PERGESERAN NILAI-NILAI SENI DAN HIBURAN

Musik, tarian dan nyanyian dalam kerangkanya sebagai salah satu wujud seni dan media hiburan, adalah hal-hal yang kini tak lagi terpisahkan dalam keseharian kita. Berbagai jenis musik sudah akrab di telinga kita.

Tapi rasanya kita mesti membuka mata, bahwa musik dahulu bukanlah yang sekarang. Dulu jarang-jarang sekarang banyak goyang.

Nah, jadi beberapa waktu yang lalu ada acara musik di sebuah hajatan di daerah saya. Orkes dangdut organ tunggal seperti lazimnya acara hiburan penambah kemeriahan suasana.

Musik dimainkan dan lagu-lagu khas dangdut masa kini mulai dilantunkan. Menghibur dan rame tentu saja. Tapi sekian menit berlalu, mendadak suasana menjadi heboh tak terkira. Apa pasal?

Ternyata si penyanyi mendekati seorang penonton pria yang tengah duduk dan tiba-tiba duduk di atas pangkuan si pria, berhadapan sembari membuka lebar-lebar kakinya dengan goyangan yang semakin gila.

Sontak semua yang melihat termasuk anak-anak menjadi histeria tak terperi, tontonan hari itu sejenak membuat lupa diri.

Kegiatan di belakang panggung juga tak kalah gila, banyak orang yang mabuk miras dan teler pil koplo.

Peristiwa serupa juga (kabarnya) semakin marak terjadi di saat menjelang pemilu seperti sekarang ini. Dalam sebuah kampanye beberapa partai anu ditemukan hiburan musik dangdut yang menyajikan ‘tarian gila’ mengumbar aurat nan mengundang syahwat. Ironisnya, masyarakat melihatnya sebagai hiburan yang diamini, menyenangkan, memabukkan dan membuat orang-orang berbondong-bondong mendatangi. Tak terkecuali anak kecil. Sungguh tak elok pesta demokrasi dinodai hiburan yang tak pantas macam ini.

Saya jadi teringat ketika terjadi penolakan terhadap konser Lady Gaga beberapa waktu yang lalu. Banyak pihak yang melarang bahkan memboikot karena Lady Gaga dianggap merusak moral generasi muda karena penampilannya yang aneh nyleneh vulgar dan terbuka, bahkan dikabarkan ia pengikut kesesatan setan.

Tapi sekarang coba lihat! Hiburan-hiburan rakyat tak lebih terhormat dari Lady Gaga yang sempat kita hujat. Bahkan sampai masuk ke pelosok desa, artis-artis lokal sewaan dari grup musik panggilan berbagai acara hajatan tak sungkan berpakaian minim (bahkan ada yang tanpa celana dalam), menampilkan tarian erotik dengan bergaya seperti orang yang tengah melakukan hubungan layaknya suami istri.

Dan lagi, tayangan-tayangan TV juga tak mau kalah, acara joget-joget berjamaah adalah hal lumrah. Yang paling membuat saya sakit mata saat melihatnya adalah ketika joget sambil sedikit menunggingkan pantat. Dan semua itu sudah seperti sebuah candu yang melenakan.

Tulisan ini mungkin hanya buah tangan saya yang buta hasil pikiran yang mengganggu ketenangan jiwa. Mungkin ada yang menganggap saya sok pintar bicara soal moral, atau sok alim dan munafik. Tapi, jauh di kedalaman hati, saya hanya khawatir tentang anak-anak yang ‘terpaksa’ menyaksikan tontonan hiburan musik rakyat jelata semacam ini. Saya hanya seorang ibu yang mungkin naif memandang dunia di jaman edan ini.

Saya juga miris, musik dangdut yang sudah merakyat jadi memiliki cap negatif karena pergeseran nilai-nilai seni dan hiburan seperti ini menjadikan goyangan erotisme merajalela di mana-mana.

Astaghfirullahaladzim. .

Wallahualam.

Advertisements

ANAK PEREMPUAN: COBAAN DAN UJIAN AKHIR ZAMAN

Menilik judul di atas, rasanya saya agak sedikit diskrimanatif. Yang namanya anak, mau laki atau perempuan sebenarnya sama saja, orang tua punya tanggung jawab yang sama besarnya dalam membesarkan dan mendidik ke duanya agar bisa berproses menjadi selayaknya manusia.

Tapi kali ini saya lebih menitik beratkan pada anak perempuan karena naluri wanita saya terketuk dengan betapa ‘berat’nya tanggung jawab dan ‘beban mental’ ketika kita punya anak perempuan di tengah kemajuan peradaban, efek negatif pergaulan dan lunturnya nilai kesopanan serta di tengah gempuran krisis keimanan.

Sahabat Nabi, Ali bin Abi Thalib pernah berkata: jika lelaki hilang kehormatannya dunia masih bisa tertawa, dan bila wanita hilang kehormatannya maka dunia menangis selamanya.

Maka tak berlebihan jika di antara keutamaan anak perempuan, orang tua yang dapat mendidik, merawat dan menikahkan anak gadisnya dengan cara yang ma’ruf maka surga telah dijanjikan padanya. Karena sadar betapa beratnya tanggung jawab memiliki anak perempuan.

Saya sendiri adalah bagian dari tiga bersaudara perempuan semua, dan saya tahu benar seperti apa Abah bertanggung jawab dalam membesarkan kami semua, hingga sekarang kami telah berrumah tangga. Seorang ayah tak akan tenang sampai anak gadisnya menikah.

Sungguh suatu fenomena yang amat memiriskan hati saya ketika melihat gadis-gadis sekarang amat bebas keluyuran, pacaran dan tak menjaga diri. Sementara orang tua di rumah terasa hidup di atas api dalam pusaran kecemasan tiada henti. Sampai kemudian saya lihat karena keterlanjuran dan ketakutan akan aib, anak-anak gadis ini menikah di usia belia dengan stempel ‘asal balaki haja’ (yang penting punya suami daripada gak karuan).

Membuahkan masalah di tengah kesuburan pohon masalah. Para orang tua seakan tak mampu lagi memilihkan pasangan hidup yang lebih baik untuk anak perempuannya. Maka amat lumrah saya temui, pasangan muda yang menikah tanpa tanggung jawab, tak bekerja, tak bisa jadi imam dalam kehidupan, pemeras orang tua dan masih suka hura-hura.

Yah. . . Walau orang bisa berubah dan pernikahan bisa menjadi salah satu jalan menuju kebaikan perubahan, tapi perubahan harus diusahakan tanpa henti dan butuh kesabaran seumur hidup. Perubahan juga tidak datang dalam satu atau dua hari. Hal-hal yang diawali dengan baik saja belum tentu berjalan baik, apalagi jika memang yang dimulai dengan kesalahan dan terus dipelihara dengan ketidak baikan?

Karenanya, seorang anak perempuan dapat dengan mudahnya menyeret orang tuanya atau suaminya ke dalam neraka. Ketika ia tak bisa menjaga diri dan kehormatannya, maka habislah semuanya. Wanita adalah tiang negara, kehancuran akan menyambangi ketika generasi muda rusak akhlak dan moralnya. Apalagi jika yang hancur adalah kaum wanita, maka bisa dipastikan tak ada lagi ibu yang amanah dalam mendidik anak-anaknya dan menjaga keluarganya.

Wanita, anak perempuan, dalam ranah kodratnya sebagai seorang ibu akan menjadi benteng pertahanan terakhir ketika kita terus menerus digempur bujukan-bujukan kesesatan. Maka akan seperti apa jadinya jika generasi muda kita, anak-anak perempuan kita, rusak oleh pergaulan dan terlena godaan fana dunia??

Saya, walau tak punya anak gadis, sangat merasakan hal ini cukup berat. Anak laki-laki pun bisa menjadi warning peringatan tanda bahaya ketika mulai melangkah keluar jalur. Dari bisik-bisik tetangga, anak perempuan ditakutkan akan membawa ‘perut’ alias hamil di luar nikah, dan anak laki-laki dikhawatirkan menjadi pembuat kehamilan tak diinginkan.

Waspadalah. . . Waspadalah!!

PASTIKAN DIRI CUKUP PINTAR DALAM MENGGUNAKAN SMARTPHONE

Berawal dari keresahan saya akhir-akhir ini menyaksikan bocah-bocah petantang petenteng bergaya dengan gadget canggih keluaran terbaru. Menandaskan sekian puluh ribu untuk nangkring seharian di warnet atau gaya-gayaan sok eksis di sosial media padahal masih bau kencur tak cukup umur. Sementara para ayah sibuk kerja nguli ngantor dan lembur jua para ibu tahunya cuma sumur dapur dan kasur.

Aih. . . Ngomel dah saya, urat bawelnya lagi tegang ini.

Jadi ceritanya kurang lebih sebulan ini kita baru beli tablet berbasis teknologi android gitu karena udah dari tahun kemarin anak sulung saya nagih terus (karena kawan-kawannya udah pada punya, anak TK juga gak kalah hebohnya.) ckckck. . .

mitot910.jpgKita belinya yang ini

Namanya saya gaptek mana tahu make gadget gituan. Eh, busyet! Ternyata gamenya oke punya, aplikasinya gila. Untung saya seorang blogger jadi gak bodo-bodo amat soal aplikasi ponsel deesbe. Minimal tahulah game yang dicari anak-anak dan bisa ngefilter juga kalo si ayah mulai genit ngintip-ngintip situs ekhem. . . .

Saat mengutak-atik gadget canggih buatan Cina berlayar jilat 7 inch (biasa buebu yang penting murah aja, -_-” ) itu, kok saya tiba-tiba merasa bodoh ya? Merasa betapa tercecernya saya di tengah peradaban modern ini. Betapa banyak yang saya (dan kebanyakan emak-emak di luar sana) tidak pahami tentang benda idaman anak-anak sekarang, yang dibawa kemana aja oleh mereka akhir-akhir ini.

Saya ragu, apa bocah ingusan yang rela menandaskan tabungan dan sedikit memaksa orang tua demi smartphone ini, tahu fungsi dan kegunaan sebenarnya. Amat sangat disayangkan, jika teknologi secanggih itu hanya dijadikan alat pamer ke teman-teman, bahan gaya-gayaan, galau dan narsis satu kelurahan di jejaring sosial, main game seharian sampai lupa makan atau malah jadi pelampiasan mata melototin tayangan dan situs-situs setan!!

Iya, saya marrah sekali, kesal banget rasanya! Dari hasil saya ngubek-ngubek play store dan game shop saya sering menemukan game yang berbau pornografi dan pornoaksi. Seperti game berkategori fashion tentang model dan cara berpakaian. Hmm. . . . Tokoh di game itu hanya pake kutang dan cangcut saja dan kita harus mengganti bajunya.

Juga game superhero, aduh, tokoh ceweknya seringkali punya ukuran dada di atas rata-rata dan diekspos juga nyaris setengahnya. Apalagi yang jelas-jelas memang game seks dan adu (maaf) k*lamin (gila! Kok ada game tentang cara hubungan pasutri ala Kamasutra).

Memang tak bisa dipungkiri, sebagian game dihadirkan tidak hanya sebagai sarana hiburan tapi juga (kabarnya) merupakan alat propaganda Barat untuk menjatuhkan moral generasi muda kita. Jadi, waspadalah! Waspadalah!

Tapi yang paling membuat saya kecewa sendiri adalah para orang tua yang tak mengerti hal ini. Mereka mudah saja membelikan anak-anaknya segalanya tapi hanya sedikit yang bisa mengawasi dan mengontrolnya. Seperti HP saja, masih banyak ortu yang untuk nelpon dan sms saja pusing separuh mampus, lah mana tahu apa yang dilakukan anak-anak seharian di warnet atau lagi googling di internet?!

Maka ini penting, agar para orang tua, terutama ibu, untuk tidak gaptek dan harus melek teknologi! Belajar ladies! Ambil smartphone anakmu, periksa gadget suamimu! Cerdaskan dirimu untuk memfilter efek negatif kemajuan teknologi!

DAN PASTIKAN KITA CUKUP PINTAR DALAM MENGGUNAKAN SMARTPHONE .


Image:
hargatabletkomplit.blogspot.com

TENTANG INGATAN DAN ORANG-ORANG YANG HIDUP DALAM KENANGAN

Jadi ceritanya saya semakin jarang posting di blog karena malas dan melakukan hobi yang lain juga. Saya mulai merajut lagi, ketularan anak-anak jadi keranjingan main game dan (masih) terbawa suasana roman ala drama Korea.

Hmm. . . Saya sangat menikmatinya dan inilah apa yang saya sebut “hidup”.

Tentang draKor saya sedang menonton PRIME MINISTER AND I, yang menceritakan tentang seorang perdana menteri yang tak bisa melupakan mendiang istrinya (yang ternyata masih hidup). Istri PM ‘meninggal’ karena sebuah kecelakaan saat hendak pergi dengan selingkuhannya yang ternyata punya adik yang bekerja pada PM, yang hendak membalas dendam pada PM atas derita kakaknya karena koma selama 7 tahun akibat kecelakaan tersebut. Adik selingkuhan istri PM tersebut mengira PM lah yang menyebabkan kecelakaan terjadi.

Intrik dan konflik beruntun terjadi saat PM terlibat pernikahan kontrak dengan seorang reporter yang memiliki ayah penderita alzhaimer dan gejala kepikunan.

Lalu apa hubungannya dengan judul di atas?

Menyitir kata-kata Arswendo Atmowiloto dalam cerpen SUAMIKU JATUH CINTA PADA JAM DINDING:

KENANGAN TAK AKAN PERNAH BISA DIKALAHKAN OLEH WAKTU, JUSTRU KENANGAN MENANG DENGAN WAKTU. MAKIN LAMA BERLALU KENANGAN MAKIN BERMUTU.

Itulah hidup, tanpa kita sadari, seperti PM yang tak bisa melupakan dan memaafkan kepergian istrinya, kita seringkali membangun ingatan dan memelihara kenangan-kenangan menyakitkan. Terus melukai diri dengan membangunkan ‘sosok orang mati yang telah lama pergi.’

Kadang pula manusia menjadi bodoh sedemikian rupa karena mencintai seseorang yang tidak mencintainya dan bahkan tak mempedulikan orang lain yang justru mencintainya.

Saya pernah membaca sebuah kutipan: MASIH BANYAK DARI KITA YANG MENGHABISKAN WAKTU DAN MENUNGGU SESUATU HANYA UNTUK MENEMUKAN KENYATAAN BAHWA IA TAK AKAN DATANG PADAMU.

Rasanya manusia butuh semacam penegasan atas hal-hal absurd yang telah dilakukan dan berapa waktu yang terbuang percuma dalam mencapai kesia-siaan belaka.

Saya hanya tak dapat membayangkan bagaimana jika suatu hari saya menjadi tua dan mulai sering lupa? Entah kenangan macam apa yang akan tersisa jika suatu saat kita mengalami demensia? Bahkan kenangan indahpun akan binasa.

Setiap kita punya masa lalu di mana kenangan-kenangan tersimpan rapi di sana, dan ingatan seumpama buku yang sekali waktu dapat kita buka lembarannya, dan. . .mengenangnya.

Dan ketika ingatan itu pergi, dengan apakah lagi kita dapat ‘mengunjungi’ rumah kenangan??

Dan saya menulis ini sebagai apresiasi atas suka duka masa lalu, sebagai pengingat kenangan indah dan sedih. Paling tidak saat waktu beranjak menjauh, saat penglihatan mengabur dan ingatan semakin samar. Masih ada kenangan dalam sebuah tulisan dan satu catatan sejarah kehidupan telah diabadikan.

GALAU 2014: JELANG PEMILU MENUJU INDONESIA BARU

logo-pemilu-2014-okkkk.jpg

Pemilihan umum para wakil rakyat tinggal menghitung hari. Euphoria demokrasi digaungkan di mana-mana. Orang-orang sibuk, dari bagian percetakan sampai pinggir jalan. Banner, baliho, bendera dan selebaran partai pendukung tokoh-tokoh tertentu mulai bertebaran di seantero kota hingga pelosok desa. Kampanye terbuka untuk menarik simpati rakyat agar memilih mereka.

Tak terkecuali di tempat saya, segala peristiwa jelang pemilu caleg ini membuat saya galau. Iya, galau karena bingung harus memilih yang mana dan berpihak pada siapa. Karena setiap kandidat caleg yang diusung partai tertentu maupun independen punya visi dan misi yang bagus dalam menarik simpati rakyat.

Mereka mulai gencar melakukan manuver-manuver kampanye secara terbuka dan terang-terangan. Mulai dari janji-janji manis tentang perbaikan infrastruktur seperti pelebaran jalan, ada juga tindakan nyata semisal bagi-bagi sembako dan pakaian. Saya tak tahu apa semua itu termasuk politik uang yang jelas dilarang oleh undang-undang?

Sementara masyarakat awam tahu apa? Di tengah gempuran pasang surut ekonomi yang tiada henti, semua ‘kemurahan hati’ jelang pemilu ini menjadi angin segar yang akan membantu kepulan asap di dapur jutaan jelata. Apalagi yang jelas memberi ‘amplop’ dengan nilai sekian. Kita tak tahu apa yang akan terjadi ke depannya ketika demokrasi dilancarkan dengan janji manis dan ‘kemurahan hati’ sesaat ini.

Lalu, karena rakyat kerap kecewa puluhan tahun atas kiprah pemimpin terpilih yang kurang mensejahterakan rakyat, maka banyak yang sesumbar berkata agar golput saja: “ambil uangnya, tapi jangan pilih orangnya!”

Tapi saya, sebagai warga negara, (meski juga menyimpan kecewa atas praktek korupsi yang terjadi di mana-mana, atas tingkah polah petinggi negara yang semena-mena, atas kesenjangan sosial yang semakin merajalela melebarkan jurang pembeda antara si miskin dan si kaya) saya tetap ingin menggunakan hak pilih saya di pemilu tahun 2014 ini. Walau masih belum menentukan pilihan dan masih bimbang bukan kepalang, tapi kita punya andil dalam menentukan arah pembangunan dan tujuan hidup berbangsa dan bernegara; yang semoga untuk kemakmuran rakyat semua.

Ini tidak main-main loh, suara kita menentukan arah pemerintahan untuk 5 tahun ke depan. Saya hanya berharap, dari sekian banyak nama calon pemimpin yang akan menduduki kursi perwakilan kekuasaan rakyat nanti kita dapat memilih pemimpin yang benar-benar amanah, memikirkan nasib orang banyak, yang jujur dan tegas, juga ahli dan mumpuni di bidang yang mereka geluti.

Karena saya, kita, kami, kalian, masih menyimpan secercah harapan menuju Indonesia baru. Menuju perubahan yang lebih baik ke depannya, insya Allah. . .


Gambar:
forum.kompas.com

PILIH KASIH DALAM PELAYANAN KESEHATAN (REVIEW DRAMA KOREA MEDICAL TOP TEAM)

editing-medical-top-team.jpgMEDICAL TOP TEAM

Setelah kepincut kagum dengan drama Korea tentang dunia medis Good Doctor, kali ini saya lagi-lagi menikmati cerita serupa di Medical Top Team. Tentu saja, walau bertema sama, drama dengan 20 episode ini isinya jelas berbeda dan lebih membuka mata saya tentang lika liku dunia kedokteran modern.

Terlepas dari nyata atau tidak, ada pelajaran yang dapat kita ambil dari drama ini, yang juga kerap kita temui di kehidupan nyata.

KETIKA KEMANUSIAAN DIPENGARUHI BERBAGAI KEPENTINGAN.

Drama ini mengisahkan tentang sekelompok Dokter handal yang tergabung dalam Medical Top Team yang bertujuan untuk mengobati dan meneliti penyakit-penyakit langka dan berat untuk semua kalangan, termasuk dari golongan ekonomi lemah.

Adalah Park Tae Shin, seorang dokter yang pernah praktek di AS, seorang ahli bedah yang handal, berdedikasi tinggi dan memiliki idealisme yang kuat, ikut bergabung dalam Top Team setelah RS gratis tempatnya bekerja ditutup karena pailit. Ia bertujuan dapat membangkitkan dan membangun lagi RS gratis di pinggiran kota itu setelah ia menjadi anggota Top Team.

Tapi kemudian konflik tercipta ketika pelayanan kesehatan terbaik terbentur dengan masalah keuangan. Karena dianggap menghabiskan anggaran dana RS, Top Team dipaksa mengubah visi dan misi awalnya menjadi Tim Dokter khusus yang kelak hanya akan melayani pasien-pasien VIP. Juga sebagai alat untuk membangun RS elite yang baru Royal Medical Center yang diperuntukkan bagi pasien kelas atas dari luar negeri.

Dr. Park kecewa dan ia memilih keluar dari Top Team menjadi dokter jaga malam. Yang lebih memilukan lagi ketika Dr. Park menemui pasien yang tak datang untuk periksa. Saat ia ke rumah pasien dengan penyakit pernapasan akut ini, ia menemukan ayah si pasien hampir mati karena bunuh diri dan si anak yang sakit itu pingsan tak bisa bernapas.

Ternyata si ayah sangat putus asa untuk mengupayakan pengobatan dan operasi bagi anaknya itu. Semuanya karena kemiskinan dan ketidakmampuan ekonomi.

Inilah fakta yang sering kita temui di kehidupan nyata; pendidikan layak, pekerjaan bagus dan pelayanan kesehatan yang memadai (seakan-akan) hanya milik mereka-mereka yang berkantong tebal. Mudah sekali kita temui penolakan dan pemulangan paksa pasien dikarenakan ia hanya membawa selembar kertas jaminan kesehatan dari pemerintah dan bukan lembaran-lembaran uang. Adalah klise dan lumrah terjadi bila terjadi kematian karena keterlambatan penanganan. Lagi-lagi, dengan dalih prosedur dan urusan administrasi.

Dan drama ini dengan baik menampilkan itu semua. Satu hal yang penting diingat, para dokter bekerja di bawah tekanan yang sangat tinggi dan intens. Mereka juga bukan Tuhan, ketika sesekali terjadi kegagalan atau kesalahan dalam pengobatan pasien mereka ada di garda terdepan untuk disalahkan, dipojokkan bahkan diseret ke ranah hukum (jadi teringat kasus dr. Ayu dkk). Jadi semua ini seperti lingkaran setan yang berputar di situ saja; penolakan pasien kerap terjadi karena adanya kekhawatiran semacam ini, penyelamatan yang gagal bisa jadi bumerang.

Karenanya penting menjadi pribadi yang tak mementingkan diri sendiri. Menjadi pasien cerdas dan terbuka pemikirannya, menjadi dokter yang sigap dan ahli dibidangnya, jujur dan tetap menjunjung nilai-nilai kemanusiaan. Agar pasien dan dokter bisa bekerjasama dalam menangani masalah kesehatan yang diderita pasien.

Ah. . . Saya hanya terbawa suasana, ini hanya pandangan dan pendapat saya saja. Walau terkadang realitas hidup sesekali melukai, tapi bukankah itu yang akan menguatkan kita?

Ok, selamat menikmati dramanya.


Gambar:
asianwiki.com

APLIKASI PENGEREM JARI DAN ETIKA SOSIAL

Seperti yang pernah dan sering dibahas sebelumnya, di artikel, di forum-forum dan berbagai media, sebuah jejaring sosial amat memudahkan manusia berinteraksi dengan orang-orang terdekat atau bahkan orang asing yang tak dikenali di belahan dunia manapun. Ini sebagai salah satu fenomena masyarakat moderen saat ini.

Dan yang kerap kita temui, karena saking mudah dan bebasnya ‘berbicara’ lewat ketikan keypad di sebuah gadget, kadang membuat sebagian orang lupa tentang bagaimana etika sosial di media yang bersifat maya.

Tak mengapa dan adalah biasa jika jejaring sosial di gunakan sebagai ajang pamer. Pamer galau, pamer pacar, pamer anak atau apalah selama tak mengganggu user lain sah-sah saja.

Tapi ingat! Di dumay ada banyak orang juga yang jelas beda pemikirannya dengan kita. Kata-kata dan niat yang baik sekalipun akan jadi salah jika konteks dan momennya tidak tepat. Apalagi jika yang terang-terangan melecehkan, menghujat, rasis, atau meremehkan.

Seperti kata mba Rini, kita harus menjaga kendali jempol dan jari kita di dumay karena sekarang bisa semakin mudah ‘menyakiti’ orang lain, bahkan tanpa disadari.

Yup, kita butuh APLIKASI PENGEREM JARI, SEGERA! Karena benar atau tidak, apa yang kita tuliskan, apa yang kita tunjukkan di dumay akan menunjukkan siapa kita. Paling tidak, akan menimbulkan kesan ‘seperti itulah kita’ di mata orang lain. Tak apa jika memang teman yang kenal di duta, tapi akan lain halnya jika yang menilai adalah orang yang bahkan tak kita kenal sama sekali. Karena kesan pertama sering dikenang orang selamanya.

Setelah sekian tahun aktif di dumay saya telah mendapati berbagai macam orang. Ada yang jujur dan apa adanya seperti bagaimana dia di duta, ada yang seperti caleg dengan mengumbar pencitraan kesana kemari, ada pula yang hobi bergalau-galau selalu (haha. . .saya bgt ini). Yang paling saya suka yang lucu dan bisa buat ketawa saat liat tulisannya. Tapi dari semua itu, saya rasa yang paling mengesalkan dan membuat ingin membanting hape adalah tipikal orang yang sok, muka dua dan berkepribadian ganda.

Sok tahu atau sok pintar, karena beda loh orang yang ingin tahu karena memang peduli dan yang mau tahu saja. Sekalipun mungkin memang tahu dan pintar tapi ya kembali lagi ke aplikasi pengerem jari tadi, ada banyak hal yang pantas dan tidak pantas untuk diucapkan atau ditunjukkan. Yang dikenal baik pun ada juga ternyata bisa menjadi sangat berbeda, di depan bilang A di belakang ngomong B. Dan itu semua tercermin oleh kata-kata yang kita tuliskan di dumay.

Tahu tidak, kenapa orang banyak tertipu oleh kebohongan? Karena dusta disampaikan dengan cara menyenangkan. Dan karena itulah penting dalam menyampaikan sesuatu menggunakan pemilihan kata yang tidak menyakiti orang lain.

Atau, apa karena tidak bertatap muka jadi kita bisa dengan mudahnya mengetikkan kata semau jari kita? Yang sekiranya tak terucap jadi tertuliskan dengan gampangnya.

Sekarang jaman memang sudah beda ya? Yang kentut di seberang lautan pun kita bisa tahu, si anu punya masalah anu kita juga tahu. Makanya ada peribahasa barat LIFE IS EASIER WHEN APPLE AND BLACKBERRY WAS STILL FRUITS.


Kepada semua pembaca yang sudi meluangkan waktu membaca tulisan-tulisan saya, saya ucapkan terima kasih yang tak terhingga. Kepada semuanya, saya mohon maaf atas segala bentuk kesalahan yang disengaja ataupun tidak.