KETIKA HARGA BERAS NAIK DRASTIS

Beberapa hari terakhir ini pemberitaan media sering menyoroti tentang kenaikan harga beras yang tak terkendali di Ibu Kota. Mendadak terasa ironi karena ini terjadi justru setelah harga BBM diturunkan. Absurd!

Mari, kita bisa sama-sama menjalankan anjuran om Ebiet G. Ade; ramai-ramai kita tanyakan pada rumput yang bergoyang.

Ask why ??

Kalau di Jakarta heboh kenaikannya baru beberapa waktu terakhir ini, justru di daerah saya pulau Borneo ini mahalnya beras sudah berlangsung sejak pasca panen kemarin sampai memasuki musim tanam saat ini. Sama saja, mau hujan mau panas, mau minyak naik apa turun. The rice is expensive.

Mungkin, karena berkurangnya lahan pertanian yang dialihfungsikan oleh bangunan dan perumahan.

Dan barangkali mungkin, karena mulai maraknya bangunan apartemen berlantai puluhan itu. Lalu si Beras nekat naik lift atau tangga menuju lantai tertinggi.

Nyaris tak terjangkau.

Tak terkendali.

Beberapa tak mampu beli.

#di situlah kadang saya merasa sedih.



Sebuah inspirasi dadakan setelah menonton banyolan menohok di acara ILK.

Advertisements

KENGERIAN TRAUMATIK MASA LALU YANG MEMBENTUK DAN MENGUBAH SESEORANG (Review Buku “Menyingkap Karen”)

This is what that i called live!

Inilah apa yang saya sebut hidup. Menikmati hobi dan sedikit me time di tengah rutinitas harian saya sebagai ibu rumah tangga. Beberapa waktu lalu saya dibelikan (lagi) oleh suami sebuah ponsel berbasis android yang kali ini lumayan canggih dibanding gadget abal-abal yang dulu pernah kami miliki hanya untuk menyenangkan anak-anak bermain game online.

Bisa dibayangkan seperti apa rasa “pride and prestise”nya di jemari saya yang terbiasa menjamah ponsel java sederhana yang fitur hebatnya hanya karena ada kamera bermegapixel skala dua di belakang layarnya dan jaringan internet berbasis Edge yang loadingnya cukup menguji kesabaran jiwa. Ckckck. . .

Saya bersyukur, karena saya dapat menggunakan si android ini sebagai mana mestinya. Paling tidak, saya merasa sedikit lebih cerdas dan tidak gaptek-gaptek amat ketika ponsel pintar itu bisa saya gunakan untuk menyalurkan hobi membaca novel kronis yang saya derita (yang sukses membuat saya sekarang berkacamata berlensa super tebal karenanya). Yah, walau untuk menulis saya tetap mengandalkan si jadul Java, sebab masih agak gemetaran dengan sensitifitas tombol layar jilatnya. Hahay. . .

Saya mulai memburu ebook yang bertebaran di internet dan mengunduh aplikasi readernya yang paling mumpuni. Sukses, sayapun menemukan sebuah ebook yang cukup menggugah di blog seorang sahabat MWB, DI SINI.

karen.jpg

Ebook yang berjudul Menyingkap Karen ini mengisahkan tentang seorang Psikiater bernama Richard Baer__sekaligus penulis buku ini__ yang menangani seorang pasien depresi bernama Karen, seorang ibu rumah tangga dengan 2 anak.

Karen mengeluhkan berbagai tekanan dan rasa sakit fisiknya pasca melahirkan anak ke duanya melalui operasi cesar. Jadwal konseling, pertemuan dan kegiatan konsultasipun dimulai dengan Dr. Baer. Fakta-fakta penyebab dan pemicu depresi juga keinginan yang begitu besar untuk melakukan bunuh diri dan melukai diri Karen pun mulai terkuak perlahan-lahan. Membuka lembar demi lembar sketsa hitam di sepanjang kehidupan Karen dan trauma emosional masa lalu yang ternyata sangat menyakiti diri, jiwa dan mentalnya melebihi yang dapat manusia bayangkan sebelumnya. Penuh luka menganga yang menyeret inti sari kehidupan manusia dari koridor seharusnya. Bahkan seorang psikiater handal (yang amat mengedepankan profesionalitas dan kredibilitas) seperti Dr. Baer pun seakan ikut larut, tersesat dan merasakan ketakutan yang sama besarnya seperti yang dirasakan Karen dan kecenderungannya untuk bunuh diri yang sangat parah itu.

Selama 18 tahun pengobatan Karen, banyak fakta mencengangkan yang akhirnya terungkap. Melalui terapi hipnotis, akhirnya Dr. Baer menemukan kepastian diagnosis kondisi Karen yang selama ini telah dicurigainya. Terbukti, Karen mengalami gangguan kejiwaan kepribadian ganda, tidak tanggung-tanggung ada 17 macam alter ego yang berada dalam tubuhnya dan mengendalikan kehidupan Karen sepenuhnya selama 30 tahun lebih.

Ke 17 sosok ini secara sistematis menangani berbagai peristiwa hidup Karen sehari-hari. Membuatnya sering merasa menjadi orang yang paling gila, kehilangan waktu dan tak dapat mengingat apa yang telah ia lakukan beberapa saat sebelumnya (bahkan Karen merasa tidak pernah berhubungan fisik dengan suaminya).

Sungguh sangat mengerikan menyaksikan bagaimana Karen bisa memiliki kepribadian ganda itu. Setiap peristiwa, waktu dan tempat kejadian digambarkan secara detail, teratur dan jelas. Membuat saya yang membacanya tak ayal merasakan gelitik ngeri di bagian tubuh saya sendiri karena Karen semasa kecilnya adalah korban child abuse paling brutal yang saya ketahui pernah ada dilakukan oleh manusia; orang-orang terdekat Karen yang mestinya menyayangi dan melindunginya.

Karen telah dijadikan objek kekerasan seksual oleh Kakek dan ayahnya sendiri. Saya sedih dan marah ketika di usia 7 tahun ia (maaf) dilecehkan, diperkosa, dilukai, ditusuk dan diiris organ vitalnya. Dan dengan cara paling biadab yang pernah ada di usia 11 tahun ia mulai dijual ayahnya pada rekan-rekan kerjanya dan diharuskan melayani mereka. Ibunya tidak peduli dan tak pernah membelanya. Sampai ia dewasa dan menikah, sang suami pun tidak memperlakukannya dengan baik.

Membuat saya bertanya hal yang sama yang ada dalam pikiran Dr. Baer: apakah hal semacam itu memang benar terjadi dan bagaimana mungkin manusia dapat menghadapinya ?

Dan ternyata, 17 kepribadian dengan latar dan karakter berbeda itulah yang menjadi mekanisme pertahanan diri seorang Karen, ia mengalami kesulitan akut dalam mempercayai orang lain. Karenanya perlu waktu bertahun-tahun sampai akhirnya ia mengungkapkan traumanya pada Dr. Baer.

Fiuh. . .

Most recomended !! #ngelapingus
#jemurbantal

KEPERCAYAAN DAN MITOS SELAMA KEHAMILAN DALAM MASYARAKAT BANJAR

Hmm. . .

Lama juga ya saya gak posting dan bersih-bersih di rumah maya ini, nyaris berdebu dan saya bersin pas masuk sini. Hatchii. . .
Kira-kira ada yang kangen saya tidak ya??

Kalo ada yang kangen ini saya kasih sun jauh dari Banjarmasin kota Seribu Sungai, tapi sunnya pakai bibir itik Sarati yang dagingnya gurih dimasak sambal habang itu. Cup cup ah, kweek. . .

Kali ini saya masih membahas tak jauh-jauh dari topik kemarin, masih tentang kehamilan dan segala tetek bengeknya.

Negeri ini memang tak terlepas dari segala macam adat istiadat, kebiasaan dan mitos yang masih dipercaya masyarakat, masing-masing daerah dan suku pasti punya, tak terkecuali di daerah saya. Tapi kali ini saya mengkhususkan pada hal yang diperuntukkan terutama bagi kaum perempuan. Secara umum, tujuan ritual-ritual adat dan hal-hal musykil yang dilakoni selama kehamilan ini adalah bertujuan agar diberi kemudahan melahirkan, bayi yang normal dsb.

Inilah beberapa KEPERCAYAAN DAN MITOS SELAMA KEHAMILAN DALAM MASYARAKAT BANJAR :

1.) CINCIN DI IBU JARI KAKI YANG TERBUAT DARI BEBERAPA HELAI BENANG HITAM

Setelah seorang istri diketahui pasti status kehamilannya maka biasanya ia diharuskan memakai cincin di ibu jari kakinya (saya lupa di kiri atau di kanan). Terbuat dari helaian benang hitam yang dililitkan dalam jumlah ganjil, 3, 5, 7 sampai 9 helai biasanya. Tujuannya agar tidak diganggu makhluk halus semisal Hantu Baranak (sejenis Sundel Bolong) yang suka dengan wanita hamil.

2.) BANYU BAYA

Ini adalah air putih biasa yang mungkin dibacakan atau ditiupkan sesuatu yang dimintakan pada bidan kampung atau tetuha masyarakat yang dihormati dan bisa menangani berbagai hal tentang kehamilan. Air ini bisa untuk diminum atau dimandikan. Lebih sering digunakan untuk kehamilan ke tiga (baya tiga, tapi bisa juga pas kehamilan pertama) karena dianggap sebagai bilangan ganjil dan rawan dengan berbagai gangguan kehamilan.

3.) MINYAK BANGSUL

Ini tak jauh berbeda dengan poin 2. Tapi ini berupa minyak yang harus dijilat/sedikit ditelan dan dioleskan ke perut dari atas ke bawah setiap pagi, dimulai sejak 7 bulan sampai melahirkan. Ini boleh untuk semua jenis kehamilan. Tujuannya agar mudah beranak dan lancar meluncur seperti minyak itu sendiri (orang Banjar bilang susurah/sasarahnya).

4.) MENANAM JARIYANGAW dan MENGIKAT TALI HADUK/IJUK

Ini sejenis tanaman pandan-pandanan yang biasa tumbuh di tanah yang berair, berbau menyengat berdaun lurus dan panjang. Ditanam di dekat rumah si ibu hamil agar tidak diganggu Kuyang (hantu wanita yang terbang hanya dengan kepala dan usus terburai yang suka makan bayi, darah dan tembuni/plasenta dari ibu yang melahirkan). Sedangkan tali haduk bisa diikatkan di sekeliling rumah di bagian bawah atau tongkat tiang penyangga.

5.) MANDI 7 BULANAN DAN MANDI KUCING

Ini adalah prosesi paling menggelikan, agak ngeri juga, yang pernah saya lihat. Mandi 7 bulanan biasanya hanya dari kalangan keturunan daerah tertentu yang melakoninya, seperti orang Nagara (salah satu daerah di Hulu Sungai, Kal Sel).

Prosesi ini sangat merepotkan dan terbuka untuk umum/undangan tetangga dan kerabat. Mandi dengan air bunga yang telah diberi jampi atau shalawat dsb, disiram dari kucuran sebuah mayang muda (pelepah buah kelapa yang belum terbuka) lalu kemudian dibelah dengan sekali tapak tangan. Prosesi injak telur, digosok banyu baya, air pelungsur oleh para tetuha wanita yang mana tangan mereka bebas mengubek-ubek tubuh si ibu hamil dari dada perut sampai ‘bawah’. Dan ibu hamilnya hanya memakai kain panjang batik (tapih bahalay) sebagai penutup tubuhnya (dan ini ditonton orang banyak loh, dijepret kamera juga), dipagari tebu yang digantungi uang, permen dan roti kering yang diperebutkan massa yang menonton.

Kalau mandi kucing adalah prosesi 7 bulanan yang lebih sederhana. Saya pernah melakoni yang ini karena keluarga saya dan suami bukan dari keturunan yang mengharuskan mandi seperti di atas. Jadi kita cukup membawa seekor kucing betina (lebih afdol jika kucingnya juga bunting). Diletakkan di pangkuan, membaca shalawat lalu byurr dengan air pas tengah hari Jum’at. Ini bisa dilakukan sendiri di kamar mandi. Hakikat hati adalah agar kita meneladani kemudahan kucing yang bisa sekali beranak lahir 3-5 ekor tanpa bantuan siapapun dan bayinya ‘malacung’ (melompat/keluar dengan mudahnya) seperti ketika si Kucing kena guyuran air. Begitu !

Anda percaya ??

Sebenarnya masih banyak hal-hal yang sedikit di luar logika yang dilakukan para ibu hamil di daerah saya, tapi karena keterbatasan karakter di sebuah ponsel Java, maka apalah daya saya. Kiranya ini saja dulu sajian tulisan kali ini. Semoga bisa dijadikan sebagai khazanah keragaman eksotisme budaya tanah air, khususnya tanah Borneo dan tidak menjauhkan kita pada Sang Pencipta Segala, Allah Azza Wajalla.

BAWAAN BAYI ATAU BAWAAN MALAS ??

Ekhem!

Tes satu dua.

Tes ting tes ting, setetes langsung bunting.

Eh,

ibuhamil.gif
Gambar dari:
budak-keren.blogspot.com

Kalau biasanya saya rajin mengkritisi dan menilai secara subjektif, lebih menekan dan sedikit menyudutkan pria. Maka kali ini saya mau bawel, cerewet, ‘rese’ mengkritisi kaum saya, p e r e m p u a n.

Akhir-akhir ini saya sering dibuat ‘grrrh’, agak kesal gimana gitu lihat perangai dan lagaknya para ibu hamil. Kalau perihal ngidam yang tidak biasa di awal-awal kehamilan rasanya itu sudah lumrah dan biasa ya.

Tapi sekarang ini saya baru tahu kalau karena hamil si calon ibu bisa jadi maniak belanja, hobi jalan-jalan, makan di luar dan gak masak di rumah seharian.

Dan dalih yang paling shahih ya kata-kata sakti ”bawaan bayi, yang kalau tidak dituruti nanti anaknya bisa ileran, ngeces gak karuan”. Itu selalu jadi senjata pamungkas paling mandraguna agar para suami mau saja membiarkan para istri yang sedang bunting itu bertindak ‘semena-mena’.

Saya tahu kalau kondisi psikis ibu hamil rawan stres, gak boleh kelelahan dan butuh perhatian lebih dari orang-orang terdekat, terutama suami selaku oknum pelaku yang membuat bengkak kronis sembilan bulanan itu. Juga perlu pakaian baru ukuran jumbo untuk memuat perut yang membesar, pay*dara dan pinggul yang melebar. Tapi kok saya merasa agak kejam ya, kalau karena hamil para wanita jadi kemaruk dan konsumtif tiada tara yang tak ayal membuat para suami mengurut dada dan mengelus isi dompet yang isinya tinggal tak seberapa karena sedang kena sindrom tanggal tua.

Membuat saya bertanya, itu memang bawaan bayi atau bawaan malas??

Karena anehnya lagi siklus ‘ngidam mahal’ ini terus berlanjut sampai si orok lahir. Kalau pas hamil selalu makan di luar karena alasan bawaan bayi, maka pasca melahirkan dalihnya pasti tak lain tak bukan karena rempong dan repotnya mengurus bayi itu.

Herran saya, mungkin jaman emang udah berubah, kalo dulu perempuan hamil cukup puas dengan memakai daster jadul warisan ibu atau mertua yang sudah kadaluwarsa, maka sekarang lain lagi, baju hamilnya mesti beli yang teranyar di mall atawa butik ternama biar gak kucel dan tetap trendy macam sosialita. Dan ini bener-bener kalap, melewati batas.

Karenanya saya menulis ini (walau dengan resiko tinggi kemungkinan dicekal, ditimpuk kapstok atau gak diundang lagi di acara arisan oleh para tetangga dan ibu-ibu muda) agar para suami waspada dan para istri sadar diri supaya kehamilan tidak dijadikan senjata, alat pemuas keinginan yang sebenarnya tidak penting-penting amat dan cenderung sebagai tindakan pemborosan yang menyuburkan perilaku malas.

Bukan berarti ibu hamil tak berhak menikmati kesenangan, tapi yang sesuailah dan sewajarnya saja.

Beli baju hamilnya gak usah banyak-banyak, cuma dipakai beberapa bulan ini kok.

Juga gak usahlah beli high heels berjeti-jeti, toh bahaya kalo pas hamil memakainya, kalau entar kepeleset trus mrosot ke got, piye? Kalaupun niatnya bisa dipakai pasca melahirkan biasanya ukuran kaki berubah dari saat hamil.

Tengoklah suasana dapur dan rasakan betapa dinginnya tanpa sentuhan tangan wanita. Kurangilah aktivitas makan di luar dan jadikan memasak sebagai kegiatan yang menyenangkan.

“Memasak dan mengolah makanan sendiri bukan hanya sekedar urusan mengisi perut yang lapar. Tapi itu juga sebagai sarana pemenuhan gizi keluarga yang terjamin kebersihan dan higienitasnya.

Lebih dari itu, memasak dan menyediakan makanan sendiri adalah salah satu elemen pengendalian yang super penting dalam rumah tangga yang berfungsi untuk terus merekatkan cinta kasih sayang suami pada sang istri”.

Ciyee. . . Ciyee. . . Masakanmu tak terlupakan ! #melukwajanamapanci

Jadi, mau insyaf kan jadi ibu hamil yang pemalas, gak suka masak dan doyan ngemall ?

PAPARUTAN IWAK HARUAN BAGORENG (Oseng Jeroan Ikan Gabus)

Hujan t’lah tiba.
Hujan t’lah tiba.
Hore, hore !!
Hatiku gembiraaaa. . .

1-paparutan-iwak-haruan-b.jpg

Dingin-dingin begini yang paling enak kalau tidak tiduran ya makan-makan. Apalagi yang hangat-hangat dan pedas, dijamin sukses menggagalkan program diet Anda yang telah dijalani dengan keras mati-matian dan berdarah-darah itu. Huahahaha. . . *ketawajahat.

Maka kali ini saya akan membagikan sebuah resep unik yang praktis (biasa, saya mah paling doyan yang dioseng-oseng goreng-goreng gak pake ribet!) yang akan meningkatkan nafsu makan ke stadium 4. Kalau biasanya saya masak ikan, maka sekarang saya akan mengambil alternatif lain dari ikan yaitu isi perutnya.

Ih, syerrem ya? Membuat saya berpikir bahwa bangsa manusia memang predator (pemangsa) paling sejati. Tak puas dengan ikannya, jeroannya pun diembat juga.

Ini dia RESEP PAPARUTAN IWAK HARUAN BAGORENG :

BAHAN :

1/4 kg paparutan/jeroan iwak haruan/ikan gabus.

Kalau ada yang banyak telurnya lebih enak. Bersihkan dengan cara membelah usus dan lambungnya dengan sembilu atau pisau kecil yang tajam. Cuci bersih.

2-paparutan-haruan-goreng.jpg
Kalau saya sebenarnya kurang suka dengan jeroannya, yang paling enak ya telurnya (yang warnanya kekuningan itu) kenyal-kenyal lembut dan rasanya gurih.

BUMBU HALUS :

1 cm kunyit
1 siung bawang merah dan bawang putih
Garam dan asam kamal/ asam Jawa secukupnya.

Semuanya dihaluskan dan balurkan pada jeroan ikan yang telah dibersihkan tadi, diamkan beberapa menit agar meresap.

Sementara itu kita iris sebutir tomat, cabe merah dan cabe hijau besar, 3 siung bawang merah dan bawang putih. Tak lupa pula satu batang serai sebagai tambahan aroma. Oya, kalau suka yang ekstra pedas bisa ditambahkan cabe rawit tiga puluh biji.

CARA MEMASAK :

Siapkan wajan yang telah diisi minyak goreng secukupnya diatas api sedang. Setelah panas masukkan serai dan bahan irisan tadi kecuali tomat, oseng-oseng sampai harum.

Kemudian masukkan jeroan ikan, aduk terus, beri sedikit air dan gula pasir. Setelah hampir matang baru masukkan irisan tomat, oseng-oseng sampai air menyusut dan jeroan ikannya matang sempurna. Cicipi rasanya apakah sudah pas atau belum dengan selera Anda. Bisa ditambahkan penyedap bila suka.

Ini dia,

3-paparutan-iwak-haruan-g.jpg

Pararutan iwak haruan bagoreng siap dihidangkan bersama dengan sepiring nasi pulen hangat yang dinikmati ditengah cuaca dingin karena hujan tanpa henti dari malam sampai sore hari.

Kada bataha tupang, kanyang rata dapatnya!