KISAH TIGA ORANG SALESMAN

Ada satu hal menarik terjadi di hari Sabtu siang tadi.

Di tengah terik panas matahari siang itu, saat saya ada di rumah ada orang datang dan bilang “permisi ibu. . . Ini ada barang untuk anak-anak.” Katanya sopan dan seramah mungkin walau wajah capek, haus dan mungkin laparnya juga tergambar jelas di sana.

Ternyata itu salesman, dua temannya menyusul di belakang. Mereka menawarkan alat-alat tulis, pewangi ruangan dan lain-lain dengan harga murah. Satu pak pulpen isi 12 dibandrolnya 15 ribu. Uniknya, katanya pulpen ini anti macet (lancar sampai tintanya habis) dan anti galau karena lancar gak bikin galau.

Lucu juga, saya jadi tertawa melihat caranya menawarkan barang. Walau saya tahu harganya sudah murah, tapi yang namanya ibu-ibu, naluri menawarnya muncul begitu saja.

“Apa gak kurang, harga seribuan aja, beli separuh aja bisa gak?” Kata saya.

“Waduh, ini udah murah bu, kalau di pasaran bisa lebih. Maaf, bu, harus se pak juga, gak bisa separuh. Kalo mau saya kurangin seribu deh, biar gak dapat profit saya gak papa yang seribu itu.” Katanya lagi.

Setelah saya tawar lagi 12 ribu/pak dia tetap tak mau karena memang sudah begitu harganya. Ya. . .kasihan juga, karena memang sudah murah, akhirnya saya beli, walau stok pulpen anak saya masih ada beberapa. Tapi pasti terpakai nantinya.

Kemudian mereka minta ijin numpang duduk di teras sebentar karena cuaca amat sangat panasnya. Satu persatu mereka meletakkan barang bawaannya dan tas ransel yang berat itu sambil menghela nafas.

“Bu, boleh minta air minum? Panas sekali.” Tanya salah satu dari mereka nampak tersengal.

“Oh tentu, tunggu sebentar.” Saya bergegas mengambilkan air es. Walau sebenarnya dalam hati ada rasa was-was menerima kehadiran orang asing, apalagi saat itu suami tak ada di rumah, tapi saya tak boleh su’udzon. Ternyata mereka benar-benar kehausan, setelah minum mereka bercerita.

“Usaha sekarang sulit, bu.”

“Ya, memang.” kata saya “Sama aja, kita usahanya dagang juga musiman. Orang kecil memang tak punya banyak pilihan.” Saya menimpali.

Sekian menit kemudian mereka pamit seraya mengucapkan terima kasih untuk air yang tak seberapa itu. Sambil nyeletuk kepengen rujak mangga mereka pun berlalu.

Lalu saya pun kembali ke urusan dapur. Tapi tak lama kemudian mereka bertiga datang lagi. Salah seorang dari mereka kehilangan kartu identitasnya, barangkali tercecer. Dan juga membawa satu buah mangga muda dari seorang tetangga di depan sana.

Katanya kalau hilang harus ganti 25 ribu (saya ragu apakah laba jualan mereka hari ini dapat menutupi harga ganti rugi) dan ‘panas telinga’ diomeli bos mereka. Karena tak ketemu, maka mereka minta garam dan pisau, akhirnya santai menikmati mangga muda itu. Dari percakapan dan cerita mereka saya tahu betapa tak mudahnya menjadi sales jualan keliling.

Katanya, mereka masih untung karena pihak kantor menyediakan mess untuk menampung mereka (karena kebanyakan mereka dari kampung yang jauh). Malah ada penjual cobek keliling dengan pikulan super berat yang datang dari luar pulau bisa tidur di mana saja (di teras mesjid dan di emperan toko) karena tak ada tempat menginap.

Saya juga tahu kalau sales seperti mereka tidak sekali dua kali ditolak dengan cara langsung menutup pintu setiap melihat mereka mendekat. Kadang juga disangka orang minta sumbangan atau malah dikira maling jemuran (karena mungkin memang ada oknum sales berperilaku negatif seperti demikian).

Padahal mereka bekerja halal, berpanas dan berhujan. Saban hari berjibaku dengan keras cuaca dan kejam kehidupan yang tak menjanjikan surga harta dunia bagi mereka yang tak punya.

Dan kita (termasuk saya) kerap menyangka mereka tak hanya sekedar berjualan, tetapi ada juga udang dibalik bakwan. Sungguh kejam prasangka terhadap sesama manusia. Padahal mungkin, barangkali itu alternatif usaha satu-satunya bagi mereka untuk tetap bertahan menyambung layak penghidupan yang masih digonjang-ganjingkan labil ekonomi tak henti-henti.

Barangkali di rumahnya di kampung ada beberapa pasang mata yang menanti kehadiran mereka dan sedikit rupiah untuk sekedar makan. Dari rumah ke rumah, mengetuk dan memanggil dari satu pintu ke pintu lainnya, mereka cukup senang bila orang yang didatangi mau mendengar mereka sejenak, walau tak membeli. Tapi kenapa justru kita kerap menutup mata, menulikan telinga dan melestarikan berjuta prasangka??

Kira-kira setengah jam kemudian mereka mau pamit, ternyata kartu identitas yang disangka hilang itu tergantung manis di ikat pinggang. Rupanya pas memasangnya saat baju masih rapi masuk ke celana, dan setelah berjam-jam keliling kepanasan tak sadar lagi bahwa bajunya keluar semua dan menutupi ID CARD tersebut. Sontak mereka bertiga tertawa karena betapa konyolnya kejadian tersebut. Bahkan si pemilik kartu sampai terduduk-duduk, tertawa bercampur lega.

Ah, sales penjualan, riwayatmu kini. . . .

30 thoughts on “KISAH TIGA ORANG SALESMAN

  1. Bermacam cara berjuang untuk bertahan hidup dan menafkahi keluarga masing-masing,bahkan mungkin ada yang lbh susah dari kita-kita,Sudah kah kita smua bersyukur?

    Artikel nya mantap jd renungan buat saya pribadi khusus nya

    Like

  2. Bermacam cara berjuang untuk bertahan hidup dan menafkahi keluarga masing-masing,bahkan mungkin ada yang lbh susah dari kita-kita,Sudah kah kita smua bersyukur?

    Artikel nya mantap jd renungan buat saya pribadi khusus nya

    Like

  3. Kalau pengalaman saya tentang sales memang sangatlah konyol,,(menurut saya)..
    Hampir tiap malem ada sales rokok,,(cantik2 sih,,.hehehehe)

    yang membuat saya heran, setelah mereka menawarkan rokok, pasti dia tanya nama, nomer hape & mnta tanda tangan,, lalu aku jg ada pikiran iseng juga…hahahaa
    Setelah dia tnya nama, nomer hape & mnta tanda tangan,, aku coba tanya balik ke dia..
    '' eh mbak,, boleh tau namanya gak..??
    Klo bisa jg nomer hapenya…''

    Eh dia malah pergi gitu aja smbil nyengirr….
    *kampreetttt…. 😀 😀

    Like

  4. Assalamualaikum wr wb.

    Prasangka buruk sering terjadi pd sales krn banyaknya ulah buruk mereka sendiri.

    Sekedar info: harga pulpen dg isi 1 lusin/pak harganya ada yg 5 s/d 10 rb untuk merk yg tak terlalu terkenal. Itu mutunya sudah lumayan. Untuk yg hrg 12 rb kita bs dpt yg bermerk seperti pulpen Standard.

    Like

  5. gua banget tuh bun..
    kalau saya dlu jd sales rokok..
    sumpah sedih bgt bun jd sales..

    tapi saya salut dgn sales meraka kuat..

    perlu kita ketahui..
    dlm pandangan masyarakat sales it hina.. pekerjaan melelahkan..

    tpi sejatinya perusahaan tidak akan growt up tanpa sales..
    orang orang di dlm kantor yang make dasi kerjanya cuma terima aplikasi atau data penjualan barang..

    dan mereka di gaji dr hasil penjualan barangnya.

    sedangkan sales kerjanya keliling.. capek.. lesu..kucel.. dgn gaji yang gk sberapa dibanding bgian office.. tapi mereka adalah tulang punggung perusahaan.. karenaa merekaa menjual brg yang akan menggaji bos serta staf stafnya di kantor..

    jadi sales itu pejuang..

    tapi sayang..
    bnyak orang yang memandang sebelah mata..
    bahkan cewek cewek aanti bgt sama cowok sales..
    katany doyan ngibul…

    hahahaha….
    tak perduli lah..
    sYa ngerasainnya bun..
    saya sales rokok wktu dulu..
    karna udah jd bossnya alhmdulilah…

    Like

  6. @djka artub

    sales mintA nama dan nope itu buat data atau barang bukti ke kantor..
    soalnya sales rokok per hari dksh 1pak atau selop. jd penjualannya gak boleh di masukin warung atau toko..
    kalu dipikr memang dgn memasukan ke warung gampang kejualnya.. tingal jual murah.. udah gt kerjaan kita selesai..

    tp kantor gak mau gt.. sales roko hruz ngjual perbungkus ke orang orang.. karna tugas sales memperkenalkan produk lalu menjual.. kalu masukin ke warung cuma ngjual tidak memperkenalkan produk..

    jd nope dan nama pembeli itu buat tanda bukti apakah benar rokok itu dijual ke orang bukan kewarng..

    kalau sales nya bohong kan tinggal di tlpan aja

    Like

  7. @djka artub

    sales mintA nama dan nope itu buat data atau barang bukti ke kantor..
    soalnya sales rokok per hari dksh 1pak atau selop. jd penjualannya gak boleh di masukin warung atau toko..
    kalu dipikr memang dgn memasukan ke warung gampang kejualnya.. tingal jual murah.. udah gt kerjaan kita selesai..

    tp kantor gak mau gt.. sales roko hruz ngjual perbungkus ke orang orang.. karna tugas sales memperkenalkan produk lalu menjual.. kalu masukin ke warung cuma ngjual tidak memperkenalkan produk..

    jd nope dan nama pembeli itu buat tanda bukti apakah benar rokok itu dijual ke orang bukan kewarng..

    kalau sales nya bohong kan tinggal di tlpan aja

    Like

  8. yah… begitulah hidup!!! pekerjaan halal asal g' smpai melalaikan yg wajib itu bagus.
    follow sukses ba', stelah lihat2, baxk inspirasi dsini.

    Like

  9. semua suka duka diatas pernah sy alami,terakhir jd perekrut sales cosmetic..karena semua perempuan yg kdang hrs plng mlm,jadwal luar kota,pertemuan pkk biasanya sore smpe rmh mlm banyak suara negatf.blm lg klo mobil tua ngambek..ikut dorong deh cwek2..tp sy besarkan hati mreka slama kita benar.sopan ramah jangan memaksa pasti pamong2 desa banyak yg psan kami untk datang lg.sy pun bgtu,klo ada sales krumah asal sopan gak maksa mlh sy bli,meski barang yg plng murah..kdang bkn nilai brngnya tp penerimaan kt atas diri mreka slama gak mengganggu biarkan mreka beraksi menawarkan daganganya

    Like

  10. Iya nih bund
    Saya juga sering merasa kasihan kalau lihat org yg kerja seperti itu
    Seharusnya kita jgn mmandang lwat sananya, mereka juga cari kerja yang halal 🙂

    Like

  11. Berprasangka jelekkpd mereka karena mungkin pernah kejadian oleh oknum yg menipu mengatas namakan dr perusahaan tertentu dengan iming2 hadiah. Apalagi saat marak2nya heboh gendam. Lebih takut lagi

    Like

  12. met rehat all,karna malam ini adalah kunjungan pertamaku di blog ini,jd cumak nyimak dulu sekedar meramaikan blog key,..
    Jgn lupa kalau ada waktu main2 ke gubuk aku yach..
    "sharing it is a thing most wonderful.."!!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s