STANDAR KESEMPURNAAN DAN KETERBATASAN MANUSIA

Dalam hidup, manusia punya cita-cita, impian, harapan-harapan dan target tertentu yang hendak dicapai. Manusia mematok standar tersendiri atas kiprahnya dan apa yg dilakukan di muka bumi ini.

Seperti seorang pelajar yang ingin mencapai nilai tertinggi di sekolah, atau seorang karyawan yang ingin cepat dapat promosi dan naik jabatan dan lain sebagainya.

Target-target yang (sengaja atau tidak) kita usahakan demi suatu pencapaian ini seringkali berbenturan dengan keterbatasan dan kekurangmampuan kita selaku manusia. Bisa jadi kurangnya potensi atau sumber daya yang kita miliki, atau benturan terhadap keadaan yang tidak bisa kita kendalikan.

Saya sendiri, walau cuma seorang ibu tak bekerja dan tak ada tuntutan mutlak untuk suatu pencapaian, amat sangat merasakan betapa menjeratnya standar kesempurnaan yang selama ini selalu saya coba terapkan di rumah.

Saya selalu berusaha membereskan segalanya tepat waktu dan pas pada tempatnya. Saya ingin rumah saya selalu bersih walau telah punya anak, saya ingin menyiapkan segala kebutuhan orang serumah (ada suami, anak dan mertua juga) dengan tangan saya sendiri. Saya ingin selalu cucian bersih rapi dan wangi, saya bisa kesal setengah mati ketika handuk basah pasca mandi tergeletak di atas kasur. Hal-hal remeh yang ternyata memusingkan kepala itu membuat saya terobsesi, tapi saya belum menyadarinya dan saya masih mampu-mampu saja melakukan segalanya tepat waktu.

Sampai kemudian segalanya berubah ketika anak ke dua saya lahir, almh mertua sering sakit dan kesibukan saya sebagai ibu semakin bertambah. Saya semakin histeria dan kerap marah tanpa sebab, sering sedih ketika melihat rumah berantakan. Sering merasa gagal sebagai istri dan ibu. Apalagi ketika si bungsu tambah besar dan semakin aktif di usia 8 bulan, si kakak masuk SD dan kita baru saja menghadapi kematian ibu mertua.

Pada akhirnya otak dan tubuh saya protes terhadap standar yang saya patuhi bertahun-tahun (saya sering mencuci dan membereskan urusan dapur saat tengah malam sampai dini hari, mengorbankan waktu tidur yang amat berharga hanya agar besoknya segalanya beres). Saya terkena maag akut seminggu penuh tanpa sebutir nasipun bisa masuk ke perut saya dan semakin stres ketika dalam kondisi sakit itu rumah jadi seperti kamp pengungsian dan cucian menumpuk di mana-mana.

Percakapan dengan seorang tetangga akhirnya semakin menyadarkan saya, bahwa ada banyak hal yang tak selalu bisa kita kendalikan, tak semua kelakuan anak-anak harus dikomentari, kita harus lebih banyak belajar diam, mendengarkan dan memperhatikan.

Akhirnya saya benar-benar membuang jauh-jauh standar kesempurnaan dalam rumah saya. Saya tak akan lagi sakit hati hanya karena mainan yang baru dibeli dengan uang itu dirusak anak-anak.

Di usia si sulung 10 tahun dan si bungsu 4 tahun (parahatan haharatannya jar urang tu), sekarang sudah biasa;

Rumah berantakan seperti kapal dihantam gelombang pasang purnama, anak-anak saling bertengkar, menangis dan kadang mengamuk karena cidera selama bermain atau persaingan antara kakak dan adik yang tidak seimbang.

Mainan-mainan dibeli hanya untuk kemudian ‘diakali’ oleh kreatifitas yang cukup mencengangkan (kalau tak bisa dibilang merusak), ‘modifikasi aneh’ yang mengganggu pada perkakas rumah tangga dan perangkat elektronik sampai tak bisa difungsikan lagi, terkadang mengkonsumsi makanan-makanan ringan dan fast food yang kurang baik bagi kesehatan, bila pagi hari rumah dibuat ramai seperti lapangan konser. Euforia dan teriakan seperti suporter pemain bola terjadi setiap hari, tanpa henti.

Terus memikirkan hal-hal yang tidak dapat selalu kita bereskan hanya menambah beban pikiran.

Jadi, santai aja lah, enjoy this ‘sweet horrible’ moment.

Dan saat menulis ini saya menikmatinya sebagai me time yang cukup membahagiakan bagi seorang ibu rumah tangga seperti saya ini, dan mencoba untuk cuek sejenak pada beberapa pekerjaan harian rumah dan dapur yang saya biarkan terbengkalai sebentar. Mencoba untuk tak terlalu mencemaskan tekanan hari Senin besok. Serta terus belajar menstabilkan emosi di tengah kelabilan ekonomi hidup ini.

‪#‎ lovemykids
‬ ‪#‎ notperfectmom

Advertisements

16 thoughts on “STANDAR KESEMPURNAAN DAN KETERBATASAN MANUSIA

  1. Assalamualaikum….

    Bnr bgt apalagi saat pengen ngerjain atau beresin urusan rumah, bdn dh cpek bgt yg bikin mood jg ilang buat berbenah.

    #jd ingt dg tumpukan baju yg belum sempat kulipat.

    Like

  2. Terkadang apa yg menjadi keinginan mulia kita banyak kendala yg harus kita hadapi. Ada yg bs kita capai namun juga ada yg belum. Memang hidup ini tak lepas dari problem. Namun kt hendaknya sadar bahwa masalah itu harus dihadapi dgn mencari solusi bukan menghindari masalah dan lari dari kenyataan.

    Like

  3. hmm..hidup memang sprti itu ya mba..klo di bikin ribet bs seribet yg kita pikirin, bgtu jg sbaliknya d bikin asyik pst asyik jg mski terkadang bnyak menemukan kendala..
    Ga kbyang klo lihat pengalamnya jd ibu RUmah Tangga, blm kelar ngurus suami dn anak dihadapin lg dgn mengurus dn mmbereskan hal2 kecil di rumah..hmm..:oops: berat.. tp memang hrs dijalani, mski sering mengeluh tp itu sdh mnjd kewajiban jg ya..so..selamat menikmati hidup smoga aja apa yg menjdi standart kesempurnaan bs sdkitnya tercapai mski ga spnuhnya trpenuhi.. :mrgreen:

    Like

  4. Memang sprti itu mjd seorg ibu RT . Saya &hampir ada ksamaan kadang klu d pkir krjnya gtu2 aja tp klu d trutin g akn ada habisnya. Itu yg bkin kt sencitif d kala saat debat dgn suami awalnya bcanda tp klu udh mnyangkut krjn rmah pinginya berontak. Jstru mlah mrasa drmah seolah2 gda harganya sm sekali. Padahal drmah cape lwar dlm. Klu brantakan cm mainan bwt sy g masalah. tp kadang kan krjaan yg blm d pegang trlhat brantakan jdnya puyeng. D tambah udh cape jrang kluar rmh pling klwar sprlunya aja mlah d gunjingin org d kata ngurung d kata gmw brgaul. Iju jg mningkatkan emosi saya &plampiasan emosi adlah org2 drmah. Ada sbaian ibu RT yg g pduli krjn rmh krjanya ngrumpi nggunjingin org g masak cari gampangnya aja tgal beli. Kadang aq ngrasa lelang dgn smua ini. Tp klu kt jlanin dngan iklas tnpa beban pikiran smuanya akn trasa indah ko. Klu sya inzaalah iklas jalanin ini smua. Aq akan trus brusaha krna itu slah1 caraku brbakti kpada suami. Wlau kadang suami srasa krang memahami.

    Like

  5. Memang sprti itu mjd seorg ibu RT . Saya & mba hampir ada ksamaan kadang klu d pkir krjnya gtu2 aja tp klu d trutin g akn ada habisnya. Itu yg bkin kt sencitif d kala saat debat dgn suami awalnya bcanda tp klu udh mnyangkut krjn rmah pinginya berontak. Jstru mlah mrasa drmah seolah2 gda harganya sm sekali. Padahal drmah cape lwar dlm. Klu brantakan cm mainan bwt sy g masalah. tp kadang kan krjaan yg blm d pegang trlhat brantakan jdnya puyeng. D tambah udh cape jrang kluar rmh pling klwar sprlunya aja mlah d gunjingin org d kata ngurung d kata gmw brgaul. Itu jg mningkatkan emosi saya &plampiasan emosi adlah org2 drmah itu smua membebani pikranku. Tp Ada sbagian ibu RT yg g pduli krjn rmh krjanya ngrumpi nggunjingin org g masak cari gampangnya aja tgal beli. Kadang aq ngrasa lelah dgn smua ini. Tp klu kt jlanin dngan iklas tnpa beban pikiran smuanya akn trasa indah ko. Klu sya inzaalah iklas jalanin ini smua. Aq akan trus brusaha krna itu slah1 caraku brbakti kpada suami. Wlau kadang suami srasa krang memahami.

    Like

  6. @Arfy,

    iya, se7 bgt sama kamu. Saking kurang memahamix sampai berasa depresi diri ini, larut dlm pekerjaan tanpa akhr. Ckckck. . .

    Like

Leave a Reply to Arfy Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s