KETIKA ORANG TUA JADI SAPI PERAH

Minggu-minggu ini rada mumet diterpa berbagai dinamika kehidupan. Ditambah lagi setiap mau masuk akun blog sendiri harus log in melulu, padahal sudah simpan kata sandi, gak paham ada gangguan apa? Maka saya nonton drama saja sampai migrain gak ada bahan postingan. Jadi maaf belum sempat tamasya ke tempat kawan semua. Biane. . . Sorry. . . Afwan. .

Maka kali ini saya akan jujur, terbuka, apa adanya dan blak-blakan! Mengajak kita semua sesaat merenung menyentuh nurani dan perlahan menguak sedikit pintu kesadaran yang alpa itu.

Ada yang bilang, jaman sudah berubah. Jikalau dahulu anak-anak yang manut dan patuh pada orang tua, tapi sekarang justru sebaliknya orang tua yang selalu menuruti apa mau anaknya.

Hmm. . . Benarkah? Seironis itukah?

Tapi kalau mau jujur, memang. Coba kita kilas balik ke sekian tahun lalu ketika anak masih berupa segumpal darah tanpa nyawa dalam rahim istri. Rasanya sejak itu para orang tua sudah kehilangan kekuatan untuk mengatakan TIDAK. Kok bisa?

Lihat saja, siapa yang rela tengah malam buta mencari buah yang tak sedang musimnya karena orok belum berbentuk itu menuntut ngidam? Siapa yang rela melalui waktu semalam suntuk menahan kantuk karena bayi merah yang belum genap 40 hari itu hobinya begadang semalaman? Siapa yang mau saja membelikan mainan super mahal hanya karena tak tega melihat balitanya menangis?

Dan waktu berlalu, tahun-tahun terlewati tanpa sempat kita sadari. Anak-anak tumbuh dan terbentuk dalam kenyamanan yang orang tua kondisikan sedemikian rupa. Agar mereka tak kekurangan sesuatu apa. Maka kemudian jangan heran bila dahulu kita bisa sekolah jalan kaki dengan sepatu menganga ala mulut buaya, sedangkan anak sekarang manja dengan ritual antar jemput setiap harinya. Jangan ditanya kalau mereka malu dan gengsi pakai sepeda, dunia mereka sudah beda dengan dunia para orang tua dahulu kala. Tanpa motor itu namanya kampungan, gak pake mobil itu kejam (ketinggalan jaman).

Tak bisa dipungkiri tantangan pergaulan anak-anak jaman sekarang sangat berragam dan banyak menghabiskan biaya. Tak tahu mengapa, saat hari senja menyambangi para orang tua, anak-anak seakan punya dunia, pemikiran dan ambisi mereka sendiri. Orang tua tak punya hak mengatur anak-anak, orang tua hanyalah sarana penggapai impian anak-anak, acap kali menjelma sapi perah yang setiap hari membanting belulang dan menguras darah.

Tengoklah saat masa-masa kuliah. Uang kiriman bulanan yang telat sampai menjadi satu-satunya alasan untuk menghubungi bapak di kampung. Biaya semester, uang kos, sampai jelang wisuda peletakan titel sarjana dibelakang nama kita adalah hasil jual, gadai, ngutang dan pinjam apa yang masih bisa dinilai dengan rupiah untuk melancarkan perwujudan yang namanya cita-cita.

Sampai memasuki dunia kerja, adakah para orang tua dapat berhenti menguras keringat di kulit keriput mereka diambang senja?? Apakah mereka dapat istirahat sesaat menggemeretakkan tulang setelah berjibaku demi menggapai harapan??

Sekali lagi TIDAK!!

Sampai anak-anak menikah, berkeluarga dan memberi cucu, tak henti-hentinya mem’beban’i orang tua. Pernahkah kita mengkalkulasi berapa lama kita terlena dalam pondok indah mertua/orang tua? Berada dalam kenyamanan dan jaminan periuk nasi dan dulang ikan mereka, sementara gaji dan penghasilan yang kita miliki erat masuk tabungan untuk rencana masa depan yang kita canangkan.

Saya tahu, walau setiap orang tua tak pernah pamrih dan rela melakukan A P A S A J A demi anak-anaknya, tapi sebegitu tegakah kita terus menjadi parasit, lintah pengisap darah dengan selalu menjadikan orang tua serupa ATM berjalan, seumpama sapi perah??

Sampai kapan kita tetap ‘menyusu’ dan berada dalam kenyamanan bawah ketiak orang tua?

Tak semua kita jadi orang tua, tapi setiap kita adalah anak-anak yang walau mereka tak pernah meminta sudah seharusnya kita berbakti dan berhenti menyusahkan mereka. Jikalau tak mampu membuat orang tua bahagia, maka jangan membuat lebih banyak masalah bagi mereka.

Advertisements

INTRIK DAN KONSPIRASI DALAM DRAMA JANG OK JUNG

Korea lagi Korea lagi. Drama lagi drama lagi. . .

Membuat saya jarang aktif ngeblog, karena tontonan saya kali ini benar-benar ngeri-ngeri sedap. Drama ini diambil dari kisah nyata berlatar belakang sejarah Korea tempo dulu. Pada jamannya dinasti Joseon. Mengisahkan tentang perjuangan seorang wanita dari kalangan budak rendahan yang bisa menjadi selir kesayangan Raja Suk Jong, bahkan sampai bisa menjadi permaisuri dan meningkatkan derajatnya.

jangokjung-keyart.jpg

Saya tak akan membahas mendetail tentang ceritanya, karena jika berminat para pembaca bisa saja mencari tentang drama Jang Ok Jung ini dalam referensi pencarian Google. Sinopsis lengkapnya pun ada.

Saya akan membahas tentang bagaimana lika-liku hidup dalam istana (mungkin juga dalam kehidupan sesungguhnya). Bahwa banyak manusia yang mempertaruhkan segalanya demi kenikmatan hidup yang maha semu.

Bertepatan di tahun 2014 ini dimana Indonesia akan kembali memilih pemimpin dan menentukan kemana arah kekuasaan berjalan, drama ini benar-benar membuka mata saya tentang intrik dunia politik. Seperti yang dahulu sekali pernah saya baca BAHWA POLITIK ITU KOTOR maka menurut pendapat saya CINTA ADALAH SANDARAN YANG PALING LEMAH DAN KEKUASAAN ADALAH KURSI PALING RAPUH YANG MENAHAN KEDUDUKANMU. FAKTANYA MEREBUTNYA ADALAH SELALU LEBIH MUDAH DARIPADA MEMPERTAHANKANNYA.

Orang yang paling berkuasa bisa jadi orang yang paling lemah dan paling malang hidupnya. Seorang Raja atau Kaisar yang terlihat kuat dan dilindungi, bisa jadi tak lebih hanya sebagai alat penunjang kepentingan dan pencapai tujuan bagi orang-orang disekelilingnya.

Seorang wanita, yang dalam kelemahlembutannya menjelma seorang istri dan ibu adalah sangat mungkin jadi menjungkirbalikkan seisi istana. Karena hanya wanitalah yang mampu memenangkan pertarungan bahkan tanpa menyentuh sebilah pedangpun.

Maka tak berlebihan bila orang bijak selalu menyebut HARTA, TAHTA dan WANITA akan selalu mewarnai kehidupan, mencipta intrik dan berragam konspirasi dalam kehidupan seorang pria. Bahkan seorang Kaisar, Raja atau Presiden sekalipun.

Nah, sebagai pelengkap pandangan dan pendapat saya tentang kekuasaan dan cinta yang tergambar di drama Jang Ok Jung ini, maka disini ada beberapa kata kutipan yang saya ambil dari drama tersebut. Sebagai bahan renungan dan penggugah kesadaran kita, terutama untuk penguasa-penguasa di republik ini:

KEKUASAAN TIDAK DATANG DENGAN MUDAH. KEKUASAAN ADALAH SESUATU YANG DIMILIKI OLEH ORANG YANG TAHU BAGAIMANA MENGGUNAKANNYA.

MESKIPUN RASANYA SEPERTI ANGIN HANGAT MUSIM SEMI KETIKA PRIA PERTAMA KALI MENDEKATIMU, ITU AKAN JADI ANGIN MUSIM DINGIN SETELAH PERNIKAHAN.

SESUATU YANG PALING LEMAH DAN PENGECUT ADALAH YANG PALING CEPAT MENUNJUKKAN KEKUATAN MEREKA.

MEMILIKI INFORMASI YANG SALAH LEBIH BERBAHAYA DARI PADA TIDAK MENGETAHUI INFORMASI SAMA SEKALI.

2 HAL YANG TAK BISA DIPAKSAKAN DAN TAK BISA DIJAMIN ADALAH HATI DAN TAKDIR.

TAHTA SEBENARNYA ADALAH KURSI YANG KEJAM.

KEKUASAAN BUKAN SESUATU YANG DAPAT DIBAGI.

JIKA TAK BISA MEMILIKI YANG BAIK MAKA PILIHLAH YANG KURANG BURUK DARI YANG TERBURUK.

JANGAN PERCAYA SIAPAPUN SELAIN DIRIMU.

BERTINDAKLAH DENGAN APA YANG KAU YAKINI.

KEMENANGAN TERGANTUNG PENDERITAAN YANG DIATASINYA.

ORANG YANG PALING DITAKUTI DI DUNIA INI ADALAH ORANG YANG TIDAK MEMBUTUHKAN APAPUN.

KEBERUNTUNGAN DATANG PADA MEREKA YANG MEMBANGUNNYA.

Nah, bagaimana? Sebenarnya banyak kata-kata penuh makna, filosofis dan sangat membidik langsung pada poros kehidupan manusia dalam drama ini. Tapi yang saya tulis ini adalah yang paling ‘ngena banget di jiwa’ menurut saya.

Kabarnya drama ini saat tayang perdana tahun lalu di negeri asalnya ratingnya kurang seperti yang diharapkan. Mungkin kalah pamor dengan drama Saeguk bergenre serupa seperti Dong Yi dan Dae Jang Geum.

Tapi apapun itu, drama ini benar-benar layak diapresiasi dan lumayan sedap dimata saat ditonton. Karena seperti drakor berlatar jaman kerajaan atau dinasti selalu dipenuhi wajah-wajah rupawan berbalut busana tradisional Korea dan aksesoris cantik khas wanita istana.

Dan drama ini adalah drama Saeguk ke dua yang cukup membuat saya terkesan (setelah The Moon That Embrace The Sun) dan bela-belain menulis tentang kisahnya dalam 5 ribu karakter yang terbatas di blog ini.


Gambar dari:
http://www.onetvasia.com

.

KECELAKAAN LALU LINTAS DAN TENSI EMOSI

aaajalanraya.jpg

Pernah lihat gak? Peristiwa kecelakaan lalu lintas atau kemacetan di jalan raya (yang biasa terrekam kamera CCTV)? Yang mana saat kecelakaan terjadi pihak yang mengalami masih bisa bangkit karena tak terluka parah. Lalu jadi saling mengumpat, menyalahkan dan bisa jadi baku hantam.

Atau saat kemacetan ada orang di belakang kita yang membunyikan klakson berulang-ulang dengan tak sabar?

Nah, jika pernah, atau malah justru mengalaminya sendiri. Maka ini patut kita renungkan bersama.

Peningkatan penduduk, aktifitas manusia sebagai makhluk sosial, menjadikan manusia terus bergerak, berinteraksi dan mobilitas tanpa henti. Setiap hari orang-orang tumpah ruah ke jalan dengan berbagai urusan dan aneka kepentingan.

Dan ternyata, jalanan telah mendidik dan membentuk manusia dengan caranya sendiri. Betapa mencengangkannya, dan betapa mudahnya jalanan dapat menguras kesabaran seseorang dan menjadikannya temperamental. Adegan adu otot di bawah lampu merah bisa dengan mudahnya terjadi, bahkan sebelum sempat disadari.

Jalanan juga membentuk anak-anak kita menjadi raja jalanan yang keliru pergaulan. Menjadi koboy jalanan berkuda besi yang slonong boy saenake udele dewe menenteng gadget dan asyik memencet tombolnya sementara tangan kanannya memacu kendaraannya secepat mungkin.

Jalanan juga merenggut ratusan ribu nyawa setiap tahunnya. Tanpa ampun, setiap hari ada saja anak yang mendadak menjadi yatim. Entah mengapa ini semua terjadi? Keramaian jalanan, kemacetan dan kecelakaan lalu lintas dapat menaikkan tensi emosi hingga level tertinggi dengan gampangnya.

Saya tak tahu, apakah kesadaran berlalulintas kita rendah, atau karena pengelolaan emosi kita payah?

Jadi kemarin itu saya, suami dan anak balita saya sempat mengalami kecelakaan kecil (beruntung, karena tak terluka). Saat akan menyeberang, suami melihat sebuah motor melaju kencang dari arah berlawanan, maka tak jadi dan menepi. Tapi sesaat kemudian ada motor yang menabrak kami dari arah belakang. GUBRAK!! Saya pun terjatuh ke arah kanan, untung anak saya tak apa-apa karena sempat dihalangi dengan tangan oleh suami. Si penabrak juga terjatuh, luka, berdiri dan tiba-tiba marah.

“Gimana sih! Mau nyebrang lampu seinnya tak dinyalakan!”

Saya sempat shock, sambil memegangi tangan anak, saya menahan suami saya yang juga marah-marah dan beradu mulut dengan si penabrak. Saya seakan mati rasa, berulang-ulang saya bilang jangan dan tak usah saling menyalahkan sambil memegangi pergelangan tangan suami sekuat tenaga. Mereka nyaris berkelahi dan saling pukul.

Orang-orang berdatangan dan keadaan mulai tenang. Saat dicek, tak ada luka serius hanya lecet dan motor hanya ringsek sedikit. Lalu suami dan si penabrak itu mulai tegang lagi dan menyebut ‘polisi’. Saya sampai ketakutan kalau-kalau mereka beneran berkelahi, apalagi si penabrak terbukti tak punya SIM dan STNK. Untungnya kemudian keduanya melunak dan sepakat diakhiri sampai disini. Toh, berlarut-larut juga bikin ribut dan buat masalah baru.

Peristiwa itu membuat saya tersadar akan pentingnya menjaga stabilitas emosi dan kepala dingin walau dalam kondisi mengesalkan. Saya tak bisa membayangkan kalau 2 pria dewasa yang sama-sama emosi dan dengan aliran adrenalin tinggi adu fisik?

Saya hanya tak paham, kenapa pria lebih senang saling mencari yang benar dan salah daripada mengamankan bekas kecelakaan? Apakah itu semacam “REAKSI SPONTAN ATAU REFLEKS YANG MENANDAI EGO, HARGA DIRI ATAU SUPERIORITAS YANG TERUSIK” ??

Sungguh suatu hal yang tak dapat saya pahami.

Karena itulah kawan, di jalan kita harus menanamkan kesadaran dan kesabaran tingkat tinggi. Jangan karena kemacetan yang gila-gilaan kita menghalalkan segala macam hujatan, seluruh isi Ragunan diikut sertakan dalam makian. Jangan jadikan budaya saling menyalahkan dan mencari pembenaran menjadi hal yang dimafhumkan. Karena tak ada masalah yang bisa dituntaskan dengan emosi negatif, apalagi marah-marah.

Nah, bagaimana menurut pendapat para pria??


Gambar dari:
fbhotnews.blogspot.com

DRAMA KOREA GOOD DOCTOR

4306-gooddoctor-slider.jpg

Pemain:

Joo Won sebagai Park Shi On
Moon Chae Won sebagai Cha Yoon Seo
Joo Sang Wook sebagai Kim Do Han
Kim Min Seo sebagai tunangan Prof. Kim Do Han

Kesan pertama menonton drama dengan 20 episode ini (gak tahu genre tepatnya apa, sebenarnya gak drama-drama banget karena cukup menegangkan dan gak melow) membuat saya berpikir bagaimana bisa seorang dokter dalam menjalani profesi yang penuh tekanan itu masih bisa makan, tidur, menikah dan hidup secara normal???

Saya jadi tersadar betapa ‘mengerikan’nya tugas seorang dokter. Nilai-nilai kemanusiaan, kepedulian dan mentalitas benar-benar diuji. Ironisnya, semua itu kadang (bahkan mungkin sering) berlawanan dengan hal-hal teknis dan prosedural dari kebijakan dan peraturan yang ada di rumah sakit yang menyediakan jasa para dokter tersebut. Sungguh suatu hal yang amat memiriskan hati saya sebagai orang awam yang tak paham akan berat dan ketatnya dunia kedokteran modern saat ini.

Film ini menceritakan tentang para dokter yang bekerja di sebuah rumah sakit terbaik di Korea, di sebuah Departemen Bedah Anak. Masalah bermula saat pihak RS menerima seorang dokter bedah baru yang menderita SAVANT SYNDROME yaitu gejala lain dari Autisme yang membuat penderitanya menjadi sangat pintar pada bidang tertentu dan punya daya ingat yang luar biasa menakjubkan.

Adalah Park Shi On si dokter baru ini dan membuat konfrontasi juga kontroversi secara langsung pada semua dokter senior di RS tersebut. Terutama kepada Prof. Kim Do Han atasannya di Dept Bedah Anak tersebut dan beberapa dokter senior dari Dept. HPB (hepatopancreatobiliary) yang sejak lama memang tak suka dengan sepak terjang tangan dingin yang mumpuni dari Kim Do Han dan anak buahnya.

Kekacauan demi kekacauan terjadi sejak kemunculan Dokter Park Shi On. Kondisi autisnya sering membuat kecelakaan dan masalah-masalah yang cukup serius. Di tambah lagi intrik, konspirasi dan adu kuat berebut pengaruh yang terjadi di kalangan dokter membuat film ini benar-benar layak ditonton dan direnungkan. Setiap adegan benar-benar membuat emosi campur aduk jadi satu.

Kehidupan pribadi para dokter juga mendapat porsi yang pas dalam drama ini. Di tengah semua tekanan di lingkungan RS dan di luar profesi sebagai dokter, mereka juga manusia yang kadang bisa berbuat kekeliruan, yang ingin menjalin hubungan dan punya kehidupan sosial masyarakat yang normal.

Tapi perlu diingat, jika Anda punya fobia dokter atau mudah jijik, JANGAN NONTON INI !!! Karena adegan sayat menyayat bedah membedah dan blepotan darah benar-benar seperti nyata adanya. Saya saja sampai bergidik ngeri dibuatnya.

Satu lagi, yang membuat saya betah menonton ‘kengerian’ di GOOD DOCTOR ini adalah siapa lagi kalau bukan aktor guanteng super keren Joo Sang Wook yang berperan sebagai Prof. Kim Do Han yang galak, killer, teguh pendirian, berdedikasi tinggi, ia sangat keras dan agak ‘sadis’ pada bawahannya. Pertunangannya dengan putri presdir RS menjadi sisi lain si dokter galak ini yang membuat saya terus penasaran.

kimdohan-gooddoctor.jpgJOO SANG WOOK

Tak diragukan lagi akting oppa Joo patut diacungi jempol (kalo perlu dikasih cium wkwk. . .) Saya sudah kadung kepincut dari aktingnya di Thorn Bird.

Hahay. . . Ternyata sayapun terinfeksi virus dari Korea. Ok, selamat menonton di DVD masing-masing. Gumawo. . . Anyongaseo. . . Kamsamida (Korean syndrome stadium lanjut, gak tahu artinya padahal).

Gambar dari:
forum.abs-cbn.com
cakrawala-senja-1314.blogspot.com

MENGUAK MISTERI PENYEBAB KENAIKAN BERAT BADAN WANITA MENIKAH

gambar-kartun-lucu-wanita.jpg

Hah. . . Judulnya aja panjang kayak kereta gandeng. Tapi inilah fakta yang saya temui di lapangan, satu persatu coba saya kumpulkan. Oke, ekhem. . Para wanita jangan pada shock dulu ya.

Jadi beberapa waktu yang lalu saya ketemu teman lama jamannya SMU dulu. Saya kaget, dulu itu dia kutilang alias kurus tinggi dan langsing. Sekarang sudah sampai di angka 70 kg, tinggi besar lah dia jadinya. Saya juga, jangan ditanya, sekarang sudah naik sampai 65 kg, lebih berat dibanding sebelum saya sakit kemarin masih 62. Ckckck. . .

Juga ada status teman di fb yang galau karena terus tumbuh ke samping.

Ada apa sebenarnya ini? Mengapa ini semua bisa terjadi? Dan tubuh langsing bak artis Korengan eh Korea seakan tinggal mimpi. . . .

Ini bisa jadi loh ya, bisa jadi salah satu atau salah semua (yang dituding) jadi penyebab kenaikan berat badan atawa kegemukan bagi wanita menikah, terutama yang sudah punya anak. Cekiprott. . .

1. ALAT KONTRASEPSI

Suka atau tidak suka, pil harian atau suntikan bulanan pencegah kehamilan yang lumrah dan rutin dipakai kaum ibu masih divonis jadi biang keladi penyebab utama kenaikan berat badan. Benar atau tidaknya nunggu ilmuwan luar menelitinya saja ya? Ini berdasar beberapa pengalaman dan fakta di lapangan bola.

Tentang ini saya sudah pernah bahas DI SINI.

2. ANAK HOBI JAJAN

Kira-kira dimana hubungannya ya? Anak yang jajan kok emaknya yang gembrot? Kejam ah. Eh, ternyata, usut punya usut, dari sikut ampe perut, retsleting celana gak lagi nurut, nyangkut sebatas lutut. Hm. . .setiap kali anak tak menghabiskan cemilannya, dari pada terbuang, si ibu rela saja menghabiskan sisanya (yang sebenarnya masih banyak itu). Ada keripik kentang, ada sepotong roti panggang, sebatang coklat, setoples permen. Woy! Itu ngemil apa ngutil?

3. HORMON WANITA SETELAH BERCINTA

Ini katanya loh ya, kata tulisan yang pernah saya baca. Walau aktivitas hubungan seks katanya dapat membakar kalori tapi juga membuat hormon atau semacam enzim tertentu dalam tubuh wanita yang bisa memicu peningkatan nafsu makan dan kenaikan berat badan. Apalagi yang setelah ‘itu’ doyan nongkrong di dapur nyari makanan.

Wah wah. . . Baru tahu kalo ‘olahraga malam’ bikin naik berat badan.

4. STRES DAN BAHAGIA

Sebenarnya orang jadi gemuk itu ada dua kemungkinan; dia stres dan melampiaskannya dengan banyak makan atau dia sejahtera hidupnya berbahagia sehingga nutrisi terserap sempurna.

Tapi, kalau mau jujur, kayaknya kemungkinan pertama lebih mendominasi deh, apalagi kalo stres udah menyangkut tentang pasangan atau mertua (makin kesal semakin banyak makannya). Saya jadi salut sama orang yang kuat gak makan saat dia tertekan, apalagi masih bisa langsing setelah diterpa badai kehidupan. Artinya dia gak perlu repot atur program diet, cukup modal masalah aja, langsing sya la la. . .

Hm. . .kira-kira itulah beberapa sebab musabab yang membuat kaum hawa menjadi ‘lebih berisi’ setelah menikah dan punya anak. Tapi ladies, sebenarnya kalau dari segi kecantikan, menjadi gemuk tak apa, sah-sah saja. Lebih berisi sedikit tak akan mengubah siapa kita sebenarnya, yang penting tetap percaya diri dan selalu baik hati.

Nah, baru lain halnya jika sudah menyangkut masalah kesehatan. Takutnya kegemukan membawa berbagai gangguan dan penyakit di badan. Di sini kita perlu sedikit menggeser jarum timbangan ke kiri, diet atau apalah namanya. Dengan catatan caranya juga harus sehat.

Oke, jelas ladies??

Di sini ada sebuah cerita tentang wanita yang terobsesi menjadi langsing. Semoga bisa menjadi pelajaran bagi kita semua:
AKU CUMA MAU LANGSING


Gambar dari:
http://www.gambargratis.com

JANGAN MENGAKU GALAU KALAU BELUM SAKIT GIGI

GALAU. . .

Kata itu sempat hits banget tahun lalu, apalagi di sosial media banjir status galau saban hari. Apa sih sebenarnya artinya? Terjemah bebasnya sih biasanya identik dengan suasana hati yang gak enak, sedih, melow, atau apalah yang sejenis itu. Biasanya sih yang paling mudah abis patah hati atau ketemu mantan udah move on dan punya gandengan (ha. . .nyesek pasti dan dijamin galau berhari-hari).

Tapi ternyata, gak cuma sakit hati yang bisa bikin galau, sakit gigi juga.

sakit-gigi.jpg

Hmm. . . Jadi ingat lagunya Meggy Z. tempo dulu yang katanya LEBIH BAIK SAKIT GIGI DARI PADA SAKIT HATI. Ah, apa iya??

Kalau menurut saya galau karena patah hati itu mah biasa (saya masih bisa makan dengan lahap ketika sakit hati). Yang luar biasa itu GALAU KARENA SAKIT GIGI. Yah. . .kecuali orang-orang yang gak pernah mengalami sakit gigi, beruntunglah dia, karena sakit gigi merupakan peringkat galau tingkat dewa alias ada pada kasta tertinggi (menurut saya, tapinya).

Jadi, masalahnya adalah, anak bungsu saya yang masih 3 tahun itu sakit gigi karena giginya berlubang (ketahuan dah mamahnya payah jaga kesehatan gigi anaknya). Sudah seminggu berlalu gitu deh, pas dibawa ke puskesmas kecamatan cerita galau itu berlanjut.

Ni anak udah hampir semaleman gak bobo, pagi banget saya ke puskesmas, eh dapet nomer antrian 4. Nunggu deh, gak taunya itu puskesmas ada perubahan sistem data pasien. Biasanya dicatet manual aja pake pulpen di kertas, tapi sekarang pake sistem komputer online-online gitu. Dan parahnya, itu adalah hari pertama pemberlakuan penyalinan data. Maka jadilah pasien yang antri berjubel menjejali ruang tunggu dan menyesaki tempat duduk yang kelebihan muatan.

Hari Senin pula, bertepatan dengan jadwal imunisasi bayi dan jadwal cek kondisi ibu ibu hamil. Fiuh. . .dah! Kebayang gak, 45 menit saya menunggu dengan di iringi backsound tangisan anak digendongan saya yang cetar menggelegar karena gigi yang nyut nyut tak tertahankan??

Setelah hampir satu jam yang melelahkan dan menguras kesabaran juga emosi, akhirnya saya terima juga kertas keterangan surat periksa untuk memasuki ruang dokter gigi. Dan apa? Sedihnya lagi, galaunya lagi, saat dokter gigi yang ramah nan cantik itu harus menambal lubang gigi anak saya, katanya tidak bisa karena sudah 5 bulan Dinas Kesehatan tidak mengirimkan pasta dan bahan obat yang biasa digunakan untuk menambal gigi.

Berasa pengen mewek di tempat jadinya, untung saya masih waras dan isi kepala belum pindah ke dengkul. Duh. . . Apa pemerintah sibuk ngurusin mau pemilu aje? Nyampe lupa suplay obat ke puskesmas yang saban hari selalu jadi tempat andalan masyarakat menengah ke bawah untuk memeriksakan kondisi kesehatan mereka. Sungguh TEGANYA TEGANYA TEGANYA. . . . . . (lagi, minjam liriknya om Meggy).

Walhasil, saya pulang dengan membawa Paracetamol sirup dan disuruh ke rumah sakit besar atau dokter gigi praktek. Karena percuma juga diobati kalau lubang gigi yang jahat itu belum diatasi.

Maka jadilah minggu ini di awal tahun 2014 ini adalah FASE TERGALAU DALAM HIDUP SAYA. Halah, lebay parah, efek kebangun-bangun tengah malam.

Nah, mangkanya! Masih males ngerawat gigi? Masih menyepelekan sakit gigi? Masih males dan alergi dokter? Apa iya sakit gigi biasa aja? Sakit hati dan sakit gigi sama aja gak enaknya. Suara orang bicara aja udah kayak petir membelah kepala. Saking sakitnya ampe berasa nyaris gila, liat orang ketawa mau dicekik saja.

Duh. . . Sakit gigi!


Gambar dari:
klinikgalau.net

KITA DAN WAKTU

senja-ilalang.jpg

Mungkin waktu jahat padaku !

Karena betapa mudahnya ia membuatmu berpaling dariku.
Sejenak meninggalkan selaksa kenangan,
lalu kemudian kau lupakan.

Aku masih ingat. . .
Ketika jerejak ilalang menusuk pada sinar senja.
Dan angin menerjemahkan kesunyian yang senyap.
Saat bahumu masih berupa tempat bersandar bagiku.
Juga malam,
yang masih setia merangkai mimpi-mimpi kita. . . Dan sejuta harapan cinta.

Barangkali memang waktu kejam padaku.
Ia membuatmu tak kuasa melawan lupa.
Bahwa para capung pernah mengitari mata air dan kupu-kupu terlelap dalam keropos kulit kepompong menanti musim. . .
menyibak cuaca dan membuka dekap mendung di dalam dada.

Sementara aku masih menekuri jalanan kemarin.
Pada rerumputan di tanah yang beraroma basah.
Selepas gerimis memindahkan jelaga di ruang mata.
Setelah waktu membuat kita lupa.
Dan mulai berhenti mengatakan cinta.

Gambar dari:
darisdarisman.blogspot.com