IMPIAN CINDERELLA

“Cinderella telah menghancurkan hati banyak wanita di dunia, karena telah memberikan harapan tanpa dasar.”
(Drama Korea When a Man Fall in Love)

Menikmati novel-novel roman (saya sudah suka sekali sejak jaman saya remaja dulu) seperti Harlequin dengan penulis-penulis romantis tenar semisal Nora Roberts dan Sandra Brown. Maka kita akan menemukan satu pola dan tipe cerita yang hampir nyaris sama.

Novel-novel roman seringkali menyimpan harapan dan idealisme terpendam dalam hati seorang wanita sejak jaman baheula. Saya menyebutnya tipe cerita “IMPIAN CINDERELLA”.

Novel roman juga sering didominasi oleh penokohan tentang karakter seorang wanita biasa dengan lawan main seorang pria sempurna yang punya segalanya. Sebutlah contoh kisah A Romantic Story about Serena karya Shanty Agatha, penulis dalam negeri yang cukup populer di jagat internet juga telah memilih genre romansa yang selalu berakhir bahagia.

Sampai-sampai saya iseng menulis status:

“Tipikal buku-buku roman; wanita polos, mandiri dan sederhana VS pria superior, arogan, playboy dan punya segalanya.

Masih semacam mimpi Cinderella di era gombalisasi, dan itu dalam dunia nyata hanya terasa sebagai ironi dan jarang terjadi.”

Lalu saya tersadar oleh sebuah komentar yang ditulis adik saya:

“Itu sebabnya orang-orang membuat cerita, novel, film dsb, itu semua perwujudan asa yang sulit/bahkan mustahil direalisasi.

Anything may happen in the movie and book, those are the fairy tales that every one wish happened.”

Hmm. . . Itu benar, sakit memang. Sesakit mata saya saat nonton sebuah film India Chori Chori Chupke Chupke tentang seorang istri yg tak bisa hamil dan menyewa seorang pelacur cantik untuk mengandung benih suaminya. Pelacur itu diperankan apik oleh Preity Zinta, dalam salah satu adegannya ada kata-kata seperti ini:

“Dulu sewaktu kecil, aku sering berharap tentang seorang pangeran yang akan datang melamarku dengan kuda putih. Tapi ternyata setelah aku dewasa justru bertemu dengan pria-pria hidung belang bermobil putih. Mereka hanya menginginkan tubuhku.”

Tragis ya. . .

Itulah mengapa cerita-cerita dengan impian Cinderella yang berakhir bahagia selamanya selalu populer dan tak pernah lekang sepanjang masa. Karena dunia fana ini hampir tak pernah ramah (kalau tak bisa dikatakan kejam) pada kaum hawa. Wanita selalu jadi santapan empuk nan lezat oleh ketidakadilan dan diskriminasi keadaan.

Dan, cerita roman menjadi semacam penyembuh luka dari hati wanita yang pernah merasakan kepahitan cinta dan kengerian realita.

Ada sebuah lagu yang sangat relevan dengan “Impian Cinderella” ini, lagu yang kalo saya boleh bilang GUEH BANGET karena sudah jadi semacam original soundtracknya kisah cinta saya dan suami (ciyew. . .)

HANYA

oleh Melly Goslaw

Hanya dengan sedikit malu.
Akhirnya aku harus akui.
Keberadaan cintamu dalam hatiku Yang kau renangi
Rasa resah singgah bila terjadi perang Emosi kau dan aku

Reff:

Jangan pernah menyanjung cinta Bila tak mengerti maknanya cinta
Satu terindah dalam dirimu Kini ada di jiwaku.

Ku inginkan cerita cinta Terindah bagaikan dalam dongeng.
Percintaan berhujankan rindu, asmara kita akankah lama?

Dalam hati ku terhibur Bila senyum mahalmu merebak.
Rasa resah singgah bila terjadi perang Emosi kau dan aku.

Kurang lebih begitulah pemirsa. Dunia memang tak selalu baik hati pada perempuan, karenanya harapan-harapan Cinderella masih harus kita simpan sepanjang perjalanan.

Sebagai penyemangat, sebagai pengobat dan sebagai penjaga prasangka baik bahwa harapan-harapan positif akan membuat kita baik-baik saja. Meski tak selalu ada akhir bahagia, tapi yakinlah Tuhan selalu membuat kita bisa menikmati setiap cerita dan juga realita.

Advertisements

KEKASIH PENGECUT, MANTAN MENYEBALKAN

Ada gak judul yang lebih mengenaskan dari itu?

Lama juga rasanya saya gak koar-koar dari sudut pandang emosional seorang perempuan. Kali ini saya akan mengulas sedikit tentang mengesalkannya seorang mantan yang saat jadi kekasih juga seorang pengecut.

Yakin dah, kalau dengar kata mantan pasti berjuta rasanya, galau? Mungkin iya. Sedih? Bisa jadi, atau justru bahagia setelah hubungan cinta kandas dan seorang kekasih turun pangkat jadi mantan?

Jadi ceritanya begini, saya dibuat kesal dengan sebuah drama yang mengisahkan sepasang kekasih, kemudian ceweknya pergi gitu aja. Setelah 4 tahun yang menyakitkan, move on yang menguras kesadaran agar matahari berasa tetap terbit di timur dan dunia gak jadi kiamat hanya karena seorang anak manusia sedang patah hati. Eh. . . Tiba-tiba si cewek datang ngajak balikan gitu aja setelah si cowoknya udah in relationship. Ini ni yang saya bilang, kekasih pengecut mantan nyebelin. Minta diracun emang, ckckck. . .

Terus beberapa Minggu ini jadwal saya padat dalam rangka menghadiri banyaknya hajatan kawinan anak tetangga dan beberapa kawan lama. Nah, ada sebuah cerita menarik yang gak jauh beda dari drama di atas tadi. Tapi sebentar, kita setel original soundtracknya dulu.

“Kalau sudah tiada baru terasa bahwa kehadirannya sungguh berharga. . .”

Itulah kata-kata bang Haji Rhoma Irama yang amat digaungkan para pencinta di seluruh Indonesia. Tapi sayangnya hanya sedikit orang yang memahaminya dan telah bersiap diri untuk sebuah kehilangan yang mungkin tidak kita sadari sampai seseorang itu sudah benar-benar pergi.

Sebut saja Rina dan Radit, setelah melalui masa pedekate yang giat, waktu pacaran yang diwarnai putus nyambung bertahun-tahun, sebelas kali selingkuh si Radit, dua puluh dua kali pula si Rina memaafkan (karena untuk satukali pengkhianatan, butuh duakali memaafkan dan merelakan). Sedari jamannya kuliah sampai udah kerja dan kita masih gini-gini aja. So, mau dibawa kemana hubungan kita??

Sampai sebuah kesadaran mengoyak kesabaran Rina yang terasa sia-sia selama ini.

“Kapan kamu mau menemui orang tuaku? Aku capek kaya gini terus, aku mau serius dan menikah.” Rina mengultimatum.

Radit kelabakan, tergagap, melongo dan jelaslah kekasih model ini gak akan pernah ngajak lo ke penghulu (catet !!).

“Aku percaya kalo kita emang jodoh kita bisa menikah , tapi kalo jodohku orang lain ku harap kamu rela, mungkin saja ada seseorang yang serius sama aku. Ku harap kita bisa saling merelakan.” Lanjut Rina lagi.

Sebuah pernyataan putus asa seorang wanita yang hanya ditanggapi seorang pria dengan sebelah telinga. Tapi siapa yang tahu hidup manusia? Hati bisa berpaling, cinta bisa berubah. Toh pada akhirnya setiap kita lebih memilih kepastian, apalagi wanita.

Radit dan Rina tetap jalan dan gak putus juga sampai kemudian harapan Rina jadi kenyataan. Gak ada hujan gak ada guntur tiba-tiba ada seorang kenalan yang datang melamarnya secara baik-baik dan ingin menikahinya segera. Singkat cerita setelah proses perkenalan singkat, lamaran dan sebagainya, tanggal pernikahan pun ditentukan.

Rina merasa semua sempurna dan menikah tanpa proses pacaran rasanya lebih melegakan dari pada pacaran lama tapi gak tahu pasti kapan nikahnya?

Tapi kemudian, satu hari jelang pernikahan, Radit menelepon.

“Kok kamu tega sih beb?” suaranya kayak gak tidur seminggu, memelas gitu.

“Aku kan udah bilang ama kamu, aku mau menikah dengan orang yang beneran serius ama aku.” kata Rina tenang.

Dan apa yang terjadi, setelah mendengar besok Rina akan menikah, meweklah Radit, dia menangis sodara-sodara! Laki-laki tipikal kekasih pengecut itu ternyata merasa terluka dan diam-diam ngarep.com juga kalo Rina gak jadi nikah dengan orang lain. Lah udah jadi mantan ngeselin jugak?

T E R L A L U. . .

Lah maunya apa? Gak tahu apa sakitnya tu di sini (nunjuk gigi). Tapi peduli amat dah, Rina telah memantapkan hatinya karena ia telah memberikan kesempatan bertahun-tahun lamanya menanti keberanian Radit. Maka jangan salahkan Rina ketika kesempatan itu diambil oleh sosok calon suaminya yang gentleman. Terserah Radit sekarang paling-paling bakal muter lagu Malaysia lawas oh. . .berderai airmataku mengiringi hari persandinganmu. . .

Nah, pemirsah! Ini pelajaran loh ya. Sesuatu atau seseorang itu seringnya baru terasa berarti saat udah gak ada di genggaman kita lagi. Maka jangan sia-siakan waktu dan kesempatan yang kita miliki sebelum diambil oleh orang lain dan membuat kita hanya bisa gigit jari.

Nangis nangis dah!

Kapok gak?

Kekasih Pengecut, Mantan Menyebalkan

Kumplit emang.

LAUTAN KASIH TANPA BATAS

Empat puluh delapan jam kontraksi yang hampir merampas kesadaran. Memberikan sakit tak terperi yang seakan mampu meremukkan tulang belakangku. Sesekali ia bergerak menghunjam ke perut bawah, mengalirkan bercak darah kehitaman.

“Tenang bu, sebentar lagi.” Kata bidan desa berseragam putih itu.

Membuatku kesal dan bermandikan keringat, sudah dua hari dua malam ia terus bilang sebentar. Sementara anak dalam perutku tak kunjung lahir, terus membuat sakit semakin tak tertahankan. Kata bidan itu juga aku sudah separuh jalan, ini sudah pembukaan lima. Maka perlu lima lagi agar bayi ini mau keluar. Tuhan, berapa lamakah itu? Satu jam? Atau satu hari lagi?

Sedangkan aku seorang diri di sini, pria bejat yang ku sebut suami itu pamit merantau untuk bekerja sejak kandunganku menginjak 7 bulan. Dan mas Rian tak pernah pulang.

Ah. . . Aku jadi teringat ibu, andai dulu ku mau sedikit saja mendengarkan nasehatnya.

“Aaaah. . .!” Aku menjerit, sebuah pergerakan yang kuat seakan hendak menerobos liang kemaluanku, mengalirkan rasa hangat di paha dan pantatku. Air ketubankah itu?

Bu bidan sigap melihat kondisiku, sekali lagi dicoloknya liang kemaluanku dengan telunjuknya yang bersarung tangan dari karet, kulihat ia telah menyiapkan peralatannya di atas ceper besar berbahan stainles steel yang menimbulkan bunyi gemerincing gunting dan alat-alat lainnya yang saling beradu.

“Siap ibu, mulai tarik napas perlahan-lahan, dan keluarkan. Bayi ibu sudah siap lahir.”

Aku berdebar dan merasakan lututku lemas, lalu sakit itu semakin melingkupi pinggang dan perut bawahku, berputar-putar membuat mulas yang hebat aku tersentak saat ku sadar gunting itu memotong sedikit area batas antara anus dan vagina dan aku menjerit sekali lagi. Terengah-engah dengan keringat bercucuran, tanganku meremas kain lusuh dasterku yang merosot di pangkal paha. Mataku terasa panas dan kontras dengan keringat dingin yang terus bercucuran tanpa henti.

“Sedikit lagi bu, kepalanya sudah terlihat, bayinya agak besar. Tarik dan keluarkan lagi.”

Aku menarik napas lagi dan mencoba mengumpulkan sisa-sisa kekuatanku, rasanya ini amat akrab dengan kematian, sangat dekat. Sampai kemudian ku melihat wajah ibu dan Sarah, adikku yang terkecil.

“Ibuu. . . ” Teriakku berusaha meyakinkan apakah beliau benar-benar nyata.

Lalu terdengarlah tangisan membahana dalam ruangan serba putih itu, dan semuanya gelap, hanya dapat ku dengar suara samar.

“Alhamdulilah bu, anaknya sehat, selamat. Seorang putra.”

Hampir 3 jam lamanya aku tak sadarkan diri, saat ku terbangun ku melihat lagi wajah ibu, kali ini berurai airmata dan dalam dekapannya ada bayi dalam balutan kain bedong bermotif batik.

“Kamu sudah sadar nak?”

Suara ibu menyadarkanku sepenuhnya bahwa beliau hadir untukku. Aku menangis saat mendekap bayiku dalam gendongan ibu.

“Ayo ke rumah ibu, kita pulang, biar ibu merawatmu dan cucuku.”

¤ ¤ ¤

Tempat yang disebut ibu rumah hanyalah sebuah rumah bedakan dengan satu kamar yang ditempati oleh ibu, bapak dan 4 adikku. Rumah yang dahulu amat ku benci karena sumpek dan sesak, sampai ku memutuskan minggat dengan Rian dan terpaksa dinikahkan.

“Bu, apa bapak gak marah, aku begini.” Aku ragu karena selama dua tahun terakhir ini aku bukan lagi anak gadis mereka yang manis dan penurut.

Ibu tersenyum menenangkan. “Sama cucu sendiri kok marah.” Ibu mengelus pipi bayi yang merah itu dan menepuk punggungku, membereskan segalanya dan kami pulang dengan becak sore harinya.

¤ ¤ ¤

Aku hanya heran, kok ibu bisa tahan dan tetap waras dalam menghadapi kami, lima anaknya yang bandel. Sedangkan aku sudah pusing gak karuan saat bayi yang baru berusia beberapa hari itu menangis keras, menolak disusui dan muntah tak kenal tempat dan waktu. Parahnya lagi, bila itu terjadi tengah malam saat aku hampir mati menahan kantuk.

¤ ¤ ¤

Ibu tak menanyakan dimana mas Rian, tapi dari matanya aku yakin ia tahu bahwa keadaanku sedang tidak baik. Sudah 3 bulan aku tinggal di rumah ibu karena aku tak mampu lagi untuk membayar kontrakanku.

“Ibu,” ku dekati ibu yang baru saja meletakkan putraku Alif dalam buaian.

Ibu berbalik, menatapku sayu. Tapi matanya masih menyinarkan nyala kasih yang tak ada habisnya.

“Maafkan Ita, bu. Ampuni Ita.” Aku terisak, meraih jemari ibu yang hangat, menempelkannya pada pipiku yang basah dan menciumnya. Berharap bahwa ampunannya masih setia menyimpan surga untuk anak-anaknya.

T A M A T



Baca juga:

MENDUNG KELABU DI MATA IBU

DAGING

Panas matahari terasa menyengat di atas kepala, membuat semakin sesak udara yang terkontaminasi debu. Anto memutuskan berhenti sejenak di bawah pohon di tepi jalan Tamrin yang macet hari itu.

Ia berjongkok dan lantas berselonjor kaki di pinggiran trotoar, karung lusuh berisi hasil memulung hari ini diletakkan di sampingnya. Dari tas kumal yang tersampir di pinggangnya, ia mengeluarkan sebuah botol air mineral yang diisi air dari rumah. Dengan antusias ia mereguk kesegaran air yang tak direbus itu, membuat rasa lapar di perutnya sedikit tertolong.

Tak jauh dari tempatnya berteduh ada sebuah warung makan nasi Padang yang menguarkan aroma gurih khas daging rendang. Membuat rasa lapar yang menjadi itu minta segera diisi nasi.

Anto bangkit dan melangkah, diangkatnya karung yang penuh sampah botol dan gelas plastik itu, diletakkannya tali pikulan karung itu di atas kepalanya. Maka terbungkuk-bungkuklah bocah pemulung berumur sepuluh tahun tersebut, langkahnya tersaruk-saruk karena berat bawaannya.

Tapi ia diam-diam tersenyum, karena esok hari raya Idul Adha, itu artinya ia bisa mendapatkan jatah daging kurban yang dibagikan panitia di masjid Istiqlal.

Anto mempercepat langkahnya menuju rumah pak Imran, juragan pengumpul sampah hasil pulungan warga yang tinggal di bantaran kali Ciliwung. Setelah menerima uang dari pak Imran, Anto bergegas ke warung mpok Minah. Ia telah menabung berbulan-bulan untuk bisa membeli bahan masakan untuk membuat rendang daging.

Anto berlari pulang membawa satu kantong plastik berisi dua liter beras, bumbu masakan, minyak goreng, dan ditangan kirinya menenteng sebotol minyak tanah. Ia sangat gembira, dan disambut ibunya di depan gubuk reot berdinding kardus.

Ibunya adalah wanita tua yang sudah sepuluh tahun ditinggal mati suaminya, dan ke enam anaknya pergi merantau entah kemana. Maka tinggallah mereka berdua saja, menghadapi kerasnya kehidupan di kota Jakarta.

“Makan dulu, To.” seru ibunya sambil meyendok nasi panas dari dalam panci.

Anto mencuci tangannya dan lalu makan dengan lahap bersama ibunya hanya dengan lauk tempe saja.

“Bu, nanti sore Anto mau ke Istiqlal, biar saya sekalian bermalam di sana, jadi paginya habis salat Ied bisa cepat kebagian daging.” Kata Anto semangat dengan suara tertahan karena mulutnya penuh nasi. Ibunya mengangguk tersenyum dan akan dengan senang hati menyiapkan bumbu untuk memasak daging nanti.

¤ ¤ ¤

Allahuakbar Allahuakbar. . . Allahuakbar walillahilhamd. . .

Suara takbir berkumandang di sekitar masjid Istiqlal. Anto telah tiba dengan pakaiannya yang terbaik, sebuah baju koko berwarna biru muda dan kopiah haji pemberian pak Imran lebaran tahun lalu.

Nyaris semalaman Anto tak bisa tidur karena tak sabar menunggu pagi.

Usai salat Ied, ada ratusan sapi dan kambing yang disembelih di lingkungan masjid, banyak orang telah antri, nenek-nenek, ibu-ibu yang menggendong balitanya yang terus menangis karena berdesak-desakkan demi daging sapi setengah kilo gram tersebut.

Sebagian orang mendapatkan daging tidak untuk dimasak dan dikonsumsi sendiri, melainkan untuk dijual. Karena bagi masyarakat tak mampu, memasak daging pun perlu modal yang tidak sedikit. Hal itu membuat otak Anto berpikir, jika saja daging kurban yang dibagikan sudah masak atau kalau perlu dikalengkan seperti kornet sapi yang lezat seperti yang dilihatnya di iklan TV di rumah pak Imran, maka pastilah rakyat miskin tak akan menjual daging kurban tersebut dan akan dengan senang hati memakannya.

Anto berusaha menerobos kerumunan orang yang semakin membludak di halaman sekitar masjid, ia telah dapat satu kantong plastik jatah daging. Ia ingin segera pulang, karena ia pun amat lapar setelah semalaman sampai siang ini mengantri daging dan tak makan.

¤ ¤ ¤

Ketika sampai di dekat lokasi rumahnya di bantaran kali Ciliwung, Anto kaget setengah mati melihat semua warga dan tetangganya berhamburan ke jalan-jalan, ada yang menangis, marah dan ada yang berpelukan. Semua bangunan gubuk mereka berantakan.

“Anto, rumah kita To.” jerit ibunya saat melihat Anto telah datang.

Orang-orang meratap dan marah karena tadi malam satuan polisi pamong praja melakukan penggusaran pada bangunan liar yang merusak keindahan kota Jakarta.

Lenyaplah impian Anto untuk menikmati daging yang dimasak lezat. Gubuknya rata dengan tanah, beras berserakan dan bumbu yang dibelinya kemarin jatuh ke sungai Ciliwung saat penggusuran terjadi.

Ibu Anto menangis meraung-raung seperti tetangganya yang lain. Sementara Anto berdiri terpaku memeluk bungkusan plastik hitam berisi daging sapi segar itu di dadanya. Erat, erat sekali.

SI PULAN BULIK KA BANUA 2 (HABIS)

Nah han, balanjut pulang kita ka kisah Pulan sumalam. Inya nyaman sudah wahini lalu handak bulik ka banua pulang. Tulak ba ampat baranak, alhamdulilah kada bataksi mutur kul lagi, tapi ba mubil ban ampat ampunnya saurang.

Tiiii. . .t. . .

Babunyi kalaksun mubil Pulan nang hanyar nitu, mirikx Honda CRV, putih mancarunung kalirnya hanyar kaluar pada dealer napa. Pas hinggapnya di bawah rapun asam di halaman julak tuha.

“Ninii. . . !” ujar Aluh anak Pulan nang pahalusnya kukuciak sambil turun pada mutur nang harat tu tih.

Takijat urang sarumahan, badadas turun julak mahaga. Pina tasisit tapih sidin sampai kaliatan buku lintuhut nang takariput.

“Uh. . . Umay. . . Pulan nah niti?!” Pina tiring maniring sidin matan sapatu kulit Pulan sampai ka atas kupalanya nang licin basamir hirang. “Ayu naikan, sini dang, sini ucu!” salalu marauh Aluh mangilik cucu di kamanakan nang kada suah batamuan.

Saidang idang ay wan bini Pulan apa mun liwar bengkengnya hari itu si Limah. Baju nang tukaran di mall di butik nitu, kakambannya warna habu ruku bagambar tulisan lugu Lois Vuitton nang kainnya pina licin mancilang. Limah manjinting tas Hermes nang bagirap batu ruby wan karistal Sawarovski. Pakayan kangkalung haja bilang handak nang kaya rantai kapal nang sandar di darmaga palabuhan Trisakti, buah mata kalungnya nangkaya tungkul pisang manggala di kabun pahumaan pa haji Asli. Galangnya kada kisah lagi, bila bagarak bini Pulan manggaruncay galang karuncung nang bilang lacit ka inggan siku kiwa kanan.

“Bah, baduit banar kamanakanku ni salawas madam pada banua.” Ujar hati julak tuha. Maricak ilat sidin, tauling kupala.

Saitu saini sidin manyuruh naik ka rumah, badadas maulahakan banyu satrup wan manyurung wadai pais buta.

“Hadang dahulu pulan lah, diaku handak ka subalah. Itu paranah mamarina ikam jua. Kuburan di alah tanah wakap langgar tu kubur uma abah ikam. Pa uwan nang bamajlis di hulu tu paranah pakai’an lawan ikam. Nang baisi bingkil las di hilir tu dangsanak sakatirian wan arwah abah ikam. Nang di higa rumah ni sapupu talu kali wan ikam.”

Habis tu pang juriyat manjuriyat silsilah kulawarga di baca julak tuha, kababang sidin bakiyawan kukulaan subalah manyubalah mahabarakan si Pulan nang sugih datang baelang.

Haaann. . .

T A M A T

Buat suamiku terkasih:

“Terima kasih atas ide, kata-kata dan cerita yang penuh pelajaran tentang kondisi sosial masyarakat di sekitar kita ini.”

^_^v

SI PULAN BULIK KA BANUA

Ada pang sudah mun kikira manaluwalas tahun sudah si Pulan madam pada banua. Asal mula umpat pa haji Asli mandangani badagang pancarakinan di Pasar Lima. Mandua tahun Pulan jadi susuruhan pa haji gasan ma angkutakan karung bawang, karung gula, baras macam-macam ae.

Kada dirasanya lagi bilang asa pingkar balukuk hari-hari manyahan karung nang puluhan kilu nitu, napang ha mun hidup kadada dangsanak, kawitan matian hudah ka duanya, jadi kadada lagi nang diharap-harap. Sampai Pulan tapabini lawan si Limah anak acil Siti nang umpat ma ambil upah manguyak bawang di pasar tutih.

Bangsa satahun balaki babini lahir si Utuh, masih ae hidup Pulan balum pina mungkat bakadudukan, rumah masih umpat manyiwa di bidak pa haji Asli, Limah kada kawa lagi umpat basiang bawang imbah baranakan, bagana ae di rumah.

¤ ¤ ¤

Kada karasaan sakulah TK Utuh, pina mauk pulang ma’adi bininya Pulan. Taungut Pulan mamikirakan panghidupan mun kakaini haja. Taingat pas tahun tadi inya bulik ka banua handak jarah ka kubur kawitannya. Naik ka rumah mamarinanya, julak tuha pina kada rigi malihat Pulan batalu baranak pina sakit.

“Siapa?” ujar julak tuha pas malihat Pulan saparanakan badiri di muhara lawang.

“Ulun lak ay, Pulan, anak Jamiyah.”

“ih, Pulan kah? Adul lah abah kam.” Ujar Julak Tuha sambil maniring nang batalu baranak tu tih.

Pina riwas muha julak malihat parigal kamanakan nang di ujut niti. Asa kada rigi malihat Pulan pina uyuh mambawa tas buruk, nang bini babaju lungris kubas banar tukaran ari raya ampat tahun nang liwat pina kuhay kada bapakayan napa apa, apa lagi mun maliat muha si utuh pipinya batampung lantaran hingus pina mangaring kana palit wan bajunya nang bagambar Power Rangers batual di alah dadanya bakas muak dalam mutur kul tadi.

“Ayja, masukan dahulu, diaku handak ka muhara satumat tah.” ujar julak pina takurisit dahi.

“Siah!” jar julak mangiyaw minantu sidin. “ulahakan banyu lah!”

Lalu turun julak, hadang dihadang sajam dua jam kada naik lagi julak tuha. Asa kada nyaman Pulan kada jadi bamalam, imbah ka kubur uma abahnya badadas ae bulikan.

Pulan kada tahu, bangsa saparapat jam kalu imbah julak turun ti, sidin manalipun ka hapi Siah.

“U, Siah, bulikan nah sudah Pulan ti? Aku mun buhannya bulikan naik ay, bahujung maminta baras atawa bahutang banaray urang kaitu.” Umay, liwar pang pamuntungan julak ni.

¤ ¤ ¤

Kada kawa aku mun kakaini haja, damhati Pulan, supan aku kada dianggap kulawarga ulih dangsanak uma.

“MUN KADA SUGIH AKU KADA BULIK LAGI KA BANUA !” Batugul banar kahandak hati Pulan, basumpah inya sambil mamusut banyu mata wan pancung tapih.

Pulan ti ampih pang ba angkut, wahini inya manunggu’i toko pa haji Asli yang di Pasar Hanyar, barang pancarakinan jua. Sudah babarapa hari ni inya pina taungut saurangan. Lalu dirawa ulih pa haji.

“Uy, Pulan! Napa pina marung haja muha, napa dipikirakan?” ujar haji pas Pulan ma atar duit saturan badagang ari kamarian.

“Anu, pa haji ay, ulun ni. . . Tapi pian jangan sarik lah, kalu ulun ni tapalampang.” ujar Pulan asa gair.

“haw, napa garang?” Bingung pa haji.

“Ulun ni, umanya utuh pina mauk, ma’adi paji ae, mana Utuh sakulah sudah jadi ulun ni asa handak ae baisi usaha saurang. . .” Pulan manarik hinak.

“Ay, bujurkah? Adalah kam bamudal? Handak usaha napa?” pa haji kada sarik.

“Ada pang kios pun mama mintuha bakas sidin bawarung nasi dahulu kada tapakai lagi, sidin gagaringan haja di rumah, jar sidin jaka diusahai napakah, badagang napakah.” Pulan manjalasakan maksud hatinya.

“Nah, bagus tu, badagang napa ikam cagar Pul? Aku hakun ae mamudaliakan mun ikam hakun.” ujar haji Asli.

Langsung simbak simbur banyu mata Pulan, diciumnya tangan pa haji, dipaluknya, dianggapnya asa kaya kuitan.

¤ ¤ ¤

Imbah tujuh tahun tumbang tumbalik bausaha saurang, badagang pancarikinan jua kaya pa haji, akhirnya kawa jua pina tanyaman. Kawa mambulikakan hutang mudal, manukar rumah, ma umrahakan mintuhanya. Limah imbah dua anaknya ganalan kawa jua batoko baju di pasar Sudimampir, bakakariditan mulai kumplik sampai ka handil. Singkat kata, naik ka atas putaran ruda kahidupan si Pulan wan Limah barakat cangkal barakat sabar.

Pas taluwalas sudah bilangan tahunnya Pulan bausaha di Banjar, handak ae bulik ka banua manjarahi kubur kawitan wan maliati adakah lagi mamarina wan kula-kula an nang masih hidupan.

Nang sakali ni Pulan tulak ba ampat baranak, si Utuh kalas 6 SD sudah, si Aluh kalas 1 SD

¤ ¤ ¤

Nah, tapaksa basambung kita ka episod salanjutnya, apa mun mangatik di hapi ni kada muat banyak karakternya.

Dan juga, maaf banget buat yang gak paham bahasa Banjar, cerita ini saya buat tanpa penjelasan/terjemahannya. Saya sendiri saja dibuat pusing juga karena ternyata tak mudah merangkai kata-kata jadi sebuah cerita dalam bahasa daerah.