MENIKMATI KEKACAUAN PAGI

Diam-diam, saya sering membayangkan memiliki suasana pagi yang tenang seperti di iklan-iklan televisi ditemani aroma kopi atau seduhan teh. Atau menikmati momen sarapan damai tanpa grasak grusuk, tanpa horornya insiden air tumpah seperti adegan-adegan di film atau drama.

Sebuah harapan yang ternyata sangat sulit (kalau tak bisa dibilang mustahil) diwujudkan ketika memiliki dua anak usia sekolah yang belum bisa mandiri.

Dalam usaha saya yang masih terus belajar menjadi ibu, ternyata saya tak pernah sesabar harapan saya. Meski sudah terbiasa bangun pagi-pagi sekali (subuh) sejak dulu (yah walau terkadang bisa kesiangan juga), tetap saja pagi hari akan menjadi kekacauan super yang berpotensi menekan urat syaraf menjadi tegang seharian. Faktanya kebiasaan bangun pagi saya bukan sesuatu yang dapat menular pada anak-anak saya, juga bukan suatu contoh yang dapat ditiru dengan entengnya. Ngerinya lagi, suami dengan kebiasaan begadang dan hobi memancing malamnya itu sedkit menambah keruh suasana dan dia tak pernah berada dalam kapasitas siaga yang dapat meringankan keruwetan istrinya.

Sering membuat saya merasa gagal menjadi ibu rumah tangga, merasa sendirian dan tak bisa diandalkan. Meski seberapa keras saya mencoba, saya hanya merasa sangat kewalahan, seperti dikejar-kejar waktu dan kehilangan diri sendiri. Dua jagoan yang amat saya sayangi itu sebenarnya adalah amanah yang seharusnya dapat mendekatkan ibunya pada surga dan merupakan ladang pahala. Tapi sering, hal-hal yang terjadi berada di luar kontrol manusia, membuat saya kerap merasa berdosa karenanya.

Si besar berada dalam fase pra remaja yang amat mengesalkan. Mulai menyenangi cara menarik dan mengisolasi diri, mencintai game online melebihi kebutuhannya akan nasi, tipikal kakak yang kreatif tapi bukan main usilnya, jua musuh abadi untuk yang namanya bangun pagi. Untuk mandi, sarapan dan menyiapkan perlengkapan sekolahnya adalah tidak mempan hanya dengan satu kalimat perintah atau anjuran. Sering diwarnai drama lebay tingkat dewa, konflik dan kadang cuilan kulit di betis juga. Jahat ya saya?

Lalu si kecil yang tahun ini akan memasuki taman kanak-kanak, adalah tipe balita yang masih terjebak pada fase mencari kenyamanan pada bagian tubuh ibunya. Pasca disapih di usia 2,5 tahun lalu ia menjadi ‘mentil addicted’ terutama saat menjelang, sedang dan setelah istirahat (tidur/tiduran). Rempong bukan main ternyata saya dibuatnya. Apalagi pas rewelnya kumat, dia bisa mentil berjam-jam, maka jadilah pekerjaan tangan saya dipending semuanya. Yang agak ngenes itu ya ketika pagi, jadwal mentil rewelnya itu bentrok sama jadwal panggilan alam dan mandi saya. Karena saya juga harus membantu usaha perniagaan suami jadi harus bersiap-siap. Walhasil, itu jadi dilema dari pagi ini ke pagi besok yang berkesinambungan, dari Senin sampai Minggu, dua puluh empat jam sehari kali tujuh hari, tiga ratus enam puluh hari dalam setahun. Wew. . .

Membuat opsi program untuk memiliki anak perempuan mesti saya simpan dalam-dalam. Oops!

Tapi kadang saya merasa agak sedikit bangga karena masih survive sampai sekarang dan masih berada dalam ambang batas kewarasan saya. Hahaha. . . Padahal ini bukan apa-apanya jika dibandingkan ketabahan almarhumah nenek saya yang punya selusin anak dan ditinggal mati kakek saya saat dua belas anak manusia itu masih kecil-kecil. Gak kuaaaat. . . #lambaikantanganpadakamera.

Sempat terpikir untuk sejenak cuti menjadi ibu. By the way, kira-kira kemana ya mengajukan proposal untuk cuti itu? Ada gak ya??

#mikirkeras

Advertisements

7 thoughts on “MENIKMATI KEKACAUAN PAGI

  1. Masa heboh dipagi hari buat saya sudah berlalu,,
    Anak terkecil sudah dewasa, sudah sering gk mau diganggu privasinya..Bahkan diajak nemeni blanja aja mesti pake aksi rayu merayu..
    Intinya semua ada masanya jenk,,,
    Besok klo dah berlalu kadang kangen juga direpoti anak, seperti saya alami skrng,,walau badai sudah berlalu,,tp suka kangen menghadirkan masa2 menikmati badai..
    So,,dinikmati aja he he he

    Like

  2. wah artikelnya mengingatkan saya betapa indahnya di pagi hari. mf sob kalau saya berkomentar tidak sesuai artikel sobat di atas.

    Like

  3. Aku malah sering membayangkan rutinitas yg baru saja mbak paparkan diatas, dan moment yg paling ku tunggu adalah merasakan sensasi nyebokin anak2ku setiap pagi. Haha

    Fiuh… Jadi gak sabar ketemu emaknya.

    Like

  4. @John Kampret,

    haha. . . Begitulah hidup. Hal2 yg menyenangkan/yg kita harapkan tdk trlepas dr apa2 yg blm kita miliki/blm kita alami.

    Ok, smoga cpt ketemu bakal calon emak dr anak2x aja deh.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s