KETIKA ORANG TUA JADI SAPI PERAH

Minggu-minggu ini rada mumet diterpa berbagai dinamika kehidupan. Ditambah lagi setiap mau masuk akun blog sendiri harus log in melulu, padahal sudah simpan kata sandi, gak paham ada gangguan apa? Maka saya nonton drama saja sampai migrain gak ada bahan postingan. Jadi maaf belum sempat tamasya ke tempat kawan semua. Biane. . . Sorry. . . Afwan. .

Maka kali ini saya akan jujur, terbuka, apa adanya dan blak-blakan! Mengajak kita semua sesaat merenung menyentuh nurani dan perlahan menguak sedikit pintu kesadaran yang alpa itu.

Ada yang bilang, jaman sudah berubah. Jikalau dahulu anak-anak yang manut dan patuh pada orang tua, tapi sekarang justru sebaliknya orang tua yang selalu menuruti apa mau anaknya.

Hmm. . . Benarkah? Seironis itukah?

Tapi kalau mau jujur, memang. Coba kita kilas balik ke sekian tahun lalu ketika anak masih berupa segumpal darah tanpa nyawa dalam rahim istri. Rasanya sejak itu para orang tua sudah kehilangan kekuatan untuk mengatakan TIDAK. Kok bisa?

Lihat saja, siapa yang rela tengah malam buta mencari buah yang tak sedang musimnya karena orok belum berbentuk itu menuntut ngidam? Siapa yang rela melalui waktu semalam suntuk menahan kantuk karena bayi merah yang belum genap 40 hari itu hobinya begadang semalaman? Siapa yang mau saja membelikan mainan super mahal hanya karena tak tega melihat balitanya menangis?

Dan waktu berlalu, tahun-tahun terlewati tanpa sempat kita sadari. Anak-anak tumbuh dan terbentuk dalam kenyamanan yang orang tua kondisikan sedemikian rupa. Agar mereka tak kekurangan sesuatu apa. Maka kemudian jangan heran bila dahulu kita bisa sekolah jalan kaki dengan sepatu menganga ala mulut buaya, sedangkan anak sekarang manja dengan ritual antar jemput setiap harinya. Jangan ditanya kalau mereka malu dan gengsi pakai sepeda, dunia mereka sudah beda dengan dunia para orang tua dahulu kala. Tanpa motor itu namanya kampungan, gak pake mobil itu kejam (ketinggalan jaman).

Tak bisa dipungkiri tantangan pergaulan anak-anak jaman sekarang sangat berragam dan banyak menghabiskan biaya. Tak tahu mengapa, saat hari senja menyambangi para orang tua, anak-anak seakan punya dunia, pemikiran dan ambisi mereka sendiri. Orang tua tak punya hak mengatur anak-anak, orang tua hanyalah sarana penggapai impian anak-anak, acap kali menjelma sapi perah yang setiap hari membanting belulang dan menguras darah.

Tengoklah saat masa-masa kuliah. Uang kiriman bulanan yang telat sampai menjadi satu-satunya alasan untuk menghubungi bapak di kampung. Biaya semester, uang kos, sampai jelang wisuda peletakan titel sarjana dibelakang nama kita adalah hasil jual, gadai, ngutang dan pinjam apa yang masih bisa dinilai dengan rupiah untuk melancarkan perwujudan yang namanya cita-cita.

Sampai memasuki dunia kerja, adakah para orang tua dapat berhenti menguras keringat di kulit keriput mereka diambang senja?? Apakah mereka dapat istirahat sesaat menggemeretakkan tulang setelah berjibaku demi menggapai harapan??

Sekali lagi TIDAK!!

Sampai anak-anak menikah, berkeluarga dan memberi cucu, tak henti-hentinya mem’beban’i orang tua. Pernahkah kita mengkalkulasi berapa lama kita terlena dalam pondok indah mertua/orang tua? Berada dalam kenyamanan dan jaminan periuk nasi dan dulang ikan mereka, sementara gaji dan penghasilan yang kita miliki erat masuk tabungan untuk rencana masa depan yang kita canangkan.

Saya tahu, walau setiap orang tua tak pernah pamrih dan rela melakukan A P A S A J A demi anak-anaknya, tapi sebegitu tegakah kita terus menjadi parasit, lintah pengisap darah dengan selalu menjadikan orang tua serupa ATM berjalan, seumpama sapi perah??

Sampai kapan kita tetap ‘menyusu’ dan berada dalam kenyamanan bawah ketiak orang tua?

Tak semua kita jadi orang tua, tapi setiap kita adalah anak-anak yang walau mereka tak pernah meminta sudah seharusnya kita berbakti dan berhenti menyusahkan mereka. Jikalau tak mampu membuat orang tua bahagia, maka jangan membuat lebih banyak masalah bagi mereka.

31 thoughts on “KETIKA ORANG TUA JADI SAPI PERAH

  1. Saya setuju jika kita memberi sesuatu kepada orgtua tanpa pamrih.. Dlm hal dri orok kita menyusahkan orgtua.. Sprtinya krg tepat.. Anak adalah tanggungjawab orgtua.. Tetapi mnurut saya ada beberapa orgtua yg tdk bsa bertanggungjawab atas anaknya.. Kebutuhan dasar anak itu merupakan beban bagi mereka.. Tidak mau berusaha utk anaknya.. Wajar orgtua seperti ini kdg2 anaknya ketika besar tidak mau membantu krn orgtua sndiri msh pelit kepada anaknya.. Ini sisi yg lain yah.. Kalo diatas kan sisi dmn orgtua yg positif.. Krn orgtua jg manusia.. Tidak semua orgtua seperti yg mbak jabarkan diatas.. Ada orgtua yg dijadikan sapi perah anaknya.. Tp ada anak yg dijadikan sapi perah orgtuanya..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s