MENYIKAPI KEBERPIHAKAN MEDIA DALAM PEMILU CAPRES 2014

Sebenarnya saya bukan orang yang suka bicara politik apalagi mengamati secara serius dan mendalam. Politik bagi saya adalah tak lebih dari sekedar kewajiban saya dalam kehidupan berbangsa sebagai warga negara, sebagai hak saya untuk memberikan suara.

Tapi akhir-akhir ini saya merasa aneh dan agak lucu juga dengan sebuah benda kotak bernama televisi yang ada di rumah saya. Kita dibuat heboh tak hanya soal piala dunia tapi juga soal pemilihan presiden yang tinggal menghitung hari.

Itu loh, di mana-mana stasiun-stasiun TV pada ramai memberitakan segala hal tentang pemilu dan capres pilihan rakyat. Sampai kita semua bisa lihat mana penyampaian yang benar-benar pas pada porsinya, berlebihan sampai kecenderungan memihak capres tertentu dari partai anu.

Media kan pada fungsinya memberikan informasi untuk orang banyak, tapi kok ikut-ikutan memihak dengan tak segan saling memojokkan pihak (yang dianggap) lawan. Dari yang saya lihat dan kita ketahui saat ini ada dua stasiun TV yang nampak kontras berseberangan dan beda jagoan. Tak usah saya sebut. Gak siang gak malam ituuu saja yang dibicarakan juga gak bosan saling menyampaikan pemberitaan yang menjatuhkan. Sebenarnya publik butuh pemberitaan tentang informasi seperti apa calon presiden nanti, tentang kapasitas, kapabilitas dan kwalitasnya. Bukan malah saling korek mengorek borok dan kekurangan.

Lalu ini dari tayangan TV dibawa lagi ke sosial media, gak di FB gak Twitter, forum online dan fanpage, semua panas sepanas air di level seratus derajat celcius. Jadilah saat capres adu debat para pendukungnya malah adu urat main argumen kuat-kuat, saling hujat dengan kata-kata jahat.

Jadi netralitas media memang patut dipertanyakan. Tapi sudahlah, mungkin politik memang seperti itu. Membuat otak emak-emak di kepala saya beranggapan bahwa POLITIK ADALAH CARA KITA BERTAHAN DALAM MENJATUHKAN LAWAN.

Biarlah politik panas, cuaca panas, TV di ruang keluarga juga panas, kita rakyat kecil tak usah ikut beringas. Pastikan siapa pilihan kita, laksanakan dengan baik hak dan kewajiban kita sebagai warga negara tanggal 9 Juli nanti.

Siapapun presidennya semoga bisa membawa perubahan yang lebih baik dan dapat mensejahterakan rakyat.

Saya jadi teringat kata-kata yang saya kutip setelah menonton drama bertema politik dan kekuasaan:

YANG BERKUASA BUKANLAH RAJA, MELAINKAN ORANG-ORANG YANG ADA DI BELAKANGNYA.

Waspadalah!!

Advertisements

PENDIDIKAN: KEBANGGAAN ATAU KESOMBONGAN?

Katakanlah kali ini saya sedang down, gak bisa move on, sedih bin nelangsa alias galau tingkat dewa. Saat ini saya sedang berada di titik terendah perasaan hati yang tersakiti (halah lebay! Udah kayak abege labil ajah. . .)

Semakin kesini, semakin saya menyadari betapa pentingnya pendidikan dan sekolah yang tinggi. Lebih penting lagi, meraih ilmu sepanjang kehidupan.

Jadi ceritanya, baru-baru ini saya ketemu teman lama jamannya sekolah dulu, kami pun bertukar cerita, sekarang anaknya juga sudah dua. Sekarang dia juga sama seperti saya, jadi pedagang dan tidak kuliah. Dari ceritanya ia agak menyayangkan karena tak bisa meneruskan pendidikan pasca SMA padahal dia (juga saya) termasuk siswa berprestasi yang selalu masuk 5 besar.

Lalu ia bercerita tentang teman-teman dulu yang ‘lebih beruntung’ karena bisa kuliah dan punya pekerjaan bagus, gaji tinggi dan jabatan prestisius. Dan ah. . . Rasa minder itu sedikit mengikis rasa syukur atas hidup kami saat ini.

Ironisnya, teman-teman yang sekarang ‘sukses’ itu adalah orang-orang yang dahulunya malas sekolah, bandel, aktivis nyontek, jago curang dan sebagainya. Tapi satu hal yang mereka punya dan tak ada pada kami: mereka kaya.

Sekali lagi, pendidikan dan sekolah terbaik hanya milik mereka yang mampu membayarnya, dan mereka bisa berpongah-pongah ria membanggakannya, dan sah-sah saja bila menyombongkannya.

Yang paling membuat saya jatuh ke titik terendah adalah cerita dari Fikri anak sulung saya, yang pas kelas 3 ini ia punya wali kelas yang ternyata adalah teman sekolah saya dulu. Selama setahun menjadi guru kelas anak saya, saya amat merasakan dan menyadari bahwa titel sarjana di belakang nama seseorang akan menjadi pembeda yang kejam bagi orang yang tidak mempunyainya seperti saya.

Sebagai guru, yang mana anak saya, saya titipkan padanya selama di sekolah, beberapa kali saya rasakan sikap dan perkataan guru tersebut yang agak melukai harga diri dan merendahkan saya sebagai orang tua. Dan tidak sekali dua kali anak saya menangis dan sering murung karena sikap dan kata-kata gurunya ini.

Saat itu terjadi saya hanya bisa menelan airmata dan terus menyemangati Fikri agar jangan kecil hati. Karena itu lah nak, kamu harus sekolah sungguh-sungguh agar tidak terhina, dapat menjadi sukses dan jangan semena-mena.

Saya jadi teringat tokoh Lintang di novel Laskar Pelangi yang sangat jenius dan pintar luar biasa tapi ‘hanya berakhir menjadi buruh serabutan’ dan tak bisa kuliah ke luar negeri seperti Ikal (padahal Ikal hanya jadi pengangguran setelah kuliah di Prancis).

Betapa sempitnya pikiran manusia akhir zaman dalam menakar bentuk kesuksesan. Memangnya kenapa walau pintar tapi tak kuliah? Walau hanya jadi kuli rendahan tapi mampu menghidupi diri sendiri dan tak kelaparan, bukankah itu juga suatu kesuksesan?

Dan lagi, pendidikan macam apa yang dapat dibanggakan ketika kemampuan nilai dan otak tak mencukupi maka sogokan yang menjadi pembuka jalan??

Inilah fenomena yang sudah amat lumrah dan biasa. Orang-orang ‘pintar dan berpendidikan tinggi’ di luar sana sudah terbiasa berbangga hati pada jabatan dan profesi mereka bahkan tak sungkan menyombongkan diri pada orang yang dianggap lebih rendah dari mereka.

Inilah dunia yang absurd dan aneh itu. Seorang petani di desa yang punya puluhan hektar sawah akan dianggap kesuksesan yang biasa saja walau tanah itu miliknya sendiri. Tapi coba lihat, seorang sarjana yang dapat bekerja menjadi karyawan di sebuah perusahaan besar milik asing justru amat dibanggakan begitu rupa. Padahal hanya jadi jongos, bawahan yang difungsikan untuk mempertebal pundi-pundi atasan mereka. Inilah realitas pendidikan yang sama sekali tidak mencerdaskan, tidak memerdekakan, justru melahirkan perbudakan dan penjajahan gaya baru yang kita semua bangga-banggakan menjadi lingkaran setan mematikan.

CINTA DAN KEBODOHAN

CINTA ADALAH KEKUATAN SEKALIGUS KELEMAHAN KITA. TAK CUKUP HANYA MEMBUAT GILA, IA MEMBUAT ORANG MENJADI BEBAL DAN JUGA BUTA.

Kata-kata itu tiba-tiba muncul di otak saya ketika menyaksikan dua drama Korea, Innocent Man dan Queen of Ambition. Yang inti ceritanya mengisahkan tentang seorang laki-laki yang karena sangat mencintai seorang wanita rela melakukan apa saja, tak sungkan menjadi tergila-gila, melakukan kebodohan-kebodohan di luar logika sampai dengan picik dan buta mengesampingkan harga diri.

Fiksi memang, tapi fakta juga tak sedikit yang menunjukkan demikian. Betapa dengan dalih alasan karena cinta, manusia bisa kehilangan akal sehatnya. Bukankah masih segar diingatan? Tentang seorang mahasiswi yang kuliahnya didanai Pak Mentri malah memilih kabur bersama pujaan hatinya dari pada bersungguh-sungguh belajar, dan gadis itu telah mengecewakan sekaligus mempermalukan ayahnya yang nyaris menjual ginjalnya demi pendidikan anaknya tersebut.

Ya, cinta dan kebodohan telah menjadi dua karib tak terpisahkan. Cinta yang begitu kita agungkan justru sering membuat salah jalan dan kerap mencelakakan, warna merah mudanya yang penuh candu dapat mengaburkan pandangan dan keliru penilaian. Cinta yang semacam ini seakan membentuk tameng untuk dunia luarnya. Para pencinta hanya berteman dengan kekasihnya dan orang yang sefaham dengan jiwanya, lain dari itu adalah musuh baginya, mereka kebal terhadap doktrin ketidaksetujuan dari sekitarnya.

Bahkan, saat sudah tahu terluka dan berdarah tetap tak bisa menyerah, walau berkali-kali sakit hati masih tak bisa berhenti. Sungguh suatu kesesatan yang melenakan.

Harusnya cinta mencerdaskan, membuka pikiran dan kebijaksanaan, lebih dari itu ia harus bisa memberdayakan. Bukan terus menerus memelihara pembenaran atas nama cinta yang menyesatkan.

Mau dibawa kemana cinta kita??

Note:
Sorry, Admin lama gak ngeblog karena lagi mumet mikirin cinta dan misteri tai gigi rasa coklat itu. Xixixixi. . .