KISAH TIGA ORANG SALESMAN

Ada satu hal menarik terjadi di hari Sabtu siang tadi.

Di tengah terik panas matahari siang itu, saat saya ada di rumah ada orang datang dan bilang “permisi ibu. . . Ini ada barang untuk anak-anak.” Katanya sopan dan seramah mungkin walau wajah capek, haus dan mungkin laparnya juga tergambar jelas di sana.

Ternyata itu salesman, dua temannya menyusul di belakang. Mereka menawarkan alat-alat tulis, pewangi ruangan dan lain-lain dengan harga murah. Satu pak pulpen isi 12 dibandrolnya 15 ribu. Uniknya, katanya pulpen ini anti macet (lancar sampai tintanya habis) dan anti galau karena lancar gak bikin galau.

Lucu juga, saya jadi tertawa melihat caranya menawarkan barang. Walau saya tahu harganya sudah murah, tapi yang namanya ibu-ibu, naluri menawarnya muncul begitu saja.

“Apa gak kurang, harga seribuan aja, beli separuh aja bisa gak?” Kata saya.

“Waduh, ini udah murah bu, kalau di pasaran bisa lebih. Maaf, bu, harus se pak juga, gak bisa separuh. Kalo mau saya kurangin seribu deh, biar gak dapat profit saya gak papa yang seribu itu.” Katanya lagi.

Setelah saya tawar lagi 12 ribu/pak dia tetap tak mau karena memang sudah begitu harganya. Ya. . .kasihan juga, karena memang sudah murah, akhirnya saya beli, walau stok pulpen anak saya masih ada beberapa. Tapi pasti terpakai nantinya.

Kemudian mereka minta ijin numpang duduk di teras sebentar karena cuaca amat sangat panasnya. Satu persatu mereka meletakkan barang bawaannya dan tas ransel yang berat itu sambil menghela nafas.

“Bu, boleh minta air minum? Panas sekali.” Tanya salah satu dari mereka nampak tersengal.

“Oh tentu, tunggu sebentar.” Saya bergegas mengambilkan air es. Walau sebenarnya dalam hati ada rasa was-was menerima kehadiran orang asing, apalagi saat itu suami tak ada di rumah, tapi saya tak boleh su’udzon. Ternyata mereka benar-benar kehausan, setelah minum mereka bercerita.

“Usaha sekarang sulit, bu.”

“Ya, memang.” kata saya “Sama aja, kita usahanya dagang juga musiman. Orang kecil memang tak punya banyak pilihan.” Saya menimpali.

Sekian menit kemudian mereka pamit seraya mengucapkan terima kasih untuk air yang tak seberapa itu. Sambil nyeletuk kepengen rujak mangga mereka pun berlalu.

Lalu saya pun kembali ke urusan dapur. Tapi tak lama kemudian mereka bertiga datang lagi. Salah seorang dari mereka kehilangan kartu identitasnya, barangkali tercecer. Dan juga membawa satu buah mangga muda dari seorang tetangga di depan sana.

Katanya kalau hilang harus ganti 25 ribu (saya ragu apakah laba jualan mereka hari ini dapat menutupi harga ganti rugi) dan ‘panas telinga’ diomeli bos mereka. Karena tak ketemu, maka mereka minta garam dan pisau, akhirnya santai menikmati mangga muda itu. Dari percakapan dan cerita mereka saya tahu betapa tak mudahnya menjadi sales jualan keliling.

Katanya, mereka masih untung karena pihak kantor menyediakan mess untuk menampung mereka (karena kebanyakan mereka dari kampung yang jauh). Malah ada penjual cobek keliling dengan pikulan super berat yang datang dari luar pulau bisa tidur di mana saja (di teras mesjid dan di emperan toko) karena tak ada tempat menginap.

Saya juga tahu kalau sales seperti mereka tidak sekali dua kali ditolak dengan cara langsung menutup pintu setiap melihat mereka mendekat. Kadang juga disangka orang minta sumbangan atau malah dikira maling jemuran (karena mungkin memang ada oknum sales berperilaku negatif seperti demikian).

Padahal mereka bekerja halal, berpanas dan berhujan. Saban hari berjibaku dengan keras cuaca dan kejam kehidupan yang tak menjanjikan surga harta dunia bagi mereka yang tak punya.

Dan kita (termasuk saya) kerap menyangka mereka tak hanya sekedar berjualan, tetapi ada juga udang dibalik bakwan. Sungguh kejam prasangka terhadap sesama manusia. Padahal mungkin, barangkali itu alternatif usaha satu-satunya bagi mereka untuk tetap bertahan menyambung layak penghidupan yang masih digonjang-ganjingkan labil ekonomi tak henti-henti.

Barangkali di rumahnya di kampung ada beberapa pasang mata yang menanti kehadiran mereka dan sedikit rupiah untuk sekedar makan. Dari rumah ke rumah, mengetuk dan memanggil dari satu pintu ke pintu lainnya, mereka cukup senang bila orang yang didatangi mau mendengar mereka sejenak, walau tak membeli. Tapi kenapa justru kita kerap menutup mata, menulikan telinga dan melestarikan berjuta prasangka??

Kira-kira setengah jam kemudian mereka mau pamit, ternyata kartu identitas yang disangka hilang itu tergantung manis di ikat pinggang. Rupanya pas memasangnya saat baju masih rapi masuk ke celana, dan setelah berjam-jam keliling kepanasan tak sadar lagi bahwa bajunya keluar semua dan menutupi ID CARD tersebut. Sontak mereka bertiga tertawa karena betapa konyolnya kejadian tersebut. Bahkan si pemilik kartu sampai terduduk-duduk, tertawa bercampur lega.

Ah, sales penjualan, riwayatmu kini. . . .

Advertisements

KETIKA JODOH LEBIH DULU MENGHAMPIRI YANG MUDA

Ketika Jodoh Lebih Dulu Menghampiri yang Muda

Akhir-akhir ini saya sering mendapati peristiwa di mana seorang adik lebih dulu menikah dari kakaknya. Kalau kakaknya laki-laki mungkin biasa saja, tapi ini juga seorang wanita. Maka dari sinilah ceritanya menjadi lain.

Seperti yang pernah saya bahas di postingan tentang ANAK SULUNG yang sering mengalah dan lebih mementingkan adik-adiknya, maka ia sangat mungkin mengesampingkan urusan pernikahan sehingga bisa jadi didahului adiknya.

Terlebih lagi, perkembangan zaman, kemajuan teknologi dan informasi yang tak terbendung lagi, pola pikir yang lebih ‘open minded’, jenjang pendidikan yang ditempuh lebih lama, juga prioritas pembangunan karier yang setara dengan kaum pria, membuat kaum hawa tak terlalu memusingkan perkara pendamping hidup meski usia kian menanjak dewasa.

Kalau dahulu, wanita menikah rata-rata masih usia belasan, kalau sudah usia di angka 2, langsung jadi tersangka ‘perawan tua’ yang sulit jodohnya.

Jujur ya, sebagai wanita saya keberatan dengan label perawan tua ini. Kesannya sangat diskriminatif dan mendeskreditkan kaum perempuan. Tapi memang, budaya dan kebiasaan telah membentuk pola pikir dan anggapan keliru di lingkungan masyarakat. Sebut saja untuk status janda, saya heran kenapa orang-orang banyak memberi label ‘janda gatel’ ? Negatif banget kan? Padahal janda juga manusia, seorang wanita yang kerjaannya gak garuk-garuk melulu lantaran ‘kegatelan’. Kejam ih ! Masyarakat menjudge seringkali tanpa memikirkan dampak jangka panjang bagi kaum perempuan ini.

Dan berbanding sungsang seratus delapan buluh derajat terhadam kaum pria yang menyandang gelar duda. Pernah dengar ada duda genit? Atau gatel juga? GAK ! Yang ada mah DUREN MONTONG (duda keren bermobil tebal kantong). Heran, kok wanita kebagian label gak enak melulu meski berstatus serupa pria.

Oke, itu sebagai gambaran yang tak ada gambarnya saja. Kita kembali ke topik. Nah, karena itulah saya lebih memilih label ‘melajang lebih lama’ saja. Kesannya jauh lebih positif dan tak memberi beban mental pada kaum hawa yang telat menikah ini.

Dari yang saya lihat, kaum wanita yang melajang lebih lama ini pikirannya cerdas dan terbuka. Mereka tak terlalu memusingkan perkara ketika sang adik yang notabene sekian tahun lebih muda darinya untuk meminta ijin lebih dulu menikah. Dengan hati terbuka mereka rela membiarkan adiknya bersanding lebih dulu. Toh, perkara jodoh siapa yang tahu? Lagian menikah bukan ajang perlombaan mencapai finish, siapa yang duluan mutlak menang. Selain yang pasti kapan menikah adalah urusan prerogatif Tuhan, juga merupakan pilihan.

Anehnya, meski si wanita lajang yang tak keberatan adiknya menikah lebih dulu ini mampu legowo dan menerima segalanya, lagi-lagi masyarakat disekitarnya membuat keruh suasana. Banyak yang berkata seakan-akan itu menjadi aib. Seolah-olah melajang lebih lama sangat memalukan kaum wanita yang menyandangnya. Masyarakat dengan segala budaya, kebiasaan dan pemahaman yang keliru seperti berlomba-lomba untuk menjatuhkan mental dan semangat mereka. Seakan-akan kebahagiaan manusia hanya diukur dari cepatnya terjadi pernikahan.

Di sisi lain, pada fase ini wanita memang seperti kurang berdaya terus-terusan dicecar tanya ‘kapan menikah?’ Dibanding pria, wanita yang melajang lebih lama memang harus punya kesabaran ekstra. Orang banyak tahu apa? Toh hidup kita yang menjalaninya. Lagipula melajang apa salahnya? Kelak nanti kita akan merindukan hal-hal yang hanya bisa kita lakukan seorang diri.

Tunjukkan bahwa ketika jodoh belum dikirimkan Tuhan artinya kita masih punya waktu mengasah kemampuan diri. Masih harus membahagiakan diri sendiri dengan menikmati momen pencarian jati diri ini.

Dan yang terpenting, kita berhak mendapatkan jodoh terbaik yang kita cintai.

Begitulah kira-kira, dan bagaimana menurut anda?

Oya, sekarang jarang posting dan belum blogwalking karena sudah harus bantu suami berdagang. Jadi kalo udah ketemu bantal langsung tepar.

TENTANG SEORANG BOCAH

“Ketika seorang anak kehilangan sosok orang tua sebagai panutan, maka jalanan akan menjadi Ibu yang nyaman.”


Andi mengayuh sepeda kecil butut pemberian tetangganya di tengah terik matahari siang itu. Peluh membanjiri sekujur tubuhnya, menguarkan aroma hari yang menyerang hidung setiap orang yang dilaluinya. Bocah lima tahunan itu berwajah kotor dengan noda ingus mengering di pipi sebelah kanannya. Bajunya nampak kebesaran dan bagian lehernya melorot ke sebelah bahunya, noda berwarna coklat kehitaman mengaburkan gambar Power Ranger di dada bajunya.

Ia mengayuh sepedanya secepat yang ia bisa menuju rumah. Rasanya haus sekali dan, agak lapar. Tubuh kurusnya tersengal sampai di dapur, tak ada nasi atau ikan. Hanya air putih di teko di atas lantai.

Andi menuangkan air dan meminumnya segelas penuh skali tenggak. Ia mencari ke sekeliling, tak ada siapapun di rumah. Lalu ia putuskan kembali ke jalan membawa sepedanya. Dengan cepat ia keluar dari gang, mendapati keteduhan pohon Ketapang dan termangu menyaksikan anak-anak sekolah yang baru pulang. Rambutnya yang kemerahan dan tegak berdiri jarang-jarang berayun kaku ditiup angin panas siang itu.

Lalu ada seorang bapak yang mendekati, iba terpancar dari matanya saat memandang Andi.

“Nama kamu siapa?” tanya bapak itu.
“Andi,” jawabnya sayu.
“Ibumu mana?”
“Ibu pergi sama dede, dan bapak Andi gak ada di rumah.”

Saat ditanya kapan ibunya pulang, Andi menggeleng tak tahu. Katanya ibunya tak akan kembali.

Ternyata dari cerita warga di sekitar sana, Andi adalah korban prahara rumah tangga. Ayahnya adalah seorang duda dengan banyak anak dari istri terdahulu. Lalu menikahi ibunya, hingga ia terlahir, saat usianya 2 tahun mereka berpisah karena ibunya tak tahan dengan ayahnya yang malas bekerja dan kasar. Saat itu Andi ikut ibunya, namun sekarang telah menikah lagi dan punya anak. Ia tak mau lagi ikut ibunya karena sering dimarahi.

Akhirnya Andi beralih tangan ke ayahnya yang tidak lebih banyak menyayanginya. Justru Andi lebih banyak menghabiskan waktu di jalanan. Ia bisa jajan kalau ada orang yang memberinya uang, seperti bapak tadi.

Sampai senja tiba tak ada yang mencarinya, sementara ayahnya menghabiskan sepanjang hari dengan melamun atau memancing yang seringkali tanpa memperoleh ikan.


Beginilah potret nyata seorang anak yang menjadi korban ‘kekejaman prahara cinta’ atau barangkali ‘ketidakbijakan manusia’. Mereka terlahir dan hidup tanpa pengasuhan yang layak. Dan masih banyak Andi-Andi yang lain, yang luput dari hangat sentuhan kasih ibu dan aman perlindungan seorang ayah.

Sekali waktu juga pernah ada seorang balita yang dipukul dan dimarahi habis-habisan oleh ibu dan ayah tirinya, sampai dikeluarkan dari rumah saat malam hari. Entah kenapa ada sebagian ibu bisa jadi demikian tega pada anak yang sudah kehilangan bapak karena tragis perceraian? Setiap melihat wajah dan kenakalan anaknya rasanya mau marah saja, apalagi mengingat tentang si bapak yang pergi lepas tanggung jawab.

Lalu anak-anak ini besar dalam pengasuhan jalanan tempat mereka bermain seharian dan debu serta terik matahari menjadi kawan sejati. Mereka tak lagi menyediakan airmata untuk menyesali apa yang telah terjadi. Karena tak pernah cukup memahami, seperti apa sebenarnya dan akan kemana cinta dua orang dewasa bermuara?

Percobaan Perdana Download Lagu dan Lirik My Love Westlife

NB: Buat semua yang mampir di sini, harap kritik dan sarannya tentang link download yang saya buat perdana ini. Barangkali rusak atau salah, maklum baru belajar.

Masih ingat kan postingan saya tentang lirik lagu If You’re Not The One? Saya sempat mengeluhkan karena saya tak bisa membagi lagunya karena tak paham cara membuat link download lagu di postingan blog.

Nah, setelah googling mencari-cari akhirnya nemu juga tutorialnya lengkapnya di blog ini. Buat adminnya itu arigato aja lah. . .

Karena lagu yang ukuran filenya kecil di mp3 saya cuma ini, jadi untuk sementara testing ini dulu. Kan kapasitas upload maksimal cuma 5 MB.

Lagu My Love nya Westlife ini emang kenangan saya banget pas jamannya SMP SMA gitu. Selalu mengingatkan akan cinta pertama pada monyet eh! Cinta monyet maksudnya. Juga mengingatkan pada seorang kawan yang sangat fanatik abis dengan boyband keren asal Irlandia ini. Kabar terakhir katanya ia bekerja di Jakarta. Saya harap suatu saat nanti ia membaca ini, (temanku Rikka Margaretha, setiap aku memutar ini aku ingat kamu)

Ini dia liriknya, dan bisa sekalian diunduh lagunya (hu. . . Gaya banget seorang ibu-ibu saat menulis ini). Haha. . . Aku bisa, ye ye ye lalala *joget alay dolo sangking suenengnya.

Westlife – My Love

An empty street
And empty house
A hole inside my heart
I’m all alone The rooms are getting smaller.
I wonder how
I wonder why
I wonder where they are
The days we had the song we sang together. . .
And all my love
I’m holding on forever Reaching for the love that seem so far…

So I say a little prayer and hope my dream will take me there.
Where the skies are blue to see you once again my love. . .
Oversees from coast to coast to find the place i love the most
Where the fields are green to see you once again my love. . .

I try to read
I go to work
I’m laughing with my friends
But I can’t stop to keep myself from thinking (oh no) .

I wonder how
I wonder why
I wonder where they are
The days we had The song we sang together
And all my love
I’m holding on forever Reaching for a love that seem so far…

Chorus
Bridge

To hold u in my arms
To promise u my love
To tell u from my heart You’re all I’m thinking of I’m reaching for a love that seem so far…

Chorus

Unduh/download lagunya di sini:

My Love-Westlife
Ukuran: 1,3 MB

6rayynsdownloadd.jpg

Nah, sudah tuntas posting saya kali ini. Benar-benar suatu pencapaian yang memuaskan jiwa saya. Ternyata ngeblog itu banyak banget manfaatnya. Saya tak sabar suatu hari nanti saat anak-anak saya mengerti, mereka tahu kalau ternyata ibunya ini keren, mainannya blog *pembaca dilarang protes!

😛

Tapi kalo ada salah HARAP MAKLUM. This is my first time testing. Babay. . .

ANTARA WANITA, KECANTIKAN DAN RIASAN WAJAH

Antara wanita, kecantikan dan riasan wajah.

Hm. . .

Sebenarnya sudah lama ingin menulis tentang make up ini. Anggap saja semacam curhat unek-unek pribadi. Biasa, wanita, yang kalau membahas perihal kecantikan seakan tak ada matinya.

Jadi, tadi sempat baca tentang aktris p*rn* yang biasanya memikat dengan make up dan yang tanpa make up. Penasaran? LIHAT SINI.

Membuat saya jadi tambah niat buat membahas ini.

Kita tak usah bahas yang berat-berat kayak para artis sekarang yang lagi demam permak wajah melalui jalur operasi bedah. Ini adalah tentang seperangkat alat_yang konon katanya_dapat mempercantik wajah kaum hawa. Itu, yang digembar-gemborkan iklan produk kecantikan. Mulai yang paling standar sekelas bedak tabur sampai yang paling mutakhir bulu mata tempelan yang tahan bencana. Oops!

mac-look-ina-box-8-in-1-b.jpg

Sebenarnya apa sih yang ada dalam peralatan make up ini sampai para wanita amat menggandrunginya? (meski gak semua)

Padahal gak bisa dibilang murah, apalagi dengan brand tertentu yang memang terjamin dan aman. Dan lagi. . . Padahal pas diaplikasikan ke wajah tak selalu sesuai. Contoh kecil saja tentang alis yang dicukur, ditato atau ditanam, atau apalah namanya yang dibuat dengan sedikit ‘naik’ dari aslinya. Yang sering saya lihat kok malah membuat wajah jadi ‘judes’ kayak pemeran-pemeran antagonis super lebay itu.

Pasti gak cuma saya yang merasa begini, karena saya pernah dengar pria yang protes komplain soal ‘alis terangkat’ ini. Nah lo? Kalau sudah begini, masih diklaim bikin cantik?

Belum lagi efek ‘wajah pudar’ ketika kita tak memakai riasan wajah seperti saat baru bangun tidur. Sumpeh dah, udah pucet aja tampilan muka. Itu jadi kentara banget, karena make up benar-benar mengubah penampilan dan imej pemakainya.

Belum lagi resiko kesehatan yang akan menyambangi nanti. Karena di dalamnya kadang terkandung bahan kimia. Yang walau dalam ambang batas aman tetap saja ada efeknya. Apalagi yang jelas membahayakan dan masih bebas beredar di pasaran.

Kalau saya pribadi memang tak terlalu menggunakan riasan karena gampang jerawatan dan kulit muka gatal-gatal. Susah cari make up yang cocok buat muka berminyak seperti saya. *susah cocok duitnya maksudnya, wkwkwkwk. . .

Tapi kalau yang sudah jadi keharusan semisal suami suka istrinya berrias atau tuntutan pekerjaan, ya mau gak mau.

Penting untuk bijak dan tak berlebihan. Jangan sampai niat menjadi lebih cantik dengan kosmetik, eh. .wajah jadi tambah bintik-bintik. Kan gak asik.

Terus, jangan mudah percaya dengan produk pemutih instan. Ini ni yang saya paling ‘gak ngeh’ banget. Kita itu hidupnya di iklim tropis, kulit alami mayoritas kuning langsat dan sawo matang. Lalu kenapa mesti ngotot pengen bening kayak artis Jepang? INGAT!! CANTIK GAK HARUS PUTIH, YANG PENTING BERSIH. Tak sedikit ibu-ibu dan gadis muda remaja putri yang wajahnya jadi merah sampai kebiruan gara-gara ‘dikelupas’ kosmetik pemutih yang membahayakan. Kalau pas lagi panas-panasnya jadi kayak udang goreng saja sudah. IRONIS. . .

Nah, udah jelas kan?

Jadi wanita gak melulu cantik, yang penting harus cerdas, jangan jadi korban mode, apa lagi korban peradaban bujukan iklan. Tak semua cocok dan sesuai, tiap individu berbeda. Wanita adalah makhluk spesial dengan segala kurang ataupun lebihnya.

Bukan wajah kita yang harus disesuaikan dengan gaya make up terkini. Justru kosmetik yang harus disesuaikan dengan rupa. Ibarat sepatu kekecilan, kenapa mesti memotong jemari agar pas di kaki? Carilah yang ukurannya sesuai dan pas pas pas kena hatiku. . .

Udah ya, segini aja dulu. Jangan lupa baca juga yang ini: KETIKA KITA KERIPUT


Gambar dari:
http://www.pustakasekolah.com

UNANSWERED PRAYERS

“Dalam hidup, apapun yang tidak membunuhmu, akan membuatmu kuat.”

Kata-kata yang benar-benar ngena banget di film UNANSWERED PRAYERS (doa-doa yang tak terjawab) ini.

91-213258-0-unansweredpra.jpg

This is what that i called life. . . Ini apa yang (selalu) ku sebut hidup.

Biasa, tapi sangat istimewa bagi seorang ibu rumah tangga seperti saya. Bisa dibilang ini ME TIME nya saya. Terbangun tengah malam, menyelesaikan beberapa tugas rumah yang tertunda, lalu nonton TV yang kebetulan menayangkan film dini hari yang bagus dan layak diapresiasi.

Ya, lama sekali tidak dapat tayangan yang dapat menggugah jiwa dan (tentu saja) menguras stok airmata. Dan di film UNANSWERED PRAYERS ini punya ‘sesuatu’ yang saya banget, ibu-ibu banget. Sukses besar membuat saya banjir airmata dan menangis sampai akhir, khas drama romantis.

Film ini mengisahkan tentang sebuah keluarga yang hangat dan bahagia penuh kebersamaan. Ada seorang ayah yang tipe ‘family man’ (Ben), ibu yang penyayang (Lorrie), seorang anak remaja dengan ‘kebengalan khas anak muda’ (Jesse) dan kakek nenek.

Mereka bersama menghadapi masa sulit ekonomi dalam usaha milik keluarga di bidang penyedia jasa konstruksi dan perbaikan bangunan.

Dalam kesibukan itu membuat hubungan suami istri tenggelam dalam rutinitas pekerjaan dan masalah anak di sekolahnya. Sampai suatu hari seseorang dari masa lalu (Ava Anderson) datang yang ternyata adalah teman Ben dan Lorrie sekaligus mantan kekasih Ben.

Ava meminta pada Ben untuk memperbaiki rumah mendiang ibunya agar bisa ia jual. Dari sinilah konflik berawal, mereka jadi sering bertemu dan terlibat perselingkuhan. Sampai suatu malam saat berduaan di dalam mobil, mereka mengalami kecelakaan kecil dan membuat Lorrie mengetahui hal yang sebenarnya.

Pasutri ini bertengkar hebat dan pisah sementara. Membuat si anak benar-benar kecewa pada sang Ayah, sikap pembangkang remajanya semakin menjadi. Ia sampai mengultimatum ayahnya agar tidak datang ke pertandingan football yang akan ia ikuti.

Ternyata Jesse kalah, itu pasti membuat ayahnya kecewa dan marah besar. Karena football adalah olahraga kegemaran ayahnya ketika di SMU dulu dan ayahnyalah yang ‘memaksa’nya untuk mengikuti olahraga ini. Sebenarnya Jesse lebih senang menulis artikel di koran sekolah.

Tapi, setiap kejadian dan peristiwa tak menyenangkan selalu memberi pelajaran berharga. Ben dapat menerima kekalahan anaknya, pun Jesse dapat memaafkan kekhilafan ayahnya. Tak ada yang sempurna, hidup seperti permainan, saat kita kira segalanya berjalan sesuai rencana, kenyataan bisa saja berbeda.

Memaafkan memang tak mudah, terlebih menerima kekalahan dan kenyataan menyakitkan. Ben mengucapkan selamat tinggal pada Ava. Kata-katanya menyentuh sekali:

“Saat dahulu kau meninggalkanku, aku berdoa agar kau kembali. Tapi kemudian aku bersama Lorrie dan aku mencintainya sepenuh jiwaku.”

Nangis jijay dah saya pas scene ini, lalu Ben berjuang mengajak rujuk istrinya lagi.

Artinya, memang, banyak harapan-harapan kita di masa lalu yang tak terkabul seolah doa-doa tak terjawab. Tapi percayalah, sebenarnya apa yang kita punya hari ini adalah perwujudan atas harapan tempo hari. Karena Tuhan selalu tahu apa yang terbaik bagi kita.

Khusus buat para orang tua. Berhentilah menjadikan anak sebagai ‘penyambung cita-cita kita yang putus di masa lalu’. Anak-anak punya bakat mereka sendiri, punya hidup yang ingin mereka jalani. Seperti Jesse yang karena kalah ia tak mendapatkan program beasiswa untuk kuliah. Tapi ternyata karena bakatnya menulis ia akhirnya dapat beasiswa dari sana. Sesuatu yang telah membuka mata ayahnya.

Film ini bisa saya katakan sangat sangat manusiawi, sangat menyentuh nurani dan bagian penting dalam kehidupan manusia. Bahwasanya keluarga adalah tempat kita menumbuhkan cinta, memetik buahnya dan belajar menghargai esensi dari cinta; tanggung jawab, rasa hormat dan kemaafan.

Hufth. . .*ngelap ingus

MOST RECOMENDED BANGET DAH !! Wajib nonton!


Gambar dari:
connect.collectorz.com

Cara Membuat Gelembung Sabun yang Banyak dan Tahan Lama

Sebenarnya bingung mau posting apaan, gara-gara pakai paket internet yang lebih hemat dari biasanya, alhasil koneksi kadang mau kadang tidak. Makanya belum sempat bertandang ke te tempat sobat-sobat MWB sekalian.

Nah, sudah pada tahu kan gelembung sabun?

gelembung-sabun-jpg.jpg

Pasti waktu kecil suka banget main ini di lapangan sambil lari-lari. Walau sekarang di jaman serba canggih ini sudah banyak dijual cairan pembuat gelembung instan, lengkap dengan alat peniup otomatis dengan baterai, tak ada salahnya kita ingat-ingat lagi masa kecil dahulu dengan membuat gelembung sabun sendiri. Gak kalah, bisa banyak juga pas ditiup.

Bahan utamanya tentu saja sabun deterjen.

Dan untuk membuat gelembungnya banyak dan tidak mudah pecah kita bisa menambahkan pucuk daun kapuk, daun kembang sepatu atau daun kangkung (pilih salah satu).

Cukup diremas-remas dengan air sampai keluar warna dan pati daunnya menjadi licin seperti berlendir. Lalu disaring dan campur dengan deterjen secukupnya.

Untuk hasil terbaik adalah dengan pucuk kapuk randu, tapi karena susah didapat maka saya menggunakan daun kangkung saja pas main kemarin sore dengan anak-anak.

Sedangkan peniupnya saya menggunakan lidi yang ujungnya dilengkungkan membentuk lingkaran dan pangkalnya dijadikan pegangan. Kalau angin agak kencang, setelah dicelupkan tinggal diarahkan saja, maka bentuknya memanjang seperti terowongan kaca sampai kemudian jadi balon yang besar seukuran kepala.

Semilir sejuk angin sore dihiasi gelembung sabun, membuat anak-anak tertawa gembira.

Boleh dicoba, lumayan, obat stress.


Gambar dari:
penarevolusi.wordpress.com