IWAK HARUAN BAPANGAT

iwak-haruan-bapangat1.jpg

Lama banget gak posting masakan. Aslinya emang malas masak, yang enak mah makan yang udah masak, iya ndak?

Tapi karena suami hobi memancing, dan kemarin dapat beberapa ekor ikan haruan (gabus), maka kali ini berangkatlah ke dapur.

Sebelumnya sempat saya upload fotonya ke FB karena lagi males ngepost di blog. Eh, ada teman yang mau resepnya, ya udah tulis di blog saja (emak-emak kebanyakan males, pengen cuti jadi ibu, he. . .).iwakharuanbapangat2.jpg

Ini dia, RESEP IWAK HARUAN BAPANGAT:

BAHAN:

1/2 kg iwak haruan (ikan gabus), siangi, potong-potong dan bersihkan.

BUMBU:

5 siung bawang merah.
1 siung bawang putih.
1 butir cabe rawit (kalau suka pedas boleh ditambah).
7 butir kemiri.
1 ruas jari kunyit.
1 ruas jari laos/lengkuas.
3 cm serai.
Sedikit terasi dan asam jawa.
Garam secukupnya.

PELENGKAP:

Bawang goreng.
Cabe merah dan hijau besar, tomat dan belimbing wuluh, diiris.

CARA:

Haluskan semua bumbu, balurkan pada ikan sampai merata dan diamkan sebentar agar bumbu meresap.

Panaskan kira-kira 4 sendok makan minyak goreng, masukkan ikan, aduk sesekali, masak di atas api sedang.

Lalu tambahkan sedikit air, sambil diaduk perlahan saja, hati-hati ikannya hancur. Masukkan irisan cabe, tomat dan belimbing, setelah air menyusut cicipi rasa. Boleh tambahkan penyedap.

Angkat, sajikan dengan taburan bawang goreng.

iwak-haruan-bapangat3.jpg

IWAK HARUAN BAPANGAT dengan rasa gurih dan empuk siap dihidangkan.

Nah, selamat menikmati.

Advertisements

WANITA MUDA DAN KESADARAN MERAWAT DIRI

“Kamu itu masih muda, dandan dong biar cantik. Kalo suami selingkuh baru tahu rasa kamu !!!”

Saya tiba-tiba teringat kalimat yang diucapkan seorang tetangga itu, beberapa tahun yang lalu.

Kala itu saya baru punya anak pertama setelah setahun menikah, usia saya saat itu 19 tahun. Saya diam dan tak menanggapi serius, apalagi kata-kata itu terucap dihadapan tetangga yang lain dan 2 orang sales kosmetik. Karena saat ditawarkan pewarna pipi dan pemulas mata saya menolak lantaran memang tak bisa menggunakannya.

Saya tidak marah, walau dalam hati menggerundel juga. Kalo pria mau selingkuh, yang istrinya kece dan stylish pun bisa saja. Gimana mau ‘baaksi’ alias berrias diri kalo punya bayi dan gak ada yang bantuin? Bela hati saya membatin.

Memang kalau alasan lantaran anak para ibu muda sering mengabaikan kondisi kesehatan dan kecantikan diri. Padahal harusnya saat-saat itulah wanita perlu meraih ‘pesona’ dirinya lagi. Masak karena punya anak jadi serba gak bisa ngapa-ngapain?

Tapi memang, dari yg sering saya lihat, setelah punya anak kok tiba-tiba jadi serba seadanya. Gak usah dibahas kalo daster butut mendadak jadi favorit ibu-ibu muda. Yang lebih parah lagi malah gak sempat mandi dan gak ganti baju juga saking sibuknya mengurus anak.

Saya jadi teringat nasehat ibu saya sambil setengah marah. Biarpun capek dan repot, jadi wanita menikah dan punya anak itu gak boleh malas. Harus tetap mandi dan mempercantik diri. Minimal membersihkan diri dan siap dengan segala tugas rumah, bagaimanapun caranya.

Kurang lebih begitulah ibu sering mewanti-wanti saya dahulu, ketika baru punya anak pertama. Kala itu saya sering ke pasar dengan atasan kaos pendek dan celana santai ukuran tanggung dan kepala ditutup kerudung atau handuk seadanya. Sekarang baru saya sadar, betapa kucelnya saya saat itu.

Dan lagi, yang sering saya perhatikan, para ibu muda juga kerap menyusui anak mereka di tempat umum tanpa sungkan. Ya, memang harus menyusui anak kapanpun dan dimanapun dan tak ada larangan juga. Tapi tolonglah, tolooong. . . banget! Janganlah payudara dipampangkan begitu saja di tengah pasar, di dalam angkot atau di tempat antrian loket pembayaran rekening listrik bulanan atau. . .disepanjang jalan terbuka dan membuat mata lelaki terbelalak bertanya-tanya sambil serta merta menetes liurnya.

Wahai para wanita! Ibu-ibu muda yang super sibuknya yang harus menghandle segala urusan domestik rumah tangga dengan tangannya! Cintailah dirimu, rawatlah dan pancarkan pesonamu. Berpakaianlah yang pantas, tutupilah anggota batang tubuhmu yang sekiranya tak pantas untuk diperlihatkan. Saat menyusui anak usahakan menutupi bagian dada agar tak menarik perhatian banyak mata. Bisa dengan sapu tangan, kain gendongan tradisional atau kerudung yang agak lebar menutup dada.

Wanita menikah telah menjadi milik seorang laki-laki yang ia sebut suami. Maka jangan menampakkan apa-apa yang hanya boleh suami yang memandangnya.

Katakankah kali ini saya sok tahu, tapi ini adalah kegalauan saya selama ini. Paling tidak, kata-kata tetangga saya itu pantas direnungkan.

(MASIH) KOREAN FEVER BAGIAN 2

Setelah di posting kemarin saya curhat abis-abisan tentang betapa sukanya saya dengan drakor. Kali ini saya mau mengulas sedikit tentang apa yang kurang saya sukai tapi selalu ada di drakor.

Soju, tahu kan soju? Kalo di Jepang ada sake nah kalo Korea punya Soju si arak beras. Bukan sojunya yang saya tak suka (Soju adalah minuman tradisional Korea), tapi adegan mabuk mereka selalu ada nyaris di tiap drama, entah itu mabuk karena Soju ataupun minuman keras. Membuat saya bertanya saat pemeran ceweknya mabuk berat malem-malem eh gak bisa pulang tapi kok adaaaa aja cowok yang baek banget mau nganterin ke rumah dengan selamat pulak?

Berasa imposibel deh kadang, yang ada kan harusnya pas mabuk itu si cewek dilecehin dan pas sadar nangis jijay dah nyumpahin cowoknya. Hihi. . . .kebawa adegan sinet.

Trus, make up artisnya yang kadang membuat pemeran cowoknya jadi lebih ‘cantik’ dari pemeran cewek. Hanya ngerasa miris aja saya yang perempuan tulen aja alat make upnya cuma lipstik, pelembab dan bedak tabur doang, tapi kok bisa sih para aktornya pake riasan yang segitunya?

Trus. . .

Konon katanya dari berbagai tulisan yang pernah saya baca, udah bukan rahasia lagi kalo warga Korea itu tingkat kepuasan dan penerimaan dirinya rendah. Maka mereka menetapkan standar kerupawanan fisik berdasarkan hasil permak operasi plastik. Bahkan tempat operasi gak harus ke RS besar, di klinik-klinik kecantikan pun menyediakan jasa oplas dengan tarif murah nan terjangkau.

Ironisnya, karena kerasnya dunia pergaulan dan industri hiburan Korea membuat banyak remaja lebih memilih oplas sebagai hadiah ultah atau kelulusan mereka ketimbang gadget terbaru atau liburan ke luar negeri.

yoona-snsd2.jpgYoona SNSD

Hebatnya lagi, para ortu menyediakan tabungan dan anggaran khusus untuk biaya oplas anak mereka. Kabarnya wajah cantik seperti Yoona SNSD dan Song Hae Kyo adalah yang paling diminati. Wah, bakalan bertebaran dunk wajah kembar buatan. Ckckck. . .

songhyekyo3.jpgSong Hye Kyo

Tapi gak semua, ada juga yang emang cantik alami tanpa oplas. Seperti dua aktris tersebut di atas, termasuk favorit saya.

Trus, saya juga kurang suka dgn adegan-adegan romantis di drakor (loh?). Karena pas nonton saya sulit nyari waktu buat ‘menikmati’ sendiri, ada anak-anak, jadi saya terpaksa mengskip adegan romannya apalagi yang ada kiss scenenya (parah ni emak-emak).

Yah, kira-kira begitulah plus minusnya drakor menurut saya.

Sebenarnya sekarang jadi makin jarang blogging karena lagi malas tingkat akut, dan juga postingan di blog udah gak mau lagi di share ke facebook. Gak tahu kenapa?

Tapi jangan khawatir, saya gak akan vakum!! Selama hayat masih dikandung badan kita tetap ngeblog! Oce?!


. Pic Yoona: dinamazida.wordpress.com
Pic Hye Kyo: popularycar.blogspot.com

(MASIH) KOREAN FEVER

Sebenarnya. . . Sejak kapan ya saya suka Korea?

Perasaan booming K Pop sudah lewat, tapi kok saya baru heboh sekarang, sendirian.

Bisa dibilang saya telat banget suka hal-hal berbau Korea (terkhusus drama). Dulu, beberapa tahun lalu saat teman-teman dan saudara bilang tentang drama Korea rame-rame dan asik saya mah gak ngeh dan tak terlalu menanggapi. Secara dulu emang lagi sibuk-sibuknya mengurus anak yang masih baby dan seharian juga full bantuin suami berdagang pas masih punya satu anak. Jadi, mana ada waktu?

Trus, saat salah satu TV swasta nasional intens dan konsisten menayangkan drakor saya cuma sempat memajang mata dan kekaguman saya di beberapa judul drama saja. Bayangkan, dari sekian banyak judul drakor yang tayang saya cuma sempat lihat sekitar 4 cerita. Dan sekarang, sedihnya, stasiun TV itu udah gak lagi menayangkan drakor. Putar haluan ke genre drama dan sinetron lokal yang didominasi oleh perebutan suami. Ckckck. . .

Jadi kalo mau liat drakor ya kepaksa lewat DVD.

Kayaknya, opsi pemasangan TV berlangganan perlu ditinjau kembali. Sumpah, saya sebagai ibu rumah tangga dibuat kecewa berat dengan tayangan TV lokal.

Tapi yang namanya tayangan hiburan sebagus apapun tetap saja kita perlu bijak saat memilihnya jadi tontonan, apalagi kayak saya yang gak mungkin bisa selalu nonton sendirian, kan ada anak-anak. Positif negatif tetap saja ada.

Nah, kira-kira inilah yang membuat saya betah dan agak-agak maniak Korean fever (dan juga kayaknya yang bikin drakor laris manis di jagad Asia termasuk Indonesia):

1. CERITA

Saya itu kalo suka film atau drama gak terlalu maniak dengan tokohnya. Yang penting cerita dan alurnya, kalo ceritanya udah bagus ditambah pemainnya enak dan bagus pula. Pasti betah deh. . .

Pun saat nonton drakor pertama kali gak ada artis yang difavoritkan (belum). Cerita-cerita di drakor emang patut di kasih 4 jempol.

2. LOKASI

Ini nih, yang paling membuat mata betah banget liat drakor dan juga konon membuat dunia pariwisata Korea Selatan maju pesat. Lewat film dan drama mereka sukses membuka mata dunia tentang betapa indahnya negara mereka dan pantas menjadi list tempat destinasi wisata.

Mulai dari romantisme ala angin sepoi pantai, patah hati di taman di bawah guyuran hujan nyampe kesejukan area perkebunan. Semuanya nampak pas dan natural banget antara pemilihan lokasi syuting, cerita dan scene adegan yang diambil. Daebak banget lah pokoknya!!

3.LAGU PENGIRING DAN ORIGINAL SOUNDTRACK

Apa lagi?

Setelah 2 hal di atas, yang paling membuat kebahagiaan terasa lengkap saat melototin drakor adalah lagu-lagu OSTnya yang bener-bener ciamik. Sampai-sampai lagu tersebut seakan jadi satu kesatuan dengan adegan di dramanya. Jadi saat di suatu tempat denger lagunya otak jadi langsung refleks memutar scene demi scene di drama yang ada OST tersebut. Kok bisa ya lagu ama film/drama udah kayak kembar siam tak terpisahkan?

Kebayang kan gimana romannya pas jatuh cinta ada lagunya, pas patah hati ada lagu sedihnya? Ah, para Korean maniac pasti tahu lah lagu OST apa yang paling “OST gue banget” bagi mereka. Ayee. . . .

4. PANDAI MENCIPTAKAN KETEGANGAN

Siapa bilang kalo drakor identik dengan kisah romantik yang melow selalu? Ada kok yang ceritanya dibumbui action dan menegangkan. Tapi menurut saya yang drakor romantis sekalipun selalu menegangkan buat saya. Mereka emang pandai mengambil jeda dan memainkan adegan pada saat yang tepat yang sekiranya membuat para penonton enggan beralih tempat.

5. KARAKTER

Ini juga penting banget dalam suatu cerita, dan lebih penting lagi memilih dan menentukan karakter yang akan diperankan oleh pemain yang sesuai dengan wajah atau kemampuan si pemeran. Tak diragukan lagi, drakor emang jagonya.

6. MENGAJAK PENONTON JADI TAHU

Setiap nonton drakor saya sering merasa mengalami sendiri atau minimal berandai-andai. Mereka juga gak keberatan memberikan penjelasan tentang pembuatan sesuatu di drama mereka atau menerjemahkan istilah-istilah yang sulit dimengerti.

7. ARTIS

Saya meletakkan ini di urutan terakhir karena emang sengaja. Saya kurang suka karena konon katanya artisnya banyak manusia rakitan hasil oplas, dan kadang polesan make up pada wajah pemeran pria membuat saya merasa kurang sreg.

Tapi memang tak dipungkiri mereka memang rupawan, dan ada juga beberapa yang saya suka. Tapi jujur, artis lokal kita pun tak kalah rupawan dan menawan hanya saja belum kebagian cerita yang menggugah jiwa, masih berkutat di sinetron yang itu itu itu itu saja.

Nah, kiranya itulah pendapat saya tentang hal positif dan kenapa saya suka drama Korea. Sebenarnya saya berharap sinetron lokal bisa kembali seperti dulu yang ceritanya jelas dan episode tak terlalu panjang (hm. . .jadi ingat Pertalian, Janjiku, Senja Makin Merah dsb).

Nanti saya akan bahas tentang hal-hal negatifnya, jadi jangan kapok dan tunggu posting selanjutnya.

JIKA SUATU HARI KALIAN MENEMUKAN BLOG INI

Aku hanyalah sebuah titik tanpa makna di kedalaman maya. Cuma serupa noktah berdebu di kesemuan fana. . .

Tapi aku ada dan pernah lahir dalam sebuah kelam yang memecah keheningan malam. Mungkin tak seorangpun di antara kita tahu, bahwa luka-luka masa lalu telah membesarkanku, menguatkan dan membentuk bagaimana diriku.

Apa kalian takut saudara dan saudariku?

Apa kalian masih akan bersembunyi dalam bilik perlindungan itu? Apa kalian takut jika aku yang merefleksikan cermin perilaku kita melalui tulisan-tulisan buta dan aksara yang tak pernah dapat ku sampaikan dengan kata-kata?

Dan aku berdiri di sini, menerjemahkan segala kemanjaan jejak yang memberi kita jurang dan jarak.

Jika suatu hari kalian menemukan tulisan ini. . .

Aku hanya ingin kalian tahu (dan berharap suatu saat menyadari). Bahwasanya sejatinya MEMANG BERBEDA YANG DIPELIHARA DENGAN KENYAMANAN DAN YANG DIBESARKAN DENGAN TEKANAN. Dan aku, sangat tahu bagaimana rasanya itu.

Juga buat ke dua ibuku, serta bapak. Mungkin bapak akan marah (seperti biasanya) jika seandainya tahu ‘kelancangan’ ini. Tak banyak yang dapat kupahami dari masalah kalian. Tapi satu hal yang ku ketahui pasti, segala yang telah-kalian-sebabkan-terjadi telah memungkinkan lahirnya tulisan ini dan terbentuknya AKU saat ini.

Apa kalian takut? Atau mungkin marah? Boleh jadi merasa malu? Ah. . .tak apa. Ini hanya suara jiwa yang tak pernah bisa ku ucap dengan kata-kata.

MEMAKNAI KEHIDUPAN DAN MENERIMA KETIDAK SEMPURNAAN DALAM DRAMA THE HEIRS

the-heirs.jpg

Aigoo. . . .

Kesan pertama nonton drama ini adalah biasa. Iya, biasa, biasa banget malah, bertemakan jurang perbedaan antara si kaya dan si miskin adalah sangat biasa dalam dunia hiburan semisal sinetron dan drama (tapi tak dipungkiri, tema miskin-kaya memang paling digandrungi).

Tapi eit, jangan keburu kabur dulu, bukan drama Korea namanya bila tak mampu membuat mata saya betah menontonnya dan kemudian mengaduk emosi jiwa.

Walau bertema biasa dan umum tapi dalam ceritanya terdapat sesuatu yang berbeda dan lain dari drama bertema serupa.

Terlepas dari para pemainnya yang tampan dan cantik didominasi artis muda berbakat yang ‘memanjakan mata’ seperti Lee Min Ho, Park Shin Hye, Kim Woo Bin dan masih banyak lagi, saya betah menontonnya karena jalan ceritanya unik dan cukup menggugah perasaan.

The Heirs, sesuai judulnya menceritakan tentang hidup remaja-remaja kaya raya kalangan jet set, chaebol alias konglomerat para calon pewaris harta dan aset orang tua mereka. Lalu ada seorang gadis remaja miskin yang merupakan anak seorang pembantu yang kemudian menjalin hubungan asmara dengan seorang pemuda kaya, anak dari majikan tempat ibunya bekerja.

Dari sanalah segalanya bermula. Jika kebanyakan manusia beranggapan menjadi orang kaya itu enak, maka kali ini itu adalah anggapan yang keliru.

Karena ada saja yang demi materi dan harta orang dapat menjadi demikian buta, mengesampingkan nurani. Maka memang tak berlebihan bila ada istilah BURUNG DALAM SANGKAR EMAS. Karena boleh jadi wajah rupawan, harta melimpah, segalanya tersedia. Tapi semua itu tak pernah bisa menjadi jaminan suatu kebahagiaan. Manusia bisa menjadi cangkang kosong yang nelangsa.

Seorang anak, karena kekayaan dan ambisi orang tuanya bisa dengan mudahnya menjadi alat untuk mempererat relasi hubungan bisnis. Sebuah pertunangan atau bahkan pernikahan bisa menjadi sekadar sarana memperkuat kekuasaan. Ironismenya orang selalu berdalih demi masa depan, tapi masa depan macam apa yang hanya akan membelenggu dan membebani kehidupan??

Seorang ibu bahkan tak diijinkan ‘memiliki’ anak kandungnya sendiri karena ‘kehormatan yang dianut orang-orang kaya’ itu tak boleh dicederai. Ah, sebuah kehormatan yang pada akhirnya menjadi titik terrendah dan tergelap daiam kehidupan dan hubungan sosial sesama manusia.

Lalu manusia-manusia ini dicetak menjadi pribadi-pribadi yang harus tanpa cela nan sempurna. Tapi siapa yang dapat menerima fakta bahwa kesempurnaan itu tak pernah ada di dunia fana?

Anak-anak yang begitu membanggakan diri karena hidup bergelimang harta, tak menyadari dari mana kekayaan itu berasal. Sampai di satu titik kesadaran, manusia butuh manusia lainnya untuk mampu menerima segalanya apa adanya. Segala kekurangan dan kelebihan, bahkan kesalahan terfatal sekalipun.

Dan kembali, hanya cinta yang punya ruang untuk itu semua.

Hmm. . . .

Gambar dari:
http://www.kdramastarz.com