TAHUN BARU MASEHI, NGAPAIN AJA?

Tahun Baru Masehi, Ngapain Aja??

1 Januari 2015 tinggal dalam hitungan jam, hampir bisa dipastikan suasana riuh dan gegap gempita dalam menyambutnya.

Saya jadi teringat tahun lalu di akun FB ada sebuah foto yang diupload seorang remaja. Dalam foto itu ada dua remaja perempuan dan dua remaja laki-laki, mungkin pasangan pacaran. Tulisannya “get ready” kalau tak salah. Dan yang paling saya ingat adalah 2 remaja gadisnya memakai kaos lengan pendek hitam dan celana jins super pendek yang memproklamirkan belahan paha. Kumplit dengan gaya enerjik dan ceria sembari gandengan bahu.

Biasa memang jika para anak muda merayakannya, pun orang tua dan anak-anakpun sering juga ikut serta. Tapi gaya gaul remaja itu loh yang sukses bikin saya mengerutkan kulit dahi. Miris sendiri.

Tapi tahun baru kali ini, terjadi di tengah kesibukan tim SAR yang mengevakuasi ratusan mayat korban pesawat Air Asia yang jatuh di laut, di tengah riuhnya airmata korban banjir setinggi atap di beberapa daerah di tanah air, di antara ratapan dan tangis kehilangan korban longsor di Banjarnegara. Apa pantas kita turun ke jalan memborong petasan dan lantas menyalakannya di angkasa ketika masih banyak orang di pengungsian dengan wajah-wajah nelangsa??

Apa pantas kita hura-hura justru di tengah kondisi negara yang berduka karena terus dilanda musibah dan bencana??

Apakah tidak terbersit rasa takut jikalau barangkali pesta pisah sambut pergantian tahun kali ini akan menjadi sarana pengundang bencana yang lainnya lagi??

Karena sudah bukan rahasia lagi jika maksiat amat dekat dengan acara semacam ini. Yang bisa jadi gerbang pembuka berbagai kemalangan.

Tidakkah kita akan takut jika di saat kegembiraan meniup terompet di jam 12 malam bisa saja terompet Sangkakala malaikat Israfil yang berbunyi membahana memekakkan telinga?? Mengakhiri segala kealpaan manusia di dunia.

Masih pantaskah kita merayakan tahun baru Masehi kali ini??

Tidakkah (paling tidak) kita bisa ikut merasakan secuil simpati??

Advertisements

HUJAN MALAM MINGGU DAN PENANGKAL HUJAN UNTUK ACARA HAJATAN

air-hujan-biru-daun-kunin.jpg

Gambar dari:
http://www.dakwatuna.com

Desember telah membuktikan eksistensinya. Menjelang pergantian tahun, hujan terus turun tak kenal tempat dan waktu.

Jika ada 2 hal yang paling disukai para jomblo, maka itu adalah: gebetan yang baru putus sama pacarnya dan hujan yang turun di malam Minggu semalam suntuk. Hihihi. . . .

Itulah yang terjadi di daerah saya, kawasan Gambut dan sekitarnya diguyur hujan semalaman dan masih tak berhenti sampai siang hari Minggu ini.

Kalau saya pribadi, meski bukan jomblo, saya amat sangat menyukai hujan yang turun malam hari. Bukan perkara kelambu dan pintu kamar yang bisa jadi terkunci rapat lebih awal (ehem. . .), tapi bunyi hujan yang jatuh di atas atap itu loh, jauh lebih mujarab daripada lagu pengantar tidur yang paling syahdu sekalipun. Seisi rumah dijamin tidur nyenyak.

Tik tik tik bunyi hujan di atas genting.
Airnya turun tidak terkira. . .
Cobalah tengok dahan dan ranting, pohon dan kebun basah semua.

Lalu di daerah tempat tinggal saya ada kebiasaan mengadakan acara hajatan perkawinan di hari Minggu. Jadi diharapkan agar hari itu cuacanya cerah dan tidak hujan.

Untuk itu maka si empunya hajatan punya ritual khusus yang dipercaya untuk menangkal hujan. Yaitu dengan manyandaakan tudung panci (dari bahasa Banjar, artinya menggadaikan tutup panci) pada tetangga yang dianggap cukup berpengaruh/tetuha kampung dan satu lagi yaitu mamais batu (memepes batu seperti pepes ikan, dibalut dengan daun pisang, lalu dikukus atau bisa juga dibakar)

Bingung kan pasti??

Hari gini masih melakoni hal tak masuk akal semacam itu? Tapi mau bagaimana lagi, itu sudah jadi bagian tradisi turun temurun. Mungkin memang hanya mitos yang tidak terbukti kebenarannya (karena hanya Allah lah penentu segalanya), tapi para pelakunya selalu mensyaratkan ritual basanda tudung panci dan mamais batu ini sebagai bentuk ikhtiar agar acara tidak terkendala hujan dengan catatan hakikat hati dan keyakinan hanya kepada Allah semata.

Wallahualam. . .

Dan rupanya, matahari masih bersembunyi dibalik awan mendung dan hujan masih tak mau berhenti sampai saya publish postingan ini, keberangkatan saya ke tempat hajatan tetanggapun tertunda.

HIDUP DAN CARA MANUSIA BERTAHAN MENGHADAPI PERUBAHAN (Review Film Real Steel)

Inilah salah satu hal yang saya suka di liburan akhir tahun; tayangan televisi dipenuhi film-film box office yang terbilang masih baru dan fresh. Karena liburan kali ini tetap jadi penghuni rumah saja dan gak plesiran kemana-mana maka jadilah televisi sebagai alternatif hiburan sekeluarga.

Masih ingat ulasan film Cinderella Man yang pernah saya posting dulu?? Yang mengisahkan tentang seorang petinju yang mencoba bertahan dalam krisis ekonomi di Amerika?

Nah, kali ini ada lagi sebuah film yang masih tak jauh dari arena ring adu bogem itu. Yup, kali ini saya dibuat terpesona lagi oleh film bertema tinju dan adu jotos, tapi bukan sembarang tinju, ini adalah tinju yang dilakoni oleh seperangkat besi; tinju robot petarung.

Real Steel, itulah judul film yang dibintangi aktor kawakan nan seksi sekaligus tampan dengan bulu dada aduhai, yang aktingnya melejit lewat saga X Men sebagai Logan Wolverine atau pemburu vampir Van Helsing, siapa lagi kalau bukan Hugh Jackman.

rs-mzi-xdcvyvub-200x200-7.jpg

Gambar dari:
trailers.apple.com

Dalam film bergenre science fiction sekaligus drama keluarga yang dirilis tahun 2011 ini, Hugh Jackman berperan Sebagai Charlie Kenton, seorang petinju handal yang terpaksa angkat sarung dari ring tinju karena tinju manusia sudah tidak populer lagi. Di film yang mengambil latar tahun 2020 ini, pertarungan tinju telah digantikan oleh robot-robot besar super canggih.

Di tengah kemajuan teknologi itu manusia dituntut untuk bisa bertahan menghadapi perubahan dan harus bersaing dengan robot-robot yang telah menggantikan tugas, fungsi dan pekerjaan manusia di segala bidang.

Termasuk Charlie yang berjuang mati-matian karena petinju merupakan mata pencarian satu-satunya, maka mau tak mau ia harus punya robot agar bisa kembali ke ring tinju dan mendapatkan uang untuk hidup dan membayar utang-utangnya.

Maka bersama si anak (Max Kenton), Charlie mulai berjuang dengan memperbaiki robot bekas yang mereka ambil dari tempat pembuangan. Dari sana pula ia mulai membangun hubungan akrab dengan anaknya yang selama 11 tahun dari sejak lahir hingga sekarang tak pernah dipedulikannya itu.

Sebuah film yang sayang untuk dilewatkan karena bisa ditonton bersama anak dan keluarga. Terlepas dari hal negatif pertaruhan dan judi di ring tinju, secara keseluruhan film ini cukup bagus dan menarik. Tak hanya sinematografi memukau mata dan scene-scene yang keren tapi juga banyak pelajaran yang dapat kita ambil.

Meski kemajuan teknologi bertujuan untuk meringankan dan mempermudah hidup manusia, tapi tetap saja akan ada dampak yang pada akhirnya dapat berimbas pada kehidupan manusia itu sendiri. Ketika peran dan pekerjaan manusia digantikan robot maka bukan tak mungkin manusia akan terpinggirkan dan terbuang karena kalah bersaing.

Dan tetap saja, meski secanggih apapun teknologi elektronik dan seakan menjadi teman hidup sehari-hari, manusia tidak boleh melupakan keberadaan manusia lainnya, komunikasi dengan sesama teman, tetangga dan keluarga harus tetap jadi prioritas utama.

Having quality time on the week end, with your family and someone special. Happy watching! 🙂

SEBUAH CATATAN DARI DAN UNTUK PEREMPUAN (LELAKI WAJIB BACA !!)

Aneh ya?
Judulnya terkesan maksa banget, tapi tak apalah karena memang itu misi dari tulisan ini; membuka tabir kesadaran nurani dan pintu hati lelaki/suami. Hohoho. . .

Kurang lebih sejak 1,5 tahun yang lalu saya menulis di blog ini, dan memberanikan diri untuk melihat bagaimana tanggapan orang-orang atas apa yang saya tuliskan. Ada secercah harapan dan ada semacam euforia yang membuncah dalam jiwa saya.

Apa yang saya tuliskan, sebagian besar berupa pengalaman dan hasil pengamatan lingkungan sosial masyarakat, telah membuat para perempuan di luar sana sudi membacanya, memberikan opini, sharing pengalaman dan saling curhat juga di blog ini. Semakin menumbuhkan kesadaran bahwa ternyata saya tidak sendiri.

Kita adalah perempuan yang dapat saling bertukar cerita dan berbagi pengalaman hidup nan berharga.

Karena itulah saya ingin terus menulis, menyuarakan gaung jiwa kaum hawa yang sering hanya terdiam di balik pintu rumahnya tapi menyimpan gelegak di dalam dada.

Saya ingin terus menulis, menegaskan hakikat sebuah eksistensi bahwasanya perempuan tidak sendirian. Ia ditemani cinta, dikawal rasa suka cita yang diharapkan mampu menjadi bekal dalam menjalani hari-hari tergelap dalam hidup yang sarat muatan derita.

Kita masih bisa saling berbagi airmata dan bersama-sama menghapusnya, menyadari bahwa esok masih ada matahari.

Suara-suara kaum perempuan yang kerap tertelan oleh ketegasan otoritas lelaki yang ia sebut suami. Kepatuhan tanpa cela yang harus selalu berusaha dipenuhi dalam lingkaran kewajiban, kodrat dan bakti. Semua itu ada dalam lingkaran harmoni yang mesti saling menunjang dan melengkapi tanpa ada niatan sedikitpun untuk merasa lebih hebat atau lebih tinggi.

Karena itulah, tulisan-tulisan ini adalah suara hati saya sebagai seorang perempuan, seorang istri sekaligus seorang ibu yang ingin didengar, dipercaya dan lebih diperhatikan oleh keadaan yang seringkali berat sebelah dan hanya berpihak pada superioritas kaum lelaki.

Sebuah perenungan yang dalam tentang refleksi kehidupan seorang perempuan;

Wanita dan problematika rumah tangga:

Semua Profesi Ada Di sini

Antara Mitos dan Fakta Pasca Melahirkan

Antara Mertua VS Menantu

Ketika Pria Ingin Menikah (lagi)

Pria dan Hobi yang membuat Cemas Pasangan

Wahai Para Suami, Banyak Berbaik Hatilah pada Istrimu

Cerewetnya Wanita dan Sembrononya Pria

Ibu Rumah Tangga dan Teknologi

Seorang Ibu Rumah Tangga dan Blognya

Fiksi dan cerita pendek tentang perempuan:

Lautan Kasih Tanpa Batas

Mendung Kelabu di Mata Ibu

Hari-hari Ariana

Satu Malam Jelang Lebaran Haji

Wanita dan Kecantikan:

Antara Wanita, Kecantikan dan Riasan Wajah

Menguak Misteri Penyebab Kenaikan Berat Badan Wanita setelah Menikah

Ibu dan anak:

Tangan Ibu dan Kerepotan pasca Melahirkan

Anak Perempuan; Cobaan dan Ujian Akhir Zaman

Ketika Jumlah Anak Terus Bertambah

ASI VS Susu Formula

Surat Buat Bapak

Sebenarnya masih banyak link yang hendak saya bagikan tentang dunia perempuan dan segala problematikanya, tapi sementara ini cukup sampai di sini saja. Semoga ada manfaatnya bagi kita semua.

FOTO PEMANDANGAN DI DEKAT RUMAH

Semenjak jadi seorang blogger yang hanya bisa menulis lewat keterbatasan sebuah ponsel, saya jadi sering berharap seandainya punya laptop dan kamera digital canggih agar bisa maksimal mendokumentasikan foto sebagai pelengkap postingan dan tulisan saya. Tapi tak apalah, lewat ponsel java Nokia Asha 206 milik saya inipun, saya tetap bisa berkarya dan membuat banyak orang tidak percaya bahwa saya menulis pakai HP saja. Yah. . . Anggap saja memaksimalkan dan mengoptimalkan potensi dan sumber daya yang tersedia apa adanya ini.

Nah, saya sering iseng jepret-jepret foto di lingkungan saya, rasanya tak ada salahnya saya bagi di sini, karena bukan tak mungkin beberapa tahun yang akan datang pemandangan seperti ini tak akan saya temui lagi.

kursi-kabut-pagi.jpg
Foto ini dijepret kemarau setahun atau dua tahun yang lalu kalo gak salah, ada kabut halimun tipis di udara. Tapi sayangnya kursinya sudah hancur.mendung-pohon-pisang.jpg
Ini dijepret di bulan Desember ini saat musim hujan mulai datang dan mendung melukis langit.talipuksampingrumah.jpg
Foto ini so sweet banget kan? Ada teratai putih kecil menghias telaga, dan riak air yang bergerak diterpa sepoi angin sore. Menenangkan jiwa. . . (diambil pas musim hujan tahun kemarin, pas air sedang dalam-dalamnya kalo pas kemarau bisa kering kerontang gak ada lagi teratainya tinggal kangkung menjalar kesana kemari).sunset-di-sawah.jpgsenja-trbkr.jpgsenja-di-lutfia.jpgcakrawala-senja.jpg
sunsettoday.jpghalfsunset.jpg

Saya paling suka menikmati momen matahari terbenam di langit barat. Melihat cakrawala bermandikan cahaya jingga, hangatnya terasa hingga relung jiwa.

Semoga foto-foto di atas cukup menyegarkan mata. Teruslah berkarya walau dengan alat dan media sederhana. ^_^v


Foto:
dokumentasi pribadi.

Lokasi:
Jl. A. Yani km. 14 Komp. Lutfia Ujung, Kecamatan Gambut, Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan.

SELEBRASI PASCA MELAHIRKAN

Setelah 9 bulan lamanya menikmati momen menakjubkan sebuah kehamilan, kini tiba saatnya menyambut kehadiran si buah hati. Kegembiraan dan kesibukan selalu mewarnai hari-hari saat menjadi seorang ibu. Banyak hal dan rencana-rencana yang hendak dilakukan setelah melahirkan, saya menyebutnya selebrasi pasca melahirkan, semacam kegiatan yang menandakan bahwa saya telah jadi seorang ibu, salah satu fase penting dalam hidup seorang perempuan.

Inilah dia selebrasi pasca melahirkan itu:

1) TENGKURAP

Setelah kurang lebih 9 bulan lamanya tidak bisa tengkurap, tentunya para pembaca yang budiman bisa membayangkan betapa penatnya itu. Maka sehari setelah melahirkan saya dapat merasakan nikmat yang luar biasa karena dapat tengkurap lagi. Tapi untuk yang melahirkannya melalui operasi caesar harap bersabar dulu, tengkurapnya ditunda sampai benar-benar sembuh total jahitannya, takut kenapa-napa. Oke?

2) BERGERAK

Ini yang kebanyakan disepelekan ibu-ibu muda, seringkali pasca melahirkan membuat sulit bergerak dan enggan beraktivitas seperti biasa, karena ada mertua atau orang tua yang melayani, kerjanya hanya di kasur saja selonjoran seharian. Padahal bergerak dalam mengerjakan tugas harian bisa mempercepat pemulihan loh dan itu tak akan membuat kita sakit parah atau jahitan terlepas. Asal jangan main salto dan lompat tinggi aja.

3) MEMAKAI KEMBALI BAJU-BAJU LAMA

Ini dia momen selebrasi yang paling menyenangkan bagi saya. Setelah dibuat puas oleh model pakaian besar dan gombrong yang memuat perut buncit maka ini saatnya memakai lagi baju-baju yang sekian bulan hanya bisa ngumpet di lemari. Bisa kembali tampil modis dengan jins pensil atau atasan yang ngepas badan. Secara, biasanya ibu-ibu kalo udah beranak apalagi memberi ASI bobot badannya bisa turun drastis dan langsing alami.

Saya aja dulu habis beranak cuma 54 kg, padahal pas hamil naik di level 70 kg, (tapi sekarang setelah menyapih anak ke dua saya, bobot saya naik lagi. Hm. . . Jadi ngarep buat hamil lagi, kali aja bisa kurus dan langsing kembali kalo udah beranak dan kasih ASI. Wkwkwkwk. . .)

4) POTONG RAMBUT (MERIAS DIRI)

Syukur-syukur kalo bisa perawatan nifas ke salon atau klinik kecantikan/kesehatan. Tapi kalau gak bisa, cukup dengan mandi bersih sampai wangi, pakai lotion badan atau lulur/wadak tradisional sebelum memakai korset/gurita membebat perut. Dan yang pasti saya lakukan adalah potong rambut setelah masa nifas saya usai. Semacam ritual ‘merdeka’, kebebasan, rasa praktis dan efisiensi. Cukup menyisakan sedikit rambut untuk diikat.

5) HUNTING PERLENGKAPAN BAYI

Karena saya bukan tipe calon ibu yang latah kalap beli segala peralatan bayi ketika hamil, maka saya hanya membeli yang memang perlu dan secukupnya saja. Setelah bayinya mulai berbentuk (baca: agak besar) barulah saya beli baju dan perlengkapan bayi yang lucu dan unyu itu. Tapi tetep, skala prioritas dan lama pemakaian jadi bahan pertimbangan.

6) UPGRADE PAKAIAN DALAM

Ini yang gak kalah pentingnya bagi para ibu baru. Perubahan bentuk badan berarti juga perubahan ukuran seperangkat alat kelengkapan pribadi. Sudah saatnya menanggalkan celana dalam lebar khas nenek-nenek, mulailah menggantinya dengan panty seksi, lingerie dan dapatkan perhatian lagi dari suami (wew. . . Xixixi. . .)

7) MENGUNJUNGI TEMAN/TETANGGA YANG MELAHIRKAN

Ini penting juga loh karena manusia makhluk sosial. Kumpul-kumpul di klub kehamilan atau bertandang ke rumah teman dan tetangga, saling berbagi pengalaman, curhat soal anak dan kehamilan bisa jadi jurus jitu menangkal Baby Blues atau stres pasca melahirkan. Jangan mengurung diri di rumah terus, keluar dan hadapilah indahnya dunia bersama si kecil dalam gendongan Anda!

8) RAJIN MENGHADIRI UNDANGAN

Juga sebagai salah satu bentuk sosialisasi. Setelah jadi ibu, wanita juga harus mulai membaur dengan lingkungannya. Dan percaya deh, pergi ke acara hajatan dengan membawa anak pasti lebih menyenangkan daripada pergi sendirian. Terlebih kalo bawa kakaknya yang masih balita, pasti dapat perlakuan istimewa dengan disuguhkan makanan lebih dulu (haha. . . Pengalaman nih emang kayaknya!)

Nah, itulah kira-kira ladies momen-momen selebrasi pasca melahirkan berdasar pengalaman pribadi saya. Apapun itu, walau betapa repotnya menjadi seorang ibu, selalu ada saja saat-saat terindah yang tak akan terlupakan. So. . . Enjoy this sweet horible moment!

PENJARA

Aku menghapus air mataku dan segera mengambil kapas untuk menutup lubang hidungku yang terus mengeluarkan darah. Sudah memasuki bulan ke tiga sejak aku memasuki tempat penampungan ini, tapi sampai sekarang belum ada tanda2 aku akan bekerja seperti janji mereka. Benar2 kerja maksudku, dan membersihkan rumah ini bukan termasuk kerja yang ku inginkan.

Aku menatap jam dinding di kamar sempit yang sesak dengan empat penghuni yang senasib denganku. Nyaris pukul dua dini hari, beberapa teman terlihat tidur, ada yang mengigau dan sesekali ku dengar suara meringis kesakitan. Kali ini aku benar2 harus memutar otak ku. Biru dan lebam di sekujur tubuhku menuntut akal sehatku melakukan sesuatu.

Tapi semua jendela berteralis besi dan pintu digerendel gembok besar. Hatiku menciut, sah sudah, ini adalah penjara, TIDAK !!! ini N E R A K A.

“Kita harus melakukan sesuatu Lastri,” bisikku pada teman senasibku yang menggigil ketakutan di toilet usai dibogem mentah oleh pak Imran dan anak buahnya.

“A. . Aku takut Ti,” bibir Lastri bergetar, membiru, tulang hidungnya agak bengkok dan tidak lurus. Lastri memang lebih dulu di tempat ini, sekitar setahun, dan bekas2 luka itu lebih dari cukup menjelaskan semua yang ia dapat dari tempat terkutuk ini.

Tapi tekadku timbul dan tenggelam, apalagi sejak kematian Asih beberapa waktu lalu karena tubuhnya sudah tak tahan lagi menanggung siksaan itu. Aku_ kami_ menyaksikan Asih dianiaya demikian sadisnya hanya karena sedikit kesalahan yang tidak dapat kami pahami. Kala itu ia sudah terkapar di lantai, menangis memohon diampuni. Tapi pak Imran dan Bu Indah, juga Priyo, orang kepercayaan pak Imran terus menyiksanya.

Kami hanya bisa diam ketakutan membayangkan bila bernasib serupa. Perut Asih ditendang oleh kaki dengan sepatu lars. Jemarinya diinjak, pinggulnya disepak sampai berbunyi gemeretak. Wajahnya merah dialiri darah dari kepalanya yang bocor hasil pukulan stik golf yang dilayangkan Priyo.

Dan kami tak tahu kemana mereka membawa mayatnya, kami tak pernah keluar dari rumah ini.

“Kamu mau bernasib seperti Asih, Ti?” Kilatan mata Priyo bersinar jahat, di sampingnya ada pak Imran dengan seringai menakutkan.

“Lepaskan saya!”

Tapi pak Imran semakin mendesakku ke dinding, mengelus-elus daguku. Aku tahu saat ini iblis dalam dirinya hendak melakukan sesuatu. Sudah 3 hari ini bu Indah tidak di rumah. Aku mundur ke arah meja, tak sengaja ku menjatuhkan gelas, bunyinya mengundang Lastri dan Rina, mereka berkali-kali memanggilku dan menemukanku terpojok di sudut kamar ini berusaha keras melepaskan cengkraman tangan pak Imran.

“Ada telepon dari bu Indah, pak.” seru Rina. Kontan membuat Priyo dan pak Imran menjauh keluar dari kamar ini, tapi matanya masih berkilat padaku dan menjanjikan sesuatu.

Kami bertiga berpelukan, aku benar-benar tak tahan lagi. Aku harus pergi!! Kami harus keluar dari tempat terkutuk ini.

Sore harinya bu Indah pulang dan meledaklah amarahnya.

“Dasar wanita sundal! Aku tahu apa yang terjadi jika aku tak ada di rumah ini!!” Teriaknya padaku, dan melayanglah sepatu hak tingginya ke wajahku, melukai rahangku. Aku nyaris melawan tapi kemudian ia menjambak rambutku dan membenamkan wajahku ke dalam wastafel yang penuh dengan buih sabun cuci piring yang ku kerjakan tadi. Mataku perih sekali, tapi bu Indah tak mau berhenti, ia memukul tungkaiku dengan gagang sapu, dan ketika centong kayu itu mendarat di pelipisku, semua gelap, aku tak sadarkan diri.

Aku menemukan diriku dalam kegelapan, bersandar pada lantai ubin yang dingin, rupanya aku masih di dapur. Perlahan aku bergerak, melangkah mencari tombol lampu. Menyalakannya dan ruangan dapur disergap keheningan. Kulihat jam dinding menunjukkan pukul 3 dini hari. Berapa lama aku pingsan? Kenapa aku tidak mati saja sekalian?

Aku membasuh wajahku dan merasakan dinginnya air kran menyengat kulitku yang luka, lebam itu membuat wajahku terasa kaku. Aku mendekati dispenser, mencoba meloloskan segelas air ke tenggorokanku yang terasa kering dan panas. Tapi baru setengah aku meminumnya. Tiba-tiba kurasakan ada yang memelukku dari belakang, tangan itu kasar, besar dan berbulu, membuat gelas plastik di tanganku terlepas dan menumpahkan isinya ke lantai. Hanya menyisakan bunyi gelontang yang lemah, tiba-tiba saja aku menyesal mengapa itu bukan gelas kaca.

Pak Imran kian mendekatkan tubuhnya padaku, hidung besarnya mengendus-endus rambutku, mendesakku ke dinding, dan sebelah tangannya membekap erat mulutku, menelan kembali teriakanku bulat-bulat.

Tangan kasarnya tak berhenti menggerayangi tiap inci tubuhku, ia hampir nyaris. . . Sebelum akhirnya ku temukan sebilah pisau dapur dan menghunusnya ke perut pak Imran berkali-kali. Pria itu tumbang dan darah mengalir deras di lantai dapur, menggenangi putihnya lantai marmer. Pisau itu jatuh ke lantai, aku tercekat gemetar.

Terbayang jeruji penjara yg akan jadi tempat untuk menebus perbuatanku.