MUNGKIN SAYA LELAH

Kalau sedang dilanda rasa mumet gini pasti bawaannya pengen curhaaaat aja. Tapi yang sering dicurhatin kurang pengertian. Eh, gak, bukan kurang pengertian tapi mungkin bosen karena selama hampir 12 tahun dengerin curhatan standar yang itu-itu aja isinya, yang parahnya ini curhat udah naik tiga oktaf ke level ngomel. Hedeh!

Sepertinya kali ini saya ada dalam fase kalimat populer :

“MUNGKIN DIA LELAH. . .”

Yap, mungkin saya sedang lelah saja dan butuh tidur super nyenyak sampai kiamat!

Intinya, kali ini saya tidak berada dalam situasi penuh rasa bangga atas apa yang saya jalani sekarang, ini sedang jatuh ke titik paling nadir dalam kerempongan aktivitas hariannya ibu rumah tangga.

Dari semua pekerjaan harian itu, untuk tipikal makmak rempong (plus mualas pol) kayak saya ini, tugas menunggui anak di sekolah sepanjang pagi bisa dikatakan yang paling gak produktif. Kenapa? Karena saya tidak kreatif (untuk hal-hal yang dapat membuahkan materi) dan tak ada acara sambilan selama menunggui anak itu (gak bakat jualan dan gak ada pencerahan kegiatan yang sekiranya dapat menaikkan level kemandirian ekonomi hingga kasta tertinggi).

Paling-paling ya mulut berbusa-busa kebanyakan ngebacot dan ketawa ama ibu-ibu lainnya. Pulang ke rumah sudah hampir tengah hari dan mesti masak lagi buat makan siang, terus istirahat sebentar, jam 3 sore berangkat lagi ke TPA nganter anak-anak ngaji. Bolak balik aja terus kek gitu sampe cuapek. Seharian berlalu ya gitu-gitu aja berjibaku menghadapi dua jagoan super aktif yang merupakan anggota pasukan anti tidur siang. Haha. . .

Terus, jenis pekerjaan rumah yang paling merepotkan (berdasarkan hasil survey dengan ibu-ibu tetangga) adalah cucian. Yang walaupun sudah didelegasikan secara penuh dan dengan sangat hormat pada mesin cuci tetap saja paling menyita waktu, tenaga dan kesabaran. Bayangkan, berbagai jenis pakaian beraneka warna itu, dari sekelas kolor yang karet pinggangnya longgar sampai jenis atasan, singlet, rok sepan, gamis, celana jins yang bolong lututnya, korduroy, baju kerja dan seragam sekolah anak-anak, adalah tidak bisa selesai dengan satu kali sentuhan tangan ibu rumah tangga saja.

Pakaian yang sudah bersih (versi mesin cuci) dan diperas airnya itu mesti dijemur dulu sekian jam, lalu diambil kembali untuk dirapikan. Proses menuju lemari pakaian itu ternyata cukup panjang, pakaian itu mesti disetrika dulu itupun kadang gak semuanya hanya untuk jenis-jenis baju seragam atau pakaian kerja saja. Kalo daster dan baju tidur mah tetep aja kucel, sering gak ampe masuk lemari udah dipakai lagi, namanya juga baju kebangsaan. Wkwkwk. . .

Karena itu lah tak jarang, perkara cucian ini bisa jadi yang paling lambat tertangani, setelah kering dicuci gak langsung dilipati tapi transit dulu di keranjang cucian beberapa hari. Pas kena jadwal mencuci lagi baru dengan berat hati melipat dan memasukannya ke lemari, karena satu-satunya alasan mujarab adalah keranjangnya mesti dipakai untuk mewadahi cucian basah lagi. Gkgkgkgk. . .

Tapi sebenarnya, di saat cucian sedang banyak-banyaknya inilah harusnya saya dapat melihat peluang untuk lebih bersyukur. Kenapa? Karena artinya pakaian kita banyak dan masih bisa ganti minimal dua kali sehari. Hehe. . . Iya to?



Note:

Mungkin pembaca setia blog ini heran atau bosan. Karena makin kesini tulisan saya makin gak jelas, makin banyak ngeluh, dan isinya tumpah ruah oleh curhatan kepo khas ibu-ibu. Iya memang, beginilah sudah efeknya setelah satu dekade jadi ibu. Otak dan jempol saya udah gak kritis lagi ngeresein kondisi dunia terkini. Saya udah gak kuat lagi nulis-nulis dengan tema berat semisal Syiah yang sudah memasuki Indonesia dan siap menggerus keyakinan kaum muslimin atau perihal konspirasi dunia Barat atas konflik di negara-negara Timur Tengah. Saya juga gak paham dengan derita kabut asap di Sumatera dan Kalimantan yang terjadi tiap tahun dan berlarut-larut yang kini telah sukses (asapnya) diekspor ke Malaysia dan Singapura membuat kita dipandang rendah oleh dunia. Lumayan shock ketika musim kemarau tahun ini hampir membinasakan rumah kami karena lahan sawah kering yang kebakaran. Juga kinerja pemadam lokal yang sempat dikritisi dgn agak tidak adil pasca kedatangan Pemerintah ke kota kami, menuai polemik dan kontroversi. Yang paling membuat terpukul adalah ludesnya 30 buah rumah terbakar di Km. 15 kec. Gambut kab. Banjar.

Saya juga hanya dapat memahami sekilas tentang rangkaian tragedi di tanah suci Mekkah (semoga amal ibadah mereka diterima dan keluarganya tabah menghadapinya). Bahkan kini, saya sudah tak tahu lagi ketika menjelang pemilihan kepala daerah Kal Sel semua partai dapat ‘dibeli’ oleh seorang CaGub yang konon katanya kuat sangat karena dibekingi oleh para pengusaha tambang batu bara dan bos besar kapitalis.

Saya hanya sedang kecewa tingkat dewa.

Advertisements

SUKA DUKA MENURUT KAHLIL GIBRAN

Dari jaman dulu ketika masih abege labil yang suka histeria liat foto boy band tahun 90 an di cover majalah remaja sampai sekarang jadi emak dua anak yang suka ngubek-ngubek isi kantong mbah google buat nyari resep masakan dan cara alami menurunkan panas, saya sudah suka banget ama kata-katanya Kahlil Gibran.

Dulu, hobi banget menenggelamkan diri dalam tumpukan buku di perpustakaan karena gak pernah cukup duit buat beli bukunya sendiri, maka saya rela membaca buku-buku karya Gibran sampai berjam-jam lamanya dan juga mencatat kata-kata yang sekiranya relevan, menginspirasi dan pas ‘mak jleb’ di hati. Saya sudah pernah merampungkan Rahasia Hati, Trilogi Hikmah Abadi, Musik Dahaga Jiwa, Mempelai Jiwa, Keutuhan Jiwa, Sang Kekasih dan Sayap-sayap Yang Patah. Juga beberapa kutipan Gibran yang saya ambil dari berbagai buku, cerita, majalah dan sebagainya. Sampai-sampai buku catatan saya pernah difotokopi oleh teman adik saya yang juga dibuat melayang oleh sayap kata sang maestro penyair dari Lebanon, Kahlil Gibran.

Oke, inilah dia:

SUKA DUKA MENURUT KAHLIL GIBRAN

Sukacita adalah dukacita yang terbuka kedoknya.

Dari sumber yang sama yang melahirkan tawa.
Betapa seringnya mengalir air mata.

Dan bagaimana mungkin terjadi yang lain?

Semakin dalam sang duka menggoreskan luka ke dalam sukma, maka semakin menipu sang kalbu mewadahi bahagia.

Bukankah piala minuman pernah mengalami pembakaran ketika berada dalam pembuatan?

Bukankah seruling penghibur insan, sebilah kayu yang pernah dikerati tatkala dia dalam pembikinan?

Apabila engkau sedang bergembira.
Mengacalah dalam-dalam ke lubuk hati.
Di sanalah nanti engkau dapati, bahwa hanya yang pernah membuat menderita berkemampuan memberimu bahagia.

Apabila engkau berdukacita, mengacalah lagi ke lubuk hati.
Di sanalah kau bakal menemui, bahwa sesungguhnya engkau sedang menangisi sesuatu yang pernah engkau syukuri.

TOPIK PEMBICARAAN IBU-IBU KETIKA NGUMPUL BERSAMA

Haha. . . Akhir-akhir ini berasa jadi emak-emak banget (loh emang udah ibu-ibu kan?), total banget dan penuh penghayatan peran karena tiap hari kudu nungguin anak sekolah TK dan semakin intens bertemu sesama ibu-ibu. Biasa deh, kalo udah ngumpul pasti emak-emak pada rame, ngomong ngalor ngidul, curhat-curhat, sampe gosipin artis anu kayak udah kenal dekat dan tetanggaan aja ama tu artis.

Sebenarnya apa sih yang biasa diomongin ibu-ibu kok tiap hari bisa rame aja terus macam pasar kaget. Ok, ini dia:

1. MERTUA

Nah, ini sengaja saya pajang di list teratas karena dari hasil survey dan observasi harian saya sepertinya memang topik mertua bisa dikatakan selalu masuk headline di halaman utama para ibu-ibu (biasanya sih antara mama mertua dan menantu perempuan). Gak ada habisnya, gak ada matinya. Mulai dari mertua yang baik hati nan sayang menantu ( konon katanya sangat sedikit, sekitar 10% ) sampai yang paling banyak dan paling santer terdengar yakni tipikal mertua yang bisa jadi musuh besar bagi menantu. Gak tanggung-tanggung populasinya mencakup hampir 90% bahwa mertua dan menantu gak bisa akur.

Sentimen khas dua perempuan beda zaman yang mencintai satu lelaki ini terus menuai polemik, dilema, curhat dan topik gosip yang selalu up to date di mana saja. Jadi, rasanya memang tak berlebihan bila ada peribahasa:

Adam dan Hawa adalah manusia paling berbahagia karena tak punya mertua.

2. SEKSUALITAS

Siapa bilang yang suka omongan nyerempet-nyerempet hanya kaum lelaki saja?

Perempuan pun bisa jadi sangat ahli dalam membicarakan perihal teori dalam ranah paling pribadi ini. Menuai reaksi beragam, dari cekikikan penuh rahasia, bisik-bisik tetangga sampai ledakkan tawa yang dapat meneteskan airmata. Seksualitas dan proses reproduksi manusia memang bahasan yang mampu menegakkan daun telinga, soal praktek tergantung kepribadian masing-masing dan kreatifitas pasangan tentunya. Hoho. . .

3. RESE bin KEPO

Apaan sih coba? Bukan ibu-ibu namanya kalo gak bawel, memang ada juga sih ibu-ibu yang anteng yang gak suka ngurusin masalah orang lain tapi seringnya (termasuk mak admin) ya rese dan kepo. Hobi gosipin artis, ngomongin orang lain atau minimal kepo nanya-nanya sekedar

“kerudung pinknya bu Ita cantik deh, berapa belinya? Di mana? Ada warna lain gak, mau douwnk. . .”

Panjang deh ceritanya kalau udah gitu bisa merembet-rembet ke pasar lokal Tanah Abang atau ngoyo ke lokasi pelelangan di luar negeri.

4. FASHION

Namanya ibu-ibu, belum afdol kalo gak menyinggung soal fashion dan trend kekinian.

“Itu daleman jilbabnya apa jeng? Ciput ninja apa ciput renda? Celana yang oke apa ya, legging apa celana harem? High heels apa sendal teplek? Alisnya dilukis aja apa disulam?”

Rempong abis dah kalo udah bicara fashionnya perempuan, makanya Syahrini sempat ngehits banget dengan trend busana Kaftan, Abaya Renda dan Tudung Fatima.

Kalo ada teman ibu-ibu yang jeli melihat peluang ya segera deh, besoknya bawa-bawa aneka pakaian grosiran buat di kreditkan. Lumayan. Gak heran juga ntar pas akhir tahun ajaran ada cekcok dikit perihal kredit macet utang yang gak dilunasi.

5. ISI TV

Ini ni yang saban hari gak pernah ketinggalan didiskusikan. Dari infotainment tentang perceraian artis anu yang padahal baru beberapa bulan menikah. Sinetron pak haji yang terus nambah episode bersession-session sampai beberapa kali musim haji gak kelar-kelar, sekumpulan serigala yang ternyata ganteng parasnya, gegap gempita drama korea sampai doktrin ajaran kepercayaan yang mengundang kontroversi dari tanah para Dewa, nuansa cinta dari Jazirah India dan yang paling gress dan membius kaum hawa adalah telenovela Cinta di Musim Duren, King Leman, sinetron langsung impor dari eksotisme negeri Turki.

Beberapa ibu yang kritis juga gak ketinggalan menanggapi kebijakan pemerintah, kenaikah harga sembako dan juga merosotnya nilai Rupiah terhadap Dollar. Berat juga ya bahasannya, ibu-ibu juga bisa serius loh.

6. CURHAT SEGALA BIDANG, dsb

Pokoknya curhat aja, udah. Kemampuan berbicara kaum hawa kan emang lebih mumpuni dari laki-laki, jadi ya gak usah pake heran.

Membuat saya mikir sendiri, mungkin karena kemampuan wanita yang seperti inilah yang akan membuat kaum wanita jadi penghuni terbanyak di neraka. Naudzubillah.

GAMBAR BERCERITA; EUFORIA KEMARAU

meranggas.jpg

Hujan belum turun, musim kemarau cukup betah menyambangi bumi Borneo, matahari masih setia menyala. Kalau sudah begini, maka usaha perniagaan kami di bidang perikanan dan pemancingan pun terpaksa harus vakum sejenak. Jadi bapaknya punya lebih banyak waktu di rumah ngumpul sama anak-anak, sampai sempat-sempatnya membuatkan ayunan dari ban bekas karena area persawahan di sekitar rumah kami mengering, asik buat bermain. Kalau padi sudah dipanen semua nanti mau buat lapangan bola. Cihuy!

Inilah euforia kemarau itu :

main-ayunan-2.jpg
Ayo, siapa dulu yang giliran naik ayunan pertama? Gak boleh rebutan ya.

main-ayunan-3.jpg
Ok, sudah diputuskan perempuan dapat giliran pertama, ladies first! Cowok-cowok ngalah.

main-ayunan-1.jpg
Berpeganganlah kuat-kuat! Kawan-kawanmu akan mendorongmu tinggi-tinggi dan jauh, menembus angin menyongsong langit.

main-ayunan-1b.jpg
Inilah kebebasan itu kawan. Jika aku terbang, pastilah aku elang. Dan jika aku hinggap maka aku adalah kupu-kupu bersayap.

abah-maayun-anak.jpg
Bukankah Ayah janji, jika aku pintar di sekolah dan jadi anak yang patuh maka Ayah akan mengayunku kencang-kencang seratus kali. Sanggup?

jalan-sawah.jpg
Jalan setapak ini menuju pada sesuatu, tentang kemuning padi yang menjanjikan harapan. Kali ini alam berbaik hati, tak perlu jumawa dengan gedungmu yang congkak berdiri. Maka nikmat yang mana yang akan kau ingkari?

sawah-ku-banyak.jpg
Aku gak usah jadi direktur atau pengusaha batu bara, gak juga CEO, juga gak perlu jadi PNS. Cukup dengan punya kontrakan dua puluh lima pintu dan ladang padi beras Siam Unus sepuluh ribu hektar!

menunjuk-sawah.jpg
Ayah lihat itu tidak?! Orang-orang itu membangun komplek perumahan di area persawahan, kelak bagaimana kita menanam padi? Apa nanti kita berhenti makan nasi? Apa mesti diganti beras plastik? Sorry, perutku gak toleran dengan bahan pangan berbahan sintetis.

manggumba-banih.jpg
Semua masih tradisional di sini, padi dipanen dengan ranggaman dan arit, lalu diirik dan kemudian dibersihkan dari gayang banih dengan alat besar bernama Gumbaan ini. Jadi gak usah kalian usik kami dengan wacana modernisasi bidang pertanian. Tahun lalu, ketika hama membuat kami gagal panen, toh kalian semua angkat tangan.

sawah-dan-saya.jpg
“Great Smile under Topi Purun

our-place.jpg
In my place, in my place Were lines that I couldn’t change I was lost, oh yeah I was lost, I was lost Crossed lines I shouldn’t have crossed I was lost, oh yeah. . .

If you go, if you go Leave me down here on my own Then I’ll wait for you, yeah. Yeah, how long must you wait for it? Yeah, how long must you pay for it? Yeah, how long must you wait for it, oh, for it? Singing Please, please, please Come back and sing to me To me, to me. . .
(In My Place, Cold Play)

meranggas.jpg
Sejumput musim gugur turun di depan rumah kita, meluruhkan daun-daun yang jatuh kala dicumbu angin. Dan jika kemarau ini masih lama, hujan pasti akan tiba karena langit berhutang janji cuaca pada kita.



Beras Siam Unus= jenis beras unggulan khas Kalimantan Selatan (terutama kecamatan Gambut) yang memiliki karakteristik bulir yang halus memanjang, putih bersih dan pulen tapi tidak lembek dimasak. Hanya panen setahun sekali.

Ranggaman= alat untuk memanen padi khas Kalimantan, terbuat dari lembaran kayu tipis dan sepotong bambu kecil, di bagian tengahnya dipasangi silet untuk memotong batang padi.

Diirik/mairik banih= proses pemisahan bulir padi dari batang dan daunnya dengan cara diinjak-injak.

Gayang banih= batang dan daun padi yang telah kering.

Topi Purun= Topi tradisional yang terbuat dari anyaman tanaman Purun (sejenis pandan-pandanan berdaun kecil panjang yang dalamnya berronga) yang dikeringkan dan dipipihkan.

Lokasi foto: kecamatan Gambut, kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.