TENTANG DUA RIBU RUPIAH (Kenaikan BBM dan Derita Ibu Rumah Tangga)

Percaya atau tidak, di sini kita bisa membuat roket hanya dengan biaya dua ribu saja. Tak perlu inti sel nuklir dan bubuk mesiu.

Iya, roket dari selongsong peluru kosong si cabai busuk yang mendadak terbang ke langit lantaran kena imbas efek domino dari aliran licin minyak yang (justru) deras mengalir dari tempat rendah ke tempat tinggi. Mengkhianati sifat asli bawaan lahir dari material cairan yang mestinya meluncur ke bawah.

Kalkulator dan neraca timbangan harian tiba-tiba hank bin error gara-gara angka yang dikalkulasi tak mencukupi untuk apa yang mesti dibeli hari ini.

Padahal toh ‘cuma dua ribu’ ini. Yang konon kata mereka rokok sekian puluh ribu masih kebeli, shabu sekian ratus ribu masih sarat peminat, pulsa pol dan kuota akses dunia maya gak ada habisnya. Kok minyak yang cuma naik sekian ribu protesnya gak ketulungan??

Ada yang tega bilang begitu??? Ada, banyak! Tapi tahukah mereka kalo 2 ribu itu bisa menjadi radang bisul bengkak hampir nyaris pecah berdarah-darah ketika dihadapkan pada berapa harga beras perliternya untuk saat ini? Apa masih bisa makan ikan dan sayuran juga buah-buahan, atau susu kalengan??

Standar makanan empat sehat lima sempurna bisa jadi masih mimpi bagi sebagian orang yang selama ini cukup lapangdada nrimo untuk tak mengkonsumsi daging cukup berlauk tempe dan sambal terasi saban hari. Dan kini tempe dan terasi pun mesti naik jadi roket? How could it be??

Sementara di rumah ada beberapa mulut yang mesti disumpal nasi. Ada beberapa pasang mata yang mesti dijaga agar tak berangkat ke alam mimpi dengan perut tak terisi.Tak bisa dunk jika hanya memandang orang yang masih bisa beli rokok, pulsa atau sesekali jajan shabu tapi protes soal si dua ribu! (emangnya umat serepublik ngrokok dan nyabu semua??)

Empatinya manaaaaa???

Di luar sana masih ada jutaan jelata yang upah kerja hariannya jauh di bawah UMR. Masih banyak tulang punggung keluarga yang tulang belakangnya nyaris patah lantaran terlalu berat menanggung beban kehidupan, masih banyak buruh serabutan dan pekerja kasar yang terpaksa menjadikan kepala sebagai kaki demi untuk tetap hidup dan benapas tiap hari. Dan di sini, saban hari di pasar pagi ada ratusan ibu-ibu yang mesti pintar-pintar mengeluarkan jurus aji pengiritan paling mandraguna untuk mencukupkan hitungan segala kebutuhan harian.

Ibu-ibu rumah tangga selalu ada stand by di garda terdepan dari dampak roket seharga dua ribu ini. Bagai euforia petasan nyasar yang meledak memancar di malam tahun baru dan lebaran, mengagetkan, mengejutkan, membuat kita mesti rajin mengurut dada yang kembang kempis menyadari bahwa ‘isinya’ menjadi ‘satu-satunya (atau dua-duanya) benda yang mengalami penurunan’ seiring kenaikan segala harga dan bertambahnya usia. Mencari adakah kesabaran yang masih tersisa?

Dan hampir pasti, sudah barang tentu, di bulan-bulan berikutnya ibu-ibu ini mesti berhadapan dengan meroketnya segala varian iuran bulanan. Mulai dari iuran listrik yang sering byar pet, mati nyala bisa sampai 3 kali sehari macam orang minum obat pilek resep andalan dari puskesmas. Atau iuran air bersih yang kerap ngadat di jam-jam prime time macam sinetron kebanyakan iklan, proses pengurasan tiada kabar berita, tahu-tahunya kita bisa memancing di air keruh beraroma cairan antiseptik.

Telat bayar, denda!
Telat 3 bulan, hamil! Eh.

Canggihnya 2 ribu ini bisa membuat segalanya jadi roket, melesat tak terkendali, dengan perbandingan bisa dua kali lipat. Turunan nenek moyang kita orang pelaut, para nelayan kini mikir buat pergi ke laut. Karena udah gak mungkin kapal bakal jalan jika hanya mengharap angin yang tak tentu arah. Biaya operasional yang tadinya sekian tiba-tiba membengkak jadi 2 sampai 3 kali sekian.

Organda sibuk protes di mana-mana, mogok gak kemana-mana karena kenaikan tarif yang ditetapkan sekian persen membuat merugi. Sebab ibu-ibu yang saban hari naik angkot, sekarang lebih memilih buat jalan kaki karena itu termasuk di dalam buku jurus aji pengiritan bab satu.

Semua karena roket buatan seharga dua ribu.

Pemikiran sederhana orang biasa tak peduli dan tak bisa memahami jika pengalihan subsidi untuk kemaslahatan rakyat juga. Bisa untuk peningkatan sarana dan layanan kesehatan, pembangunan infrastruktur, pendidikan dan lain sebagainya.

Sebuah logika rakyat paling sederhana ya BBM naik everything naik, tensi naik. Buntutnya ya ngiriiiit. . . Membuat anak lari terbirit-birit ketika mau minta jajan emaknya gak ada lagi duit dan lempar sendal ke parit.

TENTANG DUA RIBU RUPIAH (Kenaikan BBM dan Derita Ibu Rumah Tangga)

15 thoughts on “TENTANG DUA RIBU RUPIAH (Kenaikan BBM dan Derita Ibu Rumah Tangga)

  1. Orang yg bilang "Harga rokok yang puluhan ribu aja bisa kebeli, bensin naik dua ribu aja kok ribut "..
    itu menurut saya orang yang tak mampu melihat sesuatu dari sudut pandang yg berbeda.

    Perlu di ketahui,, Harga rokok naik, belum tentu di ikuti naiknya harga lombok. Dan lagi, tidak semua orang di negeri ini yang merokok.
    Tapi jika harga bensin yg naik, sudah di pastikan harga terasi pun ikut naik. Belum lagi harga kebutuhan sehari hari yg lain.
    Terutama kebutuhan makan. Dan semua bahan makanan pun juga ikut naik.

    Tapi…. Selagi kita masih tetap mau berusaha, Insya Allah semua kebutuhan bisa teratasi..
    Semoga….

    Like

  2. wah wah wah, penjabaranya menggebu2, yg syarat akan kontra thdp roket rp 2rb. . .

    Tp ditempatku kbutuhan pkok msh tetap bund..

    Iya tetap,

    jurus aji pengiritan tetap di pakai. . .hahaduh nasibe wong cilik bund. . .

    Like

  3. Sejak jaman orde baru sampai sekarang pada jaman orde paling baru, masyarakat kita memang sudah terlalu dimanjain dengan subsidi. Efeknya baru terasa ketika pemerintah kita mencabut subsidi tadi. Semoga masih bisa ke beli berapapun harga kebutuhan pokok itu meroket naik. Mudah2an deh…

    Like

  4. Udah nikmatin aja hidup ini walaupun bbm naik tp ada sisi positifnya kok. Kyk byk orang yg memilih trans. Umum bwt pergi kemana2, trus jalan mulai lancar dan jarang macet. Akibat buruknya ya seper post agan di atas:up: hehehe:mrgreen:

    Like

  5. Assalamualaikum…

    Walaupun tak mengatasi masalah yg sedang dihadapi krn semua harga pada naik, semoga uneg2 yg tertumpah di atas bs memberi sedikit kelegaan.

    Ntar ajarin aku jurus jd ibu RT yg jitu ya!?

    Like

  6. Ya allah mbak, keren banget kata-katamu. Aku bisa ngerasain marah, kesal, kecewa, sedih dari opini ini.
    Aku sih gak terlalu begitu mengerti xD wkwk. Tapi aku juga setuju kalau dua ribu itu imbasnya kemna-mana

    Like

  7. Ya sbnrn'y bkan mslah 2rb'y. Kadang tnpa kt ktahui ada mafia d lwar sana yg memanfaatkan dampak 2rb itu. Emg berat bwt sy apa lg sy seorg ibu RT+miss irit. Udh irit ttp aja leher kecekik. Satu2'y snjata yg pling ampuh adlah, Kt hadapin dgn sabar. Mnsyukuri yg pnting prut kt msh bs kenyang anak2 msh bs jajan. Brdo'a smg slu d bri ksehatan. Ini cm cobaan jgn smpe kt lupa iman. Prcaya aja dgn mluncur'y roket dr kjauhan bs trlhat cahaya indah. Mdah2n dng pngalihan subsidi bs tpat sasaran'y. Mjd imbas baik bwt org2 yg slma ini trabaikan oleh pmrintah. Bismilah.ALLAHuma amiiiin….

    Like

  8. Jiah, si embak salah besar tentang cabe, cabe itu stok terbatas setiap menjelang musim hujan, baru pd nanem, nih ane baru saja nanem mg aja harga cabe gak anjlok ntar, wkwk :mrgreen:

    Like

  9. @Arfy,

    amin ya rabbal alamin. . .

    Bnr bgt, dr roket yg naik ada chya yg indah.
    Tetap brsyukur. Smoga.

    Like

  10. Jadi setuju sama @Ronggolawe. Penggambaran tentang lombok yang meroket gara-gara bbm naik kurang pas. Kalau stoknya menipis, sekalipun harga bbm turun, harga lombok tetap meroket.

    Saya termasuk orang kere yang disebutkan di atas. Tapi menurut saya, gak ngaruh tuh bbm mau dinaikin berapa saja. Bahkan 100rb per liter. Tetap gak ngaruh. Maksudnya, ya tetap kere. Asik.

    Like

  11. @Kayana,

    wah hebat tuh kalo gak ngaruh walau sampe 100 ribu/ltr. Tp bs jd kerex naik pangkat jd kere super atawa kere banget. Xixixi. . .

    Like

Leave a Reply to John Kampret Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s