AKU, KATA-KATA TAK TERTULISKAN

Aku hilang kata, sirna makna.
Bungkam!!

Bahkan jika kita mengetahui kenyataannya, kita sepakat merahasiakannya.

Ah, kawan.
Ini mulai terasa seperti pengecut di balik jendela tinggi di sebuah apartemen yang menyaksikan peristiwa pembunuhan di bawah lantainya.

Dan ia diam saja.

Hahaha. . .
Kebenaran yang pernah kau gaungkan ternyata tak lebih dari sekedar idealisme kosong.

Karena kita telah tahu sama tahu, seperti apa kekuasaan itu.

Terdiam, aku kehilangan kata.
Bungkam!

Membenamkan diri dalam lipatan buku catatan.



*Sebuah puisi satire dalam rangka merayakan kenaifan dan kelemahanku sebagai anak manusia.

Advertisements

PERGAULAN IBU-IBU DAN SEGALA KEANEHANNYA

Inilah dia, sepertinya memang hal inilah yang selalu ada dalam setiap pergaulan ibu-ibu yang tiap pagi menunggui anaknya sekolah TK. Bukan hal baru memang, juga sudah biasa, tapi tetap saja menghadirkan banyak cerita.

Sayapun tak luput dari ‘efek pergaulan’ ibu-ibu yang ngumpul enam hari dalam seminggu tiap pagi dari Senin sampai Sabtu ini. Karena anak saya belum bisa ditinggal sendiri di sekolahnya, maka otomatis saya jadi intens bertemu dan bergaul dengan para ibu-ibu yang macam-macam tingkah polahnya.

Tanpa saya jelaskan secara rincipun tentu para pemirsa budiman dapat membayangkan bagaimana riuh dan rempongnya suasana perkumpulan kaum ibu yang menunggui anaknya di sekolah (ghrgrrr. . . .).

Yang membuat saya tergerak menuliskan hal ini adalah karena suatu kejadian dimana anak-anak saat bermain lalu berujung pada pertengkaran. Namanya anak-anak ya kadang sering kelewatan bercandanya, rebutan apalah, kadang sampai berkelahi, kadang menangis atau malah sampai cidera ringan (mungkin sampai berat juga, walau jarang). Tapi hebatnya anak-anak, sebentar saja mereka bisa baikan lagi kok, marahannya gak pake lama dan gak dendam juga.

Nah, yang jadi bagian menariknya adalah ketika ibu-ibu yang anaknya lagi berselisih ini malah jadi ikut-ikutan ‘konslet’ juga. Masing-masing jadi pada keras kepala membela mati-matian anak masing-masing, ngotot gak mau kalah, gak peduli dan gak mau denger kalo masalah semacam itu gak usah dan gak baik dibesar-besarkan. Ibu-ibu tipikal begini bisa sampai berhari-hari bahkan bisa selamanya tetap mengumbar kebencian, saling beradu omelan dan hujatan tanpa peduli kalau anak-anak mereka sudah duduk sama-sama lagi, sudah main berdua lagi, sudah damai lagi. Ckckck. . .

Menghadapi ibu-ibu dengan karakter ‘pasukan berani mati dalam membela anak’ inilah yang sering membuat serba salah. Mereka taklid buta, yang penting adalah memandang anak mereka bersih tak bersalah, yang selalu salah adalah anak orang lain yang bresinggungan dengan anaknya (bahkan meskipun si anak memang terkenal usil dan sering mengganggu temannya tetap saja dibela), tak mau mendengarkan pendapat atau pandangan orang lain mengenai itu. Kecenderungan inilah yang sangat membahayakan. Dan parahnya lagi, karena si ibu yang sering over reacted ini maka anaknya pun jadi bertindak manipulatif, mendramatisir keadaan dan selalu memposisikan diri sebagai korban, karena mereka merasa dibela jadinya besar kepala, menjadi Radja Ketjil Jang Tak Pernah Salah. Dari yang saya lihat dan pernah alami, anak-anak bisa jadi TA (Tukang Adu) yang semakin berpotensi meledakkan amarah dan naluri bela anak mati-matian ibunya yang salah kaprah itu semakin membara.

Duh. . . Susah juga ya kalo sudah berhadapan hal beginian. Dan itu belum lagi ditambah dengan tipikal ibu-ibu yang hobinya gosip plus adu domba (tipe manusia yang selalu ada di mana saja. Di mana saja pemirsa, di mana-mana!!). Dijamin tambah puanjaaaaaaaaaaaaaaang deh ceritanya. Kuota huruf lima ribu karakter di blog ponsel saya ini tentu tak akan cukup membahas semuanya. Haha. . .

Kita semua tahu, setiap ibu memang sangat menyayangi anaknya, walaupun anak-anak bisa salah, orang tua selalu bisa menerima dan memaafkan anaknya. Tapi kasih sayang inipun hendaknya jangan melebihi porsinya. Orang tua, terutama ibu harus bisa melihat dulu seperti apa sebenarnya hal yang terjadi dalam dunia anak-anak. Jangan sampai karena urusan anak membuat kita cekcok dengan teman, tetangga atau sesama ibu lainnya. Anak-anak juga harus dibiasakan untuk menghadapi masalah mereka sendiri dengan teman-temannya, jangan sedikit-sedikit orang tua turun tangan dan emosional (bahkan ada yang sampai melabrak guru yang mencoba meluruskan masalah anak-anak yang sedang bertengkar itu). Permasalahan hidup dan cara kita menghadapinya sekarang ini akan membentuk kehidupan mereka dimasa depan nantinya, dimana para orang tua tak bisa melindungi anak-anak mereka selamanya.

Hmm. . . Wallahualam.

BERJANJILAH!! KAU TAK AKAN BERAKHIR DENGAN HALOPERIDOL

Aku memeluk lututku, sendiri mendekap rasa sunyi yang melingkupi, menatap cemas pada bayangan wajah cekung dalam pantulan bening kaca cermin. Kantung mata itu, bulat melingkar dan menghitam.

Satu inci lagi silet tajam itu akan mengoyak kulit pucat pada lengan yang menyembunyikan pembuluh nadi. Ah. . . Jika saja mengakhiri hidup merupakan solusi.

Dengan jemari gemetar ku lepaskan silet itu, ku nyalakan air kran yang keras memercik di wastafel, ku basuh wajahku dengan dinginnya air yang menyengat pori-pori, sembab dipoles airmata semalam suntuk. Dan kesadaran itu kembali.

Seseorang di dalam diriku berteriak lantang dalam bisikan yang teramat halus. Ia menarik pergelangan tanganku, memegang genggamanku erat. Mengguncang-guncang lengan dan bahuku. Berjanjilah, katanya.

Berjanjilah, kau tak akan berakhir dengan Haloperidol!!

Meski kehidupan teramat keras memperlakukanmu, menjadi majikan yang sangat kasar, menindasmu, memeras airmata, keringat dan darahmu. Bahkan menguras sari pati inti hidupmu.

Percayalah, kau tidak melangkah sendirian. Satu hal yang jangan sampai engkau lupakan; jika bahu untuk bersandar telah pergi, maka masih ada lantai untuk bersujud meletakkan kerasnya dahi.

Berjanjilah, kau tak akan berakhir dengan Haloperidol.

Tak peduli seberapa ngeri cinta dapat mematahkan sayapmu, atau rindu membelenggu berat kakimu. Meski mungkin tak selalu ada tempat untuk pergi, tapi kita masih bisa perlahan melangkah. Jangan berhenti!! Karena jika berhenti berarti mati.

Ku mohon jangan gila!
Meski hidup sejatinya adalah kegilaan itu sendiri. Berpeganganlah pada sesuatu agar jangan terseret arus lalu perlahan tenggelam. Meski kenyataan bukan dongeng yang selalu berbahagia tapi itu bukan berarti seluruhnya jadi malapetaka.

Berjanjilah sayangku, kau tak akan berakhir dan mengkonsumsi obat-obatan itu. Berjanjilah bahwa kau tak akan pernah kehilangan akal sehatmu, bahwa kau akan mempertahankan kewarasanmu!!



Gambut kelabu, 2004.

SEBENTUK HEDONISME ITU BERNAMA NGE-MALL

Siapa sih yang gak suka ke mall?

Merasakan kemudahan berbelanja dan dimanjakan diskon dan sale besar-besaran, makan-makan di gerai-gerai makanan cepat saji, atau sekadar cuci mata hang out bareng temen sambil ngadem menikmati ruang sejuk berAC.

Ah, mall. . .
Gedung besar bertingkat yang identik dengan tangga berjalan, yang diklaim menjual semua kebutuhan dan keinginan manusia itu memang mengundang kesenangan dan gairah mata.

Sejak terpuruknya perekonomian Indonesia karena diguncang krisis moneter di tahun 1998 lalu, negara kita terus berusaha bangkit dengan tetap memegang erat-erat azas ekonomi kapitalis yang kita adopsi mentah-mentah dari Barat. Geliat raksasa bisnis mulai bangkit dari tidurnya. Maka selama rentang waktu dua dekade terakhir ini semakin menjamurlah pusat-pusat perbelanjaan dan mall-mall (mulai dari minimarket, super, sampai yang hyper) yang keberadaannya justru terasa ironis di tengah kelesuan pangsa pasar sistem jual beli tradisional kita.

Bahkan ada salah satu nama brand minimarket A***mart yang mencanangkan pembangunan untuk setiap 1 km jalan akan ada setidaknya 1 buah A***mart hingga pelosok daerah. Hebat bukan? Tanpa saya jelaskanpun kita akan dapat membayangkan bagaimana dampak ke depannya bagi ekonomi kerakyatan dan para pelaku usaha kecil.

Apalagi menjelang lebaran, akhir tahun atau pada saat liburan sekolah, bisa dipastikan mall dan pusat pebelanjaan itu akan sangat bermurah hati memangkas harga barang-barang, mengobral diskon besar-besaran, tak tanggung-tanggung bisa sampai 90%. Belum lagi kemudahan dan bonus belanja bagi pemegang kartu atau voucher tertentu. Jua pemberian kupon nominal sekian puluh ribu untuk setiap pembelian beberapa ratus ribu dan kelipatannya, yang hanya bisa digunakan dihari itu, dan dengan sedikit agak jahat (yang sangat saya sayangkan) tak dapat diuangkan. Haha. . .

Mall. . . Mall. . .

Benar-benar sebuah surga hedonisme kesenangan semu, apalagi bagi kaum hawa yang kerap menjadi klepek-klepek, lemah tak berdaya oleh yang namanya potongan harga. Wanita sering terlena oleh bujukan untuk menandaskan uang pada jargon sale sepatu atau baju “beli dua gratis satu”. Duh. . . Benar-benar strategi bulus kapitalis untuk menghabiskan stok barang yang sudah out to date.

Juga terlena pada barang-barang yang dari labelnya menegaskan bahwa itu brand ternama yang _mungkin saja_ entah KW berapa. Maka tak heran, bila mereka yang tak berduit hanya akan menjadi lapar mata pasca kegiatan cuci mata.

Para remaja ababil hasil karbitan zaman juga tak ketinggalan nongkrong di food court dengan dandanan minim yang mendeklarasikan bahwa mereka cabe-cabean yang tengah mencari mangsa para dermawan yang dengan suka rela menggelontorkan beberapa lembaran rupiah dengan barter sedikit grepe-grepe atau ‘stimulasi fisik melenakan’ (apa itu?). Semua demi gaya hidup di tengah arus deras peradaban, demi ngemall bergengsi dan sebuah cup minuman di Starb***s, atau sepotong paha ayam di KF*.

Hmm??