PERGAULAN IBU-IBU DAN SEGALA KEANEHANNYA

Inilah dia, sepertinya memang hal inilah yang selalu ada dalam setiap pergaulan ibu-ibu yang tiap pagi menunggui anaknya sekolah TK. Bukan hal baru memang, juga sudah biasa, tapi tetap saja menghadirkan banyak cerita.

Sayapun tak luput dari ‘efek pergaulan’ ibu-ibu yang ngumpul enam hari dalam seminggu tiap pagi dari Senin sampai Sabtu ini. Karena anak saya belum bisa ditinggal sendiri di sekolahnya, maka otomatis saya jadi intens bertemu dan bergaul dengan para ibu-ibu yang macam-macam tingkah polahnya.

Tanpa saya jelaskan secara rincipun tentu para pemirsa budiman dapat membayangkan bagaimana riuh dan rempongnya suasana perkumpulan kaum ibu yang menunggui anaknya di sekolah (ghrgrrr. . . .).

Yang membuat saya tergerak menuliskan hal ini adalah karena suatu kejadian dimana anak-anak saat bermain lalu berujung pada pertengkaran. Namanya anak-anak ya kadang sering kelewatan bercandanya, rebutan apalah, kadang sampai berkelahi, kadang menangis atau malah sampai cidera ringan (mungkin sampai berat juga, walau jarang). Tapi hebatnya anak-anak, sebentar saja mereka bisa baikan lagi kok, marahannya gak pake lama dan gak dendam juga.

Nah, yang jadi bagian menariknya adalah ketika ibu-ibu yang anaknya lagi berselisih ini malah jadi ikut-ikutan ‘konslet’ juga. Masing-masing jadi pada keras kepala membela mati-matian anak masing-masing, ngotot gak mau kalah, gak peduli dan gak mau denger kalo masalah semacam itu gak usah dan gak baik dibesar-besarkan. Ibu-ibu tipikal begini bisa sampai berhari-hari bahkan bisa selamanya tetap mengumbar kebencian, saling beradu omelan dan hujatan tanpa peduli kalau anak-anak mereka sudah duduk sama-sama lagi, sudah main berdua lagi, sudah damai lagi. Ckckck. . .

Menghadapi ibu-ibu dengan karakter ‘pasukan berani mati dalam membela anak’ inilah yang sering membuat serba salah. Mereka taklid buta, yang penting adalah memandang anak mereka bersih tak bersalah, yang selalu salah adalah anak orang lain yang bresinggungan dengan anaknya (bahkan meskipun si anak memang terkenal usil dan sering mengganggu temannya tetap saja dibela), tak mau mendengarkan pendapat atau pandangan orang lain mengenai itu. Kecenderungan inilah yang sangat membahayakan. Dan parahnya lagi, karena si ibu yang sering over reacted ini maka anaknya pun jadi bertindak manipulatif, mendramatisir keadaan dan selalu memposisikan diri sebagai korban, karena mereka merasa dibela jadinya besar kepala, menjadi Radja Ketjil Jang Tak Pernah Salah. Dari yang saya lihat dan pernah alami, anak-anak bisa jadi TA (Tukang Adu) yang semakin berpotensi meledakkan amarah dan naluri bela anak mati-matian ibunya yang salah kaprah itu semakin membara.

Duh. . . Susah juga ya kalo sudah berhadapan hal beginian. Dan itu belum lagi ditambah dengan tipikal ibu-ibu yang hobinya gosip plus adu domba (tipe manusia yang selalu ada di mana saja. Di mana saja pemirsa, di mana-mana!!). Dijamin tambah puanjaaaaaaaaaaaaaaang deh ceritanya. Kuota huruf lima ribu karakter di blog ponsel saya ini tentu tak akan cukup membahas semuanya. Haha. . .

Kita semua tahu, setiap ibu memang sangat menyayangi anaknya, walaupun anak-anak bisa salah, orang tua selalu bisa menerima dan memaafkan anaknya. Tapi kasih sayang inipun hendaknya jangan melebihi porsinya. Orang tua, terutama ibu harus bisa melihat dulu seperti apa sebenarnya hal yang terjadi dalam dunia anak-anak. Jangan sampai karena urusan anak membuat kita cekcok dengan teman, tetangga atau sesama ibu lainnya. Anak-anak juga harus dibiasakan untuk menghadapi masalah mereka sendiri dengan teman-temannya, jangan sedikit-sedikit orang tua turun tangan dan emosional (bahkan ada yang sampai melabrak guru yang mencoba meluruskan masalah anak-anak yang sedang bertengkar itu). Permasalahan hidup dan cara kita menghadapinya sekarang ini akan membentuk kehidupan mereka dimasa depan nantinya, dimana para orang tua tak bisa melindungi anak-anak mereka selamanya.

Hmm. . . Wallahualam.

Advertisements

22 thoughts on “PERGAULAN IBU-IBU DAN SEGALA KEANEHANNYA

  1. Waduh, hahahaa.
    Biasanya ibu-ibu yang suka mati-matian melabrak dan membela anaknya tanpa mau mengerti pokok permasalahan dari sebuah gesekan itu karena orang tersebut sudah terbiasa dengan sifatnya yang kurang baik. Itu saja deh, nanti kalau saya kebanyakan memberikan tanggapan, malah kena cubit pasukan ibu, hehee.

    Like

  2. Assalamu'alaaikum @Rusminah, hemp.. itulah ibu-ibu kalo ngumpul (ngerumpi) kadang suka ngegosip ini itu hadeuh bagus kalo ngobrolin hal bermanfaat nah ini ngomongin aib orang, apa manfaatnya coba yg didapet? Bener gak

    Like

  3. hmmpp..
    Bener mbak, kelakuan ibu" yg seperti itu kadang bikin sya jengkel 😀 mending klo yg diomongin kegantengan sya, bukan kejelekan/kekurangan sya 😀 hhehe.. Piss

    Like

  4. Sifat ibu-ibu yg kyk gitu kadang malah membuat anak tdk mau mengalah, dn tdk merasa bersalah. Harusnya ibu-ibunya malah yg mendamaikan. Ya, walaupun aku belum jd ibu2 dan belum punya anak, kejadian2 sprti itu udh jdi makanan sehari2 😀

    Like

  5. Ahing! Saya mau protes nih Bun, Emak2 juga soalnya yang kebetulan anak bontotnya di paud, saban waktu nungguin.
    Iya sih, para ibu-ibu betah binggits kalau ngerumpi mah, dari bumbu dapur, isi market, isi dompet plus tetek bengek onderdilnya wkwkwk
    tapi yang paling ngeselin adalah ngomongin aib orang lain ( ngrasani ) itu yang paling diwanti2 oleh suami agar nggak ikut nimbrung. Saya sih mending pegang hp ampe jempol kriting kalau obrolan dah nyangkut bla bla bla, haha

    Kalau masalah anak yg berantem sih udah umum Bun, emaknya main labrak2an nggak menyadari kalau itu malah jadi contoh gak baik buat anak2nya. Namanya juga bocah, berebut jajan atawa maininan juga dah masanya, kadang pun kita juga kudu pandai2 menghibur dan memberi pencerahan kalau anak terlibat perseteruan dg temannya.

    Like

  6. @Endytha,

    nah, ya itu!
    Saya setuju banget sama kamu ini.
    Kayaknya emang dimana-mana yak emak-emak kerjanya nabur gosip mulu. Moga kita semua gak ikut-ikutan mudharatnya.

    Gerbong keretanya buat saya ajah, kebetulan di Kalimantan belum ada kereta api. Wkwkwk. .

    Like

  7. @XXNiSAXF,

    iya memang, jadi ngasih contoh yang gak baik buat anaknya kan.

    Kalo udah jadi makanan sehari-hari kenyang dunk, gak usah masak lagi. Xixixi. . . .

    Like

  8. Dulu saya nganterin anak waktu tk, sambil jualan jajanan,,
    anehnya yg laris manis bukan jajanan anak, tp jajanan emak2nya ck ck ck..
    otak dagang saya jd makin nafsu,makanya saya bawa masakan2 sekalian ..

    Like

  9. Haha jadi inget, dulu pas SD ada adek kelasku yg usil tp cengeng baru dibales usil dikit udah nangis nah kalo udah gitu besok paginya pasti emaknya dateng ke sekolah mara-marain temen anaknya..

    Aku sama kakak kelas lainnya bisik2 ( nggremeng ) ngomong "padahaaall anaknya sendiri yg nuakalnya minta ampun.."

    Dan karena udah bising tiap anak itu abis bikin ulah pasti emaknya dateng ngomel2 akhirnya ada satu kakak kelas yang nyeletu "buleeek, bulek orang anakmu sendiri yang memang nakal kok.."

    Like

  10. haha, lucu sekali,,, jadi inget waktu tk dulu. saya juga sering gitu… nangis gara2 mainanlah apalah… pokoknya sering nangis. tapi sekarang aku sudah sekuat superman….. hihi

    Like

  11. Assalamualaikum …

    Alhamdulillah, akhirnya yg muncul dipembaharuanku judul post yg baru jg!

    Ini pengalaman pribadiku, ada seorang teman kecilku yg selalu dibela mati-matian oleh ibunya. Dulu kl maen dgnya, bila dia sampai nangis pasti ngadu ke ibunya. Tk lama kemudian ibunya pasti dtng & mencubit temanku yg membuat anaknya menangis.

    Setelah dewasa, bahkan sdh menikah ternyata sifat suka mengadunya tk hilang. Jadilh sering muncul banyak masalah karenanya.

    Kl aku ngadu sedang bertengkar dg teman, bukannya dibela aku malah akan dimarahi oleh ortuku. Jd kl lg berantem mending ga usah ngadu tp cari teman tuk membantu! Hehe… masa kecil yg menyenangkan

    Like

  12. hahahaha….
    waktu sy ngajar TK tu ba', klo ada ortu atau mbakx yg ikut, sy g' jd ngajar. gerogi jadix hehe…
    klo nunggu d luar mah mendingan, nah TK sy,,, sma ortux d dlm kls.

    Dan bener banget ba', anak2 t' pux rasa dendam, ni kita yg tua harus belajar ma tu anak2.

    Oya….
    Sy berdomisili di Pondok Pesantren Al-Mujtama' (asrama cilik) Pamekasan Madura JATIM.

    Like

Leave a Reply to Endytha Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s