Lirik Lagu If You’re Not The One

IF YOU’RE NOT THE ONE

Penyanyi: DANIEL BEADINGFIELD

If you’re not the one then why does my soul feel glad, today. . .
If you’re not the one then why does my hand feat you’re, this way. . .
If you’re not mine then why does your heart return, my call. . .
If you’re not mine what i have the strange to stand, at all. . .

I never know what the future bring. But i know you’re here with me now. We’ll make it through and i hope you are the one i share my life, with. . .

CHORUS :
I dont’ wanna run away but i can’t take it i don’t understand.
If i am not made for you then why does my heart tell me that i am. Is there anyway that i could stay in your life. . .

If i don’t need you then why am i crying on, my bed. . .
If i don’t need you then why does you’re name resound, in my head. . .
If you’re not for me then why does this distance main, my life. . .
If you’re not for me then why do i dream of you, as my wife. . .

I lay it so far away but i know that this much is true. We’ll make it through and i hope you are the one i share my life, with. . .
And i wish that you could be the one i die, with. . .
And i praying you’re the one i build my home, with. . .
I hope i love you all my life.

BACK TO CHORUS

Coz i miss you body and soul so strong that it takes my breathe away, and i leave you into my heart and pray for the strength to stand today. .
Coz i love you whether it’s wrong or right.
Altough i can’t be with you tonight, you know my heart is by your side. . .

CHORUS AGAIN



Lagu ini adalah lagu kesukaan saya dari jaman sekolah dulu sampai sekarang. Arti liriknya benar-benar romantis. Mengisahkan tentang seorang lelaki yang mencintai gadis pujaannya dan berharap dapat membagi hidupnya bersamanya. Bermimpi bahwa gadis itu yang akan menjadi istrinya dan membangun rumah bersamanya.

I hope i love you all my life. . .

Aku berharap dapat mencintaimu sepanjang hidupku. .

Lagu ini cocok banget buat kamu yang lagi kasmaran dan sungguh-sungguh mencintai seseorang dan ingin menjadikannya pendamping hidupmu.

Sayang banget saya tak bisa membuat link download lagunya di sini (gak paham caranya). Padahal lagunya asik dan easy listening banget. Ada yang bisa bantuin saya gak??

Menanti Realisasi Hukum Rimba

Petinggi negara tertangkap tangan menerima suap.

Oknum aparat beraksi semena-mena ala jagoan.

Sebagian lagi terbukti terima uang pelicin.

Beberapa oknum terlibat kejahatan dan kasus perkosaan.

Proyek-proyek pembangunan terhenti tak pasti.

Pejabat negara sibuk korupsi, terlena sogokan dan gaji buta, melakukan segala cara demi kemaslahatan tahta, bergelimangan harta dan larut dalam pelukan sejuta wanita.

Sementara anak muda mengobrak-abrik jalanan, menginvasi keramaian dengan riuh tawuran.

Hukum yang disanjung dalam persidangan diinjak-injak kericuhan.

Oh, wahai! fenomena apakah gerangan ini?

Apakah hukum negara segera berreinkarnasi menjadi hukum rimba? Apakah hukum bukan lagi sebagai penegak kebenaran? Barangkali ia hanya akan jadi penegak berbagai kepentingan.

Jutaan jelata yang kecewa dengan segala sepak terjang aparat dan perangkat negara meradang. Melancarkan aksi-aksi anarkis karena hukum membuat kita patah hati demikian parah, berdarah-darah. . .

Kita seakan tersesat di tengah belantara, yang gelap ngeri tiada tara. Bukan lagi untuk menghukum yang jahat, hanya yang kuat pasti selamat.

BERMAIN PASIR: KEGEMBIRAAN YANG BERBUAH PETAKA

Masih ingat dengan tulisan saya yang berjudul ANAK-ANAK ITU ?. Yang menceritakan tentang asyiknya anak-anak saya bermain pasir.Ternyata, dibalik kreatifitas dan kesenangan yang didapat saat bermain pasir itu, ada bahaya tersembunyi yang luput saya sadari.

Apa pasal? Ke dua anak saya mengalami bentol-bentol dan gatal-gatal yang amat sangat gatal terutama pada malam hari. Dari info seorang teman, ada kemungkinan anak saya terinfeksi cacing pasir yang amat sangat kecil/mikro yang masuk ke dalam kulit.

Lalu saya googling dan menemukan sebuah artikel yang menjelaskan tentang ini, dan semua tanda dan gejala persis ada pada anak saya.

Cacing pasir atau cutaneous larva migrans atau creeping eruption adalah cacing yang bisa masuk ke dalam kulit karena kontak langsung dengan media yang kotor seperti tanah, lumpur atau pasir. Rentan menyerang anak-anak karena hobi mereka bermain di tanah, duduk ‘balapak’. Paling sering yang kena adalah kaki, sela-sela pantat dan perut.

Perjalanan penyakit( larva migrans cutaneous). Pada manusia, masa tunasnya mencapai beberapa hari dan penyakit ini dapat berlangsung beberapa minggu hingga beberapa bulan bila tidak diobati. Awalnya hanya berupa bintik merah gatal (mbentol), lalu melonjong, memanjang, berkelak-kelok seperti spiral. Gatal pada malam hari, lantaran saat itu si Larva cacing jalan-jalan berlenggak-lenggok menyusuri kulit rata-rata 2mm-3mm per hari. Jadi jika alur lenggak-lenggoknya sekitar 15 cm, berarti kira-kira sudah berlangsung sekitar 5 hari.

Pengobatan biasanya dilakukan dengan penyemprotan Chlorethyl, tapi hanya bersifat sementara dan tidak mematikan cacing dan larvanya sampai tuntas. Jadi pengobatan yang lebih dianjurkan adalah dengan Albendazole. Dosis dewasa dan anak di atas 2 tahun: 400 mg perhari, dosis tunggal, selama 3 hari atau 200 mg dua kali sehari selama 5 hari. Dosis anak kurang dari 2 tahun: 200 mg perhari selama 3 hari. Atau 10-15 mg per kg berat badan, 4 kali perhari selama 3-5 hari.Jining Wang, MD, February 28, 2006. (sumber: http://cakmoki86.wordpress.com/2007/02/02/ Dengan sedikit perubahan)”

Sungguh mengerikan bukan? Jadi ini penting bagi para orang tua ataupun kalian yang punya adik atau keponakan, sanak saudara, tetangga, anak-anak agar tidak mengalami hal seperti yang saya alami ini.

Berikut foto telapak kaki anak saya yang gatal-gatal karena ada larva cacing di dalamnya dan menjadi parasit yang sangat mengganggu.

cacing-pasir-1.jpgcacing-pasir-2.jpg

Saya dan suami sudah melakukan usaha pengobatan sedini dan semaksimal mungkin sebelum tambah parah. Dengan segenap kerendahan hati kami sekeluarga mohon bantuan doa kepada semua pembaca dan pengunjung setia blog ini, agar Allah memberikan kesembuhan kepada ke dua anak saya agar segera terbebas dari infeksi cacing ini.

DILEMATIS KURIKULUM PENDIDIKAN SD

Saya menulis ini hanya dari kaca mata masyarakat awam, saya hanya seorang ibu rumah tangga biasa yang amat mencemaskan kondisi pendidikan dan pelajaran di sekolah dasar.

Kemarin saya sempat menulis status di facebook tentang pelajaran kelas 3 SD itu nyaris sama dengan pelajaran SMP belasan tahun lalu pas jamannya saya sekolah dulu. Lalu Taofiqussalam memberi komentar begini: “Bener bunda, menurutku belum layak anak SD menerima pelajaran seperti itu. Dinas Pendidikan perlu meninjau ulang masalah kurikulum.”

Setali tiga uang dengan pendapat seorang guru olahraga saya pas SMA dulu. Beliau juga mengaku agak kebingungan dengan pelajaran keponakannya yang masih SD. Materinya sudah sangat ‘tinggi’ dan ‘sulit’ untuk diterima anak-anak.

Kata beliau lagi, untung kalau orang tuanya pernah sekolah, minimal sampai SMA seperti saya, kan bisa mengajari anak. Lah kalau pendidikannya SD saja tidak khatam bagaimana?

2 pendapat tersebut benar-benar membuat saya merenung. Karena saya benar-benar merasakan sendiri hal ini pada anak saya Fikri yang masih kelas 3 SD. Setiap saya membantunya mengerjakan PR, saya jadi merasa jadi anak sekolah yang baru belajar juga, karena materi pelajarannya amat sangat berbeda dan juga baru dibandingkan masa-masa saya sekolah dahulu.

Sebagai contoh kecil saja adalah pada pelajaran IPA, istilah-istilah Biologi tentang penggolongan tumbuhan seperti Monokotil, Dikotil. Tentang hewan ovivar, vivivar, herbivora dan karnivora sudah ada dan harus dipelajari di kelas 3, yang mana dahulu saya baru mempelajari ini pada saat SMP. Untuk pelajaran yang lebih menguras otak seperti matematika, jangan ditanya lagi bagaimana tingkat kesulitannya. Satu kata ‘STRESS’ cukup menjelaskan.

Memang, semua ini demi kemajuan pendidikan bagi generasi penerus bangsa. Tapi toh, ternyata, pada penerapannya kita dihadapkan pada dilema. Banyak anak-anak yang tidak bisa menerima pelajaran dengan maksimal karena tidak atau kurang mengerti pada pelajaran yang disampaikan di sekolah.

Belum lagi para murid dituntut untuk belajar aktif dan mandiri dengan sarana buku penunjang dan alat pendukung belajar yang terbatas. Tak apa jika di semua sekolah negeri memiliki fasilitas seperti komputer dan buku-buku perpustakaan yang memadai. Kenyataan di lapangan semua itu masih barang langka, kalaupun ada, penggunaannya belum seperti yang diharapkan.

Sementara, buku yang menjadi pegangan para siswa hanyalah LKS (Lembar Kegiatan Siswa) yang lebih mengutamakan soal-soal dan latihan-latihan tapi minim materi penjelasan. Berkali-kali saya harus mencari jawaban di luar buku, beruntung jika kita melek teknologi, masih bisa mencari referensi di internet. Kalau tidak? Siap-siap dengan kolom jawaban kosong dan nilai NOL.

Terlebih lagi, saya lihat, lebih mengutamakan pelajaran umum dan nilai akademis. Untuk program pendidikan karakter dan kerohanian (pelajaran agama) masih sangat kurang. Terbukti dengan pelajaran seperti matematika yang bisa sampai 4 kali dalam seminggu, dan agama hanya 1 atau 2 kali pertemuan saja. Sungguh sangat disayangkan.

Dulu-dulu juga, saat anak saya masih TK B. Guru-gurunya sempat memberi penjelasan pada kami selaku orang tua murid tentang les membaca dan menulis yang ‘terpaksa’ diwajibkan pihak sekolah.

Kata mereka, seharusnya sekolah TK, pada hakikatnya sebagai pendidikan usia dini hanya memperkenalkan sedikit saja tentang calistung. Yang utama adalah kegembiraan bermain dan sosialisasi anak-anak. Tapi karena saat masuk SD sudah harus bisa membaca dan menulis, maka anak-anak TK ‘terpaksa diwajibkan’ mengikuti les secara intensif 3 kali seminggu dan diberi tambahan jam pelajaran.

Sungguh, semua yang saya jabarkan di sini amat membingungkan saya (dan mungkin beberapa orang tua di luar sana). Rasanya anak-anak sudah dibiasakan dengan ‘tekanan’ yang diharuskan seperti ini.

Malah kadang para tenaga pengajar juga semakin menambah kadar penekanan ini (dengan cara mengajar yang ‘keras’ dengan berbagai aturan dan tumpukan PR setiap hari). Ya, memang bukan salah para guru. Mereka hanya menerapkan program kurikulum pendidikan yang telah ditetapkan.

Entahlah. . .

Akhir kata, saya hanya berharap suatu saat nanti, Presiden dan Menteri dan Dinas Pendidikan membaca postingan ini.


Artikel terkait:
Pendidikan Gratis ???

MONOLOG ANGIN

Apa kau mau percaya?

Bahwa akulah yang mengetuk daun jendela kacamu yang berembun itu.

Saat sebagian mereka masih sibuk membicarakan cuaca. Dan yang lainnya masih setia menayangkan mimpi-mimpi cinta.

Apa kau tidak tahu?
Akulah yang tempo hari masih kau harap akan menyampaikan kerinduanmu pada kekasihmu. Ketika hembusanku masih serupa bayu.

Tidakkah kalian menduga bahwa aku mampu melesak dahsyat hingga tiga ratus kilometer per jamnya?

Dan aku meluluhlantakkan harapan mereka. . .

ANTS INVASSION

semutzhauxw6g9r.jpg

Mendung bergayut di langit berhari-hari. Hujan masih disimpan, ditahan-tahan. Cuaca berubah panas dan lembab, manusia menggelepar digilas matahari. Mengeluh betapa panas udara luar, menyimpan diri dalam kenyamanan ruang ber AC.

Senja merayap datang membawa warna merah saga, terbakar di langit barat, kembali memesan panas untuk esok. Jalanan kota riuh, dan orang-orang pulang ke rumah bermandikan peluh dan sejuta keluh.

Malam mengendap merangkaki lelap, tagihan listrik melonjak oleh AC dan kipas angin yang pusing berputar semalam suntuk. Sementara pedagang pinggir jalan gelisah mengayun kipas anyaman rotan.

Kodok-kodok mulai melantunkan nyanyian tenggorokan, menyambut mendung yang membawa sebungkus gerimis. Singgah di pinggiran kota itu. Lalu menderas memeluk hawa dingin yang membelenggu tulang.

Manusia tergolek dalam balutan selimut hangat, mengendapkan mimpi dan istirahat yang teramat berarti.

Jauh di kedalaman tanah yang gelap, sebuah kehidupan mendadak beringsut, bergerak, bergegas menghindari lautan air hujan yang membanjiri pori-pori bumi. Sekumpulan koloni semut melarikan diri meninggalkan sarang yang tergenang air.

Riuh sekali mereka berduyun-duyun seperti orang papa yang mengantri jatah beras murah, bergerombol keluar dari lubang-lubang tanah menuju permukaan.

Lalu mereka menemukan surga hangat yang penuh makanan, ada noda susu di meja, remah-remah nasi berserakan di lantai dan tumpukan piring kotor di wastafel bekas makan malam.

“Ayo, sini, di luar banjir, di sini cukup makanan dan kita tak akan kebasahan !”

Seru seekor semut dengan kepala hitam yang lebih besar dibanding ribuan semut yang mengekor dibelakangnya. Nampaknya ia adalah pimpinan koloni itu. Mereka menjelajah seantero rumah, dan semut pekerja yang mengangkut titik-titik putih penerus generasi mereka mendapatkan tempat teraman dan ternyaman. Telur-telur itu harus diselamatkan.

Pagi datang kesiangan, matahari redup habis dipukul hujan semalaman, air di kran terasa sedingin es membuat sepasang pengantin baru betah bergelung dalam hangat kelambu.

Tapi yang harus bekerja tergesa mencari baju dalam lemari dan histeris saat membuka isinya.

“Papa. . . Habis Pa. . Bajumu dirubung semut!” Si mama bergidik geli, aroma apek dari kamfer yang telah kadaluwarsa itu tak mempan terhadap sekawanan semut dan ribuan telur putih mereka yang memenuhi seisi lemari. Di sela-sela lipatan baju, celana sampai cawat yang sudah dicuci bersih dan dilipat rapi pun tak ketinggalan mendapat serbuan dari koloni semut yang mengungsi semalam.

Dan di dalam cangkir yang tersisa sedikit teh manis di tumpukan cucian piring di dalam wastafel, ratusan semut mati berkubang air gula dan sisanya menggapai-gapai mencari bibir cangkir yang licin.


Gambar dari: http://www.krucil.net

Cerewetnya Wanita dan Sembrononya Pria

8044c8a84f8dd16716bfca681.jpg

Eit, awas! Jangan pada protes dulu baca judulnya. Sekalipun ini bicara fakta, bukan bermaksud membeberkan aib sesama manusia.

Bagi yang sudah menikah mungkin para suami sering dicereweti oleh istri tentang hal-hal yang bisa dibilang sepele. Misal “sayang, kok handuk basahnya ditaruh dikasur”, atau “sepatunya kok dibiarin di teras?” Atau kaum ibu yang sering menasehati anak laki-lakinya “cepat ganti baju nak, sekalian tasnya bawa ke kamar”.

Hayo. . .pernah gak?

Memang ya, untuk urusan kerapian para pria harus dicecar berkali-kali dulu baru mau ngerti. Dan ranah bawelnya jadi hak prerogatif kaum hawa. Saban hari harus selalu mengingatkan hal remeh temeh semacam ini.

Meski tidak semua, tapi kaum wanita memang identik dengan kerapian dan kebersihan, juga teliti terhadap hal-hal kecil. Kebalikannya lagi bagi para pria. Mereka lebih nyantai dan tak perlu ribut tentang kaos kaki tak dicuci, juga lebih tenang.

Tapi aneh ya? Kok dua manusia beda jenis, beda visi dan misi ini bisa hidup bersama dan menikah? Kok wanita bisa tahan dengan segala kesembarangan pria yang kadang melelahkan? Dan pria juga kuat dicereweti saban hari tentang perkara handuk basah, noda kopi di meja, atau sepatu yang tidak pada tempatnya?

Ternyata, chemistry mereka dibangun dari dua sifat dasar yang amat bertolakbelakang ini. Dari segala kekurangan ini pria dan wanita dapat saling melengkapi. Makanya pernah ada pepatah, kalau pria menikah bisa tambah bersih. Soalnya jadi rajin mandi, kalo gak, dibelakang sudah ada istri yang stand by dengan sapu.

Tapi hal ini bukan tak membawa masalah. Kalau dibiarkan berlarut-larut juga bisa jadi biang perselisihan. Baik pria maupun wanita harus mulai mengubah ‘tradisi’ ini. Wanita harus memulai dengan usaha ‘menjahit’ mulut setiap melihat ketidak rapihan terjadi di seantero rumah. Tenang dulu, bicarakan baik-baik dan mulai pelan-pelan tapi dengan aturan dan konsekuensi tegas. Misal bila suami lupa mandi di akhir pekan bisa ‘dihukum’ dengan minta jatah lebih uang belanja. Untuk anak agar bisa mandiri dan kapok bangun siang uang jajannya dipangkas saja (matre banget ah si mama).

Nah, untuk mulut bawel istri jika masih suka kumat gak jelas, gak ada jalan lain supaya aman dan damai, kaum pria yang ada di rumah (suami ataupun anak) harus mau turun ke dapur dan membantu PR nya yang gak pernah selesai seumur hidup itu.

Gimana? Deal?

Yang mau protes silakan. . .


Gambar diambil dari:
wartakota.tribunnews.com”