Wahai Para Suami, Banyak Berbaik Hatilah pada Istrimu !!

Masih senada dan seirama dengan posting saya terdahulu tentang istri minta bantuan suami. Iya, yang harusnya pasutri ada korelasi dan kerja sama di segala bidang, bukan hanya sama-sama kerja di ranah ranjang.

Jadi, kemarin itu saya bawa anak saya jajan di warung dan beli cemilan beberapa bungkus. Nah, kebetulan si penjual lagi sibuk nyiapin anaknya mau berangkat sekolah, yang tunggu jualan itu suaminya sambil duduk nyantai di teras.

Lalu saat saya nanya harganya berapa, eh malah teriak manggil istrinya. Untung yang saya ambil harga satuannya 5 ratus rupiah, sudah, saya hitung sendiri totalnya 6 ribu.

Saya bayar dengan uang pas saja, untungnya ada, coba kalo gak ada pasti teriak lagi. Tapi cemilan-cemilan itu gak mungkin saya bawa tanpa kantong plastik. Saya pun minta, eh, bukannya mengambilkan atau mencarikan malah teriak lagi manggil istrinya. Ampun deh!

“Mira. . . !! Plastik mana? Ini ada orang belanja!” masih tetap duduk santai dengan kepulan asap rokok mildnya itu.

Sumpah deh, berasa pengen minggat dari sana saking keselnya. Beberapa detik kemudian istrinya keluar masih dengan membawa atasan seragam anaknya. Sambil menggerutu protes pada suaminya ia mengambil kan plastik dan menerima uang bayar saya.

“Bergerak dong pak! Udah tahu ada orang belanja, dilayanin dong, kan tadi nyuruh saya nyiapin anak, gimana sih?” Mukanya memberengut kesal.

Heran ya? Usaha istri laris dan lumayan itu kok gak mau bantu? Lagian pasti ada alasannya kenapa ia berjualan padahal merawat dua anaknya yang masih balita saja sudah rempong separuh mampus.

Bukankah dengan membantu usaha, istri jadi bisa meringankan beban nafkah suami? Nah, kalau istri sudah sedia membantu, kenapa suami tak bisa lebih ringan tangan juga dalam membantu kerepotan istri?

Lagi, ada pasutri dengan 3 anak yang ribut gara-gara piring pecah terinjak anaknya yang berlarian seantero rumah. Si suami malah menyalahkan istrinya habis-habisan yang sedang sibuk mengerjakan hal lain sehingga piring bekas makan suaminya itu belum ia bawa ke bak cuci di dapur.

Ah, coba saja si suami lebih berbaik hati sedikit, setelah makan langsung bawa piringnya ke dapur dan bukannya langsung menyesap kretek dan mengepulkan asap kemana-mana, tentu insiden ini tak akan terjadi, beruntung kaki si kecil tak terluka.

Pernah juga sekali waktu pria kerap melupakan membawa handuk ketika mandi (hayo. . .ngaku! Agan-agan pernah kan, atau sering?). Yang kebetulan pas si istri lagi solat, si suami udah teriak aja manggil-manggil “ma, handuknya. . Papa lupa!”

Duh. . . Dilematis banget dah, udah gitu rakaat terakhir lagi, nanggung amat. Ah, jika saja si suami mau lebih ‘mandiri’ sedikit saja, tentu tak akan membuyarkan kekhusyu’an kewajiban istrinya.

Saya juga kerap mendengar keluhan kaum pria yang katanya istrinya enggan melayani atau menolak ketika diajak berhubungan intim. Mayoritas alasannya adalah capek. Nah ini, para suami jangan main langsung menyalahkan istri saja, harus ditelaah benar-benar apa yang menjadi penyebab ‘kemalasan layanan di tempat tidur’ ini.

Kalau suami tahunya hanya kerja dan kerja saja, sementara di rumah istri berjibaku dengan gunungan cucian kotor saban hari, mengurus anak-anak, membereskan rumah, memasak dan lain sebagainya, sendirian dan tanpa bantuan, maka bisa dipastikan seks akan menjadi hal terakhir yang istri inginkan. ALIAS TEPAR TINGKAT DEWA.

Dan ini sering luput dari perhatian kaum pria. Belum lagi vonis masyarakat tentang suami yang tak segan membantu pekerjaan rumah tangga. Ini membuat kaum pria semakin enggan ‘turun ke dapur’ atau membantu menjaga anak saat istri sibuk.

Faktanya masih banyak yang menganggap tabu jika para suami bersentuhan langsung dengan pekerjaan harian para istri. Padahal dengan membantu memasak, mencuci atau mengganti popok bayi tak akan mengurangi kadar harga diri kaum lelaki. Dan hal-hal semacam itu jauh lebih romantis ketimbang sebuket bunga.

Karena itulah, WAHAI PARA SUAMI ! Luangkanlah waktu lebih banyak untuk peduli terhadap kesibukan pekerjaan rumah yang tak ada habisnya. Jadikan istrimu sebagai Ratu di rumahmu (bukan pembantu), maka ia akan menghangatkan rumahmu dengan cinta yang tak ada habisnya.

Advertisements

RUMAH BESAR BERPAGAR TINGGI

Memasuki kawasan permukiman di komplek perumahan itu suasana mewah sudah terasa. Gerbangnya terlihat megah dengan ukiran mewah bergaya Eropa, di samping kiri dan kanan jalan selebar 8 meter beraspal hitam nan licin itu terdapat lampu taman yang menerangi kala malam hari. Deretan pohon Palem Botol tumbuh berjejer rapi dan terawat. Di tepinya terdapat kotak beton tempat tanaman-tanaman kecil berbunga indah. Beberapa pohon besar menaungi jalan menuju area perumahan elite tersebut.

Sebuah pos satpam eksklusif ber AC menandai betapa berkelasnya tempat itu. Mobil-mobil mewah berseliweran muncul dari garasi-garasi rumah yang besar dan berpagar tinggi.

Hal ini pula yang membuat Bu Salma ngotot mempertahankan istana peninggalan almarhum suaminya yang wafat setahun lalu. Meski tahu akan tinggal sendiri karena ke 3 anaknya sudah menikah dan punya rumah masing-masing, Bu Salma bersikeras dengan pendiriannya.

“Ibu, mending ibu ikut saya saja bu, kasian ibu sendirian. Kalau saya tak bisa menemani ibu di sini, tak mungkin karena kantor terlalu jauh dari sini.” Bujuk Anto, anak sulung bu Salma yang direktur itu.

“Kenapa gak dijual saja bu, atau dikontrakkan.? Uangnya bisa buat ibu simpan atau naik haji.” Ujar Rita, anak ke dua beliau saat berkunjung dengan dua anaknya 3 bulan lalu.

Tapi yang paling membuat bu Salma termenung berhari-hari adalah kata-kata si bungsu Rani yang baru menikah dan belum punya anak tapi harus ikut suaminya yang jadi dokter di pedalaman.

“Saya takut ibu kenapa-napa sendirian begini, sekarang banyak perampokan.”

Ibu Salma menepis kekhawatirannya dan melangkah ke pekarangan menyiram tanaman. Tapi di rumah mewah berlantai dua dengan empat kamar suite itu beliau tak sendiri, ada mang Diman dan mak Ijah, pasangan suami istri yang jadi pembantunya yang sudah sama tuanya dengan beliau. Perihal pembantu ini pun Bu Salma tetap tak mau mencari yang lebih muda dan kuat, membuat ke 3 anaknya hanya geleng kepala.

Sampai suatu hari mang Diman sakit mendadak dan meninggal dunia. Membuat mak Ijah terpaksa pulang ke kampung halamannya untuk menguburkan jasad suaminya.

Bu Salma melewati harinya sendirian, duduk merajut di teras depan berlantai marmer berwarna putih keperakan. Gerakan tangannya terhenti ia menatap pagar besi berukir yang mengelilingi rumahnya. Kemarin malam ia sempat menelepon salah satu anaknya dan memberitahukan tentang kematian mang Diman dan mak Ijah akan kembali setelah 7 hari tahlilan. Pagar itu tergembok dari dalam, di luar tak ada tanda-tanda akan ada yang datang. Bahkan tetangga yang sekadar menyapa pun tak ada.

¤ ¤ ¤

Seorang wanita tua dengan kain kebaya lusuh dan sarung batik berdiri di depan pagar rumah Bu Salma. Itu mak Ijah yang sudah kembali dari kampung pasca kematian suaminya. Berkali-kali wanita tua itu memencet bel tapi tak ada jawaban, hanya lampu teras menyala.

“Apa bu Salma ke rumah anaknya?” gumam mak Ijah dalam hati.

Akhirnya mak Ijah putuskan untuk membuka gerbangnya saja karena ia juga memegang kunci rumah yang sangat besar itu. Saat pintu di buka, mak Ijah memanggil-manggil bu Salma dari ruang tamu, tapi tak ada jawaban.

Tiba-tiba mak Ijah menutup hidungnya, bau tak sedap menyeruak saat memasuki ruang tengah. Ia pun bergegas mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

“Astaghfirullah. . .”

Mak Ijah nyaris pingsan, ia menemukan sesosok tubuh di depan pintu kamar mandi dengan kondisi mengenaskan dan membusuk.

“Bu Salma !” Teriak mak Ijah sembari berlari tergopoh-gopoh ke luar memanggil tetangganya. Orang-orang berdatangan, panik.

¤ ¤ ¤

garis-polisi.jpg

Rumah bu Salma yang mewah berpagar tinggi itu di pasang garis polisi. Mak Ijah menangis tersedu dan shock berat saat memberikan keterangan. Dari hasil otopsi pihak RS menyatakan bahwa bu Salma terkena serangan stroke di kamar mandi 4 hari yang lalu.


Gambar dari:
http://www.elshinta.com

MENDUNG KELABU DI MATA IBU

ibu.jpg

Hari ini, seperti biasa, di sebuah koridor panjang dengan lantai marmer putih aku mempercepat langkahku. Ada mendung hitam bergayut di langit sana.

Tak banyak yang dapat ku ingat dari ibu, ketika semua terjadi aku masih kanak-kanak sekali. . . .

Ah ibu, aku tahu beliau bukan wanita cengeng yang gampang sedih. Saat gaji ayah tak mencukupi untuk sekolah kakakku dan aku, juga adikku yang masih balita, beliau dengan sigap membantu perekonomian keluarga. Beliau begadang malam hari, membuat penganan kue-kue dan menjualnya siang hari. Sampai suatu malam, aku terbangun saat mendengar tangisan dan teriakan di dapur.

Saat itu yang ku ingat adalah ayah jadi jarang pulang karena menjadi tukang ojek malam hari. Tapi aku tak pernah tahu bahwa dari pekerjaan sampingan yang ayah klaim dapat menambah penghasilan itu, segalanya bermula.

Kadang satu malam ia tak pulang, dua hari sampai berhari-hari. Wanita pendiam yang tegar itu, yang ku sebut Ibu. . . Beliau tetap berjualan seperti biasa, karena ayah mulai alpa memberikan sangu kepada kami berempat. Itu berlanjut dan puncaknya adalah malam itu saat ku dengar keributan di dapur.

Rupanya ayah baru pulang setelah nyaris seminggu lupa pada rumah. Entah kenapa beliau marah sekali pada ibu yang masih sibuk memasak kue-kuenya. Aku tak berani melihat langsung ke dapur, hanya dari celah pintu kamar. Kulihat kakakku yang saat itu baru masuk SMU menangis meraung-raung dengan sebatang sapu ditangannya.

Ayah dan ibu terlibat pertengkaran dan adu mulut. Tak jelas apa yang mereka ributkan, hanya ibu berkali-kali menyebut “wanita itu”. Lalu ayah kian menggila, beliau mulai memukul ibu, dan menampar wajahnya. Sampai kakakku histeris saat ayah hendak membanting sebuah kursi kayu pada ibu.

“BERHENTI !! Jangan pukul ibuku, jangan pukul ibuku, ayah pergi!” teriak kakak berulang-ulang sambil memukulkan gagang sapu pada pintu.

Dan akhirnya kursi itu dihempaskan ke lantai dan ayah pergi lagi entah kemana. Kulihat ibu dan kakakku berpelukan dalam tangis paling memilukan yang pernah ku ingat, aku berlari dan memeluk ibu, ikut menangis. Saat itu adik kecilku masih terlelap di ranjangnya.

Tak pernah ku tahu, malam itu adalah awal dari hari-hari gelap ibu. Dan aku baru tahu jawabannya setelah beberapa bulan kemudian. Ayah pulang membawa seorang bayi laki-laki berusia 8 bulanan. Yang ternyata adalah anak dari istri muda ayah, yang masih terbilang tetangga karena rumah wanita itu tidak jauh dari rumah kami. Setiap akhir pekan dan sepulang sekolah kami bertiga disuruh ayah menjagakan Reno karena ibunya harus bekerja.

Dan ibuku, aku tak tahu bagaimana hati ibu saat harus merawat anak dari wanita yang telah mengambil lelaki yang ia sebut suami. Bertahun-tahun itu terjadi. Rupanya anak laki-laki itulah yang menjadi kebanggan ayah, yang tak pernah ada pada kami, putri-putrinya.

Belasan tahun berlalu, istri muda ayah itu telah punya dua anak. Kami telah terbiasa dengan segala kekurangan dan saling berbagi, sampai-sampai aku mengira duka itu telah sirna.

Tapi aku tak pernah tahu, saat ibu mulai meracau tak jelas, marah-marah, mengganggu orang dan atau mengamuk tiba-tiba.

Sampai di sinilah ibu akhirnya saat seminggu yang lalu sebuah mobil petugas kesehatan terpaksa membawanya dengan ke dua tangan terikat dan suntikan penenang.

Mendung sedari pagi yang memberati langit akhirnya menjatuhkan rinai gerimis. Aku melangkah cepat bersama ke dua anakku menuju ruangan tempat ibu di rawat di sebuah rumah sakit jiwa.

“Nenek. . . !” ke dua anak ku memeluk ibu, kata suster kondisi beliau mulai stabil. Kami duduk santai di kursi panjang di selasar itu.

Aku mencium tangan ibu yang selama ini telah merawatku. Aku tak pernah tahu ternyata luka-luka itu separah ini. Luka-luka masa lalu itu ternyata mampu membawa ibu ke tempat menyedihkan macam ini. Ibu bercanda dengan ke dua cucunya, beliau bilang jika terus membaik dan teratur minum obat, beliau bisa cepat pulang.

“Ibu harus sembuh dulu,” kataku sambil melihat pergelangan ibu, di sana ada bekas ikatan di kulitnya. Kata suster baru tadi pagi dilepaskan karena ibu tak meronta-ronta lagi.

“Kasian Ipah, siapa yang menyediakan keperluannya?” ibu ingat adikku yang baru masuk perguruan tinggi.

“Ibu tenang aja, kan di rumah ada ayah.”

Mendadak ibu terdiam, aku menatap wajahnya. Ah, mendung itu belum sirna. Sementara gerimis menjelma hujan memerciki sepanjang selasar pagi itu. . .


Gambar dari:
kresyagina.wordpress.com

KETIKA RESEPSI PERKAWINAN MENYISAKAN UTANG

30marriage.jpg

Sudah jamak dan lumrah terjadi di lingkungan masyarakat kita, jika orang tua amat sangat berbahagia dengan anak-anaknya yang akan segera memasuki gerbang pernikahan. Terlebih lagi jika para orang tua sudah sangat mendambakan hadirnya cucu.

Ketika seorang anak telah cukup usianya, matang pribadinya dan mapan kehidupannya, maka tak ada lagi hal yang dapat lebih membahagiakan orang tua selain dari memiliki calon pendamping hidup. Sebagai penerus generasi, penyambung tongkat estafet kehidupan, sebuah keniscayaan insting dan fitrah yang paling manusiawi dan sebagai pelengkap separuh dien.

Karenanya Islam amat sangat memuliakan pernikahan dan memudahkan tatanan dan arah menuju sunah Rasul ini. Tidak diperkenankan memberatkan dan mempersulit dua sejoli yang ingin bersegera menikah. Sampai hanya dengan mahar selingkar cincin tembaga yang tak seberapa, semua demi kemudahan tercapainya tujuan suci dari pernikahan.

Tapi, sekali lagi, fakta seringkali menuai dilema. Kehidupan bermasyarakat telah sejak lama mengalami pergeseran nilai-nilai budaya, adat dan kebiasaan yang kini telah berurat dan berakar. Seakan menjadi suatu keharusan dan kepantasan yang tidak boleh tidak.

Euphoria pernikahan dan rancangan resepsi perkawinan seolah menjadi ukuran, eksistensi dan takaran status sosial masyarakat. Sudah jadi semacam kebanggaan dan kejumawaan tersendiri jika bisa melangsungkannya dengan meriah, megah, mewah atau kalau perlu serba wah dan wah.

Tengoklah fenomena resepsi perkawinan super glamor dari kalangan artis dan pejabat. Tak tanggung-tanggung budget yang disiapkan bisa mencapai bilangan angka sekian M. Tapi sesuailah. . . Dan mereka memang mampu.

Lain kisahnya apabila yang mengalaminya rakyat jelata. Saya paham, bahwa ini adalah momen sakral yang hanya sekali seumur hidup, yang ingin dikenang sepanjang hayat dan dinukilkan dalam lipatan sejarah anak manusia. Tapi yang tak saya pahami, adalah ketika keinginan tak berbanding lurus dengan kemampuan. Demi resepsi perkawinan rela kesana kemari mencari utangan.

Kalau dalam adat Banjar, mahar pernikahan termasuk jujuran adalah cincin, hantaran pengantin lengkap, atribut seisi kamar juga sekian rupiah untuk walimah dan resepsi biasanya ditanggung pihak laki-laki. Bisa terbayang betapa ‘berat’ pundak calon mempelai pria di saat itu. Pihak wanita pun juga menanggung beban serupa, apalagi jika keduanya ngotot mengadakan pesta. Saat dana yang tersedia tak mencukupi, tombok sana sini jadi solusi. Alhasil, usai acara daftar pinjaman menanti ke dua belah pihak.

Mulai dari cetak undangan, baju pengantin, jasa tata rias, sewa tempat, makanan dan katering, sampai hiburan mulai dari orkes organ tunggal hingga lakon wayang semalam suntuk. Tak pelak, setelah acara bubar, tensi darah meninggi, uang amplop yang diharapkan tak dapat menutupi meski separuh tagihan.

Yang lebih parah lagi, strata sosial dan tingkat pendidikan seseorang sangat mempengaruhi hal ini. Misal, karena si A sudah bertitel sarjana maka malu kan kalau kawinnya tidak meriah seperti si B yang hanya SMP saja.

Seakan jadi keharusan yang tidak boleh tidak, meriah dan mewahnya resepsi pernikahan seolah menjadi tolok ukur kesuksesan si anak dalam berkehidupan. Seakan jadi barometer kebanggaan si empunya hajatan dapat terpandang di hadapan khalayak, meski utang-utang menumpuk menggerogoti pikiran sampai koyak.

Walau ini perlu dalam kehidupan dan kemanusiaan dan dapat merekatkan kekerabatan, tapi tak adakah cara yang lebih nyaman tanpa masalah belakangan??

Katanya takut mendapat malu jika acara perkawinan anak tidak meriah dan wah. Tapi sebenarnya lebih malu mana jika dibandingkan dengan banyak utang dan jadi bahan gunjingan di belakang??

Resepsi yang harusnya sebagai penyambung silaturahmi, bertransformasi menjadi ajang pamer, arena gaya dan adu perasaan riya.

Sampai ada yang bilang ke saya: “Ini seumpama tumpukan kembang api yang kita persiapkan mati-matian, semuanya meledak dan gegap gempita dalam hitungan detik saja.”

Ah, ironisme macam apa ini, kawan??


Ilustrasi dari:
http://www.mirifica.net

TANTANGAN PENDIDIKAN DI AKHIR ZAMAN

Lama juga tidak posting sesuatu, jadi kangen dengan kegiatan blogging. Nah, daripada nyampah tidak karuan mengumbar status galau di FB, mending saya menulis lagi di sini. Semoga para pengunjung setia tidak bosan, ya ya?

Bukannya sok alim atau sok suci, juga bukan bermaksud menyinggung SARA, ini hanyalah bentuk kekhawatiran dan kegalauan saya saja sebagai orang tua, sebagai seorang ibu yang bertanggung jawab atas pendidikan anak-anaknya. Apalagi di era sekarang, yang katanya sudah masuk kategori zaman edan. Dimana anak-anak semakin luas pergaulannya dan semakin berliku tantangan pendidikannya. Bukan hanya sekedar pendidikan yang menunjang kehidupan fana duniawi, tapi yang terpenting dan (seharusnya) yang utama adalah pendidikan untuk bekal akhirat kelak.

Ada 4 peristiwa yang membuat saya ingin menulis ini:

¤Nah, kemarin itu anak saya yang masih kelas 3 SD itu ada tugas praktek gerakan solat dari guru agamanya. Satu persatu murid maju ke depan kelas dan memperagakannya. Ada 3 penilaian: BAIK, CUKUP dan KURANG. Kata anak saya, banyak yang nilainya KURANG karena tak hapal gerakan solat.

¤Ada seorang pemuda yang saat orang tuanya meninggal ia tak bisa membacakan doa dan surah Yasin dalam tulisan arab dan kesana kemari mencari Yasin yang ada tulisan latinnya.

¤Ada sekumpulan anak-anak tengah bermain di salah satu rumah temannya. Lalu di rumah itu ada orang dewasa yang sedang shalat zuhur. Tiba-tiba ada seorang anak usia 7 tahunan yang bertanya:

“Itu ibumu lagi ngapain?”

“Lagi shalat, emang kamu gak tahu?” jawab si anak dari pemilik rumah yang lagi shalat itu.

Kalau anak yang bertanya tadi non muslim mungkin wajar. Tapi ia muslim, ironis jika shalat saja ia bahkan tak tahu. Apa orang tuanya. . . .

¤Saya sempat terlibat pembicaraan serius dengan adik saya yang masih sibuk merampungkan kuliahnya. Katanya, menilik pendidikan anak-anak sekarang perlu bukan hanya sekedar pelajaran umum, yang terpenting adalah penanaman nilai moral dan agama.

Anak-anak yang dibekali ilmu agama, katakanlah salah satunya bersekolah di madrasah atau pesantren yang mengkhususkan pada pelajaran keislaman, bukan jaminan ia bisa menjadi ‘lurus’ dan tidak terjerumus pergaulan yang ke barat-baratan. Apalagi jika sejak kecil sudah dijejali tata cara dan gaya pendidikan yang hanya mementingkan tujuan kemapanan duniawi saja.

Memang, 2 hal itu juga tergantung pribadi si anak nantinya. Tapi bukankah paling tidak sebagai langkah awal penanaman nilai-nilai moral dan agama, sebagai dasar untuk bekal akhirat kelak. Karena itu, jauh lebih penting dari segala jenis pendidikan (umum maupun agama) yang didapat anak di sekolah, adalah PENDIDIKAN AGAMA DI RUMAH. Jadikan rumah dan para penghuni di dalamnya punya atmosfer keislaman yang kondusif dan terarah.

Yang lebih mencemaskan saya, berkaca dari peristiwa di atas, adalah ironisme yang terjadi di kalangan masyarakat belakangan ini. Para orang tua berramai-ramai mengikutkan anak-anaknya dalam program les untuk mata pelajaran matematika dan bahasa Inggris atau untuk les musik yang kadang tidaklah terlalu perlu.

Tapi ketika anak-anak hanya bisa bengong dan melongo saat membaca surah al fatihah karena tak bisa membaca huruf hijaiyah, yang saya lihat orang tuanya adem ayem saja, tak ada niat memberikan les mengaji atau mengajari si anak baca tulis Al Qur’an.

Sungguh sesuatu yang amat memiriskan rasa hati saya.

Jikalau di rumah saja anak tak mendapat bimbingan agama dan pendidikan moral yang cukup dan tepat lantas bagaimana jadinya dengan pergaulannya di luar rumah? Maka kita tak perlu kaget jika tawuran pelajar marak, bisa bergaul bebas tanpa batas, sampai seks usia dini hingga kehamilan dan aborsi.

Saya bersyukur, walau tidak pernah sekolah agama secara intensif tapi orang tua terutama Abah, beliau cukup sadar dalam penanaman nilai agama bagi anak-anaknya. Saya masih ingat, dahulu selesai solat Magrib berjamaah, beliau selalu mengajari saya mengaji walau saya juga bersekolah di TPA setiap sore. Dan suasana itulah yang ingin saya ‘hidupkan’ di lingkungan keluarga saya.

Sungguh tak mudah, mendidik anak-anak di era ini penuh tantangan dan perlu pengawasan ekstra. Ini adalah akhir zaman, perlahan menuju pasti suatu kehancuran yang tak terelakkan. Dan kita semua perlu bekal iman yang cukup agar kehancuran itu tak menjadikan kita binasa dan masuk dalam golongan orang-orang yang merugi.

Wallahualam bishshawab. . .

KETIKA HANDPHONE BERDERING

gadget-freak.jpg

“Eh, udah denger belom?” Tanya Tantri pada ke 3 temannya di sebuah kursi di taman sekolah.

“Apaan?” Tanya Riska antusias sambil tangannya tak lepas dari HP.

“Kabarnya BBM an bisa di android loh, aplikasinya keren.” ujar Tantri lagi.

“Wah, sumpeh lo? Gila aja, baru aja 2 bulan gue make, masak kudu ganti lagi? Apa kata nyokap?” Tini mendengus menatap gadget canggih di tangannya.

“Skalian tu pake aja remote TV!” Sisi menimpali, sontak 4 remaja kelas 3 SMP itu riuh tertawa.

Jam pulang berdentang, ke 4 sekawan itu tak langsung ke rumah, masih sibuk kongkow dan nongkrong dulu di kafe atau mall.

“Ngadem yuk?”Ajak Sisi. “Males banget jam segini udah pulang, ntar gue yang traktir deh.” ujarnya lagi, bisa dibilang dari mereka ber 4 Sisi lah yang paling wah, gak pernah repot walau banyak menandaskan rupiah.

Mereka pun naik taxi menuju sebuah mall di pusat kota.

“Coba aja boleh bawa boil ndiri, gak akan deh kita desak-desakan di Blue Bird gini.” Tantri bersungut-sungut.

“Gila aja lo, kayak udah lihay aja.” Kata Tini.

Riska hanya bisa diam, diantara teman-temannya, ia yang paling sederhana, ia memang tidak tajir seperti Tantri, Tini atau Sisi. Jauh di dasar hatinya, ia pun ingin punya apa yang dimiliki anak orang kaya.

Mereka mampir sebentar di resto di mall, membeli burger dan cola lalu jalan sambil makan. Di sebuah konter HP diadakan promo smartphone. Sontak mata ke empatnya terbelalak tak berkedip.

“Busyet. . . Beneran, serius, gue kudu bilang mama buat ganti ke andro.” Kata Sisi sambil berdecak menyaksikan deretan gadget canggih yang mempesona kaum muda.

¤ ¤ ¤

Riska termenung di kamarnya, ia ingat kejadian di mall tadi siang. Tapi yang paling ia ingat adalah seorang paruh baya yang tak sengaja menabraknya saat mau pulang tadi. Dan ketika ke 3 temannya pulang naik taxi, karena arah pulang berlawanan Riska menunggu angkot di tepi jalan, sebuah mobil menepi di depannya. Riska manggut saja saat si empunya menawarkan tumpangan dan mau mengantarnya.

Broken Angle dari HPnya memecah lamunan Riska, sebuah nomor tanpa nama. Ternyata itu dari om Har yang tadi siang.

Seminggu berlalu, ke 4 sahabat itu sibuk memamerkan gadget terbaru berlabel ponsel cerdas itu.

“Ini gue bisa beli duitnya ditambahin Toni, habisnya bokap cuma ngasih separuh, lagi pelit karena abang gue barusan kuliah ke Amrik.” kata Tini sambil membanggakan ponselnya.

“Emang Toni lo apain kok baik bgt mau nombokin?” Riska mendelik, Sisi menatap curiga.

“Biasa, cowok, digrepe-grepe dikitlah flen. . .” ujar Tini enteng, mukanya mesem mesum. Membuat Riska dan Sisi mengangguk maklum.

“Nah, kalo lo Ris? Sakti lo akhirnya bisa punya andro juga.” Tantri menyelidik.

“Ada deh. . . ” seru Riska membuat ke 3 temannya bertanya-tanya. Ia segera menjauh saat panggilan masuk dari om Har terdengar. Ia pun pamit pada ke 3 temannya, diiringi sejuta tanda tanya dari mata Riska, Sisi dan Tini.

“Tuh anak jadi aneh deh sekarang, suka jalan tanpa kita. Apalagi setelah ada yang nelpon langsung main kabur aja.” gumam Sisi, heran.

¤ ¤ ¤

Di sebuah mall Riska menuju toilet dan segera mengganti seragam putih birunya dengan kaos dan jins pendek. Sesaat kemudian ia bertemu dengan om Har yang mengajaknya nonton di 21, belanja pakaian dan makan-makan.

“Habis ini kita kemana lagi Ris?” tanya om Har agak menggoda.

“Terserah,” Riska nyaris tersedak salad saat mengatakannya, tiba-tiba rasa nyeri berkumpul di seputar perutnya teringat kejadian beberapa hari lalu, di sebuah kamar hotel saat ia menukar kegadisannya dengan sebatang ponsel pintar yang ada di tangan kirinya.

Om Har menatap wajah manis remaja kelas 3 SMP itu penuh nafsu.


Gambar dari:
okalina.com

BACA JUGA:
Desember, Di Sebuah Kota
Di Atas Jembatan Itu

KETIKA PRIA INGIN MENIKAH (LAGI)

KETIKA PRIA INGIN MENIKAH (LAGI)

Sebenarnya sudah sangat lama sekali ingin menulis tentang ini (perselingkuhan, poligami, istri ke dua atau apalah namanya). Tapi, seperti yang biasa diulas di berbagai media di tanah air, persoalan ini memang agak ‘rumit’ dan barangkali tabu dibicarakan. Tapi tetap saja, naluri keperempuanan saya terusik ketika melihat maraknya seorang pria punya istri lebih dari satu. Yah. . . Walau poligami boleh secara hukum agama dan negara tapi tetap saja ada ‘efek samping depan dan belakang’ yang tak bisa kita diamkan saja.

Dan rasa itu kian membuncah, menggedor otak dan membuat gatal jari-jari ini. Apalagi kemarin sempat baca novel yang pernah in banget di kalangan perempuan, khususnya para istri. Dalam karyanya yang bertajuk CATATAN HATI SEORANG ISTRI, Asma Nadia sukses membuka mata saya sekaligus menguras airnya sekalian.

novel-chsi.jpg

Buku itu menceritakan tentang kisah-kisah yang nyata dialami para istri dalam kehidupannya mengayuh biduk rumah tangga. Sedih, bahagia, janji yang teringkari sampai perkara poligami disajikan secara apik dan menyentuh.

Sampai-sampai ada beberapa kata yang membuat saya merenung lama dan tak habis pikir dibuatnya:

“Apa salahnya? Jika suami diibaratkan teko, isinya boleh saja tumpah kemana-mana, yang penting kan tekonya balik ke rumah!”

“Namun apakah dimadu dan menjadi istri tua, merupakan jalan satu-satunya untuk mendekatkan perempuan (yang telah menghabiskan tahun-tahun dalam kepatuhan dan bakti itu) pada surga??”

Oke, cukup tentang bukunya. Lalu apa hubungannya dengan yang ingin saya tulis di sini? Thats it, check this out!

Jadi, beberapa waktu lalu saya pernah dapat telepon dari seorang family kerabat suami yang tinggal jauh di luar kota. Entah bagaimana mulanya tiba-tiba dia menyinggung masalah poligami dan keinginannya untuk punya istri lagi. Iya, dia terang-terangan ingin menikah lagi dan menanyakan apa barangkali saya punya adik atau keluarga yang bisa diajak menikah (mendadak saya bersyukur bahwa adik saya yang masih kuliah itu baru saja menikah, fiuh. . .).

Saya tak paham apa sebabnya jadi dia seperti itu padahal saya tahu kalau istrinya sedang hamil anak ke dua. Kok bisa-bisanya. . . Ok, cukup, setiap membahas beginian sentimen saya kumat dan mau marah saja sudah.

Lalu saya tanyakan motivasi dia kenapa hendak menikah lagi, lebih mengejutkan ini jawabannya:

1) Namanya pria kan kadang kadang selalu ‘ingin’ dan istri tak selalu bisa memenuhi. Ah, tanpa saya bahas lebih detil pun kita tahu apa maksudnya, saya rasa ini hanya karena masalah hormonal akibat kehamilan yang kian besar.

2) Kalo punya yang kurus kan pengen juga nyari yang rada gemuk. Ouch, batin saya meringis ngeri-ngeri sedap dibuatnya: kan bisa dikasih obat penggemuk badan. So what?

3) Ingin membantu. Hah? Okelah secara ekonomi dia memang mampu dan lebih. Tapi, masak karena ingin membantu harus dengan menikah lagi? Banyak kok janda-janda tua dan anak yatim yang bisa disantuni. Dan lagi? Kalau benar mau membantu kenapa nyarinya yang agak muda? Kenapa gak memilih janda 6 anak yang kerjanya jadi tukang cuci saban hari? Dan ketika saya tanya kriterianya gadis atau janda atau yang rada berumur eh. . .jawabannya ngambang.

Membuat saya jadi garuk-garuk kepala yang gak dikeramas 3 hari. Ckckck. . .

Setelah meminimalisir emosi saya. Saya mencoba memberikan pandangan bagaimana nanti istrinya dan dampak ke depannya. Lagi-lagi saya dibuat shock, katanya itulah tantangannya. WOW. . .

Saya kenal dengan seorang pelaku poligami, meski sekarang pria itu tetap dengan dua istrinya tapi tak urung juga pernah membuat istri pertama dan anaknya depresi dan ketergantungan obat penenang.

Dia menyanggah saya, jangan samakan katanya tiap orang beda-beda dan tak semua kasus poligami merana. Banyak juga yang berhasil dan bahagia. Saya mengiyakan, dia benar tapi saya juga tak salah. Itu adalah pandangan saya dari apa yang menjadi realita di sekitar.

Saya menulis ini hanya sebagai pandangan, pendapat, unek-unek saja. Karena saya amat tak paham apa yang membuat seorang suami bisa berpoligami dengan mudahnya? Saya hanya takut, jangan-jangan kita berramai-ramai mengatasnamakan sunah untuk urusan yang lebih ah.

Saya bukan anti poligami, saya hanya tak siap menjadi bagian dari poligami (lagi, menyitir kata-kata mba Asma dalam bukunya.)

Bagaimana menurut Anda ?