MENAKAR KEBERUNTUNGAN ORANG LAIN

Pernah suatu hari (bahkan mungkin sering), di saat lelah mencapai batas maksimum, setelah seharian berjibaku dengan berbagai persoalan hidup, di tengah rawannya kondisi perekonomian dan ditambah adegan drama bulanan akibat serangan Pra Menstruation Syndrome, saya merasa down, nelangsa, terpuruk sendirian.

Saat seperti inilah mendadak rasa syukur atas hidup dan setiap tarikan nafas yang saya hirup dengan gratis, menguap entah kemana. Ah, ternyata sayapun hanya manusia yang dapat dengan mudahnya menafikan karunia. Saya mengeluhkan betapa sulitnya kehidupan yang pernah saya jalani dan menganggap bahwa orang-orang di sekitar saya adalah lebih beruntung dan lebih berbahagia dibanding saya.

Aih. . .kejamnya!!

Kok bisa-bisanya saya merasa demikian dan lupa syukur di saat bobot badan ini naik drastis ke level 70 kilogram yang menandakan bahwa saya masih cukup makan. Hkhkhk. . . .
Kenapa dengan entengnya menganggap diri sedang terpuruk padahal saat ini saya masih bisa jumawa menikmati jaringan selancar dunia maya yang menghabiskan pulsa.

Agaknya kali ini saya tengah mengamini bahwa rumput tetangga memang terasa lebih cerah warna hijaunya dibanding ladang sendiri yang dipijak sehari-hari. Sampai-sampai saya menulis sebuah puisi (lebih tepatnya curcol) pendek perihal ini:

IRI

Aku menyaksikan betapa hidup orang-orang dimudahkan.
Dan mereka tidak mengalami seperti yang aku rasakan.

Inilah pemirsa pangkal masalahnya. Awal dari segala penyakit yang menggerogoti hati dan berpotensi mendatangkan pusing kepala dan tegang urat leher, naiknya tekanan darah bahkan memperpendek usia adalah membanding-bandingkan keadaan diri dengan orang lain. Itu adalah hal yang tak ada jelas juntrungannya, tak ada habisnya, tak peduli seberapa pintar, kaya atau hebatnya kita (apalagi yang just ordinary people seperti sayah), akan selalu ada orang-orang yang melampaui itu jauh, jauuuuuuh di atas segalanya. Karena bukankah diatas langit masih ada langit??

Dan kecenderungan manusia untuk selalu memandang ke atas ini agaknya perlu ditinjau kembali agar tak terlupa dimana kaki tengah berdiri, memijak rumput sendiri yang hijaunya tak kita perhatikan lagi, mulai jarang disirami, bahkan terlupa disyukuri.

Sayapun mengusap dahi yang berasa pening sedari tadi, melawan nyeri perut atas kodrat kewanitaan karena siklus hormonal, pertanda bahwa saya masih normal-normal saja.

Lagi, sederet tanya berseliweran di kepala:

Kok bisa-bisanya saya mengaku kewalahan menghadapi kerepotan sehari-hari bersama anak-anak yang tak bisa diam, padahal jikalau tanpa mereka saya akan kebingungan harus melakukan apa? Dan bukankah kerewelan mereka selama inilah yang menjadi ladang pahala bagi seorang ibu macam saya?

Kok bisa-bisanya saya merasa bete sendiri terhadap orang yang selama sebelas tahun ini setia mendampingi, padahal jika tanpa dia saya tak tahu akan kemana mendedikasikan hidup, cinta, pengabdian dan kesetiaan saya? Bukankah dari kerelaan dan kemurahan hatinyalah seorang istri seperti saya dapat mengharapkan surga?

Kok bisa-bisanya saya terus mengeluhkan tentang berapa rupiah yang mesti sirna karena ludes belanja untuk keperluan anak dan keluarga? Padahal diluar sana ada orang yang tak tahu kemana mesti membelanjakan uangnya dan hanya menghabiskannya untuk foya-foya tak berguna.

Kok bisa-bisanya rasa lelah ini sampai mengikis rasa syukur atas nikmat sehat yang masih melekat di badan? Demi setiap tarikan nafas dan udara bebas, yang Allah tak pernah menuntut kita membayar dalam menikmatinya kecuali hanya dengan ketaatan kita padaNYA, bersyukurlah dan berhentilah merasa sebagai orang yang paling menderita di dunia.

Terngiang lagi sebuah lagu yang telah saya sahkan sebagai original soundtrack atas film berseri yang berjudul kehidupan ini:

. . .Syukuri apa yang ada hidup adalah anugerah, tetap jalani hdup ini melakukan yang terbaik. Tuhan pastikan menunjukkan kebenaran dan kuasanya pada hambanya yang setia dan tak kenal putus asa. . .
(D’Massiv).

Terus besyukur dan berusaha!!

Keep fighting!

#buru-buru ‘membeli pupuk dan menyiram tanaman’.

#Sebuah tulisan untuk ‘menampar’ diriku sendiri.

(edisi emak-emak galau karena membengkaknya budget pengeluaran pasca lebaran dan di awal tahun ajaran baru)

Advertisements

2 thoughts on “MENAKAR KEBERUNTUNGAN ORANG LAIN

  1. Assalamualaikum…

    Sbjurnya kdd urg yg kd baisi mslh kehidupn, itu png nrnnya ujian. Mun kw mnyukuri, nymn tu png hidup biar kd kw ky urg bnyk tp hti tnng wn bhgia y am dh!

    Like

  2. dari pada menakar keberuntungan orang lain lebih baik menakar keberutungan kita sendiri dengan bersyukur kpd allah… itu akan terasa hidup & bisa menghirup semerbak wangi dunia..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s