PEREMPUAN PENCINTA HUJAN

10-puisi-tentang-hujan.jpg

1-dancing-in-the-rain-283.jpg

Tahukah engkau??

Bahwa aku sangat mencintai hujan.

4-hujan-ber2.jpg

Ya,
hujan yg pernah merangkum pertemuan kita kali pertama, dan kita terperangkap dalam derasnya bersama segelas hangat kopi yang mengepulkan uap panas pada kaca yang berembun.

6-rainy-days-by-doorstopp.jpg

Hujan pula yang menemani malam-malam dingin di penghujung bulan Desember sesaat ketika ku dengar sapamu pada kabel sambungan telepon dan kau katakan. . .

telepon-i-miss-you.jpg

“Selamat malam, tidur dan bermimpi indahlah.”

hujan-tempias-di-kaca-win.jpg

Dan hujan pula yang menyembunyikan airmataku, juga selaksa kesedihan ketika aku patah kau tinggalkan.

11-ayunanalone.jpg

Mungkinkah kita akan masih berbagi rinai hujan yang sama??

2-menatap-hujan-sendirian.jpg

Tak ingin kah kau membagi keteduhan dibawah payungmu yang sewarna pelangi?

hujancute2kid.jpg

Seperti kenangan manis masa kecil, seperti cinta ketika sebelum menjelma derita, seperti rindu sebelum ia merundung sendu.

8-mawar-hujan.jpg

Aku mencintaimu kekasihku. . .
Dan masih berharap tempias hujan mampu menyejukkan jiwa-jiwa yang kesepian.

12-photography-rain-umbre.jpg



All images taken from Google

Advertisements

ANTARA WANITA, FASHION DAN BAJU MENYESAL

Sebenarnya sudah lama sekali ingin mengangkat topik ini. Dulu-dulu sempat saya bicarakan di FB, eh ternyata ada juga pria yang mengomentari dan merasakan hal yang sama. Dari pembicaraan dengan teman-teman dan kerabat juga ada pengalaman yang seperti ini. Membuat saya merasa harus menulis ini dengan lebih serius dan sistematis (halah bahasanya!).

Oke, ladies and gentleman ini dia bahasan tentang

ANTARA WANITA, FASHION DAN BAJU MENYESAL

Di tengah perkembangan dunia dan industri fashion terkini yang kian dinamis, kaum wanita dihadapkan pada berbagai pilihan untuk penampilan dan gaya hidup sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.

Perihal kebutuhan pokok manusia terhadap bahan sandang (pakaian) tak lagi melulu tentang menutup bagian tubuh yang tak pantas terlihat atau hanya melindungi dari gempuran cuaca panas dan dingin. Mode, ragam dan tata cara dalam hal berpakaian telah sejak lama menjadi trend, simbol dan ikon tersendiri pada masanya, hingga detik ini.

Lalu apa itu yang dimaksud dengan BAJU MENYESAL ??

Adalah pakaian yang entah mengapa setelah dibeli atau selesai dijahit membuat kita kurang puas, kurang suka untuk memakainya. Intinya baju menyesal (yang sebenarnya masih terbilang baru dan bagus) adalah kebalikan dari baju favorit kita (yang walau udah jelek, jadul dan bulukan tapi tetap enak dipakai) itu.

Sebuah pakaian bisa tiba-tiba menjadi baju menyesal karena banyak hal dan sebab. Beberapa diantaranya yaitu:

1. PERUBAHAN BERAT BADAN

Bisa karena menjadi kurus atau gemuk.

Ini persis seperti yang saya alami sekarang ini. Sejak 2 tahun terakhir pasca saya berhenti memberi ASI pada si bungsu, berat badan melonjak drastis dari angka 54 kg (bobot dan pose ideal saya yang gak jauh beda sama Arzetti Bilbina atawa Nadine Chandrawinata; seksi dan slim tak terperi) ke 69 kg (bentuk fisik saya paling mutakhir nan termontok dan bohay tak tertahankan) pemirsa!

Maka jadilah ladies, banyak baju menyesal mendadak yang mesti didiskualifikasi dari arena etalase pajangan lemari yang amat saya cintai. Terhitung ada 6 lembar celana jins keramat, 3 rok bertuah, belasan atasan dan beberapa baju panjang, jubah, gamis yang mesti saya lantunkan sayonaraaa. . . Suksesss menjadi sesak, tak muat dan tak terpakai lagi.

Menjadi salah satu fase tergalau paling nyesek nomor 27 dalam hidup wanita (setelah liat mantan kita pacaran ama sahabat yang ada di urutan 26), yaitu perasaan sedih itu ketika menyaksikan pakaian yang kita cintai tak akan terpakai lagi.

2. PASARAN

Salah satu indikator kalo sesuatu itu sedang tren adalah dari banyaknya orang yang memakainya. Apa iya?

Tapi kalo misalnya dalam satu acara atau kemana-mana banyaknya orang memakai pakaian yang serupa itu, walau gak sama persis, pasti ada dong perasaan aneh itu. Apalagi kalo tren itu bertahan lama, dijamin dah mending punya kita dimuseumkan aja. Haha. . .

3. BAJU KEMBARAN

Ini ni yang bisa bikin shock therapy level tertinggi dan membuat wanita bisa uring-uringan gak jelas selama empatbelas hari dikamar gara-gara pas di acara hajatan atau pesta teman, kita make baju sama persis dengan yang dipakai musuh bebuyutan atau gebetan barunya si mantan.

Asli nyesek pilu deh, apalagi tu baju gak murah dan beli di distro yang diklaim pramuniaganya limited edition. Ini gak dimuseumkan lagi, bisa langsung masukin kardus buat sumbangan korban bencana alam atau panti asuhan.

4. KURANG PUAS DENGAN KONDISI PAKAIAN

Pernah gak setelah beli baju kok tiba-tiba ada yang rasa gak enak, gak pede saat memakainya? Padahal pas mau beli udah dicoba dan oke saja. Atau sudah empat kali bolak balik sampai ileran menjelaskan ke tukang jahitnya, pas tu baju udah selesai eh kok kurang sreg saat dipakai.

Pernahkan pasti?

Kalau saya sering, membuat saya menangisi malam-malam buta saat anak-anak dan bapaknya sudah tidur, memandangi pakaian itu sembari memutar otak sampai 7 kali lapangan sepak takraw dan mikir serius ini baju salahnya apa yak? Kok bisa gak enak dipakainya.

Maka jadilah selama masa aktifnya baju itu bisa jadi jablay abadi yang ditinggal bang Toyib tiga abad, tak tersentuh ladies. Sungguh mengenaskan.

Hal-hal semacam inilah yang membuat saya mendadak kerasukan dan bercita-cita ingin jadi desainer handal sekelas Dian Pelangi atawa Ivan Gunawan. Haha. . . Tapi bagaimana mungkin, membaca saja aku sulit. . . Eh, menjahit saja saya tak bisa. Habisnya kesal juga kelamaan jadi kolektor baju menyesal, walau sudah banyak yang dihibahkan ke orang yang lebih membutuhkan, tetap saja sakitnya tu di sini. Iya to?

Nah, ini ceritaku, apa ceritamu? Baju seperti apa yang membuatmu memberinya label menyesal?

GIGI: KESEHATAN, NILAI ESTETIS, SENYUMAN DAN PESONA

Ada apa dengan gigi??

Eit, bukan Gigi yang telah resmi jadi istri Raffi Ahmad, atau band Gigi yang sempat eksis dulu. Ini adalah tentang gigi dalam arti yang sebenarnya, gigi yang ada dalam mulut kita.

Saya itu termasuk orang yang sebenarnya cukup sadar dalam hal menjaga kesehatan gigi, setidaknya sekarang setelah punya anak dan semakin sadar betapa pentingnya gigi dan betapa menyakitkannya ketika kita bermasalah dengan gigi.

Saya juga penggemar makanan manis dan masa kecil saya punya kenangan buruk tentang betapa seringnya saya sakit gigi, padahal orangtua sudah cukup melakukan segalanya untuk menjaga kesehatan gigi saya.

Karena itulah saya terbilang cerewet tentang gigi anak-anak saya. Sejak usia 8 bulanan saat mulai tumbuh gigi, saya sudah mulai merawat gigi anak-anak, mulai dari sikat lembut dengan jari (sampai digigit), pasta gigi berhadiah mobil (mobilan, haha), gosok gigi sebelum tidur, tapi entah kenapa ke dua anak saya tetap sering banget sakit gigi.

Mungkin usaha saya belum maksimal, atau karena mereka ASI nya lama (hampir 3 tahun dan waktu menyusunya bisa sampai 2-3 jam). Atau karena emang doyan banget roti-rotian, permen dan makanan manis??

Entahlah. . .

Dan sekarang saya juga dibuat resah karena gigi tetap anak sulung saya sudah mulai tumbuh tapi gigi susunya belum lepas, dan dia ogah dicabut. Hiks. . .

Nah, karena itulah kesehatan gigi jadi amat penting karena berhubungan langsung dengan penampilan dan nilai estetis, gak kebayangkan wajah cakep dan keren tapi giginya gak rata dan ‘maju mundur’. Kecuali gigi abnormal yang bikin cantik; ginsul.

Jadi ada cerita menarik yang melatarbelakangi bahasan saya tentang gigi kali ini.

Kemarin-kemarin kami beli es jus di penjual tepi jalan di daerah saya yang terkenal lumayan enak dan laku juga. Yang paling menonjol sih si penjualnya. Ibu muda beranak satu, cantik, modis dan stylish juga dengan dandanan pake turban model mutakhir, make up, eye shadow biru, eye liner dan gak ketinggalan bulu mata palsu dan lipstik mentereng. Cocok-cocok aja sih dan gak berlebihan, sesuai usianya lah. Tapi kemudian ada yang janggal ketika ia tersenyum dan bicara.

Maaf, bukannya saya membicarakan kejelekan orang, ini hanya sebagai pelajaran tentang pentingnya kebersihan gigi karena berhubungan langsung dengan kecantikan dan kesehatan. Giginya amat bertolak belakang dengan penampilannya yang total tadi. Bisa dibilang kurang bersih, kuning kecoklatan dan aneh karena ada tempelan (entah perak, mutiara sintetis atau asesoris apa, yang jelas bukan behel) warna-warni di giginya itu. Sungguh kontras dan berpotensi meluluhlantakkan image bengkeng (Bahasa Banjar yang artinya keren, gaya, aksi dsb) yang telah terbangun melalu dandanannya tadi.

Ironiskan jadinya??

Lalu ada juga orang yang biasa-biasa saja, dandanannya standar gak make up, tapi ketika tersenyum mampu memalingkan duniaku dan duniamu karena manis dan pesonanya dan deretan gigi yang bersih terawat.

Memang ya, kalo perawatan gigi modern yang aman gak bisa dibilang murah, mahhal bingit dan lumayan menyita waktu juga (dulu pas menambal gigi anak saya maharnya dua ratus ribuan, seorang family pasang satu gigi palsu di depan hampir setengah juta dan tiga kali pertemuan). Tapi kalau sejak dini telaten membersihkan kita sebenarnya tak perlu merogoh kocek dalam-dalam hanya demi gigi. Resep nenek moyang selalu bisa jadi andalan: abu gosok dan sirih bisa menolong sebagai pencegahan. Syukur-syukur kalau rajin ke dokter gigi 6 bulan sekali.

Jadi ingat ada aktris Korea yang punya deretan gigi yang rapi dan putih bersih, walau dandanannya minimalis ia sangat mempesona di drama Miss Korea berperan sebagai Oh Ji Young yang di kompetisi wajah polos di drama itu, ia dinilai karena senyumnya yang menawan. Inilah dia Lee Yoon Hee:

miss-korea-e11-mkv-002070.jpg

oh-ji-young-senyum-screen.jpg
Waikikiii. . .

So sweet banget kan senyuman yang tampil bersama deretan gigi yang bersih terawat?

Gigi oh gigi. . .

Cerita tentang gigi lainnya:
Jangan Mengaku Galau Kalau belum Merasakan Sakit Gigi

Gigi Julak Ijuh



Gambar dari:
Eyang Kakung Google

SOSIAL MEDIA ATAU MEDIA KESENJANGAN SOSIAL ??

social-media-writer-logo.jpg
Gambar: http://www.socialmediawriter.co.uk

Semenjak saya aktif bersosial media (facebook) sekitar 4 tahun lamanya, saya benar-benar merasakan ada banyak perubahan dalam hidup dan hubungan antar sesama manusia. Meski awalnya saya bersosial media karena ingin menyalurkan hobi menulis (sebelum punya blog ini), tapi toh pada akhirnya menulis__dalam konteks yang lebih serius dan memikirkan tentang azas manfaat__bukan lagi hal utama, saya malah keasyikan membahas trending topic yang lagi hits, bergosip online atau ikut-ikutan situasi atau fenomena yang sedang hot.

Apalagi saat punya android beberapa waktu lalu, saya sempat aktif di BBM dan punya akun twiter juga (sempat kepikiran pula buat punya akun Instagram, tapi gak yakin apa akan kuat mental? Wkwkwk. . .) Walau akhirnya saya tinggalkan karena telah sampai pada titik kesadaran tentang lebih banyaknya mudharat yang di dapat ketimbang manfaat (edisi insyafnya sang Juru Kunci Facebook, xixixi. . .)

Dan belakangan saya juga berhenti main FB (padahal dari FB lah yang membuka jalan saya sampai bisa aktif ngeblog hingga saat ini) setelah berbagai pertimbangan panjang atas berapa banyaknya waktu produktif yang terbuang sia-sia di sosial media.

Saat di sosial media, saya adalah orang yang tampil apa adanya (walau tak pernah pajang foto profil gambar pribadi), saya bukan orang yang berbeda di dunia nyata ataupun dunia maya. Saya adalah saya yang senang menyuarakan apa yang tengah saya rasakan.

Tapi ternyata, dunia memang telah berubah banyak. Banyak orang-orang yang sangat berbeda ketika di dunia nyata dan di dunia maya. Banyak sekali pribadi-pribadi aneh nan absurd yang jauh sangat bertolakbelakang dengan jati diri aslinya di dunia nyata. Masing-masing orang menampilkan apa yang mereka bisa punya dan pencapaian-pencapaian dari segi materi.

Dan ketika saya semakin menyadari bahwa sosial media hanyalah sebuah media kesenjangan sosial gaya baru di era modern, maka keputusan saya untuk berhenti bersosial media adalah tidak dapat ditawar-tawar lagi.

Sosial media seringkali menjadi galeri pameran gratis bagi para penggunanya, yang ketika seseorang memposting gambar sesuatu, rasanya amat tak mungkin jika tanpa rasa riya, ujub atau ingin pamer, minimal ingin dilihat dan dikomentari.

Maka bertebaranlah status On The Way tempat wisata anu, naik anu, terbang anu atau posting gambar di jok depan mobil anu, sepatu merek anu, anak bayinya si anu, bulan madu di anu, perceraian si anu, janda anu, kekasihnya si anu, jablay anu, sampai kentutnya si anu di seberang pulau anu pun ada laporannya di berandamu!!

Dan sebuah fakta yang paling miris adalah:

“Facebook mengingat lebih baik hari ulang tahunmu dari pada temanmu.”

Bisa dipastikan saat tanggal hari lahirmu ada sekian puluh kawan di sosial media yang ucapkan selamat padamu, tapi hanya sedikit yang benar-benar ingat dan mengucapkannya di dunia nyata, dan bahkan tidak ada yang mengingatnya. What an ironic life?!!

Inilah yang membuat perubahan drastis dalam cara bersosialisasi dan menyapa. Pergaulan bukan lagi tentang tatap muka, tapi beralih pada opsi antar beranda dan pola ketik kata dan berselfie ria di laman sosial media.

Banyak sekali hal-hal di luar kontrol yang terjadi dan lepas kendali. Mempengaruhi keseharian penggunanya, mencuri waktu dan kesenangan dengan kedok hiburan, bahkan sosial media dapat merampas bagian-bagian terpenting dalam hidup manusia sebelum kita menyadarinya.

Kesenjangan di sosial media ternyata lebih menyakiti daripada ketimpangan yang terjadi di dunia nyata. Karena kalau di dunia nyata kita bisa melihat orang seperti adanya sedangkan di dunia maya orang akan terlihat seperti apa yang berusaha mereka tampilkan. Maka jangan kaget bila ada orang yang di dunia nyata nampak sopan dan baik tapi justru kasar ketika bersikap di sosial media. Atau orang yang nampak begitu alim dan jaim ternyata biasa saja di dunia nyata, dan sebagai-sebagainya.

Dan ternyata, setelah saya mengundurkan diri dari hiruk pikuk sosial media dan segala keanehannya (tak perlu lagi melihat dan merasakan segala bentuk kesenjangan sosial itu), saya telah menemukan lagi produktifitas dan kreatifitas dalam hobi menulis ini. Saya tak perlu lagi merasa diintervensi oleh teman di sosial media yang memuji ataupun menghina (tulisan) saya. Karena pujian ataupun hinaan akan sampai pada satu titik temu yang dapat menghentikan visi dan misi awal dalam menulis.

“Pujian dapat mematikan kreatifitas (membuat kita cepat puas) sedangkan hinaan menjatuhkan mentalitas.”

Selamat tinggal sosial media. . .

KETIKA DUNIA TAK AMAN BAGI ANAK PEREMPUAN DAN STIGMA NEGATIF TERHADAP ISLAM (Review Film “TAKEN”)

taken-poster-big.jpg
Film TAKEN ini ada juga sekuelnya (Gambar dari: tiffmedia.wordpress.com)

Inilah film yang membuat malam Minggu saya terasa lebih berarti, terhibur sekaligus kesal di saat yang bersamaan.

Film ini mengisahkan tentang seorang ayah, seorang pensiunan agen pemerintah yang sangat over protektif dan paranoid terhadap keselamatan putri semata wayangnya yang berusia 17 tahun. Perceraian sang ayah dengan istrinya membuat ia dan si anak terpisah, dan ia ingin memperbaiki hubungannya agar bisa lebih dekat dengan si anak.

Masalah besar muncul ketika si ibu mengijinkan si anak pergi ke Perancis berdua saja dengan temannya, yang ternyata itu adalah tour keliling Eropa untuk menghadiri konser band U2. Tentu saja sang ayah marah dan keberatan (walau akhirnya terpaksa mengijinkan) putrinya pergi.

Lalu si anak dan temannya jadi korban penculikan oleh gembong penjahat kelas kakap yang merupakan jaringan perdagangan manusia lintas negara tingkat internasional yang ternyata justru melibatkan petinggi aparat keamanan setempat.

Sungguh mengerikan, membuat marah luar biasa dan naluri perempuan saya terusik sampai terasa sakitnya tu di sini (nunjuk jempol pegal kelamaan ngetik keypad HP). Perjuangan sang ayah benar-benar heroik dan sangat berani demi menyelamatkan putrinya.

Sinopsis lengkap dan mantapnya bisa dibaca DI SINI.

Lalu mengapa saya kesal? Dan apa hubungannya dengan stigma negatif terhadap Islam?

Saya bukan bermaksud menyinggung isu SARA yang sensitif di ruang publik macam begini. Saya hanya menyampaikan rasa ketidakenakan dan sedikit keberatan pada beberapa adegan di film ini yang saya anggap menghina agama tertentu. Mungkin pandangan kita bisa saja berbeda, atau anggap saja saya berpikiran sempit. Entahlah. . .

Dalam salah satu adegan ketika si anak gadis diculik, ia sempat menggambarkan si penculik berjenggot dan bertato lambang bulan bintang. Ah, yang rasanya secara sekilaspun kita tahu bahwa itu merujuk pada simbol agama tertentu.

Lalu di bagian ketika transaksi terjadi, calon pembeli untuk si anak yang ternyata masih perawan itu adalah seorang Arab yang rela membayar dengan harga mahal. Membuat dada saya semakin sesak. Hal itu terasa semakin memperkuat anggapan saya bahwa film ini memang memojokkan Islam dengan stigma negatif yang selama ini memang sering ditampilkan di berbagai media, film, buku dan sebagainya (rasanya sudah lebih dari cukup ketika orang Islam selalu diidentikkan dengan teroris, kekerasan dan biang bom bunuh diri dan juga berbagai tindak kriminal yang melanggar Hak Asasi Manusia !!).

Memang bukan rahasia lagi kan, dunia entertainment sangat akrab sebagai sarana propaganda Barat dengan segala visi dan misinya. Lihat betapa suksesnya Drakula karya Bram Stoker sampai yang teranyar Drakula, Untold Story. Film itu adalah benar-benar upaya untuk memutarbalikkan sejarah, mengagungkan seorang tokoh pembantai tersadis sepanjang masa dan membuat kita melupakan kejayaan Islam di abad pertengahan dan menyingkirkan seorang pahlawan, mujahid sejati Sultan Mehmed al Fatih Sang Penakluk Konstantinopel. Bahasan lengkapnya ada DI SINI.

Saya memang pencinta film Hollywood dan senang juga dengan hal-hal yang berbau Barat. Tapi ketika apa yang saya lihat terasa mengusik jati diri sebagai umat (walau saya hanya seorang awam) paling tidak saya harus menyampaikan rasa keberatan dan memfilternya agar jangan sampai rasa bangga kita sebagai Muslim tergerus oleh gencarnya tayangan-tayangan yang berpotensi melecehkan (kalau tak bisa dibilang menghina) agama yang kita anut dan yakini.

Wallahualam. . .


Dan,
Malam inipun mata lambat terpejam, ada sebuncah rasa yang mengganggu di dalam rongga dada.

Yang aku tak tahu itu apa?

ANTARA SAYA, BERAT BADAN DAN MEGHAN TRAINOR (Review Lagu All About that Bass)

Because you know I’m all about that bass Bout that bass, no treble.
4 x

Yeah, it’s pretty clear, I ain’t no size two. But I can shake it, shake it Like I’m supposed to do. Cause I got that boom boom that all the boys chase. And all the right junk in all the right places.

I see the magazine, workin’ that Photoshop. We know that shit ain’t real. C’mon now, make it stop If you got beauty beauty, just raise ’em up. Cause every inch of you is perfect. From the bottom to the top.

Yeah, my mama she told me don’t worry about your size. She says boys like a little more booty to hold at night. You know I won’t be no stick figure silicone Barbie doll. So if that’s what you’re into then go ahead and move along.

Because you know I’m All about that bass Bout that bass, no treble.
4 x

Hey!

I’m bringing booty back, Go ahead and tell them skinny bitches that. No I’m just playing I know you think you’re fat. But I’m here to tell ya, Every inch of you is perfect from the bottom to the top.

_____

Karena kau tahu aku amat suka bas ‘Amat suka bas, bukannya trebel.
4 x

Yeah jelas sekali, ukuranku bukan nomor dua. Tapi bisa kugoyang, bisa kugoyang seperti seharusnya. Karena kumiliki jedam jedum yang dikejar semua cowok. Sampah yang tepat di tempat yang tepat.

Kulihat majalah menggunakan Photoshop (editan.) Kita tahu semua itu bohong belaka. Ayolah, hentikanlah. Jika kau punya kecantikan, munculkanlah. Karena setiap inci dirimu itu sempurna. Dari bawah sampai atas.

Yeah, ibuku, dia bilang jangan pusing dengan ukuranmu. Dia bilang, para cowok lebih suka pantat yang lebih besar untuk didekap di waktu malam. Kau tahu aku takkan bertubuh lurus, boneka Barbie silikon. Jadi, jika itu yang kau kejar, Maka pergilah dan lanjutkanlah.

Kau tahu aku amat suka Bass, bukannya trebel. Amat suka bas bukannya trebel.
4 x

Hey!

Kan kukembalikan …. (?)
Ayo teruskanlah, katakan pada mereka yang kurus itu. Tidak, aku hanya main-main aku tahu kau pikir dirimu gendut. Tapi aku di sini tuk memberitahumu bahwa Setiap inci dirimu itu sempurna dari bawah sampai atas.

Terjemah-Lirik-Lagu-Barat

__

Videonya bisa ditengok DI SINI



Blak-blakan, apa adanya, berani, vulgar dan jauh meloncat dari pakem yang telah ada dan diyakini selama ini.

Itulah kesan saya ketika kali pertama menyaksikan video klip lagu ini di TV. Sukses membuat saya mengobok-obok isi kantong Google dan YouTube, memburu video dan liriknya. Dan sukses yang lebih drastis lagi adalah kemampuan lagu yang bernada ceria dan ngebeat ini membuat rasa percaya diri saya naik mencapai atap rumah tetangga, terbang dengan ringannya meski dengan bobot saya yang 70 kg ini.

Hahay. . . Mendadak saya merasa cantik, merasa dicintai karena saya mencintai diri saya sendiri. Tak perlu dijelaskanpun liriknya telah cukup menjelaskankan dengan gamblang bagaimana rasanya jadi wanita berbadan berisi yang harus bertahan hidup dalam ukuran kecantikan dan standar industri fashion dan kosmetik yang mengkultuskan tubuh ideal sekurus selangsing manekin, seimut boneka Barbie.

Ughh!

Seakan kurus dan langsing itu keharusan, sehingga jamak terjadi ritual permak tubuh yang menyakitkan dan menguras biaya. Agak kejam rasanya ketika di dunia perempuan kerap mengatakan dan meyakini bahwa :

” Kecantikan diciptakan bukan dilahirkan, dan tak ada pencapaian tanpa rasa sakit.”

Jangan ladies! Stop! Berhentilah menyakiti diri demi tujuan penampilan nan cantik itu.

Meski kabarnya lagu ini menuai protes yang datang justru dari kalangan feminis karena dinilai menyudutkan wanita yang langsing (karena kuatnya pledoi dalam lirik lagunya atas wanita gemuk yang selama ini juga tak jarang seakan dianaktirikan dari dunia fashion dan lekat dengan diskriminasi), tapi lagu ini telah menggugah dan menginspirasi saya, dan amat sangat mewakili perasaan dan diri saya yang tahu benar rasanya _dibully bahkan dibuat merasa bersalah dan tak nyaman atas apa yang saya makan dan lakukan karena anggapan orang_ ketika jarum timbangan terus bergeser ke kanan dan amat sulit jika harus membuatnya ke kiri lagi.

Meghan Trainor sendiri dari yang bisa kita semua lihat adalah gadis muda yang manis dan menarik meski tubuhnya memang berisi tapi setiap wanita seksi dengan cara dan gayanya sendiri. Mau kurus ataupun gemuk semua punya plus minusnya masing-masing, apalagi jika mulai memasuki ranah kecantikan, hubungan dengan lawan jenis dan sensualitas.

So, selama gemuk tak membawa masalah dan tetap sehat, pede aja lagii, karena,

Yeah, my mama she told me don’t worry about your size. . .
She says boys like a little more booty to hold at night. . .
(Aw aw aw. . .)

ANALOGI PLAYBOY; BUAYA ATAU KUCING ??

Beberapa waktu yang lalu saya pernah menghadiri acara walimah perkawinan seorang kerabat yang masih terbilang saudara satu bapak dari suami saya. Ya, suami saya yang selama ini saya ketahui sebagai anak tunggal ternyata punya saudara sebapak. Dan tidak hanya satu, ada banyak, saya menyebut banyak karena tidak tahu jumlah persisnya dan mereka saling terpisah satu sama lain bahkan ada beberapa yang tidak saling kenal.

Jangan tanya soal hubungan silaturahmi yang terputus puluhan tahun, hal itu terjadi bukan tanpa sebab. Ternyata renggangnya hubungan kekeluargaan ini terjadi karena imbas dari sifat playboy akut yang diderita seorang ayah.

Kok bisa?

Maaf sebelumnya, bukan bermaksud membuka aib orang yang telah tiada, tapi saya hanya ingin menjadikan ini sebagai bahan pelajaran bagi kita semua.

Seorang playboy biasanya diidentikkan sebagai Pria Buaya, tidak setia dan senang bermain wanita. Padahal ini analogi yang agak kurang tepat, sebab Buaya itu termasuk hewan yang setia pada pasangannya, sama seperti Penguin dan Merpati yang termasuk hewan paling setia di dunia.

Kalau menurut saya, analogi yang tepat untuk sifat playboy adalah Kucing. Mengapa kucing?

Jadi dalam sebuah percakapan antara suami saya dan salah seorang saudaranya sebapak (kakak), saya mendengar begini:

“Aneh sekali , kita ini saudara yang bahkan tidak tahu satu sama lain. Kita bahkan punya banyak keponakan. Kalau seperti sinetron bisa jadi terjadi hubungan sedarah. Karena bapak dahulu benar-benar bertindak seperti Kucing. Tukang kawin, membuat anak dan lalu meninggalkan istri-istrinya yang membesarkan anak-anak seorang diri, lalu kemudian mencari istri baru lagi.”

Soal tanggung jawab, jangan tanya itu pula. Playboy semacam ini benar-benar bertindak seperti Kucing, datang pada saat musim kawin dan pergi saat perbuatannya mulai menunjukkan hasilnya. Bukankah kucing jantan biasanya pergi setelah sukses menghamili betinanya??

Sangat memiriskan hati membayangkan seperti apa kondisi anak-anak yang ditinggalkan bapaknya itu, anak-anak yang mesti berjuang untuk bertahan hidup tanpa kepedulian seorang ayah dan beban mental karena beribukan seorang wanita yang mesti menyandang status janda gantung di usia yang masih muda.

Benar-benar Kucing garong penjahat wanita. Dan yang paling membuat saya tak habis pikir, ada saja (bahkan banyak) wanita yang terjerat cinta sesaat playboy cap Kucing ini. Mungkin pepatah yang menyatakan bahwa “wanita lebih tertarik pada pria bajingan” ada benarnya. Karena sepak terjang dan predikat playboy ini seakan-akan jadi rekam jejak yang serupa piagam penghargaan yang dapat melegitimasi upaya mereka dalam penaklukan hati wanita. Tak terelakkan sekaligus tak terbantahkan. Hsseeeh. . . . .

Ternyata ‘Kucing’ yang berbulu lembut, jinak dan menggemaskan itu bisa sangat mengesalkan kaum hawa. Ckckck. . .

Nah, men!!
Mau jadi pria gentleman atau manusia serigala setengah kucing??