WANITA: MAKHLUK NOMOR DUA

Ini adalah dunia patriarkat, dunia yang didominasi sepak terjang kaum lelaki.

Selebihnya wanita hanya pelengkap, figuran yang sering disepelekan, dan tak diijinkan untuk jadi pemeran utama.

Seperti yang sering saya lihat, hak-hak kaum perempuan kerap dinomorduakan. Pernah dengarkan? “Buat apa sekolah tinggi-tinggi toh akhirnya ke dapur juga, mengurus anak dan suami juga!”

Benar-benar diskriminatif. Hello. . . Bapak bapak!! Wanita itu akan jadi madrasatul ula (sekolah pertama) bagi anak-anaknya, maka mereka harus pintar dalam segala hal. Gak bisa dong jaman sekarang disamakan dengan tempo dulu saat ibu ibu bisa aja sukses mendidik lusinan anak meski tak kenal alfabet. Sekarang tantangannya udah beda, kaum perempuan harus bisa jadi gudang ilmu dan mentor kehidupan yang mumpuni bagi anak-anaknya yang hidup di tengah era digital dan peradaban modern.

Jadi, anak gadis tak perlu sekolah tinggi-tinggi? Sungguh suatu opsi yang harus dipikir lagi.

Saya teringat kata-kata kakak saya: “Apabila anak pintar/berprestasi pasti dibilang ‘anak ayah/ siapa dulu dong bapaknya’. Tapi pas anak lagi ada masalah/sakit pasti langsung jatuh vonis ‘ini ibunya gimana sih”.

Bener-bener, jadi wanita itu gampang banget disalahkan, dan selalu ada di garda terdepan untuk jadi penyebab atas situasi tak mengenakkan.

Contoh lagi, yang paling membuat saya kesal separuh mampus adalah saat seorang suami menikah lagi. Kok masyarakat dengan kejam dan amat sadisnya langsung memvonis “istrinya pasti gak bisa merawat diri, atau. . . Pasti lalai dalam rumah tangga, makanya suaminya kawin lagi.” Jarang orang bilang “emang suaminya yang playboy dan tukang kawin”.

Terus yang juga bikin saya miris, kalo wanita ditinggal cerai atau mati suaminya, langsung ada label “janda gatel” hanya karena saban pagi ngobrol ama tukang sayur langganan. Lah pria? Dengan terhormatnya setelah ditinggal istri langsung naik pangkat jadi “duda keren”. Nyeri dan ngeri sekalii. . . Wanita selalu menjadi pihak yang paling gampang jadi korban dan dikorbankan.

Jika wanita bekerja, ia tetap jadi seorang ibu rumah tangga yang melayani keluarganya dan akan tetap menghandle segalanya di tangannya. Maka ada pepatah, seorang ibu bisa sekaligus menjadi ayah (merawat anak dan mencari nafkah), tapi seorang ayah tak bisa menggantikan peran ibu. Jadi, wanita, makhluk yang selalu dinomorduakan ini justru kerap melakukan pekerjaan (yang umum) dilakukan laki-laki karena suatu keadaan yang memaksa demikian.

Saya tak kaget bila dalam sebuah rumah seorang ayah lebih membanggakan putranya ketimbang anak gadisnya. Juga memprioritaskan keinginan si anak laki-laki daripada anak perempuannya. Sejak lama kaum adam seakan telah dibentuk oleh suatu keadaan yang membuat penekanan pada kiprah kaum perempuan, sehingga saat wanita bisa melakukan segala peran maka hal itu akan dianggap sebagai ancaman. Lalu muncullah larangan-larangan, batasan dan vonis atau anggapan yang mendiskreditkan perempuan.

Dan tentu saja, terlepas dari apapun peran yang wanita bisa, jangan melupakan kodrat keperempuanan kita sebagai seorang istri dan ibu. Jadikan apa yang telah kita raih dan miliki (entah itu karier, materi, pendidikan) tak akan meninggikan kepala kita di depan suami dan menjadi penunjang keharmonisan dan pelengkap kebahagiaan rumah tangga (ingatlah Khadijah, seorang wanita saudagar, pedagang yang kaya raya, yang mengabdikan segenap diri dan hartanya demi kepentingan dakwah suaminya, Nabi Muhammad salallahualaihi wasalam). Jua semakin memantapkan peran wanita ibu rumah tangga sebagai sekolah pertama.

25 thoughts on “WANITA: MAKHLUK NOMOR DUA

  1. Jadi intinya gimana..
    Nyesel diciptakan jd perempuan sama Allah?
    Mau operasi kelamin?
    Jadi wanita pngen punya jabatan juga? Yo wis wanita kerja aja,biar lelaki yg ngrus dapur plus anak.

    Tinggal kompromi aja sama suami, siapa yg mau cari nafkah ,kalau istri biar suami yg di dapur. Begitu sbalikx.
    Easy kan ?

    Like

  2. Assalamualaikum wr wb.

    Jadi wanita memang tak mudah. Tapi saat mampu menjalankan perannya dengan baik, tak adalagi selain kemuliaan.

    Janji janji yang diberikan ALLAH untuk wanita akan mampu membuat kita bertahan menghadapi apapun.

    Like

  3. setuju ma tulisannya, aku jg pernah berpikir gitu..

    tambah sebel lagi kalo liat wanita yg slalu merendah n pasrah aja dianggap lemah–mengiyakan..

    "wanita gak perlu sekolah tinggi2", malah yg bilang gitu ibu2 kebanyakan waktu anak gadisnya mau nerusin skul..
    emang anak cewek ga boleh ya punya mimpi?

    kalo kembali ke kodrat emang sih, jd wanita itu penuh batasan..
    aplg jika melihat dr segi agama, wanita pergi tanpa mahram aja ga boleh?!
    tp mau gimana lg ych..

    nasib wanita, jd makhluk nomor dua

    Like

  4. karena wanita jarang yg mau jadi tough sementara lelaki semakin lembek…
    jaman sekarang aja yg katanya emansipasi wanita begitu digalakkan masih banyak tuh wanita2 yg mau lebih rendah dari lelaki contohnya yg simple wanita setelah menikah pasti banyak yg melepaskan kariernya begitu aja akhirnya hidup harus bergantung suami deh…:3
    keep the girl power alive…jangan mw dilihat sebagai wanita lemah…hidup prempuan!!! :p

    Like

  5. Yaaahhhhh…..kalau menurut saya sih simpel aja…

    Manusia pertama yg di ciptakan oleh Allah kan Adam,, baru kemudian Hawa..
    jadi ya maklumlah kalau wanita jadi manusia nomer dua…

    Tapi….. (ada tapinya looo….. ) meski wanita menjadi manusia nomer dua,, jangan berkecil hati…
    Allah lebih memuliakan kaum wanita ketimbang kaum pria….
    karena wanita adalah seorang ibu…(tau sendiri kan,, bagaimana mulia nya seorang ibu….)
    Dengan catatan ibu yang baik bagi anak² nya…

    udah ahhh…..capek nulis…hehehehe

    Like

  6. memang betul bund.
    …tapi ada suatu keterangn mengatakan,:"satu langkah kaki wanita itu di bagi 2,satu ke neraka satu ke surga"
    Dalam arti wanita sangat mempengaruhi dalam hal positif atau negatif.
    baik nya atau buruk nya akan menjadi TER.
    .
    .
    Suatu malam mamah saya merasakn akan tidak enak badan (gejala), apa yang beliau hawatirkan?
    Ternyata:"bagai mana kalau saya besok sakit, siapa yng menyiapkan makann,dsb kwjiban beliau"

    Like

  7. asalamu alaikum
    hadir berkunjung
    jadi wanita jgn berkecil hati karena lebih baik mensyukuri nikmat yg ada . jadi berbesar hatilah karena diberi amanah untuk mendampingi sang suami yg gigih berjuang demi anak dan istri, dalam mengarungi kehidupan ini. Dan memang benar wanita sebagai ujung tombak bagi anak2'y kelak.

    Like

  8. Setiap orang boleh menilai wanita seperti itu.
    Tapi terkadang lupa akan jasa seorang wanita. Yg juga banyak pengorbanan nya.
    Tiada wanita. Tiada juga melahirkan.
    Tiada melahirkan. Tiada juga kaum laki2 yg memproduksi.
    Tiada kaum laki2 yg memproduksi.
    Ambilah dari yg kuasa sang pencipta (Allah SWT).
    Manusia hanya bisa protes dalam segala hal.
    Namun tak bisa mensyukuri dalam 1 hal.
    Berfikirlah lebih bijak mba,
    wanita bukan dijadikan nomer 2 bagi kaum laki2.
    Namun wanita adalah harta terindah . Namun wanita tidak akan indah. Bila menyinyiakan dirinya.
    Dan bukan menjadi no 2 jika bisa menjadi yg trbaik untuk pasangan nya.
    Maaf bila koment aku ini membuat kamu tersinggung/salah dalam pemikiran,
    salam damai.

    Like

  9. @Alvin Penjaga Hati,

    jgn khawatir, sy gak trsinggung kok.
    Sy malah brsyukur ada org yg berpikiran bijak spt kamu dan menghargai wanita.

    Yg sy maksudkan adlh tentang anggapan masyarakat yg (sering) negatif thd kaum wanita. Itu aja.

    Like

  10. Biarin aja jenk,,orang mau menganggap apa tentang wanita,,kalau gak ada wanita dunia ini sepi dan dingin…
    Soal yg mau menjalani diremehkan dll,,itu kayaknya tergantung individunya saja (mau dan tidak ),apalagi skrng zaman modern hampir tk ada bedanya..antara wanita dan pria.
    Nambah dikit,,Siti Qadidjah juga yg melamar duluan kok,,( saya baca bukunya ) ,dan yg jelas wanita sangat mulia di mata Allah,,( urutanya ibu,ibu lagi,baru bapak )
    Hidup wanita,,!!

    Like

  11. Keren, masih tetep ngeblog. Memang hebat ibuku yang satu ini. Hehehe. Mampir dulu bu, lama tak ahuy2an di kolom komentar. Hohoho. :p

    Like

  12. @Raka Prasetya A,

    wah, thanks udah mampir lg stlh sekian lama.

    Iya dunk tetap ngeblog, meski jarang2 tapi sy usahakan gak akan vakum.
    Ahuy juga. . .!

    Like

  13. Hahaha, lanjutkan bu! Keren, jarang2 ada ibu rumah tangga yg stabil sama blog nya. Bisa ngatur waktu untuk dunia nyata dan maya.. andai aku punya istri seperti ibu ini melamun

    Like

  14. @Raka Prasetya A,

    jgn ngelamun yg mcm2.

    Istri yg kyk sy ini doyan ngomel.
    Lagian kamu msh muda, di luar sono msh bertebaran wanita2 terbaik.

    Like

  15. tak bisa d pungkiri sob, bhwa orang yang telah mendahului kita dan berprestasi juga terdapat kaum wanita, Spt ra.kartini dll

    Like

  16. Aku setuju tp aku mau protes.

    "wanita itu ingin dimengerti, namun tak pernah mau mengungkapkan apa saja yang harus dimengerti pria"

    Wanita itu jg membingungkan, wanita tak kalah ingin menang sendiri, pria lebih sering mengalah untuk wanitanya.

    Tapi tetep deh wanita itu hebat walau di n0m0r duakan.

    Like

Leave a Reply to Djacka Artub Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s