DAGING

Panas matahari terasa menyengat di atas kepala, membuat semakin sesak udara yang terkontaminasi debu. Anto memutuskan berhenti sejenak di bawah pohon di tepi jalan Tamrin yang macet hari itu.

Ia berjongkok dan lantas berselonjor kaki di pinggiran trotoar, karung lusuh berisi hasil memulung hari ini diletakkan di sampingnya. Dari tas kumal yang tersampir di pinggangnya, ia mengeluarkan sebuah botol air mineral yang diisi air dari rumah. Dengan antusias ia mereguk kesegaran air yang tak direbus itu, membuat rasa lapar di perutnya sedikit tertolong.

Tak jauh dari tempatnya berteduh ada sebuah warung makan nasi Padang yang menguarkan aroma gurih khas daging rendang. Membuat rasa lapar yang menjadi itu minta segera diisi nasi.

Anto bangkit dan melangkah, diangkatnya karung yang penuh sampah botol dan gelas plastik itu, diletakkannya tali pikulan karung itu di atas kepalanya. Maka terbungkuk-bungkuklah bocah pemulung berumur sepuluh tahun tersebut, langkahnya tersaruk-saruk karena berat bawaannya.

Tapi ia diam-diam tersenyum, karena esok hari raya Idul Adha, itu artinya ia bisa mendapatkan jatah daging kurban yang dibagikan panitia di masjid Istiqlal.

Anto mempercepat langkahnya menuju rumah pak Imran, juragan pengumpul sampah hasil pulungan warga yang tinggal di bantaran kali Ciliwung. Setelah menerima uang dari pak Imran, Anto bergegas ke warung mpok Minah. Ia telah menabung berbulan-bulan untuk bisa membeli bahan masakan untuk membuat rendang daging.

Anto berlari pulang membawa satu kantong plastik berisi dua liter beras, bumbu masakan, minyak goreng, dan ditangan kirinya menenteng sebotol minyak tanah. Ia sangat gembira, dan disambut ibunya di depan gubuk reot berdinding kardus.

Ibunya adalah wanita tua yang sudah sepuluh tahun ditinggal mati suaminya, dan ke enam anaknya pergi merantau entah kemana. Maka tinggallah mereka berdua saja, menghadapi kerasnya kehidupan di kota Jakarta.

“Makan dulu, To.” seru ibunya sambil meyendok nasi panas dari dalam panci.

Anto mencuci tangannya dan lalu makan dengan lahap bersama ibunya hanya dengan lauk tempe saja.

“Bu, nanti sore Anto mau ke Istiqlal, biar saya sekalian bermalam di sana, jadi paginya habis salat Ied bisa cepat kebagian daging.” Kata Anto semangat dengan suara tertahan karena mulutnya penuh nasi. Ibunya mengangguk tersenyum dan akan dengan senang hati menyiapkan bumbu untuk memasak daging nanti.

¤ ¤ ¤

Allahuakbar Allahuakbar. . . Allahuakbar walillahilhamd. . .

Suara takbir berkumandang di sekitar masjid Istiqlal. Anto telah tiba dengan pakaiannya yang terbaik, sebuah baju koko berwarna biru muda dan kopiah haji pemberian pak Imran lebaran tahun lalu.

Nyaris semalaman Anto tak bisa tidur karena tak sabar menunggu pagi.

Usai salat Ied, ada ratusan sapi dan kambing yang disembelih di lingkungan masjid, banyak orang telah antri, nenek-nenek, ibu-ibu yang menggendong balitanya yang terus menangis karena berdesak-desakkan demi daging sapi setengah kilo gram tersebut.

Sebagian orang mendapatkan daging tidak untuk dimasak dan dikonsumsi sendiri, melainkan untuk dijual. Karena bagi masyarakat tak mampu, memasak daging pun perlu modal yang tidak sedikit. Hal itu membuat otak Anto berpikir, jika saja daging kurban yang dibagikan sudah masak atau kalau perlu dikalengkan seperti kornet sapi yang lezat seperti yang dilihatnya di iklan TV di rumah pak Imran, maka pastilah rakyat miskin tak akan menjual daging kurban tersebut dan akan dengan senang hati memakannya.

Anto berusaha menerobos kerumunan orang yang semakin membludak di halaman sekitar masjid, ia telah dapat satu kantong plastik jatah daging. Ia ingin segera pulang, karena ia pun amat lapar setelah semalaman sampai siang ini mengantri daging dan tak makan.

¤ ¤ ¤

Ketika sampai di dekat lokasi rumahnya di bantaran kali Ciliwung, Anto kaget setengah mati melihat semua warga dan tetangganya berhamburan ke jalan-jalan, ada yang menangis, marah dan ada yang berpelukan. Semua bangunan gubuk mereka berantakan.

“Anto, rumah kita To.” jerit ibunya saat melihat Anto telah datang.

Orang-orang meratap dan marah karena tadi malam satuan polisi pamong praja melakukan penggusaran pada bangunan liar yang merusak keindahan kota Jakarta.

Lenyaplah impian Anto untuk menikmati daging yang dimasak lezat. Gubuknya rata dengan tanah, beras berserakan dan bumbu yang dibelinya kemarin jatuh ke sungai Ciliwung saat penggusuran terjadi.

Ibu Anto menangis meraung-raung seperti tetangganya yang lain. Sementara Anto berdiri terpaku memeluk bungkusan plastik hitam berisi daging sapi segar itu di dadanya. Erat, erat sekali.

Advertisements

11 thoughts on “DAGING

  1. Assalamualaikum,

    Begitulah gambaran potret kehidupan orang-orang miskin di kota besar.

    Menggugah nurani, jg jd mensyukuri kehidupanku.

    Like

  2. Persis di depan tempat kos saya juga ada bangunan warung² kecil tempat istirahat dan makan para pemulung, kemarin pagi juga di porak porandakan satpol pp.

    Realita kehidupan rakyat jelata.
    Para penguasa gembar gembor ingin membina, tapi kenayataan yg terjadi bukan di bina tapi di binasakan.

    Like

  3. kunjungan sore maaf kalau komentnya telat sebab kemaren kemaren lagi sibuk mau UTS …jadi izin nyimak nih mbak..

    Bener tuh …Ditunggu kunbal n follbaknya

    Like

  4. Bunda, andaikan kita bekerja sama gimana bu? Menyerukan orasi atas kebusukan negeri ini. Lewat fb, berkerumun lewat forum maya kemudian kirim beberapa artikel protes ke situs pemerintah.

    Tiap ada artikel ttg mirisnya negeri ini batinku pasti kacau n ingin meluapkan amarah pd elemen petinggi n elit yg angkuh itu yg gk pernah peduli nasib rakyat kecil.

    Like

  5. Mw comen tp susah d pikiran bnyk comen tp ssh d klwarin. G bs brkata apa2 cm miris & gondok bgt. Mdah2an anto skrg udh bahagya jgnkan daging 12 kg. Steak jg bs nkmati.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s