyikan klakson karetnya melengking-lengking di antara hilir mudik bermacam kendaraan di penghujung hari itu. Sedangkan toko tempat fotokopi menutup rolling doornya, menyisakan bunyi berderak dan berdecit.

Jembatan itu menjadi ramai dan penuh di sisi kanan dan kirinya dengan para pedagang pinggir jalan yang coba meraih laba dari setiap orang yang lewat. Tak ketinggalan sekelompok anak muda dan para ABG-ABG labil bertenggeran di atas trotoar sisi jembatan. Berpasangan naik motor kreditan, berpagut memeluk pinggang si cowok berstatus pacar, dengan celana jins super pendek memproklamirkan warna paha dan mendeklamasikan belahan dada.

Mereka cekikikan dan bicara riuh rendah menertawakan status atau trending topic di sosial media juga petantang petenteng dengan ponsel pintar di sebelah kiri sementara tangan kanan memegang setir motor berjenis matic itu.

Di sebuah sudut jembatan yang agak terlindung di bawah pohon Lamtoro Gung yang berdaun jarang, seorang gadis muda duduk dengan gelisah. Berulang kali ia menengok jam di tangan kirinya dan memencet-mencet ponsel keluaran terbaru bertombol qwerty miliknya. Sejurus kemudian ia bangkit, berdiri dan melangkah bimbang memperhatikan kanan dan kiri jalan. Tampak jelas ia tengah menanti seseorang. Waktu terasa merambat amat sangat lambatnya di tengah ritual menunggu seperti ini. Gadis itu kembali duduk ke tempatnya semula, menekuk muka memasang wajah galau dan membayanglah duka di kedua matanya.

“Kamu jadi kesini gak? Hampir karatan aku nungguin, ada yang mau aku omongin.”

Tak tahan, ia kirimkan pesan singkat itu pada seseorang yang entah di mana setelah kesekian menit berlalu dalam gelisah yang membuat jengah dan seakan senja tak akan jadi malam.

Gadis itu bertopang dagu, dan nyaris terlonjak kaget saat lagu Rindu milik Agnes Monica mengalun, menandakan ada panggilan masuk. Ia segera mengangkat ponselnya dan tertera nama yang telah dinantikannya beberapa waktu yang terasa merajam ini; Rian Love.

“Halo. . . Ya, aku di tongkrongan biasa beb, cepet ya.”

Dan telepon ditutup, sekian menit kemudian sebuah Satria F menepi, pengemudinya turun disambut wajah lega si gadis yang hampir jadi patung di jembatan itu karena terlalu lama menunggu. Tanpa sempat bersuara pria muda berusia sekitar 17 an itu segera meraih tangan gadis itu dan menariknya menuju sisi toko fotokopi dan terlibat sebuah perselisihan.

Laki-laki bernama Rian itu memegang kepalanya frustasi dan terlontar kata-kata makian dari mulutnya.

“Kok kamu jadi bodoh gini, Mia?! Kan udah berkali-kali aku bilang. . .”

Gadis bernama Mia itu menunduk dan menutup wajahnya, saat ia mengatakan fakta, lelaki pujaannya tak lagi semanis yang pernah ia kenal selama ini. Mata Rian berkilat marah, mulutnya terus saja menceracau mengumbar umpatan menambah airmata Mia membanjir di pipinya.

Tanpa peduli Rian segera menuju motornya dan hendak tancap gas. Mia histeris. “Rian!! Kamu gak boleh pergi!”

Mia berlari menyusul Rian tanpa melihat kiri kanan dan saat di tengah jalan sebuah sedan menabrak tubuhnya. Belia 15 tahun itu terkapar bersimbah darah meregang nyawa.

. . .smoga saja kau dengar dan merasakan getaran di hatiku yang lama haus akan belaianmu. Seperti saat dulu, saat-saat pertama kau dekap dan kau kecup bibir ini dan kau bisikkan kata. . . Aku cinta kepadamu. . .

Lagu Rindu itu mengalun lagi dari ponsel Mia yang tergeletak di sisi jalan, sebuah telepon dari ibunya yang mencarinya sejak ia minggat 3 hari yang lalu, setelah hasil pemeriksaan dokter menyatakan bahwa Mia tengah mengandung buah cinta terlarangnya dengan Rian.

Peluhku berjatuhan menikmati sentuhan, perasaan yang teramat dalam. . Tlah kau bawa sgala yang ku punya. . .Sgala yang ku punya. . .

24 thoughts on “DI ATAS JEMBATAN ITU

  1. Kasihan mia.. malang bener nasipmu nak..

    Kalau aku ketemu rian pasti akan ku habisi anak itu

    # kisah jadi jagoannya

    Like

  2. Elegy indah berbingkai senyum itu tlah usai, tinggalah sedu sedan sesal.
    tapi sudahlah, di sakiti org yg kau cintai tak sebanding dg jika kau menyakiti seseorang yg mencintai mu dg perasaan yg sebanding.

    Ngopi ngopi bun…
    Met lanjut aktivitas:-)

    Like

  3. makanya kalau pacaran jangan buka dikit jos,, ketabrak mobil akhirnya kan,,
    ..lelaki memamng gitu (kecuali ekeu bo) habis jos, sepah di buang

    Like

  4. waow… Akhir kisahnya mmbuat uln mrinding dn hmpir ttes air mata… Sumpah cil.a ujung critanya yg mnyentuh… Sadih cil.ae….
    Ini pelajaran buat lki2 dn cwe nih…
    Mkasih cil.ae ksah.a…
    Ksah yg bpacran d.jmbtn brito yg d.tmbak patir vnk kypa ksah.a tuh

    Like

  5. @BaeZury Banjarmasin,
    nah, kada tahu acil nah. Kdd mandgr lg.

    Ini kisah lokasix di jembatan parak pasar Gambut, bila sore bnyk yg nongkrong di sana.

    Like

  6. hadir berkunjung s0b, untuk silatuhrrahmi, kalo ada waktu mampir ke blog saya ya sob, dan tak tunggu follow nya, ntr tak follback s0b. πŸ™‚

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s