PELAJARAN MENJADI SEORANG IBU (Review Film Raising Helen)

Menjadi orang tua memang tak ada sekolahnya, mau sarjana ataupun tidak ketika harus menjadi orang tua, manusia kembali belajar, mengajar, diajar dan menimba ilmu sebanyak-banyaknya. Urusan berhasil tidaknya tergantung proses keseluruhan. Karena pelajaran menjadi ibu itu terus berlangsung sepanjang alur kehidupan dan seharusnya tak ada yang berhak memvonis atau mengklaim bahwa ibu yang satu lebih baik dari yang lainnya.

Ketika seorang ibu memutuskan menyerahkan anak-anaknya pada orang lain, maka kita semua tahu bahwa tak akan ada orang yang cukup pantas untuk itu. Maka kita hanya bisa menyerahkannya pada orang yang sekiranya paling mirip denganmu. (Lindsey)

raising-helen.jpg
Gambar: http://www.allmusic.com

Inilah film bergenre drama komedi yang justru membuat saya banjir air mata. Raising Helen, mengisahkan tentang seorang wanita muda yang sukses mencapai impiannya dan bekerja di bidang industri fashion di sebuah perusahaan mode ternama di tengah kota Manhattan. Adalah Helen Harris seorang wanita mandiri, yang bebas dan merdeka, gambaran sempurna untuk sosok wanita karier.

Tapi kemudian segalanya berubah total ketika kakak Helen (Lindsey) dan iparnya/suami Lindsey (Paul) meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil. Meninggalkan tiga anak yang diwalikan kepadanya, padahal ia masih lajang dan tak punya pengalaman menjadi ibu dan mengapa bukan Jenny, saudarinya yang lain yang telah menikah dan tengah mengandung anak ke tiga.

Helen memang sangat menyayangi keponakannya dan cukup dekat dengan mereka, tapi menjadi wali dan harus membesarkan mereka jelas bukan perkara mudah. Apalagi mengurus anak-anak yang hatinya luka karena kehilangan ke dua orang tuanya.

Ada si abege labil Audrey (15 tahun) yang mulai suka dengan lawan jenis dan pesta-pesta, Henry (10 tahun) yang senang berbohong, bermasalah dengan kegiatan di sekolah dan kehilangan minat belajar olahraga yang dulu sangat digandrunginya, dan si bungsu Sarah (5 tahun) yang kerap merasa sedih, menangis karena hal-hal sepele yang mengingatkannya pada sang ibu yang telah tiada.

Benar-benar sebuah gebrakan yang menghentakkan hidup Helen sepenuhnya. Ia berusaha tetap menjalani semuanya dengan normal, bekerja dan merawat anak-anak, mencarikan tempat tinggal dan sekolah yang baru. Semuanya berjalan cukup baik, super sibuk walau sedikit ‘berantakan’. Sampai akhirnya karena satu insiden membuat Helen dipecat dari pekerjaannya.

Keluarga dan fashion memang tidak cocok.

Seperti itulah kata-kata atasan Helen.

Memang ya, agak sulit untuk tetap rapi, teratur dan stylish (juga berkarier) di tengah anak-anak yang terus bergerak, merengek, tak bisa diam dan hobby membuat pacuan jantung karena tingkahnya. Dan Helen menjadi seorang ibu yang menanggung itu sendirian.

Belum lagi tekanan Jenny yang merasa ia lebih berpengalaman dan rasa tersisihnya karena Lindsey lebih memilih Helen untuk mengasuh anak-anaknya. Dua kakak beradik ini saling bertengkar karena banyak perbedaan. Tapi kemudian mereka tersadar ketika Audrey hilang dari pesta dansa sekolah dan pergi ke motel bersama teman laki-lakinya yang begajulan. Semua panik, membuat saya terkagum-kagum ketika Jenny melacak nomor kartu Visa yang dicuri Audrey dari dompet Helen dan menyetir mobil dalam keadaan hamil besar di tengah malam buta bersama Helen yang kebingungan dan menggerebek kamar motel tempat Audrey berada (ternyata seorang ibu bisa menjadi detektif sekaligus satuan polisi pamong praja yang berdedikasi tinggi). Sukses, ke dua wanita itu pun jadi bibi yang sangat dibenci keponakannya.

Mungkin memang seperti itulah cara kerja seorang ibu berjalan. Bahkan seperti Nilma (tetangga Helen) bilang “aku menikmati saat anak-anak membenciku”. Karena orang tua tetap harus menentukan peraturan dan batasan-batasan jelas terhadap anak-anak mereka. Lemah lembut di saat tertentu, tegas dan tak terbantahkan di saat lainnya. Apapun konsekuensinya.

Dan jiwa muda anak akan selalu bertanya mengapa? Maka dengan sedikit superioritas orang tua pun menjawab, karena kau harus melakukannya/aku menyuruh demikian! Titik, habis perkara, no compromized! Tak ayal, membuat mata belia itu melotot, menangis dan membanting pintu kamar tepat di depan muka.

Menjadi ibu memang sesuatu, saya saja menyebut ini sweet horrible moment (masa-masa menyeramkan yang manis). Tapi saya berharap tak akan mendapat bantingan pintu atau semacamnya karena kegagalan negosiasi yang mati kompromi.

Mungkin kita memang tak bisa menjadi super mom atau ibu yang sempurna. Tapi bukankah kita semua bisa belajar jadi ibu yang baik?? (in my deeply heart, i hope so.)

Sesuatu yang sangat cetar menggelegar, sebuah film yang benar-benar layak ditonton dan direnungkan. Masih meninggalkan sebuah tanda tanya besar di benak saya selama 10 tahun__belajar__ menjadi ibu:

Mampukah saya ???

11 thoughts on “PELAJARAN MENJADI SEORANG IBU (Review Film Raising Helen)

  1. menjadi ibu memang tidak harus melahirkan dr rahimnya tetapi menjaga dan mengasuh anak seperti anak sendiri dg kasih sayang . itulah ibu sejati. karena masih ada aja anak kandung yg disia siakan bahkan di buang tanpa rasa dosa. seperti yg pernah kita dengar di berita berita.

    Like

  2. Assalamualaikum…

    Aku dh liat film ini. Knp Helen yg dipilih jd wali dlm surat wasiat & bkn Jenny? Krn karakter Helen lebih mirip dg Lindsey yg terungkap saat Jenny memaksa untuk membaca surat yg ditulis Lindsey tuk Helen.

    Aku suka adegan si bungsu Sarah yg punya cara unik dlm memakai tali sepatu yg hrus seperti yg diajarkan oleh alm. Ibunya.

    Aku yakin kamu bisa jd seorang ibu yg tdk hanya sbg orang tua, tp juga sahabat yg baik bg anak-anakmu. Jdlh pendengar tuk mereka.

    Nikmatilah peran muliamu sbg seorang ibu!
    SELAMAT BERJUANG..!

    Like

  3. Terlepas dr film diatas,,rasanya tak ada sekolah maupun penghargaan sebagai ibu,,pun tak ada yg tahu bagaimana ibu bisa mampu tarik ulur antara kasih sayang dan ketegasan,,karena kedua sisi tsb sangatlah sulit untuk dicampur adukan..

    Tapi sejauh itu,,Alhamdulillah saya menikmati peran saya sbgai ibu..

    Kita pasti mampu.

    Like

  4. Kasihan jg dapat warisan anak bandel, kenal cwek n satunya msh kecil n mdah nangis.

    Eh malah ditambah di pecat dr perusahaan impianya.

    Yaa sedih jg ktk membayangkan. mski genre sejatinya humor.

    Like

  5. film yg bagus buat di tonntn dgn kluarga, pasti bisa dgn sgenap hati dan jiwa menjadi seorang ibu memang butuh kebesarn jiwa…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s