KEMATIAN DAN PENYESALAN

Suasana hening saat matahari tegak di atas cakrawala tiba-tiba terusik dan hingar bingar pecah oleh sebuah kabar berita kematian yang diumumkan lewat corong toa di sebuah mushalla yang berada di komplek perumahan itu.

Sontak orang berbisik-bisik dan bergumam kaget, serta merta para pelayat berduyun-duyun berdatangan menuju rumah almarhum.

Pak Ridwan, pria paruh baya yang dikenal ramah dan baik itu pergi untuk selama-lamanya meninggalkan kefanaan dunia, satu istri dan 4 orang anak. Serangan jantung, kabar itulah yang santer terdengar yang ditengarai sebagai penyebab atas kematiannya. Penyakit jantung itu telah menjadi teman akrab bagi pak Ridwan selama beberapa tahun belakangan ini.

Sampai kemudian penyakit itu pula yang membuat kondisi Pak Ridwan semakin lemah dan kerap sesak napas hingga tiba ajalnya, sesak itu bahkan kian bertambah saat keputusannya untuk menikah lagi, 4 tahun yang lalu, tepat setahun pasca kematian istri yang amat dikasihinya.

“Saya gak sudi Ayah kawin lagi, tidak dengan wanita itu!!” Seru Intan, anak ke dua pak Ridwan dengan sengit dan mata menyala. Ke dua tangannya bersidekap menyilang di depan dada.

“Dia terlalu muda Yah, dan sering keluyuran,” Andi, anak sulungnya menimpali.

Sedangkan Rudi, si bungsu yang masih kelas 1 SMP hanya manggut-manggut mengiyakan apa kata kakak-kakaknya.

Pak Ridwan menghela nafas panjang, beliau ingin menikahi wanita itu bukan karena keinginannya semata tapi juga atas saran keluarga dan tetangga, beliau telah beberapa kali urun rembug dengan keluarga yang lebih tua dan seorang pemuka agama setempat. Adalah Arini, perempuan yatim piatu yang tinggal dengan kakaknya. Arini adalah seorang janda berusia 25 tahun tanpa anak yang berprofesi sebagai sales alat rumah tangga yang terbilang masih tetangga sendiri.

“Ayah menikah, tidak ada niatan menghapus kenangan tentang ibu kalian. Tolonglah ayah, ijinkan ayah.”

Dan pernikahan itu pun terjadi, menyulut kecewa di hati ke tiga anak pak Ridwan yang tidak pernah benar-benar ikhlas atas pernikahan ke dua ayah mereka. Terutama Intan, dengan sentimen khas perempuan yang seakan membuat rumah mereka haram dimasuki Arini walau telah sah menjadi ibu tiri mereka.

Setelah menikah, Arini nyaris tidak pernah menginjakkan seujung kuku pun di rumah terlarang milik suaminya, ia takut jika keberadaannya mengusik kenangan Bu Linda, mendiang istri suaminya. Arini tetap di rumah kakaknya, dan ia berhenti bekerja, fokus pada kewajibannya mengurus rumah tangga. Tuduhan tak berdasar yang mengatakan bahwa ia wanita yang suka jalan-jalan dan hura-hura hanya disimpannya dalam hati saja.

Sampai kemudian si kecil Rafa terlahir dan kondisi kesehatan pak Ridwan kian menurun. Rafa kecil yang mewarisi kemiripan fisik 99% seperti ayahnya tetap tak bisa meluluhkan kekakuan hubungan Arini dan ke 3 anak tirinya, malah Intan terlihat semakin tak menyukai Arini dan Rafa.

Keberadaan Arini dan Rafa sebagai anggota keluarga yang tidak diakui membuat pak Ridwan menyimpan sesal tersendiri, meski keluarga yang lain seperti saudara dan ipar serta tetuha dalam keluarga besar mereka telah menerima dan berusaha memberi pengertian pada Intan, Andi dan Rudi, semua tetap tak digubrisnya dan semakin membuat Arini dan Rafa seperti musuh dan racun dalam kehidupan mereka.

Sampai hari itu tiba, dua hari sebelum kematiannya, pak Ridwan tidak bisa masuk untuk bekerja sebagai kepala sekolah di sebuah SMA Negeri, beliau kelelahan setelah mengalami tiga kali sesak napas.

“Ayah istirahat aja kalo masih sakit.” seru Arini.

“Iya dik, kamu mau ke pasar? Belikan aku buah atau kue yang biasa ya. Aku mau istirahat di rumah saja,” Terdengar napas berat pak Ridwan, beliau masuk lewat pintu belakang rumahnya yang berdekatan dengan rumah kakak Arini, pagi itu semua anak pak Ridwan telah berangkat kuliah dan bekerja.

Sepulang dari pasar, Arini memasak sup di rumahnya, setelah selesai menjelang tengah hari, ia berniat menyuruh suaminya untuk makan siang.

Dari pintu belakang ia langsung masuk ke rumah suaminya karena ke 3 anaknya belum pulang. Saat masuk ke kamar, Arini mendapati tubuh suaminya dalam keadaan telungkup dan tak bernyawa. Ia panik dan histeris, tubuh itu telah mulai mendingin, dan tak ada seorang pun yang tahu kapan pak Ridwan menghembuskan napas terakhirnya. Pria paruh baya yang dikenal ramah dan baik hati itu meninggal seorang diri dalam kamarnya yang sunyi.

Saat ke tiga anaknya datang dan mengangkat tubuh yang telah diambil sari kehidupannya itu, hanya tinggal sesal dan airmata yang tersisa tak sempat mewujudkan harapan sang Ayah agar mereka dapat menerima dan hidup rukun bersama Arini dan Rafa.

Udara menguarkan aroma duka yang kental saat pelayat berdatangan, gema tahlil dan ayat al Qur’an yang dilantunkan bercampur dengan suara isakan dan tangis kehilangan.

4 thoughts on “KEMATIAN DAN PENYESALAN

  1. cerpen fiksinya ringan, namun alur ceritanya membuatku terus ingin lanjutin bacanya. Ada pesan moralnya juga, wah john kampret pengen diajarin bikin yg seperti ini mbak.

    Like

  2. @eanreana,

    wa alaikumsalam.

    Xixixi. . . Ya gak lah, bahas soal poligami bisa bikin naik tensi.

    @john kampret,

    sy gak bs ngajarin org kang John, ini nulisx juga mood2an. Hehe. . .
    Maaf ya. .

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s