PENJARA

Aku menghapus air mataku dan segera mengambil kapas untuk menutup lubang hidungku yang terus mengeluarkan darah. Sudah memasuki bulan ke tiga sejak aku memasuki tempat penampungan ini, tapi sampai sekarang belum ada tanda2 aku akan bekerja seperti janji mereka. Benar2 kerja maksudku, dan membersihkan rumah ini bukan termasuk kerja yang ku inginkan.

Aku menatap jam dinding di kamar sempit yang sesak dengan empat penghuni yang senasib denganku. Nyaris pukul dua dini hari, beberapa teman terlihat tidur, ada yang mengigau dan sesekali ku dengar suara meringis kesakitan. Kali ini aku benar2 harus memutar otak ku. Biru dan lebam di sekujur tubuhku menuntut akal sehatku melakukan sesuatu.

Tapi semua jendela berteralis besi dan pintu digerendel gembok besar. Hatiku menciut, sah sudah, ini adalah penjara, TIDAK !!! ini N E R A K A.

“Kita harus melakukan sesuatu Lastri,” bisikku pada teman senasibku yang menggigil ketakutan di toilet usai dibogem mentah oleh pak Imran dan anak buahnya.

“A. . Aku takut Ti,” bibir Lastri bergetar, membiru, tulang hidungnya agak bengkok dan tidak lurus. Lastri memang lebih dulu di tempat ini, sekitar setahun, dan bekas2 luka itu lebih dari cukup menjelaskan semua yang ia dapat dari tempat terkutuk ini.

Tapi tekadku timbul dan tenggelam, apalagi sejak kematian Asih beberapa waktu lalu karena tubuhnya sudah tak tahan lagi menanggung siksaan itu. Aku_ kami_ menyaksikan Asih dianiaya demikian sadisnya hanya karena sedikit kesalahan yang tidak dapat kami pahami. Kala itu ia sudah terkapar di lantai, menangis memohon diampuni. Tapi pak Imran dan Bu Indah, juga Priyo, orang kepercayaan pak Imran terus menyiksanya.

Kami hanya bisa diam ketakutan membayangkan bila bernasib serupa. Perut Asih ditendang oleh kaki dengan sepatu lars. Jemarinya diinjak, pinggulnya disepak sampai berbunyi gemeretak. Wajahnya merah dialiri darah dari kepalanya yang bocor hasil pukulan stik golf yang dilayangkan Priyo.

Dan kami tak tahu kemana mereka membawa mayatnya, kami tak pernah keluar dari rumah ini.

“Kamu mau bernasib seperti Asih, Ti?” Kilatan mata Priyo bersinar jahat, di sampingnya ada pak Imran dengan seringai menakutkan.

“Lepaskan saya!”

Tapi pak Imran semakin mendesakku ke dinding, mengelus-elus daguku. Aku tahu saat ini iblis dalam dirinya hendak melakukan sesuatu. Sudah 3 hari ini bu Indah tidak di rumah. Aku mundur ke arah meja, tak sengaja ku menjatuhkan gelas, bunyinya mengundang Lastri dan Rina, mereka berkali-kali memanggilku dan menemukanku terpojok di sudut kamar ini berusaha keras melepaskan cengkraman tangan pak Imran.

“Ada telepon dari bu Indah, pak.” seru Rina. Kontan membuat Priyo dan pak Imran menjauh keluar dari kamar ini, tapi matanya masih berkilat padaku dan menjanjikan sesuatu.

Kami bertiga berpelukan, aku benar-benar tak tahan lagi. Aku harus pergi!! Kami harus keluar dari tempat terkutuk ini.

Sore harinya bu Indah pulang dan meledaklah amarahnya.

“Dasar wanita sundal! Aku tahu apa yang terjadi jika aku tak ada di rumah ini!!” Teriaknya padaku, dan melayanglah sepatu hak tingginya ke wajahku, melukai rahangku. Aku nyaris melawan tapi kemudian ia menjambak rambutku dan membenamkan wajahku ke dalam wastafel yang penuh dengan buih sabun cuci piring yang ku kerjakan tadi. Mataku perih sekali, tapi bu Indah tak mau berhenti, ia memukul tungkaiku dengan gagang sapu, dan ketika centong kayu itu mendarat di pelipisku, semua gelap, aku tak sadarkan diri.

Aku menemukan diriku dalam kegelapan, bersandar pada lantai ubin yang dingin, rupanya aku masih di dapur. Perlahan aku bergerak, melangkah mencari tombol lampu. Menyalakannya dan ruangan dapur disergap keheningan. Kulihat jam dinding menunjukkan pukul 3 dini hari. Berapa lama aku pingsan? Kenapa aku tidak mati saja sekalian?

Aku membasuh wajahku dan merasakan dinginnya air kran menyengat kulitku yang luka, lebam itu membuat wajahku terasa kaku. Aku mendekati dispenser, mencoba meloloskan segelas air ke tenggorokanku yang terasa kering dan panas. Tapi baru setengah aku meminumnya. Tiba-tiba kurasakan ada yang memelukku dari belakang, tangan itu kasar, besar dan berbulu, membuat gelas plastik di tanganku terlepas dan menumpahkan isinya ke lantai. Hanya menyisakan bunyi gelontang yang lemah, tiba-tiba saja aku menyesal mengapa itu bukan gelas kaca.

Pak Imran kian mendekatkan tubuhnya padaku, hidung besarnya mengendus-endus rambutku, mendesakku ke dinding, dan sebelah tangannya membekap erat mulutku, menelan kembali teriakanku bulat-bulat.

Tangan kasarnya tak berhenti menggerayangi tiap inci tubuhku, ia hampir nyaris. . . Sebelum akhirnya ku temukan sebilah pisau dapur dan menghunusnya ke perut pak Imran berkali-kali. Pria itu tumbang dan darah mengalir deras di lantai dapur, menggenangi putihnya lantai marmer. Pisau itu jatuh ke lantai, aku tercekat gemetar.

Terbayang jeruji penjara yg akan jadi tempat untuk menebus perbuatanku.

Advertisements

11 thoughts on “PENJARA

  1. Aku pikir kata penjara di awal itu benar-benar sebuah tempat bagi orang pelanggar hukum.
    Penganiayaan terhadap ART emang lagi marak ya,
    berita di TV kemarin juga ada yang meninggal disiksa satu keluarga 😦

    Like

  2. Assalamualaikum…

    Entah berapa banyak wanita2 yg bernasib seperti mereka?
    Semoga mereka diberikan kekuatan untuk menghadapi kerasnya hidup yg harus mereka jalani.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s