ANAK PEREMPUAN: COBAAN DAN UJIAN AKHIR ZAMAN

Menilik judul di atas, rasanya saya agak sedikit diskrimanatif. Yang namanya anak, mau laki atau perempuan sebenarnya sama saja, orang tua punya tanggung jawab yang sama besarnya dalam membesarkan dan mendidik ke duanya agar bisa berproses menjadi selayaknya manusia.

Tapi kali ini saya lebih menitik beratkan pada anak perempuan karena naluri wanita saya terketuk dengan betapa ‘berat’nya tanggung jawab dan ‘beban mental’ ketika kita punya anak perempuan di tengah kemajuan peradaban, efek negatif pergaulan dan lunturnya nilai kesopanan serta di tengah gempuran krisis keimanan.

Sahabat Nabi, Ali bin Abi Thalib pernah berkata: jika lelaki hilang kehormatannya dunia masih bisa tertawa, dan bila wanita hilang kehormatannya maka dunia menangis selamanya.

Maka tak berlebihan jika di antara keutamaan anak perempuan, orang tua yang dapat mendidik, merawat dan menikahkan anak gadisnya dengan cara yang ma’ruf maka surga telah dijanjikan padanya. Karena sadar betapa beratnya tanggung jawab memiliki anak perempuan.

Saya sendiri adalah bagian dari tiga bersaudara perempuan semua, dan saya tahu benar seperti apa Abah bertanggung jawab dalam membesarkan kami semua, hingga sekarang kami telah berrumah tangga. Seorang ayah tak akan tenang sampai anak gadisnya menikah.

Sungguh suatu fenomena yang amat memiriskan hati saya ketika melihat gadis-gadis sekarang amat bebas keluyuran, pacaran dan tak menjaga diri. Sementara orang tua di rumah terasa hidup di atas api dalam pusaran kecemasan tiada henti. Sampai kemudian saya lihat karena keterlanjuran dan ketakutan akan aib, anak-anak gadis ini menikah di usia belia dengan stempel ‘asal balaki haja’ (yang penting punya suami daripada gak karuan).

Membuahkan masalah di tengah kesuburan pohon masalah. Para orang tua seakan tak mampu lagi memilihkan pasangan hidup yang lebih baik untuk anak perempuannya. Maka amat lumrah saya temui, pasangan muda yang menikah tanpa tanggung jawab, tak bekerja, tak bisa jadi imam dalam kehidupan, pemeras orang tua dan masih suka hura-hura.

Yah. . . Walau orang bisa berubah dan pernikahan bisa menjadi salah satu jalan menuju kebaikan perubahan, tapi perubahan harus diusahakan tanpa henti dan butuh kesabaran seumur hidup. Perubahan juga tidak datang dalam satu atau dua hari. Hal-hal yang diawali dengan baik saja belum tentu berjalan baik, apalagi jika memang yang dimulai dengan kesalahan dan terus dipelihara dengan ketidak baikan?

Karenanya, seorang anak perempuan dapat dengan mudahnya menyeret orang tuanya atau suaminya ke dalam neraka. Ketika ia tak bisa menjaga diri dan kehormatannya, maka habislah semuanya. Wanita adalah tiang negara, kehancuran akan menyambangi ketika generasi muda rusak akhlak dan moralnya. Apalagi jika yang hancur adalah kaum wanita, maka bisa dipastikan tak ada lagi ibu yang amanah dalam mendidik anak-anaknya dan menjaga keluarganya.

Wanita, anak perempuan, dalam ranah kodratnya sebagai seorang ibu akan menjadi benteng pertahanan terakhir ketika kita terus menerus digempur bujukan-bujukan kesesatan. Maka akan seperti apa jadinya jika generasi muda kita, anak-anak perempuan kita, rusak oleh pergaulan dan terlena godaan fana dunia??

Saya, walau tak punya anak gadis, sangat merasakan hal ini cukup berat. Anak laki-laki pun bisa menjadi warning peringatan tanda bahaya ketika mulai melangkah keluar jalur. Dari bisik-bisik tetangga, anak perempuan ditakutkan akan membawa ‘perut’ alias hamil di luar nikah, dan anak laki-laki dikhawatirkan menjadi pembuat kehamilan tak diinginkan.

Waspadalah. . . Waspadalah!!

Advertisements

14 thoughts on “ANAK PEREMPUAN: COBAAN DAN UJIAN AKHIR ZAMAN

  1. Assalamualaikum wr wb.

    Jadi wanita memang tak mudah, banyak sekali godaan yg menghadang. Semoga ALLAH selalu melindungi kita hingga mampu melewati segala godaan didunia & selamat sampai ke akhirat.

    Like

  2. sesungguhnya wanita itu…
    -sangat mudah utk mendapatkan pahala
    -Dan mudah terjerumus kedalam dosa..

    Tetap waspada..
    Anak perempaun maupun laki-laki sama2 menjadi tanggung jawab orang tua..

    jangankan orang tua…
    aku sendiri aja yg punya adik perempuan juga was-was dan selalu memberi peringatan tentang pergaulannya..

    Like

  3. Hmm,tak bosan dan tak cape saya slalu menghimbau kaum kita,,,
    Slain sbagai tonggak keluarga yg mesti berjaga saat tiang rapuh,,dan siap menurunkan skoci saat nahkoda kehilangan arah,,
    Wanita jg sangat mudah terjatuh dan binasa di goncang zaman.
    Akanya sejak kecil,,wanita slalu dididik agar berkorban untuk tidak menjadi korban,,,nah beban inilah tugas orang tua,untk mengorbankan rasa kasihan ( bertindak tegas ) agar mahkota anaknya tetap berkilau…

    Like

  4. Assalamu'alaikum buuuu

    yaah begitulah keadaannya, mau bagaimana lagi. ekstra keras menjaga nerawt mendidik sedini mungkin tentang etika dan norma, agar kegelisahan tidak berduyun-duyun memforsir sang ortu.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s