ELEGI BULIR PADI TANPA ISI

“Sudah tak ada yang bisa kita harapkan lagi, Lis. Kita gagal panen tahun ini.”

Darman memandang nelangsa pada hamparan sawah di hadapannya. Daun padi yang mulai muncul buahnya itu mendadak menguning tiba-tiba, membuat bulir padi yang muncul kerdil dan hampa.

Lilis, istri Darman duduk di samping suaminya, mengeluarkan singkong rebus dari rantang plastik yang dibawanya dari rumah. Udara siang itu terasa menyengat pasangan suami istri yang bernaung di bawah keteduhan atap Rumbia di gubuk di tengah sawah itu, hujan seakan-akan enggan lagi mengairi sawah para petani.

” Makan dulu pak, dari tadi pagi perut belum diisi.” Ujar Lilis dengan senyum seraya memberikan sepotong singkong dengan cocolan sambal terasi pada suaminya.

Sudah tiga hari ini Lilis tidak menanak nasi, beras hasil panen tahun lalu sudah lama tandas untuk bayar utang pada tengkulak. Kalaupun ada beras, biasanya Lilis lebih memilih untuk dimakan ke empat anaknya, kasihan jika anak-anak mesti makan singkong. Dan bubur nasi tadi pagi adalah sisa beras terakhir yang jadi sarapan anak-anaknya sebelum berangkat sekolah.

Kegagalan panen tahun ini menjadi pukulan besar bagi warga desa itu, dan meski kemarau telah berlalu masih belum ada geliat kehidupan yang dapat membangkitkan dari keterpurukan. Tak hanya sawah yang bermasalah, ikan-ikan di sungai pun entah pergi kemana.

Darman sedang memanggul beberapa batang singkong ketika ia berpapasan dengan Karta tetangganya. Karta terlihat membawa seperangkat alat setrum ikan, sepertinya ia mulai kembali melakoni profesinya di musim hujan ini.

“Mau nyetrum ke hulu Kar?” Tanya Darman.

“Iya Man, sudah lama gak makan ikan, dan kalau dapat banyak besok bisa dibawa ke pasar.” Ujar Karta sumringah.

“Tapi kemarin aku lihat di hulu sungai baru dipotas si Dirun, tak banyak juga ikannya.” Darman memperingatkan Karta kalau usahanya bisa sia-sia.

“Wah, bisa percuma juga aku kesana.” Karta manggut-manggut. “Sekarang tambah susah ya Man? Padi rusak ikanpun sulit di dapat.” Gumam Karta sambil berbalik pulang.

Darman menghela napas panjang, berat, memandang punggung Karta yang menjauh dengan tas alat setrum yang ada di belakangnya. Ia teringat penyuluhan di kantor kecamatan beberapa tahun lalu saat petugas dari Dinas Pertanian mengatakan bahwa mencari ikan menggunakan alat setrum dan potas bisa merusak keseimbangan ekosistem air dan membuat ikan jadi sulit berkembang biak karena telur-telurnya jadi prematur atau mati.

Tapi Darman dan sebagian besar warga yang mencari ikan dengan setrum tak menyadari bahwa itu juga yang menyebabkan sawah gagal panen, karena efek setrum dan penggunaan potas yang terus menerus telah mengubah kadar PH air dan tanah sehingga tanaman padi tak lagi bisa tumbuh dan berbuah dengan normal lagi.

Mendadak hujan turun di tengah hari bolong siang itu. Lilis bergegas mengambili jemuran cucian di depan rumahnya ketika di saat yang bersamaan terdengar suara gaduh dari tikungan jalan. Lilis melihat itu adalah suaminya dan beberapa orang warga, juga pak Rasidi si tengkulak desa yang nampaknya sedang murka.

“Dasar pencuri!!!” Hardik pak Rasidi sembari mendorong Darman dan tersungkur tepat di hadapan istrinya.

“Ada apa ini pak?” Lilis gelagapan dan bergegas merangkul suaminya yang mulai ditendang dan dipukuli warga. Seluruh badannya basah kuyup dan berlumpur. Sudut bibirnya mengalirkan darah segar.

“Aku tidak mencuri!!” teriak Darman, sejenak menghentikan orang-orang yang kalap. “Singkong ini memang ku tanam sendiri di sawah pak Gani, jadi aku mengambilnya.”

Pak Gani adalah pemilik sawah yang digarap Darman setiap tahunnya, tapi pak Gani tidak mematok jatah padi yang diterimanya, dengan digarap artinya tanah itu terawat dan tak rimbun ditanami tumbuhan liar. Pak Gani cukup bersyukur akan hal itu.

“Iya memang!” seru Rasidi, “Tapi tumbuhnya dekat patok batas tanahku, dan akar umbinya menjalar ke kebunku, itu artinya kau mencuri di sawahku!!”

Tanpa ampun, Darman, pria beranak empat itu menjadi bulan-bulanan warga yang merupakan anak buah Rasidi, tengkulak yang terkenal pelitnya itu. Rupanya kegagalan panen tahun ini membuat pria parlente berkumis melintir ala menir Belanda itu benar-benar sensitif dan kehilangan perikemanusiaannya.

Tak cukup, Darman juga diadukan ke kantor polisi dan harus disidang dengan tuduhan sebagai pencuri singkong.

Advertisements

TENTANG DUA RIBU RUPIAH (Kenaikan BBM dan Derita Ibu Rumah Tangga)

Percaya atau tidak, di sini kita bisa membuat roket hanya dengan biaya dua ribu saja. Tak perlu inti sel nuklir dan bubuk mesiu.

Iya, roket dari selongsong peluru kosong si cabai busuk yang mendadak terbang ke langit lantaran kena imbas efek domino dari aliran licin minyak yang (justru) deras mengalir dari tempat rendah ke tempat tinggi. Mengkhianati sifat asli bawaan lahir dari material cairan yang mestinya meluncur ke bawah.

Kalkulator dan neraca timbangan harian tiba-tiba hank bin error gara-gara angka yang dikalkulasi tak mencukupi untuk apa yang mesti dibeli hari ini.

Padahal toh ‘cuma dua ribu’ ini. Yang konon kata mereka rokok sekian puluh ribu masih kebeli, shabu sekian ratus ribu masih sarat peminat, pulsa pol dan kuota akses dunia maya gak ada habisnya. Kok minyak yang cuma naik sekian ribu protesnya gak ketulungan??

Ada yang tega bilang begitu??? Ada, banyak! Tapi tahukah mereka kalo 2 ribu itu bisa menjadi radang bisul bengkak hampir nyaris pecah berdarah-darah ketika dihadapkan pada berapa harga beras perliternya untuk saat ini? Apa masih bisa makan ikan dan sayuran juga buah-buahan, atau susu kalengan??

Standar makanan empat sehat lima sempurna bisa jadi masih mimpi bagi sebagian orang yang selama ini cukup lapangdada nrimo untuk tak mengkonsumsi daging cukup berlauk tempe dan sambal terasi saban hari. Dan kini tempe dan terasi pun mesti naik jadi roket? How could it be??

Sementara di rumah ada beberapa mulut yang mesti disumpal nasi. Ada beberapa pasang mata yang mesti dijaga agar tak berangkat ke alam mimpi dengan perut tak terisi.Tak bisa dunk jika hanya memandang orang yang masih bisa beli rokok, pulsa atau sesekali jajan shabu tapi protes soal si dua ribu! (emangnya umat serepublik ngrokok dan nyabu semua??)

Empatinya manaaaaa???

Di luar sana masih ada jutaan jelata yang upah kerja hariannya jauh di bawah UMR. Masih banyak tulang punggung keluarga yang tulang belakangnya nyaris patah lantaran terlalu berat menanggung beban kehidupan, masih banyak buruh serabutan dan pekerja kasar yang terpaksa menjadikan kepala sebagai kaki demi untuk tetap hidup dan benapas tiap hari. Dan di sini, saban hari di pasar pagi ada ratusan ibu-ibu yang mesti pintar-pintar mengeluarkan jurus aji pengiritan paling mandraguna untuk mencukupkan hitungan segala kebutuhan harian.

Ibu-ibu rumah tangga selalu ada stand by di garda terdepan dari dampak roket seharga dua ribu ini. Bagai euforia petasan nyasar yang meledak memancar di malam tahun baru dan lebaran, mengagetkan, mengejutkan, membuat kita mesti rajin mengurut dada yang kembang kempis menyadari bahwa ‘isinya’ menjadi ‘satu-satunya (atau dua-duanya) benda yang mengalami penurunan’ seiring kenaikan segala harga dan bertambahnya usia. Mencari adakah kesabaran yang masih tersisa?

Dan hampir pasti, sudah barang tentu, di bulan-bulan berikutnya ibu-ibu ini mesti berhadapan dengan meroketnya segala varian iuran bulanan. Mulai dari iuran listrik yang sering byar pet, mati nyala bisa sampai 3 kali sehari macam orang minum obat pilek resep andalan dari puskesmas. Atau iuran air bersih yang kerap ngadat di jam-jam prime time macam sinetron kebanyakan iklan, proses pengurasan tiada kabar berita, tahu-tahunya kita bisa memancing di air keruh beraroma cairan antiseptik.

Telat bayar, denda!
Telat 3 bulan, hamil! Eh.

Canggihnya 2 ribu ini bisa membuat segalanya jadi roket, melesat tak terkendali, dengan perbandingan bisa dua kali lipat. Turunan nenek moyang kita orang pelaut, para nelayan kini mikir buat pergi ke laut. Karena udah gak mungkin kapal bakal jalan jika hanya mengharap angin yang tak tentu arah. Biaya operasional yang tadinya sekian tiba-tiba membengkak jadi 2 sampai 3 kali sekian.

Organda sibuk protes di mana-mana, mogok gak kemana-mana karena kenaikan tarif yang ditetapkan sekian persen membuat merugi. Sebab ibu-ibu yang saban hari naik angkot, sekarang lebih memilih buat jalan kaki karena itu termasuk di dalam buku jurus aji pengiritan bab satu.

Semua karena roket buatan seharga dua ribu.

Pemikiran sederhana orang biasa tak peduli dan tak bisa memahami jika pengalihan subsidi untuk kemaslahatan rakyat juga. Bisa untuk peningkatan sarana dan layanan kesehatan, pembangunan infrastruktur, pendidikan dan lain sebagainya.

Sebuah logika rakyat paling sederhana ya BBM naik everything naik, tensi naik. Buntutnya ya ngiriiiit. . . Membuat anak lari terbirit-birit ketika mau minta jajan emaknya gak ada lagi duit dan lempar sendal ke parit.

TENTANG DUA RIBU RUPIAH (Kenaikan BBM dan Derita Ibu Rumah Tangga)

KEMATIAN DAN PENYESALAN

Suasana hening saat matahari tegak di atas cakrawala tiba-tiba terusik dan hingar bingar pecah oleh sebuah kabar berita kematian yang diumumkan lewat corong toa di sebuah mushalla yang berada di komplek perumahan itu.

Sontak orang berbisik-bisik dan bergumam kaget, serta merta para pelayat berduyun-duyun berdatangan menuju rumah almarhum.

Pak Ridwan, pria paruh baya yang dikenal ramah dan baik itu pergi untuk selama-lamanya meninggalkan kefanaan dunia, satu istri dan 4 orang anak. Serangan jantung, kabar itulah yang santer terdengar yang ditengarai sebagai penyebab atas kematiannya. Penyakit jantung itu telah menjadi teman akrab bagi pak Ridwan selama beberapa tahun belakangan ini.

Sampai kemudian penyakit itu pula yang membuat kondisi Pak Ridwan semakin lemah dan kerap sesak napas hingga tiba ajalnya, sesak itu bahkan kian bertambah saat keputusannya untuk menikah lagi, 4 tahun yang lalu, tepat setahun pasca kematian istri yang amat dikasihinya.

“Saya gak sudi Ayah kawin lagi, tidak dengan wanita itu!!” Seru Intan, anak ke dua pak Ridwan dengan sengit dan mata menyala. Ke dua tangannya bersidekap menyilang di depan dada.

“Dia terlalu muda Yah, dan sering keluyuran,” Andi, anak sulungnya menimpali.

Sedangkan Rudi, si bungsu yang masih kelas 1 SMP hanya manggut-manggut mengiyakan apa kata kakak-kakaknya.

Pak Ridwan menghela nafas panjang, beliau ingin menikahi wanita itu bukan karena keinginannya semata tapi juga atas saran keluarga dan tetangga, beliau telah beberapa kali urun rembug dengan keluarga yang lebih tua dan seorang pemuka agama setempat. Adalah Arini, perempuan yatim piatu yang tinggal dengan kakaknya. Arini adalah seorang janda berusia 25 tahun tanpa anak yang berprofesi sebagai sales alat rumah tangga yang terbilang masih tetangga sendiri.

“Ayah menikah, tidak ada niatan menghapus kenangan tentang ibu kalian. Tolonglah ayah, ijinkan ayah.”

Dan pernikahan itu pun terjadi, menyulut kecewa di hati ke tiga anak pak Ridwan yang tidak pernah benar-benar ikhlas atas pernikahan ke dua ayah mereka. Terutama Intan, dengan sentimen khas perempuan yang seakan membuat rumah mereka haram dimasuki Arini walau telah sah menjadi ibu tiri mereka.

Setelah menikah, Arini nyaris tidak pernah menginjakkan seujung kuku pun di rumah terlarang milik suaminya, ia takut jika keberadaannya mengusik kenangan Bu Linda, mendiang istri suaminya. Arini tetap di rumah kakaknya, dan ia berhenti bekerja, fokus pada kewajibannya mengurus rumah tangga. Tuduhan tak berdasar yang mengatakan bahwa ia wanita yang suka jalan-jalan dan hura-hura hanya disimpannya dalam hati saja.

Sampai kemudian si kecil Rafa terlahir dan kondisi kesehatan pak Ridwan kian menurun. Rafa kecil yang mewarisi kemiripan fisik 99% seperti ayahnya tetap tak bisa meluluhkan kekakuan hubungan Arini dan ke 3 anak tirinya, malah Intan terlihat semakin tak menyukai Arini dan Rafa.

Keberadaan Arini dan Rafa sebagai anggota keluarga yang tidak diakui membuat pak Ridwan menyimpan sesal tersendiri, meski keluarga yang lain seperti saudara dan ipar serta tetuha dalam keluarga besar mereka telah menerima dan berusaha memberi pengertian pada Intan, Andi dan Rudi, semua tetap tak digubrisnya dan semakin membuat Arini dan Rafa seperti musuh dan racun dalam kehidupan mereka.

Sampai hari itu tiba, dua hari sebelum kematiannya, pak Ridwan tidak bisa masuk untuk bekerja sebagai kepala sekolah di sebuah SMA Negeri, beliau kelelahan setelah mengalami tiga kali sesak napas.

“Ayah istirahat aja kalo masih sakit.” seru Arini.

“Iya dik, kamu mau ke pasar? Belikan aku buah atau kue yang biasa ya. Aku mau istirahat di rumah saja,” Terdengar napas berat pak Ridwan, beliau masuk lewat pintu belakang rumahnya yang berdekatan dengan rumah kakak Arini, pagi itu semua anak pak Ridwan telah berangkat kuliah dan bekerja.

Sepulang dari pasar, Arini memasak sup di rumahnya, setelah selesai menjelang tengah hari, ia berniat menyuruh suaminya untuk makan siang.

Dari pintu belakang ia langsung masuk ke rumah suaminya karena ke 3 anaknya belum pulang. Saat masuk ke kamar, Arini mendapati tubuh suaminya dalam keadaan telungkup dan tak bernyawa. Ia panik dan histeris, tubuh itu telah mulai mendingin, dan tak ada seorang pun yang tahu kapan pak Ridwan menghembuskan napas terakhirnya. Pria paruh baya yang dikenal ramah dan baik hati itu meninggal seorang diri dalam kamarnya yang sunyi.

Saat ke tiga anaknya datang dan mengangkat tubuh yang telah diambil sari kehidupannya itu, hanya tinggal sesal dan airmata yang tersisa tak sempat mewujudkan harapan sang Ayah agar mereka dapat menerima dan hidup rukun bersama Arini dan Rafa.

Udara menguarkan aroma duka yang kental saat pelayat berdatangan, gema tahlil dan ayat al Qur’an yang dilantunkan bercampur dengan suara isakan dan tangis kehilangan.

ANTARA HARAPAN DAN REALITA CINTA (REVIEW DRAMA KOREA CUNNING SINGLE LADY)

cunning-single-ladymbc201.jpg
Drama Korea Cunning Single Lady
(Foto dari: es.drama.wikia.com)

“Manusia bukanlah manusia bila tak mengalami perubahan.”

“Wanita punya dua kesempatan untuk sukses. Yang pertama; melalui usaha dan jerih payah sendiri, ke dua: menikah dengan pria mapan/kaya.”

“Bagaimana seseorang bisa mencintai tanpa dibiayai?”

Itu adalah beberapa kata kutipan yang saya ambil dari drakor ini. Sebuah drama yang paling saya nanti-nantikan di layar kaca sepanjang tahun 2014 ini (beruntung, akhirnya ditayangkan juga di sebuah stasiun TV swasta lokal; BanjarTV), karena saya dapat kembali menyaksikan akting cool yang mumpuni dari aktor negeri ginseng idola saya (siapa lagi kalau bukan) Joo Sang Wook (di drama ini Oppa berperan sebagai Cha Jung Woo).

ceo-cha-jsw1313.jpg
CEO keren Cha Jung Woo
(Foto dari: pearlsides19.rssing.com)

Drama ini kalau saya boleh bilang bisa diberi stempel ‘saya banget’ karena menceritakan tentang pasangan menikah yang membina rumah tangga dengan segala romantika, cinta, dan masalah kehidupan sampai kemudian si istri (Na Ae Ra) terpaksa meminta cerai karena tak tahan lagi menanggung kesulitan hidup akibat ambisi sang suami (Cha Jung Woo) yang berhenti jadi pegawai negeri dan hendak jadi bisnisman.

Dari sanalah segalanya bermula, selama 4 tahun pernikahan, Ae Ra diharuskan bekerja keras mati-matian, hutang modal sana sini untuk membantu suaminya dalam merintis bisnis jejaring sosial yang tengah diusahakannya.

Tapi untung belum dapat diraih dan kemalangan datang silih berganti. Ae Ra yang kelelahan setengah mati dan telah kehilangan kesabarannya akibat tumpukan hutang dan biaya hidup yang harus ditanggungnya, akhirnya menyerah dan merekapun berpisah. Walau masih saling mencintai dan sama-sama sakit hati, toh hidup masih harus diteruskan.

3-cunning-single-lady-sly.jpg
Cha Jung Woo sebelum jadi CEO (culunnya lebay gak ketulungan)

3 tahun kemudian pasca perceraian, mereka bertemu kembali dan alangkah terkejutnya Ae Ra ketika mendapati mantan suaminya telah berubah drastis seratus delapan puluh derajat, yang dulunya culun, cupu dan gaje gitu sekarang telah jadi keren dan tampan abis dengan stelan tuksedo dan jas mahal yang berpotensi meningkatkan denyut jantung, menggetarkan tulang belulang dan meremukkan sendi-sendi kaum hawa (termasuk sayah, hahaha. . .)

Dan yang paling hebatnya lagi adalah Cha Jung Woo kini telah sukses besar dan telah jadi seorang CEO di perusahaan Soft D &T Ventures dengan produk aplikasi jejaring sosial andalannya; Dontalk.

Maka ternganga, pangling dan terperangahlah Ae Ra yang hidupnya masih berkutat jadi karyawan toko yang selama 3 tahun terakhir ini menghabiskan hidupnya untuk melunasi pinjaman yang pernah digunakan mantan suaminya untuk bisnisnya yang kini telah sukses besar itu.

Ae Ra tidak rela atas segala cucuran darah, keringat dan airmata yang telah ia lalui bertahun-tahun ini. Ia ingin mantan suaminya tahu diri, berterima kasih dan minta maaf padanya. Tapi itu tak mudah, Cha Jung Woo yang juga merasa sakit hati dan menganggap Ae Ra wanita serakah yang mata duitan, telah berubah menjadi sosok yang arogan, dingin dan tak berperasaan.

Lalu akan kemanakah harapan cinta dan egoisme Ae Ra dan Cha Jung Woo bermuara??


Drakor bergenre komedi romantis ini sarat akan nilai-nilai kehidupan, membuat saya jadi terpekur sendiri merenungi kehidupan rumah tangga saya yang telah (alhamdulilah) berjalan sepuluh tahun ini. Setiap kehidupan pernikahan yang dibangun atas nama cinta pasti memiliki harapan indah dan cita-cita masa depan, dan jalan yang dilalui tak pernah semulus yang kita bayangkan.

Bahwa ternyata dalam hidup penuh hal-hal tak menyenangkan yang sering terjadi. Saat hal-hal baik menghampiri, justru di saat kita bukan bagian dari situasi itu lagi. Dan kita tak berhak untuk merasa punya andil atas segalanya.

Ada kalanya kegagalan bukan lagi suatu kesuksesan yang tertunda, tapi kegagalan kita adalah bisa jadi salah satu faktor penyebab atas kesuksesan orang lain. Karena kebaikan dan budi yang pernah kita perbuat tempo hari bukan semacam benda atau piutang yang mesti kita minta lunasi di dunia ini. Dan kita tak bisa (baca: tak boleh) memaksa orang yang telah kita tolong/bantu untuk berterima kasih atau membalas budi.

Hah. . . Jadi sentimentil sendiri dan mendadak sok idealis dan dramatis juga kalau sudah menikmati tontonan yang beginian. Biasalah ibu-ibu, kalau sudah ketemu drama udah kayak ikan bakar ketemu cocolan sambel terasi; p a s dan k l o p bingitz. Wkwkwkwk. . .

KITA MASIH HARUS TURUN KE JALANAN

Kita masih harus turun ke jalanan.

Menyalakan pelita harap di tengah deru jalan raya. Menadahkan tangan pada sebarisan kendaraan yang lalu lalang, melesakkan panah mimpi ke tengah jantung kota ini.

Kita masih harus turun ke jalanan.

Menepiskan gerimis sekalipun ia menjelma badai. Menerobos hujan, walau ia nanar membekukan sejuta kesempatan. Di pagari garis suratan yang membiru malamkan segala kehidupan pinggiran. Mata-mata yang nyalang tak lagi peduli malam atau pun siang.

Kita masih saja berhimpitan dalam gerbong-gerbong kelas ekonomi. Atau berjejeran menyenandungkan serenade anak jalanan di sepanjang trotoar kehidupan. Dan mungkin masih mengiris sebentuk tangis di bawah jembatan yang ditinggalkan.

Kita masih harus turun ke jalanan.

Mengkiblatkan wajah pada ruang-ruang pengap di sudut peradaban. Mengerotiskan tarian-tarian permisif atas segala kesopanan, dari bar ke bar. Sebagian juga kerap berbuka paha menjanjikan keriuhan surga.

Sementara seniman-seniman penabuh genderang kaleng masih merapalkan nyanyian kemarin. Di setiap perempatan lampu merah, mata-mata tak berdosa yang mulutnya beraroma lem kimia, berlarian mengitari jalan menyongsong mobil sedan seorang anggota dewan.

Kita masih harus turun ke jalanan.

Menggelar baliho, pamflet dan ratusan selebaran. Sibuk mengkritisi penguasa yang telah kita pilih tempo hari.

Menghujat kemelaratan yang masih setia bergelayut manja di leher kita. Atau sekadar berebut bantuan beberapa liter beras untuk makan.

Kita masih memetakan arah perjalanan panjang ini, masing-masing bersaing dalam kiprah tak kenal kompromi. Kau bisa saja leluasa menjual anak-anakmu, atau menggadaikan harga dirimu. Pun mungkin aku bisa saja sejenak menjelma kanibal pemangsa sesama.

Kita masih harus turun ke jalanan.

Menyalakan pelita harap di tengah deru jalan raya. Mensiasati nasib yang seakan enggan memihak kemiskinan. Masih bergerilya di belantara kota, yang menyamarkan berjuta wajah kita. Masih di bawah lampu jalanan, memberhalakan hasrat para bidadari panggilan.

Tak mengapa jika mesti terlena pada sebotol air mineral di oplos alkohol dan cairan pembasmi nyamuk, atau mau teler dengan racikan obat batuk. Ini malam adalah sudah serba terserah, semua sah !! Atau kau mau menangis ? Seperti seorang remaja di ujung gang sana yang barusan diapeli pacarnya, dan kehilangan miliknya yang paling berharga.

Atau dia, seperti pria separuh wanita yang kerap menyibukkan diri minta kesetaraan dan penerimaan yang selayaknya manusia.

Kita masih harus turun ke jalanan. . .

Menyaksikan anak-anak bumi ini yang tengah membuat sejarah mereka sendiri. Yang tak tersentuh tangan nyaman kelayakan hidup. Yang tak terjamah tangan bijaksana pendidikan. Mereka telah melampaui batas mampu kepapaan yang tak punya apa-apa. Tapi jalanan telah begitu baik pada mereka. Di sana bisa hidup, sekolah, makan, menjalin harapan, berteman, menjelma preman, di jalanan kita bebas berkembang biak, membuat anak dan beranak.

Dan sesekali lampu merah berwarna serupa darah.



Note:
Puisi satire ini tertanggal 28 Oktober 2013 tahun lalu, saya posting ulang karena terasa sangat relevan dan pas timingnya di saat-saat seperti ini.

15 TAHUN JADI KORBAN SANDERA KREDIT BURUKNYA KWALITAS PERUMAHAN RAKYAT

Saya bertempat tinggal di sebuah kecamatan yang memiliki beberapa desa yang kemajuannya berkembang pesat. Kecamatan Gambut Kabupaten Banjar provinsi Kal Sel tepatnya.

Dekat dengan kota Banjarmasin membuat wilayah kami cukup ramai dan maju walau mayoritas masyarakat desa adalah petani padi tradisional. Di Desa Kayu Bawang, Malintang Baru dan sekitarnya, geliat kemajuan itu sudah terasa dengan dibangunnya sebuah jalan tol jalur lintas provinsi yang membelah desa membuat akses kendaraan dan mobilitas penduduk menjadi lebih mudah.

Selain sarana prasarana jalan, pembangunan komplek-komplek perumahan rakyat juga menjamur di desa kami. Perumahan-perumahan tipe sederhana itu menjadi mimpi manis bagi rakyat jelata yang mendambakan tempat tinggal layak, memadai, murah dan cepat huni. Jika dibandingkan menyewa atau mengontrak rumah (yang biaya bulanannya tidak beda jauh) maka kredit perumahan terasa lebih dapat memberi harapan ke depan untuk memiliki hunian idaman.

Uang muka pun bisa dibilang cukup terjangkau untuk kalangan menengah ke bawah, dengan rupiah 5-20 juta dan cicilan bulanan 5 ratus ribu-1 juta selama 15 tahun kita sudah dapat memiliki rumah siap huni, malah dari iklannya di tepi jalan ada yang tanpa uang muka.

Kedengarannya mudah dan cukup menggugah, impian memiliki rumah sendiri bisa terrealisasi. Tapi ternyata, harga murah seringkali sebanding dengan kwalitas yang rendah. Perumahan rakyat ternyata menyimpan sejuta masalah. Mulai dari kayu pondasi bangunan rumah yang tidak kuat, bergoyang jika diterpa angin (karena dibangun di areal persawahan, inipun sebenarnya aneh, siapa yang memberi izin pembangunan di lahan produktif? Siapa yang akan bertanggung jawab akan dampaknya nanti?). Baru sebulan dihuni, sudah banyak ubin yang pecah dan retaknya dinding beton yang kebanyakan hanya plester semen tanpa batu bata.

Juga sengketa lahan kavling berlapis, surat menyurat yang bermasalah dengan pihak bank dan masih banyak lagi. Masalah semacam ini selalu menyertai dan seakan jadi momok menakutkan bagi pembeli perumahan. Tapi, kita orang kecil memang tak punya banyak pilihan, maka perumahan dengan segala kekurangannya tetap jadi idaman.

Bukan rahasia lagi, jika sebuah perumahan belum memadai, masih ada banyak hal yang harus diperbaiki dengan merogoh kocek sendiri. Yang paling sering adalah penambahan area dapur dan kamar mandi. Dan hampir bisa dipastikan 15 tahun kemudian saat kreditnya lunas, rumahnya diambang kehancuran dan perlu renovasi segera.

Seburuk itukah?

15 tahun itu bukan waktu sebentar, dan itu menandaskan uang yang tidak sedikit. Dari beberapa pengakuan teman-teman yang mengambil perumahan dan para tukang, jumlah harga kredit yang harus dibayarkan rasanya tidak sebanding dengan rumah yang didapatkan.

Mengingat daerah kami di area persawahan yang cukup rawan angin kencang, dan kayu-kayu bahan apkir borongan untuk pondasi rumah yang digunakan. Membuat saya berpikir, bahwa kita selaku konsumen tingkat bawah selalu diakali oleh permainan produsen yang menganut faham modal sekecil-kecilnya dan untung sebanyak-banyaknya tanpa memikirkan hak-hak konsumen. Hmm. . . Sistem ekonomi kapitalis.

Tak hanya sampai di situ, maraknya pembangunan perumahan di area persawahan ini juga telah memberi dampak buruk pada hasil pertanian lokal. Tahun ini lebih dari 70% sawah gagal panen karena hama, tikus, sampah/limbah rumah tangga dan sanitasi air yang memburuk dan rusaknya ekosistem. Saya heran, kok bisa-bisanya lahan produktif dialih fungsi jadi perumahan yang tumbuh tak terkendali. Dari mana ijinnya? Siapa penanggung jawabnya?

perumahan1.jpg

perumahan2.jpg

perumahan3.jpg

Lihatlah foto-foto di atas, padi yang menguning dinodai oleh putih biru perumahan yang berjejer membelah area persawahan. Swasembada pangan di daerah pertanian, kini tak akan terrealisasi di wilayah kami. Gambut Kindai Limpuar tinggal kenangan.



Kindai Limpuar= nama pasar di Gambut yang artinya “Lumbung Penuh/sesak/jebol” (karena dahulu daerah Gambut terkenal sebagai penghasil beras Siam Unus terbaik di Kalimantan Selatan)

STANDAR KESEMPURNAAN DAN KETERBATASAN MANUSIA

Dalam hidup, manusia punya cita-cita, impian, harapan-harapan dan target tertentu yang hendak dicapai. Manusia mematok standar tersendiri atas kiprahnya dan apa yg dilakukan di muka bumi ini.

Seperti seorang pelajar yang ingin mencapai nilai tertinggi di sekolah, atau seorang karyawan yang ingin cepat dapat promosi dan naik jabatan dan lain sebagainya.

Target-target yang (sengaja atau tidak) kita usahakan demi suatu pencapaian ini seringkali berbenturan dengan keterbatasan dan kekurangmampuan kita selaku manusia. Bisa jadi kurangnya potensi atau sumber daya yang kita miliki, atau benturan terhadap keadaan yang tidak bisa kita kendalikan.

Saya sendiri, walau cuma seorang ibu tak bekerja dan tak ada tuntutan mutlak untuk suatu pencapaian, amat sangat merasakan betapa menjeratnya standar kesempurnaan yang selama ini selalu saya coba terapkan di rumah.

Saya selalu berusaha membereskan segalanya tepat waktu dan pas pada tempatnya. Saya ingin rumah saya selalu bersih walau telah punya anak, saya ingin menyiapkan segala kebutuhan orang serumah (ada suami, anak dan mertua juga) dengan tangan saya sendiri. Saya ingin selalu cucian bersih rapi dan wangi, saya bisa kesal setengah mati ketika handuk basah pasca mandi tergeletak di atas kasur. Hal-hal remeh yang ternyata memusingkan kepala itu membuat saya terobsesi, tapi saya belum menyadarinya dan saya masih mampu-mampu saja melakukan segalanya tepat waktu.

Sampai kemudian segalanya berubah ketika anak ke dua saya lahir, almh mertua sering sakit dan kesibukan saya sebagai ibu semakin bertambah. Saya semakin histeria dan kerap marah tanpa sebab, sering sedih ketika melihat rumah berantakan. Sering merasa gagal sebagai istri dan ibu. Apalagi ketika si bungsu tambah besar dan semakin aktif di usia 8 bulan, si kakak masuk SD dan kita baru saja menghadapi kematian ibu mertua.

Pada akhirnya otak dan tubuh saya protes terhadap standar yang saya patuhi bertahun-tahun (saya sering mencuci dan membereskan urusan dapur saat tengah malam sampai dini hari, mengorbankan waktu tidur yang amat berharga hanya agar besoknya segalanya beres). Saya terkena maag akut seminggu penuh tanpa sebutir nasipun bisa masuk ke perut saya dan semakin stres ketika dalam kondisi sakit itu rumah jadi seperti kamp pengungsian dan cucian menumpuk di mana-mana.

Percakapan dengan seorang tetangga akhirnya semakin menyadarkan saya, bahwa ada banyak hal yang tak selalu bisa kita kendalikan, tak semua kelakuan anak-anak harus dikomentari, kita harus lebih banyak belajar diam, mendengarkan dan memperhatikan.

Akhirnya saya benar-benar membuang jauh-jauh standar kesempurnaan dalam rumah saya. Saya tak akan lagi sakit hati hanya karena mainan yang baru dibeli dengan uang itu dirusak anak-anak.

Di usia si sulung 10 tahun dan si bungsu 4 tahun (parahatan haharatannya jar urang tu), sekarang sudah biasa;

Rumah berantakan seperti kapal dihantam gelombang pasang purnama, anak-anak saling bertengkar, menangis dan kadang mengamuk karena cidera selama bermain atau persaingan antara kakak dan adik yang tidak seimbang.

Mainan-mainan dibeli hanya untuk kemudian ‘diakali’ oleh kreatifitas yang cukup mencengangkan (kalau tak bisa dibilang merusak), ‘modifikasi aneh’ yang mengganggu pada perkakas rumah tangga dan perangkat elektronik sampai tak bisa difungsikan lagi, terkadang mengkonsumsi makanan-makanan ringan dan fast food yang kurang baik bagi kesehatan, bila pagi hari rumah dibuat ramai seperti lapangan konser. Euforia dan teriakan seperti suporter pemain bola terjadi setiap hari, tanpa henti.

Terus memikirkan hal-hal yang tidak dapat selalu kita bereskan hanya menambah beban pikiran.

Jadi, santai aja lah, enjoy this ‘sweet horrible’ moment.

Dan saat menulis ini saya menikmatinya sebagai me time yang cukup membahagiakan bagi seorang ibu rumah tangga seperti saya ini, dan mencoba untuk cuek sejenak pada beberapa pekerjaan harian rumah dan dapur yang saya biarkan terbengkalai sebentar. Mencoba untuk tak terlalu mencemaskan tekanan hari Senin besok. Serta terus belajar menstabilkan emosi di tengah kelabilan ekonomi hidup ini.

‪#‎ lovemykids
‬ ‪#‎ notperfectmom