LEBARAN DAN TRADISI MUDIK ITU. . .

Lebaran dan mudik sejak lama sekali telah menjadi dua hal yang tak terpisahkan. Sudah jadi semacam kewajiban di tanah air kita ini.

Kalau saya pribadi memang tak melakoni ritual mudik ini, karena saya menikah dengan pria yang masih terbilang tetangga sekaligus famili sendiri dan tetap tinggal di kampung halaman. Berbeda dengan kakak saya yang menikah dengan seorang pria perantau dari Jawa yang berdomisili jauh di luar kota Banjarmasin tepatnya Batu Licin kabupaten Tanah Bumbu, dan membuatnya harus mudik tiap tahun agar tetap bisa bertemu dengan mama abah dan kami adik-adiknya. Itulah mengapa saya dapat melihat bahwa momen mudik ini menjadi sangat penting bagi kakak saya.

Mudik bukan hanya sekadar pulang ke tanah kelahiran. Ini adalah pulang yang jauh lebih berarti dari itu. Mudik adalah pulang untuk silaturahmi, temu kangen keluarga, sujud sungkem pada orang tua dan bahkan ziarah kubur, atau bisa juga untuk saling berbagi sedikit rezeki hasil usaha selama ini. Mudik adalah semacam panggilan batin untuk anak-anak bumi yang telah begitu jauh terbang menapaki hidup, momen yang kembali mengingatkan bahwa setinggi apapun pohon itu bertumbuh, ia mesti tetap ingat pada kerendahan akar.

Ya, mudik telah menjadi Fitrah alami manusia yang akan selalu ingat tempat di mana ia berasal, tumbuh dan dibesarkan dalam kenyamanan hangat rumah ayah dan ibu, di antara kebersamaan yang manis dan suka duka dari lingkungan keluarga. Karena itulah mudik hanya ada pada momen lebaran menjelang hari raya umat Islam pasca sebulan penuh berpuasa, Idul Fitri.

Maka jangan heran jika orang-orang rela berbondong-bondong, berdesak-desakan membawa koper, ransel, tas besar sampai kardus yang amat sangat beratnya yang berisi pakaian dan sebagian oleh-oleh untuk keluarga di kampung halaman. Menjinjing dengan tangan sampai mengusung di atas kepala. Rela diguncang-guncang mabuk laut semalam suntuk di dalam kapal besar yang sumpek dan penuh sesak, yang selama puluhan tahun tak dibenahi fasilitasnya di sepanjang Bakauheni dan pelabuhan Merak.

Demi mudik nan berharga itu. . .

Ribuan lembar tiket kereta api dan pesawat telah tandas bahkan jauh sebelum hari pertama puasa resmi dimulai. Orang-orang rela bermacet-macet ria di jalanan, tergeletak dalam angkutan umum yang bobrok dan reot dimakan usia, atau di atas sepeda motor yang ditumpangi empat manusia plus seabrek barang bawaan yang melebihi kapasitas muatan. Didera panas terik dan dingin malam melalui sepanjang jalan tol dan jalur Pantura. Bahkan tak sedikit yang meregang nyawa di atas kejamnya jalan raya.

Orang-orang dewasa, anak-anak, bahkan artis. Semuanya tak mau ketinggalan momen mudik ini. Sepanjang tahun itu adalah perjalanan panjang dan kini adalah saatnya untuk pulang.

Ini pula yang saya saksikan selama hampir sebelas tahun. Kakak saya dan anaknya rela memangkas anggaran bonus THR dan gaji 13 demi bisa bertemu lagi dengan mama abah yang kini semakin renta. Menempuh jarak 268 kilometer dari Batu Licin kabupaten Tanah Bumbu menuju kecamatan Gambut kabupaten Banjar. Didera rasa pegal, pusing dan mual selama 6 jam perjalanan di dalam angkot yang tiga kali menurunsalinkan penumpang ke angkot lain di setiap persinggahan karena minimnya penumpang. Ya, angkot kini telah kalah pamor dengan kenyamanan dan kepraktisan kendaraan pribadi.

Maka agak beruntunglah mereka yang bisa menempuh jalur mudik menggunakan mobil keluarga yang nyaman berpendingin udara.

Inilah mudik itu kawan!
Sebuah tradisi wajib menjelang lebaran yang tak boleh terlewatkan.

Dan kini, dalam perjalanan yang katanya panjang ini. Maka kita mesti mengatur langkah dan menyiapkan perbekalan untuk mudik yang sesungguhnya; mudik menuju alam akhirat. Pulang ke haribaan Illahi Rabbi.

Siapkah kita??



Buat Kak Tinah, thanks for your inspirations sista, so i can write this.

(26 Ramadhan 1436 Hijriyah)

10 thoughts on “LEBARAN DAN TRADISI MUDIK ITU. . .

  1. @Atep Setiawan,

    wa alaikumsalam.

    Pertanyaan kamu sptx sdkt out of topic.

    Dan kalau soal itu sy kurang tahu.
    Mungkin THR bs jd suatu kebijakan (berbentuk dana tunai atau paket lebaran untuk membntu/menambah kebutuhan yg biasax melonjak menjelang lebaran) dr pihak perusahaan untuk bawahanx atau pemerintah untuk para abdi negara (PNS dsb). Dan itu ada brdasar aturan perundang2n yg berlaku sbg hak2 karyawan yg harus dipenuhi oleh atasan.

    @eanreana,

    iya memang, kita cuma bs siap2 diri sj untuk mudik yg tak kita ketahui kapan waktux itu.

    Like

  2. Mudik ke akhirat…
    berarti kita harus banyak banyak membawa oleh oleh berupaya amal yang berbuah pahala dan do'a do'a yang isinya mohon ampun kepada Allah SWT atas segala dosa dan kesalahan kita

    selamat hari raya idul fitri
    mohon maaf lahir batin lamun ada salah kekhilafan ulun lawan pian, baik salah nang tadahulu nang tadudi maupun nang wayah ini.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s