DILEMATIS KURIKULUM PENDIDIKAN SD

Saya menulis ini hanya dari kaca mata masyarakat awam, saya hanya seorang ibu rumah tangga biasa yang amat mencemaskan kondisi pendidikan dan pelajaran di sekolah dasar.

Kemarin saya sempat menulis status di facebook tentang pelajaran kelas 3 SD itu nyaris sama dengan pelajaran SMP belasan tahun lalu pas jamannya saya sekolah dulu. Lalu Taofiqussalam memberi komentar begini: “Bener bunda, menurutku belum layak anak SD menerima pelajaran seperti itu. Dinas Pendidikan perlu meninjau ulang masalah kurikulum.”

Setali tiga uang dengan pendapat seorang guru olahraga saya pas SMA dulu. Beliau juga mengaku agak kebingungan dengan pelajaran keponakannya yang masih SD. Materinya sudah sangat ‘tinggi’ dan ‘sulit’ untuk diterima anak-anak.

Kata beliau lagi, untung kalau orang tuanya pernah sekolah, minimal sampai SMA seperti saya, kan bisa mengajari anak. Lah kalau pendidikannya SD saja tidak khatam bagaimana?

2 pendapat tersebut benar-benar membuat saya merenung. Karena saya benar-benar merasakan sendiri hal ini pada anak saya Fikri yang masih kelas 3 SD. Setiap saya membantunya mengerjakan PR, saya jadi merasa jadi anak sekolah yang baru belajar juga, karena materi pelajarannya amat sangat berbeda dan juga baru dibandingkan masa-masa saya sekolah dahulu.

Sebagai contoh kecil saja adalah pada pelajaran IPA, istilah-istilah Biologi tentang penggolongan tumbuhan seperti Monokotil, Dikotil. Tentang hewan ovivar, vivivar, herbivora dan karnivora sudah ada dan harus dipelajari di kelas 3, yang mana dahulu saya baru mempelajari ini pada saat SMP. Untuk pelajaran yang lebih menguras otak seperti matematika, jangan ditanya lagi bagaimana tingkat kesulitannya. Satu kata ‘STRESS’ cukup menjelaskan.

Memang, semua ini demi kemajuan pendidikan bagi generasi penerus bangsa. Tapi toh, ternyata, pada penerapannya kita dihadapkan pada dilema. Banyak anak-anak yang tidak bisa menerima pelajaran dengan maksimal karena tidak atau kurang mengerti pada pelajaran yang disampaikan di sekolah.

Belum lagi para murid dituntut untuk belajar aktif dan mandiri dengan sarana buku penunjang dan alat pendukung belajar yang terbatas. Tak apa jika di semua sekolah negeri memiliki fasilitas seperti komputer dan buku-buku perpustakaan yang memadai. Kenyataan di lapangan semua itu masih barang langka, kalaupun ada, penggunaannya belum seperti yang diharapkan.

Sementara, buku yang menjadi pegangan para siswa hanyalah LKS (Lembar Kegiatan Siswa) yang lebih mengutamakan soal-soal dan latihan-latihan tapi minim materi penjelasan. Berkali-kali saya harus mencari jawaban di luar buku, beruntung jika kita melek teknologi, masih bisa mencari referensi di internet. Kalau tidak? Siap-siap dengan kolom jawaban kosong dan nilai NOL.

Terlebih lagi, saya lihat, lebih mengutamakan pelajaran umum dan nilai akademis. Untuk program pendidikan karakter dan kerohanian (pelajaran agama) masih sangat kurang. Terbukti dengan pelajaran seperti matematika yang bisa sampai 4 kali dalam seminggu, dan agama hanya 1 atau 2 kali pertemuan saja. Sungguh sangat disayangkan.

Dulu-dulu juga, saat anak saya masih TK B. Guru-gurunya sempat memberi penjelasan pada kami selaku orang tua murid tentang les membaca dan menulis yang ‘terpaksa’ diwajibkan pihak sekolah.

Kata mereka, seharusnya sekolah TK, pada hakikatnya sebagai pendidikan usia dini hanya memperkenalkan sedikit saja tentang calistung. Yang utama adalah kegembiraan bermain dan sosialisasi anak-anak. Tapi karena saat masuk SD sudah harus bisa membaca dan menulis, maka anak-anak TK ‘terpaksa diwajibkan’ mengikuti les secara intensif 3 kali seminggu dan diberi tambahan jam pelajaran.

Sungguh, semua yang saya jabarkan di sini amat membingungkan saya (dan mungkin beberapa orang tua di luar sana). Rasanya anak-anak sudah dibiasakan dengan ‘tekanan’ yang diharuskan seperti ini.

Malah kadang para tenaga pengajar juga semakin menambah kadar penekanan ini (dengan cara mengajar yang ‘keras’ dengan berbagai aturan dan tumpukan PR setiap hari). Ya, memang bukan salah para guru. Mereka hanya menerapkan program kurikulum pendidikan yang telah ditetapkan.

Entahlah. . .

Akhir kata, saya hanya berharap suatu saat nanti, Presiden dan Menteri dan Dinas Pendidikan membaca postingan ini.


Artikel terkait:
Pendidikan Gratis ???

MONOLOG ANGIN

Apa kau mau percaya?

Bahwa akulah yang mengetuk daun jendela kacamu yang berembun itu.

Saat sebagian mereka masih sibuk membicarakan cuaca. Dan yang lainnya masih setia menayangkan mimpi-mimpi cinta.

Apa kau tidak tahu?
Akulah yang tempo hari masih kau harap akan menyampaikan kerinduanmu pada kekasihmu. Ketika hembusanku masih serupa bayu.

Tidakkah kalian menduga bahwa aku mampu melesak dahsyat hingga tiga ratus kilometer per jamnya?

Dan aku meluluhlantakkan harapan mereka. . .

ANTS INVASSION

semutzhauxw6g9r.jpg

Mendung bergayut di langit berhari-hari. Hujan masih disimpan, ditahan-tahan. Cuaca berubah panas dan lembab, manusia menggelepar digilas matahari. Mengeluh betapa panas udara luar, menyimpan diri dalam kenyamanan ruang ber AC.

Senja merayap datang membawa warna merah saga, terbakar di langit barat, kembali memesan panas untuk esok. Jalanan kota riuh, dan orang-orang pulang ke rumah bermandikan peluh dan sejuta keluh.

Malam mengendap merangkaki lelap, tagihan listrik melonjak oleh AC dan kipas angin yang pusing berputar semalam suntuk. Sementara pedagang pinggir jalan gelisah mengayun kipas anyaman rotan.

Kodok-kodok mulai melantunkan nyanyian tenggorokan, menyambut mendung yang membawa sebungkus gerimis. Singgah di pinggiran kota itu. Lalu menderas memeluk hawa dingin yang membelenggu tulang.

Manusia tergolek dalam balutan selimut hangat, mengendapkan mimpi dan istirahat yang teramat berarti.

Jauh di kedalaman tanah yang gelap, sebuah kehidupan mendadak beringsut, bergerak, bergegas menghindari lautan air hujan yang membanjiri pori-pori bumi. Sekumpulan koloni semut melarikan diri meninggalkan sarang yang tergenang air.

Riuh sekali mereka berduyun-duyun seperti orang papa yang mengantri jatah beras murah, bergerombol keluar dari lubang-lubang tanah menuju permukaan.

Lalu mereka menemukan surga hangat yang penuh makanan, ada noda susu di meja, remah-remah nasi berserakan di lantai dan tumpukan piring kotor di wastafel bekas makan malam.

“Ayo, sini, di luar banjir, di sini cukup makanan dan kita tak akan kebasahan !”

Seru seekor semut dengan kepala hitam yang lebih besar dibanding ribuan semut yang mengekor dibelakangnya. Nampaknya ia adalah pimpinan koloni itu. Mereka menjelajah seantero rumah, dan semut pekerja yang mengangkut titik-titik putih penerus generasi mereka mendapatkan tempat teraman dan ternyaman. Telur-telur itu harus diselamatkan.

Pagi datang kesiangan, matahari redup habis dipukul hujan semalaman, air di kran terasa sedingin es membuat sepasang pengantin baru betah bergelung dalam hangat kelambu.

Tapi yang harus bekerja tergesa mencari baju dalam lemari dan histeris saat membuka isinya.

“Papa. . . Habis Pa. . Bajumu dirubung semut!” Si mama bergidik geli, aroma apek dari kamfer yang telah kadaluwarsa itu tak mempan terhadap sekawanan semut dan ribuan telur putih mereka yang memenuhi seisi lemari. Di sela-sela lipatan baju, celana sampai cawat yang sudah dicuci bersih dan dilipat rapi pun tak ketinggalan mendapat serbuan dari koloni semut yang mengungsi semalam.

Dan di dalam cangkir yang tersisa sedikit teh manis di tumpukan cucian piring di dalam wastafel, ratusan semut mati berkubang air gula dan sisanya menggapai-gapai mencari bibir cangkir yang licin.


Gambar dari: http://www.krucil.net

Cerewetnya Wanita dan Sembrononya Pria

8044c8a84f8dd16716bfca681.jpg

Eit, awas! Jangan pada protes dulu baca judulnya. Sekalipun ini bicara fakta, bukan bermaksud membeberkan aib sesama manusia.

Bagi yang sudah menikah mungkin para suami sering dicereweti oleh istri tentang hal-hal yang bisa dibilang sepele. Misal “sayang, kok handuk basahnya ditaruh dikasur”, atau “sepatunya kok dibiarin di teras?” Atau kaum ibu yang sering menasehati anak laki-lakinya “cepat ganti baju nak, sekalian tasnya bawa ke kamar”.

Hayo. . .pernah gak?

Memang ya, untuk urusan kerapian para pria harus dicecar berkali-kali dulu baru mau ngerti. Dan ranah bawelnya jadi hak prerogatif kaum hawa. Saban hari harus selalu mengingatkan hal remeh temeh semacam ini.

Meski tidak semua, tapi kaum wanita memang identik dengan kerapian dan kebersihan, juga teliti terhadap hal-hal kecil. Kebalikannya lagi bagi para pria. Mereka lebih nyantai dan tak perlu ribut tentang kaos kaki tak dicuci, juga lebih tenang.

Tapi aneh ya? Kok dua manusia beda jenis, beda visi dan misi ini bisa hidup bersama dan menikah? Kok wanita bisa tahan dengan segala kesembarangan pria yang kadang melelahkan? Dan pria juga kuat dicereweti saban hari tentang perkara handuk basah, noda kopi di meja, atau sepatu yang tidak pada tempatnya?

Ternyata, chemistry mereka dibangun dari dua sifat dasar yang amat bertolakbelakang ini. Dari segala kekurangan ini pria dan wanita dapat saling melengkapi. Makanya pernah ada pepatah, kalau pria menikah bisa tambah bersih. Soalnya jadi rajin mandi, kalo gak, dibelakang sudah ada istri yang stand by dengan sapu.

Tapi hal ini bukan tak membawa masalah. Kalau dibiarkan berlarut-larut juga bisa jadi biang perselisihan. Baik pria maupun wanita harus mulai mengubah ‘tradisi’ ini. Wanita harus memulai dengan usaha ‘menjahit’ mulut setiap melihat ketidak rapihan terjadi di seantero rumah. Tenang dulu, bicarakan baik-baik dan mulai pelan-pelan tapi dengan aturan dan konsekuensi tegas. Misal bila suami lupa mandi di akhir pekan bisa ‘dihukum’ dengan minta jatah lebih uang belanja. Untuk anak agar bisa mandiri dan kapok bangun siang uang jajannya dipangkas saja (matre banget ah si mama).

Nah, untuk mulut bawel istri jika masih suka kumat gak jelas, gak ada jalan lain supaya aman dan damai, kaum pria yang ada di rumah (suami ataupun anak) harus mau turun ke dapur dan membantu PR nya yang gak pernah selesai seumur hidup itu.

Gimana? Deal?

Yang mau protes silakan. . .


Gambar diambil dari:
wartakota.tribunnews.com”

ANAK-ANAK ITU

fikriraffi-1.jpg

Mereka yang tak pernah pusing soal cuaca. Tak pernah merutuk pada hujan yang kadang datang tiba-tiba dan mengacaukan segala rencana. Dapat bebas berlarian di tengah derasnya hujan tanpa memikirkan sakit akan masalah kesehatan.

Juga tak pernah menyumpah pada panas matahari. Mereka bisa bebas bermain seharian menyusur jalan walau panas terik menghitamkan kulit tubuh. Tak sibuk memakai pemutih wajah, mereka bisa berdamai dan berteman dengan segala keekstriman cuaca yang tak terduga.

Pun jua tak cemas akan masa depan. Apakah cita-cita dan impian-impian mereka akan jadi nyata? Kebahagiaan mereka amat sederhana, bisa bermain dan tertawa, hanya perlu sedikit rupiah untuk kembang gula. Bagi mereka hidup adalah pergerakan tiada henti. Kreatifitas tanpa batas. Tak sungkan pada lumpur yang dapat menjadi media seni yang menyenangkan. Juga tak takut pasir, alam adalah sahabat mereka yang mampu mengerti jiwa-jiwa petualang muda.

Tak merisaukan perselisahan dan airmata. Meski sesaat lalu bertentangan, sejurus kemudian kembali berjabat tangan. Tak pernah ada dendam dalam kamus mereka.

Meski kadang mereka menangis, merengek atau bahkan mengamuk sekalipun, tapi mereka tetap anak-anak yang mampu membuat senyum di sudut bibirmu.

Jangan warnai putih mereka dengan hitam derita. Tetap ukirkan pelangi yang menjadi teman sepanjang perjalanan. Walau barangkali hujan membawa cabaran guntur. Jangan pernah gentar!

fikri-raffi-2.jpg

When I was just a little boy.
I asked my mother what will I be. . .
Will I be handsome?
Will I be rich?
Here’s what she said to me. . .
Que sera sera Whatever will be will be The future’s not ours to see
Que sera sera. . .

(Que Sera Sera, Pink Martini)

Kutipan Cinta dan Kehidupan

Karena beberapa hari ini koneksi agak kurang baik dan membuat jejak saya sering tak mau menempel di blog kawan-kawan, maka saya jadi malas blogging. Buntutnya malah keranjingan main game The Sims 3 (ibu-ibu baru aja bisa main game).

Buka-buka buku lawas saat jamannya sekolah dulu, saya menemukan beberapa kutipan yang saya ambil dari berbagai media seperti film, buku ataupun majalah.


Bagian tersulit dari meneruskan perjalanan adalah tidak mengingat masa-masa yang lalu.

(Felicity)

Hidup tanpa cinta bukanlah hidup.

Kalau kau terus ingat masa lalu, kau tak akan pernah melangkah maju.

(Ever After, A Cinderella Story)

Bagaimana kau mengerti kesepian, kalau kau tak berjiwa?

Cinta yang ditolak, menghancurkan jiwa yang dititipkan Tuhan.

(Shakespeare In Love)

Kenyataan tidak selalu seperti yang terlihat.

Kejahatan memakai banyak topeng, tak ada yang lebih berbahaya daripada topeng kebaikan.

(Sleepy Hollow)

Mencintai bukan berarti menyerahkan sepenuhnya diri dan jiwamu.

Ucapan cinta terkadang tidak semanis perjalanannya.

Semakin mendalam kata cinta, semakin luas makna yang diberikannya.

Cinta tidak selamanya indah dan hidup tak selalu mudah.

Kau tidak mencintai seorang gadis karena dia cantik, tetapi dia cantik karena kau mencintainya.

(Keren Beken)

Cinta itu seperti kehidupan, tak setiap jalan itu mudah, tak (selalu) ada kebahagiaan di setiap jalan. Kalau tak bisa meninggalkan kehidupan, untuk apa meninggalkan cinta?

(Mohabbatein)

Mencintai bukanlah bagaimana kita melupakan, tetapi bagaimana kita memaafkan. Dan bukan apa yang kita lihat, melainkan apa yang kita rasakan.

(Indosiar 060504)

Di saat ada yang terbit, di sisi lain pasti ada yang tenggelam.

(American Tail)

Kau tak sadar dengan yang kau miliki, sampai kau kehilangan.

(Six Days Seven Nights)

Jika hati adalah istana, maka cinta adalah singgasana, ketulusan ialah mahkota, kesetiaan piala terindah dan senyum seorang putri adalah keabadian tahta.

(Seorang Putri dari Negeri Asing, Akidah Gauzilah, magazine Puteri)

Tak ada perkataan yang mengandung banyak dusta dan tipu muslihat selain daripada apa yang dibelakang kata-kata cinta.

(Ibsen)

Orang yang mempunyai kekuatan paling besar untuk menyakiti kita adalah orang yang paling kita cinta.

(di dengar dari Pro 2 FM)

Orang yang dalam hidupnya tak banyak mengeluarkan kata-kata tahu benar apa yang dikatakannya.

(Babe The Pig)

Cinta adalah sesuatu yang menakutkan. Cinta dapat merobek hatimu dan membuatmu bertekuk lutut pada kaki seseorang, sementara ia menguras kehidupanmu. Ia membiarkan hatimu tetap terbuka dan liar tanpa peduli akan harga diri atau kepercayaan dirimu sendiri. Cinta seperti berdiri di atas batang besi licin yang dilumuri minyak sementara ada kandang macan di bawahmu.

(Amber’s Wedding, Sara Wood)

Cinta selalu menginginkan yang terbaik untuk orang yang kita cintai dan ingin menjadi yang terbaik juga untuk mereka.

(Bachelor by Design, Pencuri Hati, Kristin Gabriel)

Hati wanita adalah rahasia sedalam laut.

(Titanic)

Cinta yang paling sempurna adalah yang tidak mementingkan diri sendiri.

(Blind Promises, Diana Palmer)

Aku percaya bahwa kebenaran tanpa senjata dan cinta tanpa syarat akan mendapat kemenangan yang nyata.

(Dr. Martin Luther King, Jr) # A Mother’s Gift, Britney &Lynne Spears.

Apa artinya kehidupan jika tidak merasa hidup.

(The World Is Not Enough)

Kekuatan untuk mencintai adalah anugerah yang terbesar yang diberikan oleh Tuhan.

Tianchang Ti Ciu: cinta abadi sepanjang masa.

Kematian tidak akan dapat menyelesaikan cinta sejati di antara umat manusia, malah akan mengubahnya menjadi cinta kekal abadi selamanya.

(Putri Bunga Mei Hua, Chiung Yao)


Cukup segini aja dulu ya, udah hampir 5 ribu karakter ni. Coba aja post di hape bisa sampai 10 ribu karakter, biar bisa menulis panjang-panjang, biar puas. . . Bye.

TANGAN IBU DAN KEREPOTAN PASCA MELAHIRKAN

Post terdahulu:
Antara Mitos dan Fakta Pantangan Pasca Melahirkan
ASI VS Susu Formula

Ah Nopember, bulannya musim kawin dan lahirnya momongan.

Dan seperti sudah jadi tradisi, para calon ibu yang sudah hamil besar biasanya pasti pulang ke rumah orang tuanya dan memilih untuk melewati hari baru sebagai ibu di sana. Terlebih jika yang dilahirkan adalah anak pertama. Gembira, repot dan bingung jadi satu saat tangis makhluk suci itu terdengar untuk kali pertama.

Lihat saja Kate Midleton, istri pangeran Inggris, ia lebih memilih pulang ke rumah ibunya saat kelahiran anak pertama ketimbang tetap di istana walau dengan fasilitas mewah dan serba wah. Para artis dan beberapa teman juga melakukan ‘tradisi kembali ke mama saat punya bayi’ (mungkin hanya saya yang tidak).

Kenapa ya?

Mungkin karena saat wanita jadi ibu, ia jadi teringat bagaimana ibunya saat merawatnya dahulu, sehingga hal ini membuat hubungan ibu dan anak gadisnya yang telah menikah dan punya anak menjadi tambah dekat. Mungkin juga karena anggapan bahwa orang tua lebih pengalaman dan mahir dalam hal merawat bayi. Padahal ini bukan tanpa masalah loh, malah yang saya lihat perbedaan pola asuh karena dua zaman yang tak sama, pandangan dan tata cara orang tua yang kerap dicap ketinggalan jaman, kolot dan jadul sangat bertentangan dengan faham modern dan tata cara perawatan bayi yang lebih dinamis yang dianut para ibu muda. Ini bisa membuat konflik terpendam dan juga bisa membuat si ibu bayi mengalami stres pasca melahirkan (baby blues).

Kalau saya pribadi lebih senang merawat anak dengan cara saya sendiri tanpa harus ditekan dengan aturan, anjuran ataupun pantangan dari orang tua.

Namun ada juga yang menikmati saat-saat ‘orang tua mengatur perawatan bayi’ dalam segala hal. Mulai dari memandikan bayi, memakaikan baju, menidurkan sampai membereskan segala cucian, semuanya jadi tugas si nenek. Sampai-sampai untuk mengganti popok bayi yang masih merah itu saja si ibu tak bisa. Kalau orang Banjar bilang “sapusial mangapit hadapan haja” yang artinya kurang lebih “khusus menjepit selangkangan saja” karena merasa sakit pasca melahirkan dan tak bisa melakukan aktivitas apa-apa. Padahal banyak gerak dan melakukan aktivitas harian sangat membantu pemulihan pasca melahirkan, baik secara normal maupun operasi sesar.

Jadi, hendaknya si ibu baru juga harus belajar dan proaktif dalam merawat anaknya sendiri. Masak sampai bayinya berumur 3 bulan baru bisa memandikan? Gak lucu banget kan. Makanya jangan heran kalau ada anggapan setelah melahirkan jadi punya 2 bayi. Lah iya, si bayi dan ibunya yang tidak bisa atau tidak berani untuk merawat anak sendiri. Apa-apa pasti panggil mama/nenek si bayi walau hanya untuk urusan sepele semisal ganti popok saat bayi buang air besar (ini keluhan yang biasa saya dengar dari para nenek yang kudu ngemong cucu).

Jadi ada lagi peribahasa “saat anak memberi cucu, si ibu mendadak jadi pembantu”. Gak papa sih sebenarnya sebagai ibu baru kita minta bantuan ibu, tapi jangan semua kerjaan beliau yang borong. Belajarlah jangan sungkan menggendong dan mengangkat anak tanpa risih atau takut karena masih kecil dan merah (dalam beberapa kasus ada yang mengangkat bayinya saja tak berani -_-“).

Komunikasikan pada orang tua bahwa kita juga bisa dan mau belajar merawat anak, karena kadang-kadang si nenek yang terlalu sayang cucu juga kurang percaya pada si ibu dalam merawat anaknya dan dianggap tidak telaten. Bukankah semua butuh proses?

Mintalah bantuan suami dan jangan selalu mengandalkan tangan ibu karena kelak juga akan kembali ke rumah sendiri dan mau tak mau harus merawat anak sendiri walaupun ada pengasuh kita juga tak boleh lepas tangan.

Yang terpenting percaya diri, karena jika telah dianugerahi anak itu tandanya kita bisa merawat dan membesarkannya. Boleh mendengarkan saran orang yang lebih pengalaman tapi jangan sampai merasa terbebani karena kita belum semahir mereka. Karena pada akhirnya kita akan menemukan cara dan gaya kita sendiri dalam merawat bayi.

Jangan terus mengurung diri di rumah. Biasanya ada saja mitos pantangan yang tak mengijinkan ibu dan bayi yang habis lahiran untuk keluar rumah sebelum 40 hari. Jalan-jalan di dekat rumah sambil menggendong si kecil menikmati segar udara dan hangat matahari pagi apa salahnya? Nikmati momen singkat ini karena anak-anak cepat sekali tumbuh besar.

LAWAKAN POCONG

pocong-3.jpg

Tergelitik oleh maraknya tontonan berbau pocong, baik pocong perawan maupun yang bukan, mau yang ngesot ataupun yang ngangkang. Maka tulisan ini hadir ke tengah-tengah anda.

Kemarin malam, pas jam ngumpul sekeluarga kita isi dengan nonton TV. Acara yang kita lihat bergenre komedi alias lawak. Cuma ada hal yang agak membuat saya ‘ngeh’ dan merenung. Benda yang dijadikan bahan lawakan adalah pocong-pocongan. Bergantian pocong-pocongan itu dilempar-lempar dari satu pemain ke pemain yang lainnya. Membuat hati saya bertanya.

Tahukah kalian sebenarnya apa pocong itu?

POCONG bukan hantu atau arwah gentayangan. Pocong adalah tubuh manusia yang telah ditinggalkan rohnya. Sebuah jasad yang tiada berdaya dan tak punya apa-apa kecuali amal yang dibawanya. Dibalut putih berlapis kain kafan yang menjadi penanda bahwa kita telah meninggalkan segala bentuk kemapanan, kemewahan dan keindahan dunia yang selama ini kita puja, kita kejar dan dijadikan berhala; seakan layak menjadi sesembahan selain Tuhan.

Saat jari jemari kekuatan maut hendak mengambil atma seorang anak manusia, terasa seluruh belulangnya dilolosi dari dagingnya. Seakan persendirian patah ke arah yang berlawanan, seumpama kulit luar yang dikelupas dari otot dan daging. Tercerabut paksa dari tempat asalnya, perih dan ngeri tiada terkira.

Batang tubuh yang katanya cantik rupawan dan tampan menawan ini hanyalah seonggok daging dan tulang ketika nyawa telah meninggalkan tempatnya. Untuk sekedar membersihkan diri saja kita harus dimandikan, dan saat itulah status manusia sebagai mayat disahkan.

Seandai saja manusia tahu seperti apa dahsyatnya kabar kematian atas dirinya. Niscaya ia tak akan berani tertawa terbahak-bahak sampai airmata bercucuran karena lucu dan geli luar biasa yang tak tertahankan. Karena kematianlah yang menjadikan seorang wanita menjadi janda. Seorang anak menjadi yatim, dan terpisahnya dua hati sepasang kekasih yang saling mencintai.

Kematian akan merenggut segala harta dan kemewahan tanpa ia harus mencurinya. Menculik setiap manusia dan kemudian menyekapnya dalam ruang bawah tanah yang luasnya tak lebih dari dua meter, dan tak akan melepaskannya lagi. . .

Pocong yang putih dan telah diikat itu diantarkan jerit tangis sanak keluarga dan handai taulan yang ditinggalkan, memutuskan segala macam urusan dengan kehidupan. Dan saat jasad hampa itu diturunkan ke liang lahat dengan wajah menghadap kiblat dan gema takbir mengiringi elegi kepulangan, seakan sebuah kidung tragedi menyayat hati. Membanjiri sungai airmata, mengakhiri segala cerita tanda tutupnya risalah dunianya.

Kullu nafsin jai’kaatil maut. . .

Setiap yang bernyawa pasti mati. . .

Ya Allah. . . Matikan kami dalam husnul khatimah.


Gambar di ambil di sini

SINGKONG GORENG GURIH RENYAH EMPUK

Sebenarnya resep ini dari sahabat saya, pas bertandang ke rumahnya disuguhi singkong goreng dengan cocolan sambal. Rasa singkongnya empuk tapi renyah. Tak seperti biasanya saya goreng singkong sendiri, agak keras dan kalau dingin sudah seperti batu saja (kata orang Banjar “kada hapuk/kada mamak”).

Ternyata rahasianya adalah dengan merebus dahulu singkongnya, baru kemudian digoreng. Nah, karena cuaca di awal November sudah mulai banyak hujan dan dingin, kadang perut suka lapar sebelum jam makan tiba. Dari pada terus dijejali mi instan berkuah panas, gak ada salahnya resep SINGKONG GORENG GURIH RENYAH EMPUK ini dicoba.

Bahan:
1 kg singkong.
Minyak goreng.

Bumbu:
2 sendok garam.
3 siung bawang putih.
Tambahkan merica dan sedikit kunyit bila suka.

Semua bumbu dihaluskan dan masukkan dalam panci yang telah diisi sedikit air dan singkong yang telah dikupas, dibersihkan dan dipotong-potong.

Rebus kira-kira 10-15 menit sampai mendidih dan singkong pecah/belah bagian tengahnya. Angkat, tiriskan, lalu goreng dalam minyak panas sampai berwarna cokelat keemasan.

Taraaa. . . .

singkonggoreng-jpg.jpgIni dia SINGKONG GORENG GURIH RENYAH EMPUK siap dinikmati di suasana dingin di awal musim hujan seperti ini bersama segelas teh manis hangat atau secangkir kopi.

Selamat mencoba! ^_^v


Buat sohibku Iis Aisyah thanks banget resepnya.

TAK ADA YANG GRATIS ABANG

Sorry. . .

Judul di atas bukan bermaksud meniru kata-kata dari sebuah lagu, tapi karena itulah yang dapat mewakili postingan kali ini.

Hm. . . Mendengar kata gratis, siapa yang tidak melebarkan telinganya dan kalau ada kata GRATIS tertera di mana pun itu pasti mata yang mengantuk bisa terbelalak lagi. Nah lo. . . Hayo. . . Jujur aja deh, apa lagi di jaman uedan yang serba sulit dan apa-apa yang dapat dinilai dengan uang telah jadi mahal seperti sekarang ini.

Sebutlah yang paling akrab di dunia maya ini seperti internet gratis, atau di mall beli dua gratis satu. Yang ini mah kesukaannya kaum hawa. Tapi yang paling membuat saya gembira dan berlega hati adalah tentang adanya program pendidikan dan jaminan kesehatan gratis.

Terbayang nantinya anak-anak saya dapat menempuh pendidikan yang tinggi dan meraih cita-cita mereka tanpa biaya. Tentu saja saya sangat berbahagia mendengar tentang kabar itu seperti dari tayangan-tayangan TV selama ini.

Tapi biasanya, harapan tak sesuai realita, cita-cita kadang berseberangan dengan fakta, pun rencana masih sekedar wacana.

Meski pemerintah sudah berusaha menerapkan program pendidikan gratis dan juga anggaran khusus telah tersedia untuk memuluskan rencana ini, tetap saja, jamak kita temui praktek nyata di lapangan tak sesuai dengan yang dicanangkan.

Meski iuran bulanan semisal SPP atau BP3 (dulu jaman saya sekolah disebut begitu) sudah ditiadakan untuk pendidikan dasar 9 tahun, tapi toh tetap saja kita masih direpotkan dengan biaya seragam dan penebusan buku pelajaran, malah ada pungutan uang pangkal untuk kursi.

Dan kalau dikalkulasi biaya tetek bengek dan remeh temeh semacam itu lumayan menguras kantong, ironisnya lagi, saban tahun angkanya terus menanjak naik.

Kalau saya pribadi sih tak ambil pusing karena masih mampu dan pendidikan adalah prioritas yang diutamakan dalam kehidupan. Tapi kalau si orang tua murid kerjanya hanya sebagai buruh tani di ladang orang yang harus menghidupi 6 orang anak, bagaimana? Atau orang tua yang sangat ingin menyekolahkan anaknya tapi terkendala karena beliau hanya seorang kuli berpenghasilan tak pasti walau cuma sekadar mengganjal perut lapar hari ini? Atau seorang ibu single parent yang menyambung hidup hanya sebagai buruh cuci dari rumah ke rumah?

Semua itu akan jadi cerita berbeda saat (lagi-lagi) kemiskinan jadi kendala. Padahal, memperoleh pendidikan yang layak merupakan hak paling asasi dari setiap anak, tak peduli anak orang berada atau dari kalangan tak punya, SEMUA BERHAK MENDAPATKAN PENDIDIKAN.

Lalu kenapa masih saja mengelu-elukan slogan PENDIDIKAN GRATIS? Bila kenyataan amat sangat bertolak belakang dengan program yang diterapkan. Kenapa masih saja menggaungkan jargon-jargon persuasif bahwa anak-anak jalanan harus kembali bersekolah? Kenapa kita jadi seakan-akan ‘mengadopsi bahasa tipu daya ala iklan’ dan menjadikan masyarakat kelas bawah sebagai korban?

Kenapa tak diganti saja kata gratis menjadi ‘program pendidikan murah semoga semua bisa makan bangku sekolah’. Agar harapan-harapan jutaan jelata tak terlalu dilambungkan hingga batas angkasa untuk kemudian dihempaskan dalam palung ketidakmampuan.

Ya sayang, tak ada yang benar-benar gratis abang.