ANAK-ANAK, AYAM RAS DAN PUBERTAS DINI

Apa yang akan saya bahas di postingan kali ini hanyalah berdasarkan beberapa fakta yang terjadi di lingkungan sekitar saya dan bukan berdasar riset atau penelitian yang terbukti kebenarannya.

Semua hanya sekedar asumsi dan pendapat saya pribadi berdasarkan apa yg saya lihat selama ini.

ANAK-ANAK, AYAM RAS DAN PUBERTAS DINI

Beberapa belas tahun lalu saat jaman saya sekolah dulu, masa-masa sekolah dasar sampai menengah pertama, dunia anak-anak dan remaja tidak sekompleks sekarang. Awal masa pubertas umumnya terjadi saat sudah masuk SMP.

Saya saja dulu pertama kali dapat menstruasi saat kelas 2 Tsanawiyah (setara SMP), itupun cuma sekali, saya baru dapat siklus bulanan rutin saat kelas 3. Rata-rata teman cewek lainnya juga begitu, apalagi cowoknya, bisa dipastikan masih imut karena memang banyak yang belum mengalami mimpi basah perdana (dari yang pernah saya baca, pria pubertas memang lebih lambat dari wanita. Dulu di kisaran usia 14 atau 15 tahun sedangkan wanita di usia 12 tahunan. Tapi fakta yang agak mengejutkan sekarang, anak perempuan mulai banyak yang dapat haid pertama mereka di usia 9 tahun.)

Lalu apa hubungannya dengan ayam ras atau ayam potong??

Saya pernah lihat sebuah acara talk show di TV yang nara sumbernya mengatakan (saya lupa siapa) : “Sekarang anak-anak cepat sekali puber karena gizi bagus dan rangsangan bagus.”

Nah, gizi bagus ini didapat dari apa yang anak-anak konsumsi tiap hari. Dan ayam hanyalah salah satu contoh kecil saja. Maraknya makanan siap saji dan sebagainya juga turut mempengaruhi.

Sayangnya gizi bagus ini hanya merangsang secara fisik dari tubuh anak, pubertas dini ini terjadi tanpa diimbangi kematangan pikiran dan kesadaran akan terjadinya perubahan pada tubuh mereka.

Dan ini diperparah oleh buruk atau kurangnya kwalitas makanan kita, kita sudah biasa dijejali berbagai macam bahan tambahan pangan yang justru membahayakan kesehatan seperti pengawet, pewarna, pemutih dan lain sebagainya.

Dari kabar yang beredar, ayam itu kalau hanya dipelihara dan dikasih makan secara biasa memakan waktu yang agak lama baru besar dan bisa dipotong. Nah, untuk memenuhi permintaan pasar yang tinggi terhadap ketersediaan ayam potong ini dan agar tahan terhadap penyakit yang dapat menyerang unggas maka ayam-ayam ini disuntik vitamin, disuntik hormon, diberi makan dan minum yang dicampuri suplemen agar cepat besar dan bisa segera dijual.

Ayam-ayam ini kerjanya hanya makan makan dan makan saja siang dan malam tanpa henti bahkan saking gemuknya ada ayam yang tak lagi sanggup berjalan (saya pernah melihat peternakan ayam potong milik sepupu). Ayam-ayam potong/broiler/ras sekarang siap panen hanya dalam kurun waktu pemeliharaan sekitar 1-2 bulan saja, cepat banget dibandingkan dulu dan ternak ayam tradisional.

Maka bayangkan bila ini yang terus anak-anak makan tiap hari, semua kandungan dalam daging ayam tadi akan terakumulasi dan disinyalir dapat mempercepat pertumbuhan hormon dalam tubuh anak dan untuk orang dewasa dapat mempercepat penuaan sel-sel tubuh dan gangguan penyakit degeneratif seperti stroke dan jantung koroner.

Maka jangan kaget liat anak cewek kelas 3 SD sudah mulai tumbuh payudara dan kemudian menangis saat dapat haid setahun kemudian (kelas 4). Atau orang dewasa masih umur 30 an yang badannya kaku sebelah karena serangan stroke.

Makanya saya kerap diwanti-wanti suami karena putra sulung saya (dan sebagian besar anak-anak) sangat menggemari ayam dan segala olahannya. Anak-anak sangat bersemangat makan apabila lauknya ayam, tak suka sayuran dan ogah makan ikan. Kalau dimakan saban hari dan dikonsumsi berlebihan apapun itu pasti tidak baik. Apalagi dampak pubertas ini membuat saya agak takut-takut ngeri, belum lagi tentang rangsangan bagus seperti tayangan TV yang dipenuhi sinetron remaja beradegan dewasa yang terus menerus secara sistematis, terstruktur dan masif (sori, minjam istilah sengketa pilpres) menstimulasi pikiran dan rasa ingin tahu anak-anak yang sangat tinggi dan butuh pemuasan segera.

Internet, sosial media dan mudahnya akses informasi yang dapat anak peroleh juga pergaulan yang semakin bebas dimana orang tua semakin cemas dalam menentukan batas antara yang pantas dan tidak pantas, semakin mengamini bahwa DUNIA ANAK-ANAK KITA TIDAK LAGI SEDERHANA. Mereka adalah tubuh dan pribadi yang harus selalu kita jaga dan kita arahkan agar tidak terjerumus dalam hal yang mengundang kemudharatan, dan itu adalah PR yang tidak mudah di era gombalisasi sekarang ini. Pastikan anak-anak mendapat penjelasan dan pemahaman yang benar tentang diri mereka yang wajib mereka ketahui.

Jangan biarkan mereka menjadi remaja yang hanya jejingkrakan dan super histeria kala melihat idola mereka beraksi, dan hanya bisa menggeleng tak tahu saat harus mandi wajib pasca menstruasi karena tak hapal (bahkan tak tahu) apa niat mandi dan bagaimana caranya.

Advertisements

KUPALA TALANG BATANAK

kupala-talang-batanak.jpg

Sebenarx ini resep lawas, tapi postingnya telat. Maklum emak-emak kebanyakan malasnya.

Dulu saya pernah posting IWAK KARING TALANG MASAK ASAM, sekarang mau bagi resep ikan kering Talang ini lagi, tapi dengan bumbu, tampilan dan rasa yang berbeda.

Ini dia RESEP KUPALA TALANG BATANAK :

BAHAN:
1 ons daging ikan kering Talang dan 1 buah kepalanya.
Telor bebek 3 butir.
2 gelas santan kelapa.

BUMBU :
2 butir kemiri, haluskan.
1 ruas jari kunyit, haluskan.
1 batang serai, geprek/memarkan.
1 buah cabe merah dan hijau besar, di iris.
1 buah tomat dan belimbing wuluh, di iris besar.
2 butir bawang merah, iris.
Garam dan penyedap secukupnya.

CARA MEMBUAT :
Potong dadu memanjang daging ikan kering Talang, cuci dan bersihkan bersama kepalanya. Rebus sebentar sampai satu kali mendidih. Lalu buang airnya, kemudian masukkan santan dan semua bahan/bumbu kecuali telor.

ketika mendidih, ceplok kan telor ke dalam kuah (buang kulit cangkangnya,) diamkan sebentar dan jangan diaduk agar kuning telor tidak pecah atau menyebar. Cicipi rasa, setelah matang angkat dan siap disajikan.

Selamat menikmati (gambarnya) hehe. . .

CATATAN HITAM 17 AGUSTUS DI KOTA KECIL KAMI

CATATAN HITAM 17 AGUSTUS DI KOTA KECIL KAMI

Kami (saya dan suami) menerima sebuah undangan di hari Sabtu sore, sebuah undangan berdesain apik dan mewah berwarna merah hati. Biasa, saya mengiranya undangan walimah perkawinan karena tertanggal 17 Agustus hari Minggu.

Ternyata saya salah, di undangan itu tertera UNDANGAN SELAMATAN. Saya jadi bertanya dan ketika membuka isinya itu adalah acara syukuran dan makan-makan dalam rangka menyambut hari proklamasi.

Kening saya berkerut, ternyata si empunya hajatan adalah seorang bos pelangsir yang terkenal top di kota kecil (sebenarnya masih kecamatan) kami.

Kontan suami saya jadi murung sejurus, nama-nama yang turut mengundang adalah kawan-kawan lamanya dahulu ketika masih kerja di SPBU sekitar 6 tahun lalu sebelum ia kena PHK (PHK itu, adalah peristiwa paling menyakitkan dalam rumah tangga saya yang ternyata sekarang amat saya syukuri).

Saya menyarankan agar suami memenuhi undangan itu. Dan ia tak mau, bukan karena malu atau apa (kami alhamdulilah sudah punya lahan rejeki yang lebih dari pada di SPBU). Tapi dia sudah tahu acara itu akan seperti apa.

Apa pasal?

Sepertinya timing dan momennya memang pas, ada orang yang senang berpesta menikmati alam kemerdekaan dengan menjajah hak-hak sesama mereka.

Dengan sedih dan geram suami saya melanjutkan, katanya di acara semacam itu akan hadir berbagai macam manusia dari aneka kalangan. Mulai dari karyawan, sampai aparat dan pejabat berdahi yang -nota bene bukan rahasia lagi- menjadi beking dari kegiatan pelangsiran BBM yang kebanyakan diperuntukkan bagi kegiatan pertambangan batu bara.

Ya, BBM, solar ataupun premium bersubsidi yang harusnya menjadi jatah rakyat jelata untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya malah (selalu) beralih tangan ke ranah industri yang justru tidak mensejahterakan orang kecil.

Dan pembatasan solar bersubsidi saat ini justru semakin memperparah kebobrokan mekanisme dunia perminyakan di republik ini. Orang-orang sibuk dengan kepentingan mereka sendiri, beking membeking sudah biasa, yang penting saling untung. Lagi, rakyat jelata yang buntung.

Singkat kata, suami saya bilang kalau itu MEMAKAN HAK ORANG BANYAK.

Saya hanya bisa menyimpan airmata saat menyaksikan para nelayan sulit melaut karena tak dapat jatah solar, juga pabrik penggilingan padi terpaksa vakum karena kehabisan stok solar. Juga para sopir angkutan yang harus membawa berbagai barang kebutuhan hidup dipaksa antri berjam-jam bahkan mungkin berhari-hari jauh dari anak istri mereka demi solar subsidi yang kini kuota dan waktunya dibatasi.

Duh. . .

Bos pelangsiran itu dengan pongah menyebar undangan makan dan pesta pora di tengah krisis kesenjangan yang memalukan sekaligus memilukan ini. Lalu dilanjut dengan live show dangdut lokal erotika yang mempertontonkan segala perkakas kaum hawa. Tak puas, biasanya pasti dilanjut dengan euforia menenggak miras sampai nyaris gila. Dan ironisnya, banyak aparat dan pejabat yang mengamininya.

Enam puluh sembilan tahun Indonesia merdeka, dan kita memaknainya dengan terus mencorengkan noda.

Benarkah kita sudah merdeka??


Saya menulis ini seperti menambal luka serupa di Agustus tahun lalu DI SEBUAH PERAYAAN. Maaf jika kata-kata ini tak pantas.