PIRING KOSONG UNTUK TETANGGA

Sorry, tulisan ini tak bermaksud menjelek-jelekkan orang lain atau menggosipkan tetangga sendiri. Ini hanyalah puncak kegalauan jiwa yang terpendam sekian lama.

Mungkin bisa dibilang, gampangnya anggap saja saya adalah tetangga yang tidak baik. Saya sering kalap dalam berinteraksi dengan suami dan anak-anak saya dan suka menyetel musik yang berpotensi membuat polusi suara sampai telinga tetangga. Saya juga bukan tetangga yang bisa diandalkan untuk memberi bantuan bila orang sebelah rumah ada hajatan. Saya juga bukan tetangga yang bisa memberikan kelebihan kuah masakannya pada tetangga yang lain.

Ahh, menulis ini membuat saya merasa sangat berdosa.

Rasa percaya diri saya sudah lama sekali jatuh ke titik nadir perihal urusan bertetangga ini. Dahulu, ada tetangga yang memberikan makanan pada saya. Maka sebagai bentuk rasa terima kasih dan balas budi, ketika esoknya hendak mengembalikan wadah piring bekas makanan itu, sayapun mengisinya dengan masakan sayur yang dibuat oleh alm mertua saya. Sehari kemudian malah tetangga saya itu mengatakan dengan terang-terangan bahwa sayur itu rasanya aneh dan wajahnya tak senang mencibir pada saya. Padahal masakan alm mertua sudah teruji enaknya loh.

Pernah juga di awal Ramadhan tadi suami memetik buah kelapa muda untuk minuman buka puasa dan mengupasnya di depan rumah lalu ada tetangga (si A) yang menyapa. Karena kelapa mudanya banyak maka si A diitawari suami. Katanya bolehlah. Lalu saya berikan dua biji dan diletakkan di terasnya. Tapi kemudian, besoknya kelapa itu malah dijadikan mainan oleh anaknya (digelindingkan, diinjak-injak dsb) di depan mata kami dan si A tak berinisiatif sedikitpun untuk ‘mengamankannya’ sampai seharian. Lalu sore harinya menjelang buka puasa ada tetangga yang lain (si B) yang menegur kelapa siapa ini kok dibiarkan di tengah jalan? Karena suami saya terlanjur kesal pemberiannya tak dihargai akhirnya disuruhnya ambil saja kelapa itu dan itu terjadi di hadapan si A yang awalnya kita beri tadi. Tentu saja si B senang sedangkan si A hanya pasang wajah tak tahu menahu sambil sinis meremehkan. Sadis gak tuh?

Dari situlah kepercayaan diri saya lenyap. Padahal saya memberikan yang terbaik yang kami bisa (kelapanya dipilihkan yang paling besar) dan masakan yang baru dimasak. Sejak itulah jika tetangga memberi sesuatu saya tak lagi/jarang mengisi wadahnya (piring/mangkok) kembali. Kapok jikalau apa yang saya berikan kurang berkenan atau tidak sesuai dengan selera orang lain.

Sedangkan saya tak tega menunjukkan ketidaksukaan dengan cara seperti itu. Padahal saya pernah (bahkan sering) diberi makanan/sesuatu oleh tetangga yang hampir gak layak makan. Lebaran kali ini saja (MAAF) saya diantari sepiring kerupuk yang bahkan digoreng tak sempurna, masih ada bagian-bagiannya yang tidak mengembang, jadi keras dan alot dimakan. Saya juga pernah diberi bubur kacang hijau yang jahenya kebanyakan, sampai telinga panas berdenging dibuatnya. Juga roti goreng yang lembek penuh minyak yang ketika dimakan (MAAF, lagi) rasanya seperti memasukkan sesendok mentega kadaluwarsa ke dalam mulut.

Walaupun saya bukan orang yang pilih-pilih makanan dan bisa makan apa saja, tapi kalau seperti itu keadaannya sayapun angkat tangan.

Mengingat ini kok kesannya saya jadi kelinci eksperimen masakan tetangga yang jadi proyek gagal total (karena dia dengan tanpa malu bilang: masak ini belajar coba-coba, gak bisa bikinnya, dicicipi deh, katanya. Sembari menyerahkan semangkok besar bubur kacang ‘pedas’ itu). Yang kalau saya lihat dari wajahnya sayapun tak yakin apa ia sanggup memakan masakannya sendiri.

Jadi dilema banget deh pokoknya. Memang gak selalu sih, mereka sering juga memberi sesuatu yang memang enak (baca: layak makan). Cuma ya saya jadi mikir sendiri, kalau seandainya keadaan dibalik bagaimana? Saya yang memberi yang seperti itu bagaimana perasaan mereka?

Karena itulah akhirnya saya pilih aman dengan hanya mengembalikan piring kosong untuk tetangga.

Jahat ya saya.

Biarlah. . .

12 thoughts on “PIRING KOSONG UNTUK TETANGGA

  1. Hahahaha…. sdikit teringat dg hukum mengambil kembali hadiah.
    Dan lebih baik piringx dicuci dulu… udh kosong blepotan lg khan kasian hahaha…

    Like

  2. @ЂįđάчάтϋℓℓάЂ,

    ya iyalah dicuci bersih dulu. Udah pulangx kosong, masa' kotor juga. Bs pada kabur tu para tetangga. Hahaha. . .

    Like

  3. Assalamualaikum …

    Emang ada rs ga enak sih kl cuma mengembalikan piring dlm keadaan kosong. Tp itu lebih baik drpd piringnya ga dikembalikan. Sering bgt ngalamin harus mengikhlaskan piring krn org yg diberi makanan ga pernah lg mengembalikan piringnya.

    Like

  4. @eanreana,

    wa alaikumsalam.
    Iya, memang ada sbgn org yg tak pnh mengemblikan lg wadah bks tempat mknan pemberian org lain, entah krn lupa atau sengaja, gak tahu.

    Tapi kalo gak slh ada juga suatu daerah yg memang sdh jd adat mrk bila memberi sesuatu memang dgn wadahx.

    Like

  5. sebagai netizen td cb patroli …
    ternyata nama rusminah sudah tak asing di google.. bahkan sudah ada di youtube dan blog tetangga ..
    bagus sekali tante…
    mudah mudahan banyak yng terkesan dr semua artikel yg terbit dr jari jemari seorang perempuan yang doyan ngulek sambel di dapur.

    Like

  6. Yang sabar ya @bu inah, jika pemberian buah kelapa kalian tidak dihargai. Setidaknya kalian sudah mencoba untuk berbuat baik.

    Like

  7. memang sih terkadang hubungan bertetangga itu terkadang pahit-pahit manis 🙂
    Semoga mbak mampu bersikap bijaksana. Kalau tetangga kita kurang baik, ya sebaliknya kita jangan mengikuti mereka.
    Yang penting kita sudah berusaha berbaikan. Tentu tuhan yang akan membalas perbuatan mereka dan kita.
    Dan saya salut dengan mbak, yang disela kesibukan mengurus pekerjaan rumah, masih sempat-sempatnya menulis di blog.

    Like

  8. waktu ngasih makanan pake piring yg punya, jadi ngembalikannya dalam keadaan kosong kpda yg punya.. "piring kosong untuk tetangga" tdk jahat itu,, 😀

    Like

  9. Kalau begitu, bukan tetangga anda atau anda yang jahat, mungkin memang masakan mereka aja yang masaknya asal asalan. Tetapi kita harus tetap berkhusnu dzon pada mereka

    Like

Leave a Reply to Rusminah Qumainah Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s