PENDIDIKAN: KEBANGGAAN ATAU KESOMBONGAN?

Katakanlah kali ini saya sedang down, gak bisa move on, sedih bin nelangsa alias galau tingkat dewa. Saat ini saya sedang berada di titik terendah perasaan hati yang tersakiti (halah lebay! Udah kayak abege labil ajah. . .)

Semakin kesini, semakin saya menyadari betapa pentingnya pendidikan dan sekolah yang tinggi. Lebih penting lagi, meraih ilmu sepanjang kehidupan.

Jadi ceritanya, baru-baru ini saya ketemu teman lama jamannya sekolah dulu, kami pun bertukar cerita, sekarang anaknya juga sudah dua. Sekarang dia juga sama seperti saya, jadi pedagang dan tidak kuliah. Dari ceritanya ia agak menyayangkan karena tak bisa meneruskan pendidikan pasca SMA padahal dia (juga saya) termasuk siswa berprestasi yang selalu masuk 5 besar.

Lalu ia bercerita tentang teman-teman dulu yang ‘lebih beruntung’ karena bisa kuliah dan punya pekerjaan bagus, gaji tinggi dan jabatan prestisius. Dan ah. . . Rasa minder itu sedikit mengikis rasa syukur atas hidup kami saat ini.

Ironisnya, teman-teman yang sekarang ‘sukses’ itu adalah orang-orang yang dahulunya malas sekolah, bandel, aktivis nyontek, jago curang dan sebagainya. Tapi satu hal yang mereka punya dan tak ada pada kami: mereka kaya.

Sekali lagi, pendidikan dan sekolah terbaik hanya milik mereka yang mampu membayarnya, dan mereka bisa berpongah-pongah ria membanggakannya, dan sah-sah saja bila menyombongkannya.

Yang paling membuat saya jatuh ke titik terendah adalah cerita dari Fikri anak sulung saya, yang pas kelas 3 ini ia punya wali kelas yang ternyata adalah teman sekolah saya dulu. Selama setahun menjadi guru kelas anak saya, saya amat merasakan dan menyadari bahwa titel sarjana di belakang nama seseorang akan menjadi pembeda yang kejam bagi orang yang tidak mempunyainya seperti saya.

Sebagai guru, yang mana anak saya, saya titipkan padanya selama di sekolah, beberapa kali saya rasakan sikap dan perkataan guru tersebut yang agak melukai harga diri dan merendahkan saya sebagai orang tua. Dan tidak sekali dua kali anak saya menangis dan sering murung karena sikap dan kata-kata gurunya ini.

Saat itu terjadi saya hanya bisa menelan airmata dan terus menyemangati Fikri agar jangan kecil hati. Karena itu lah nak, kamu harus sekolah sungguh-sungguh agar tidak terhina, dapat menjadi sukses dan jangan semena-mena.

Saya jadi teringat tokoh Lintang di novel Laskar Pelangi yang sangat jenius dan pintar luar biasa tapi ‘hanya berakhir menjadi buruh serabutan’ dan tak bisa kuliah ke luar negeri seperti Ikal (padahal Ikal hanya jadi pengangguran setelah kuliah di Prancis).

Betapa sempitnya pikiran manusia akhir zaman dalam menakar bentuk kesuksesan. Memangnya kenapa walau pintar tapi tak kuliah? Walau hanya jadi kuli rendahan tapi mampu menghidupi diri sendiri dan tak kelaparan, bukankah itu juga suatu kesuksesan?

Dan lagi, pendidikan macam apa yang dapat dibanggakan ketika kemampuan nilai dan otak tak mencukupi maka sogokan yang menjadi pembuka jalan??

Inilah fenomena yang sudah amat lumrah dan biasa. Orang-orang ‘pintar dan berpendidikan tinggi’ di luar sana sudah terbiasa berbangga hati pada jabatan dan profesi mereka bahkan tak sungkan menyombongkan diri pada orang yang dianggap lebih rendah dari mereka.

Inilah dunia yang absurd dan aneh itu. Seorang petani di desa yang punya puluhan hektar sawah akan dianggap kesuksesan yang biasa saja walau tanah itu miliknya sendiri. Tapi coba lihat, seorang sarjana yang dapat bekerja menjadi karyawan di sebuah perusahaan besar milik asing justru amat dibanggakan begitu rupa. Padahal hanya jadi jongos, bawahan yang difungsikan untuk mempertebal pundi-pundi atasan mereka. Inilah realitas pendidikan yang sama sekali tidak mencerdaskan, tidak memerdekakan, justru melahirkan perbudakan dan penjajahan gaya baru yang kita semua bangga-banggakan menjadi lingkaran setan mematikan.

Advertisements

7 thoughts on “PENDIDIKAN: KEBANGGAAN ATAU KESOMBONGAN?

  1. Assalamualaikum wr wb.

    Itulah kehidupan…!
    Dalam hidupku aku kenal dengan orang yang hanya lulusan SMP tapi punya pengetahuan melebihi seorang lulusan S2.

    Jadi menurutku pendidikan itu perlu tapi tak perlu harus dengan titel. Untuk apa punya titel kalau nyatanya tak tahu apa-apa. Orang2 seperti ini malah sebenarnya sering dicemooh orang dibelakangnya.

    Lalu soal pekerjaan yg menghasilkan banyak uang karena mereka punya titel dibelakang namanya, apakah mereka benar2 bahagia & menikmatinya?

    Dari pengalamanku, meskipun tak punya titel dibelakang namaku & penghasilan tak terlalu besar, tapi aku menikmati hidupku yang memberikanku banyak pelajaran juga pengalaman hidup.

    Syukuri saja apa yg ada dalam hidup kita.

    Like

  2. Masih untung sampeyan bisa lulus sampai SMA mbak..
    Aku malah hanya sampai lulus Mts swasta (setingkat SMP)

    Itulah fenomena kehidupan jaman sekarang ..
    Lulusan sekolah tinggi tanpa di barengi pendidikan moral yang kuat, maka akan melahirkan kesombongan atas apa yg di miliki..

    Tetap semangat dan bersyukur atas apa yg telah kita miliki..

    Pangkat, jabatan, harta yg melimpah… semua hanya bersifat sementara..
    Kita tak perlu membanggakannya… suatu saat semua itu akan kita tinggalkan..

    salam sukses….

    Like

  3. Temenku juga mba dulu nilai nya slalu di bawah aku, tapi karna dia nerusin kuliah jd guru. aku cuma ibu rumah tangga, izin share ya

    Like

  4. @Erna dez,

    cuma?
    Tp ibu rmh tangga adlh segalax, kt juga adlh guru khdpn dan sekolah pertama bg anak2 kt.
    Semangat!! 🙂

    Like

  5. Ya semua itu juga nantinya ada manfaatnya.. Yang penting jangan sombong… Soal mau jadi apa, itu tak jadi masalah, yang penting sudah belajar…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s