GOSIP DI PELATARAN RUMAH TETANGGA

Sebelumnya saya minta maaf karena tidak bisa blogwalking ke tempat sobat maya MWB’ers semua. Dan tak bisa memberikan bantuan atas sesuatu yang pernah disampaikan pada saya. Akhir-akhir ini saya agak sibuk dan sedang ada sedikit masalah, biasa, ibu-ibu yang mulai repot karena anaknya sudah harus masuk TK. Jadi saya mulai mengurus pendaftaran dan ternyata biayanya lumayan untuk ukuran kantong saya. Dan lagi, tak bisa dibayarkan nanti/dicicil (padahal maunya menunggu tabungan sekolah si Kakak bulan Mei/Juni nanti) karena yang sudah-sudah banyak yang mangkir dan tak bayar sampai lulus. Ironisnya, itu bukan karena kurang mampu. Ckckck. . . Kok tega ya?

Tapi kok masih bisa posting?

Itulah gunanya punya cadangan tulisan di draf, jadi ya. . . kebanyakan saya hanya mempublish tulisan yang sudah ada, biar tetap konsisten, gak vakum apalagi mati suri, mati kata atawa mati gaya. Hahahaha. . .

Terus, saya juga dapat shock therapy level maksimum karena kehadiran tetangga baru. Sebenarnya saya sudah lama hidup tanpa tetangga dekat (saya trauma, terakhir kali bertetangga saya pernah diintimidasi dan diusir gara-gara terpaksa mencabut aliran PDAM ke rumah tetangga karena mereka tak mau patungan membayarnya), entah kenapa kok saya yang jadi orang jahatnya padahal saya sampai jadi kuli cucian 9 bulan lamanya untuk membayar tagihan air yang membengkak itu? Kejam ya.

Saya senang punya tetangga lagi, artinya rumah saya tak akan lagi jadi satu-satunya di area persawahan ini. Walau saya bukan type orang yang senang ‘memberikan kelebihan kuah masakan’ pada tetangga. Tapi bukan berati anti sosial lo, saya berusaha jadi warga yang baik dan hanya mengurangi interaksi yang kurang perlu dan berlebihan, itu saja. Semisal gosip di pelataran rumah tetangga.

Inilah masalahnya pemirsa, dan ini juga yang membuat saya agak tertekan, para tetangga doyan sekali duduk-duduk di teras berjam-jam and talking everything. Setelah puas lalu mengunci pintu, tidur siang sedangkan anaknya yang ‘mucil’ tak bisa diam itu dibiarkannya berkeliaran di luar rumah.

Beberapa minggu pertama saya berusaha maklum dan senang juga mengobrol dengannya sebagai bentuk sosialisasi dan tanda pertemanan, tapi kok rasanya itu salah. Itu benar-benar menyita waktu dan gaya bicaranya yang high class super tinggi seperti tower operator seluler dan hapal gosip terkini, benar -benar mengganggu. Dan yang paling membuat saya shock, stres kuadrat adalah anaknya yang kalau BAB tak mau bilang, masih ‘keluar’ di celana dan ketika mau dicebokin dia gak mau sampai ngamuk dahsyat. Padahal sudah besar kelas TK B.

Ini benar-benar serius, karena harusnya di usia segitu anak-anak tidak BAB sembarangan lagi. Pernah suatu hari saya terpaksa menyuruh anak itu pulang ketika bermain di rumah saya. Saya mencium aroma ‘celana durjana’ itu di seantero ruangan dan baunya melekat pada lantai yang ia duduki. Mengenaskan sekali.

Maka sekarang saya tak tahan lagi, saya terpaksa jadi wanita jahat ketika tetangga2 saya duduk leyeh-leyeh bergosip ria dari pukul 9 pagi sampai tengah hari, karena saya harus mengerjakan tugas rumah. Jahat karena harus menutup pintu dengan wajah nyengir tak enak dan tak mengijinkan anak saya bermain dengan anaknya sejak insiden pertemanan mereka yang terakhir kali sukses menghilangkan dua belah sendal, membuat sapu alat kebersihan satu-satunya di rumah saya belepotan lumpur dan gulma yang mengganggu. Juga mengotori alat pancing milik suami saya. Benar-benar membuat saya kena Pra Menstruation Syndrome mendadak padahal haid sudah berlalu seminggu yang lalu. Saya marah, kesal, depresi.

Belum lagi sifat doyan pamer akut yang juga tak kalah mengganggu, ibu dan anak sama. Ini juga yang membuat anak bungsu saya terus merengek minta dibelikan sepatu roda karena mendengar ocehan anak tetangga yang sesumbar akan membelinya. Padahal saya tahu itu berat konsekuensinya karena si Kakak juga harus dapat hak yang sama. Artinya saya mesti beli dua pasang sepatu roda yang harganya tidak bisa dibilang murah. Padahal saya baru saja mendaftarkan si kecil sekolah TK dan si kakak harus ikut pelajaran tambahan karena nilai sekolahnya menurun menjelang ulangan kenaikan kelas. Itu membuat saya menunda membelikan sepeda untuk si kecil yang sudah direncanakan dari tahun lalu. Saya benar-benar dibuat pusing tujuh kali keliling lapangan futsal gara-gara perangai tetangga ajaib ini dan perihal trend sepatu roda itu.

Mungkin saya berdosa membicarakan uneg2 di sini. Tapi saya tak tahu harus bagaimana lagi. Faktanya, saya tidak pernah benar2 punya teman di lingkungan rumah saya. Beda visi dan misi, tak cocok. Bisa dibilang, kalau di rumah saya lebih memilih menyendiri; menulis, kecanduan file pdf (ebook), main game/menemani anak2, menyulam/merajut, mempelajari seni aksesori sebagai hobi dan berteman dekat dengan mbah Google. Miris!

How could it be??

13 thoughts on “GOSIP DI PELATARAN RUMAH TETANGGA

  1. Assalamualaikum…

    Sabar bu!
    Jgn lupa msih ada aku yg bs bantu, meski cuma jd pendengar tanpa bisa memberi solusi.

    #yg di seberang rumahmu kn?

    Like

  2. @eanreana,

    wa alaikumsalam.

    Ya am nah, ngalih ae problema ibu2 sosialita neh.
    Slama ini kamu slalu jd pendgr yg baik. Itu lbh dr solusi. #edisimenatahati

    Ho oh, dan juga yg d sblhx itu; bibisip senior plg kawakan.

    Like

  3. Kalau gosip menggosip, semakin digosok semakin sip, kayanya emang udah jadi kebudayaan (?) banyak ibu-ibu di seantero indonesia xD
    Tapi ditambah kelakuan luar biasa lain kyak yg mbak ceritain kok aku jadi ikutan risih ya -,-
    Salah satu hal yg paling aku gak suka dari anak tetangga dimanapun aku berada ya tukang pamer itulah.

    Like

  4. Sabar ea bu.. apa yang telah dilalui,, itu mengajarkan kita, apa arti dari sebuah kesabaran itu sendiri., kesabaran itu di uji terkadang dengan hal hal diluar logika kita, sejauh mana kita bisa menyikapinya? dan bila sabar itu tlah menggendalikan hati,, akan ada satu hal yang baik yang akan bisa dipetik,

    Like

  5. Kalau rugi materi bisa dicari,tp kalau rugi mental,?..padahal balita butuh landasan mental lingkungan yg sehat..jadi jahat dikit gpp..

    Masih mending di persawahan,,klo saya tetangga gak da pelataranya,sya suka bising denger anak2 pada rewel meraung menangis tp ortunya cuek,,anak saya yg lg ujian suka ngungsi blajarnya..

    Like

  6. Ya gitu deh resikonya, namanya juga makhluk sosial mbak. Walau bagaimanapun juga, kita belum cukup mampu untuk menjadi seperti Tarzan.

    Like

  7. biar g larut dlm brgosip ria,buat ksbukan diri msal buat taman mini dirumah.libatkan anak dlm memilih bunga atau ajak cari kerikil atau batu batuan untuk penghias taman.

    Like

  8. ckck.. Lah, namanya jg ibu-ibu. Termasuk jg bunda Rini tanpa sadari d artikel ini jg ada aroma gosipnya, meskipun sekutil, hihii.
    Tp tak apalah, dan saya terharu dg kisah diatas yg menurut saya sgt mengenaskan. Hehe

    Like

  9. Bunda Rusminah mksudnya, hihi
    Punya dua bunda d mwb jd kdg salah nyebut, maap ya Bund. 🙂

    Maap jg kalo saya manggilnya Bunda, krn dah kbiasaan d grup menulis d fb, kalo yg udah jd ibu2 d panggil bunda, hehe

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s